Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Bukan Eksploitasi Pegawai.


__ADS_3

"Yaa tergantung...kalau aku sedang butuh kamu....walaupun jam istirahat kamu harus siap sedia..." kata Akmal santuyy.


"Iihh...itu namanya eksploitasi pegawai,Tuan..!" protes Anin mencak-mencak.


"Siapa bilang ? Kalau aku butuh istriku bukan pegawaiku saat jam istirahat emang salah ?" dalih Akmal.


"Aku atau kamu sendiri yang ambil barang-barang pribadi kamu di ruang kantor ?" tanya Akmal menawarkan bantuan dengan suara magnetisnya.


"Biar saya sendiri saja...!" Anin keluar ruangan Akmal dengan penuh kekesalan.


Dan akhirnya dengan berat hati Anin harus menerima keputusan Akmal yang memindahkannya di dalam ruang pribadinya.


Akmal sudah menyetting ruangannya yang memang cukup lebar sedemikian rupa...menempatkan meja dan kursi kerja khusus untuk ditempati Anindya...


Bukannya apa-apa...Anindya hanya takut kalau dia terjerat jala asmara yang ditebar Akmal...kalau terlalu sering berdua saja dengannya.


Itulah ketakutan terbesarnya saat ini..


Tapi kalau dia menolak keputusan Akmal...dia akan kehilangan kesempatan bekerja dan mandiri...karena walaupun Anin notabene menantu keluarga konglomerat...dia lebih memilih memakai hasil jerih payahnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadinya...kecuali urusan biaya pengobatan Mbah Rasni dan makan....keluarga Wirawan ywng menaggungnya.


Setelah Anin pindah ke ruang pribadi Akmal...


Akmal tampak lega dan tiada henti mengulum senyum di bibirnyan sambil sesekali memandang Anin dari kursi kebesaran yang ia duduki sekarang.


Sementara Anin yang sekarang posisi meja kerjanya dengan Akmal membentuk sudut 90 derajat...jadi kikuk dan salting karena satu ruangan dengan Akmal.


Dia menjaga netranya agar tak sampai bertemu pandang dengan Akmal.


Dia berusaha menyibukkan diri mengerjakan pengetikan tugas koas Akmal.


"Ada kesulitan,Anin ?" tanya Akmal lemah lembut mengarahkan pandangan ke Anindya.


"Eee...sejauh ini tidak,Tuan...diketik sama persis dengan lembaran ini kan ?" tanya Anin tanpa menoleh ke Akmal.


"Iya sama persis.." jawab Akmal menahan senyumnya melihat tingkah Anindya yang selalu berusaha menghindari kontak mata dengannya.


"Aku mau visit sama dokter pembimbingku dulu...kamu nggak pa-pa kan sendirian dulu disini ?" tanya Akmal.


"Iya silahkan..." jawab Anindya masih tanpa memandang Akmal.

__ADS_1


Lalu Akmal keluar dari ruangannya...


"Huufft...akhirnya..." Anin bernafas lega.


"Jangan senang dulu...aku visit cuma sebentar...aku akan kembali secepatnya..." kata Akmal dari balik pintu sengaja...ingin mengagetkan Anindya.


Dan berhasil.. Anindya terperanjat...dia tak mengira Akmal masih berada di balik pintu.


"Astaghfirullooh...ngagetin aja..." kata Anindya.


Akmal terkekeh dan menutup kembali pintunya.


"Dasar dokter absurd...." kata Anin.


Anin melihat jam di ponselnya...


"Masih kurang satu jam lagi waktu istirahatnya..." gumam Anin.


Dia meneruskan mengetik lagi...sembari menunggu waktu istirahat tiba.


"Tak lama kemudian...Akmal masuk lagi ke dalam ruangannya.


"Sudah aku bilang jangan panggil aku dengan sebutan 'Tuan'...kesannya aku kayak orang yang jahat dan kejam sama kamu..." Akmal melangkah mendekati Anin dengan pandangan tak biasa...sendu,sayu dan nakal.


Akmal terus mendekat...semakin dekat...hingga saat ini posisinya tepat ada di depan Anindya...duduk di sudut atas meja kerjanya....mengikis jarak diantara mereka berdua.


Anin hanya terpaku tak bergeming melihat tingkah Akmal.


Dia menatap Akmal...menanti apa yang akan dilakukan Akmal terhadapnya.


"Apa yang Anda lakukan,Tuan..." lirih Anin menahan hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya....efek berdekatan dengan Akmal.


Akmal mencondongkan tubuhnya ke arah Anin.


"Anda mau apa ?" tanya Anin lagi.


"Aku mau kamu...aku sudah tidak bisa menahannya lagi...apalagi kamu sudah ada di hadapanku sekarang...kamu adalah milikku..hanya milikku...." ucap Akmal sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Anin.


"Tuan...emmhh..." Anindya tak bisa berkata lagi karena bibir ranumnya itu sudah di lahap habis oleh Akmal.

__ADS_1


"OMG...!! kerja raga dan rasa bertolak belakang lagi..." batin Anin.


Sesaat kemudian Akmal melepaskan pagutannya...


Anindya terengah masih dengan mata terpejam...merasakan sensasi aneh tapi nyata di sekujur tubuhnya.


Saat dia kembali membuka mata...Akmal tampak masih memandangnya intens...mendekatkan bibirnya lagi ke bibir Anin....tapi kali ini masih menyisakan sedikit jarak...seolah meminta izin lewat tatapan dan gerakan ragunya itu...untuk melakukan pengulangan ciuman.


Dan setelah dirasa Akmal izinnya diterima...dia kembali ******* lembut bibir Anindya.


Nafas mereka kembali terengah...hingga terpisah lagi bibir keduanya.


"Tuan...hentikan...." lirih Anindya.


"Panggil aku dengan sebutan 'Mas' kalau kamu ingin aku menyudahi semua ini...." Akmal berkata setengah berbisik tepat di samping daun telinga Anindya.


"Aku malu..." kata Anindya lirih.


Akmal sudah bersiap melakukan pengulangan...


"Cukup...hentikan...jangan,Mas..." akhirnya Anindya menuruti permintaan Akmal.


"Anin...Anin...! Bangun...!" panggil Akmal pada Anin yang sedang tertidur sambil mengusap lembut pipinya.


"Hentikan,Mas..." racau Anin rupanya mengigau.


"Mas ? Mas siapa ?" monolog Akmal tak mengerti maksud perkataan Anin.


"Anin...Bangun...!" Akmal menggoyang-goyang bahu Anin perlahan.


Dan akhirnya Anin membuka matanya.


Mengerjapkannya perlahan mengumpulkan nyawa....hingga sesaat kemudian dia sudah benar-benar tersadar penuh....mendapati Akmal tepat di depan wajahnya saat ini.


"Astaga !!" serunya.


"Kamu tertidur dan mengigau tadi..." Akmal tersenyum kecil mendapati Anin yang seperti masih bingung.


"Jadi saya dari tadi tidur..." ucap Anin.

__ADS_1


__ADS_2