Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Permintaan Akmal Di Saat Terakhirnya ?


__ADS_3

"Anin...aku harus pulang ke rumah dulu...kamu nggak pa-pa sendirian di sini ?" tanya Devan.


"Nggak pa-pa Kak...Kak Devan pulang aja..nggak usah khawatirin di sini...saya akan jagain Tuan Dokter..." kata Anin meyakinkan Devan.


"Baiklah...aku percaya sama kamu...besok siang Papa dan Mama baru pulang dan akan langsung kesini..." kata Devan.


Anin mengangguk meresponnya.


Dan Devan keluar dari ruang rawat Akmal.


Anindya masih duduk di sisi ranjang Akmal.


Dia memandang lekat laki-laki yang berstatus suaminya itu...garis ketampanannya tak memudar walau sedang tak sadarkan diri...hingga beberapa saat kemudian Akmal menggerakkan tangannya...dan hal itu disadari oleh Anindya.


"Tuan Dokter !' seru Anindya.


Perlahan Akmal juga mulai membuka matanya.


"Tuan Dokter...syukurlah Anda sudah siuman ?" tanya Anindya sambil menggenggam tangan Akmal.


"Anin..." suara Akmal lemah.


"Maafkan aku..." kata Akmal lirih.


"Ssttt ! Jangan banyak bicara dulu...Anda baru siuman.." Anin menutup bibir Akmal dengan telunjuknya.


Akmal menepis lemah telunjuk Anin itu.

__ADS_1


"Aku harus bicara...waktuku tidak banyak..." kata Akmal membuat Anindya terperanjat.


"Kenapa Anda bicara seperti itu ?" tanya Anindya.


"Aku tahu kamu berniat meninggalkanku...".kata Akmal lemah.


"Tidak perlu kamu melakukan itu...biar aku saja yang pergi...dan akan membawa semua kesialanmu bersamaku...dan selanjutnya kedepannya kamu bisa hidup bahagia di dunia ini setelah aku pergi untuk selamanya..." kata Akmal sambil mengulas senyum tipisnya.


"Anda bicara apa,Tuan.." Anindya mulai berkaca-kaca.


"Mas...panggil aku 'mas'...aku ingin mendengarnya di saat-saat terakhirku..." kata Akmal.


"Mas...mas reseh..." Anindya menguatkan dirinya agar tak sampai menangis.


"Terimakasih,Aein...kamu berhak hidup bahagia...aku akan minta pada Alloh agar aku bisa mengambil alih semua kesialan dan kemalanganmu...bersama dengan dicabut-Nya nyawa daei ragaku ini..." Akmal menatap intens Anindya.


"Kalau aku sembuh...kamu akan menepati janjimu untuk pergi dariku...jadi lebih baik aku saja yang pergi..." suara Akmal semakin lemah dan tebata.


"Sekali lagi maafkan suami dzolimmu ini..." Akmal merenggangkan genggaman tangannya di tangan Anindya...hingga melepaskannya lemah dan menutup matanya dalam damai.


"Dokteer ! Dokteer ! Toloongg !!" Anindya berteriak histeris.


"Mas ! Jangaann ! Jangan tinggalin aku ! Aku rela pergi jauh darimu asal kamu sembuh...ayo bangunn !" Anindya mengoyak tubuh Akmal berulang.


"Dokteerr ! Susteerr ! Toloongg..!" teriak Anindya terus histeris dengan bercucuran keringat dan air mata...karena kesedihan yang mendalam yang dia rasakan saat ini.


"Mbak ! Mbak Anin ! Bangun Mbak !" panggil Suster jaga pada Anin.

__ADS_1


Anindya lalu terbangun dari tidurnya yang dalam posisi duduk di sisi ranjang Akmal.


"Astaghfirullooh..." ucap Anin masih belum sadar penuh.


"Suster ! Tuan Dokter...!" seru Anindya.


"Tenang dulu,Mbak...Mbak Anin kenapa ? kenapa teriak-teriak ? Saya langsung kesini begitu mendengar teriakan Mbak Anin...saya kira ada apa...ternyata Mbak Anin lagi tidur sambil teriak...Mbak mimpi apa barusan ? Minum dulu,Mbak...biar lebih rilex..." Suster jaga bertanya beruntun sambil menyodorkan segelas air di gelas.


Anin lalu meminum air itu...karena tenggorokannya memang terasa kering dan tercekat.


Lalu dia beralih melihat Akmal yang masih posisi miring dan belum siuman.


"Coba periksa Tuan Dokter,Suster..." pinta Anindya.


"Sewaktu saya masuk kesini dan melihat Mbak Anin teriak...saya sudah memeriksa kondisi Dokter Akmal...dan kondisunya baik dan stabil..." penjelasan Suster jaga.


"Astaghfirullooh...jadi saya barusan cuma mimpi ya,Sus ?" Anindya baru ngehh.


"Kayaknya sih gitu,Mbak..." kata Suster terkekeh kecil.


Anindya memegang dahi kemudian dada Akmal.


"Syukurlah...barusan tadi hanya mimpi saja,Ya Robb..." ucap Anindya tampak sangat lega.


"Maafkan saya, Sus...sudah membuat Anda kaget..." Anindya sedikit malu pada Suster jaga...walaupun mereka sudah saling kenal baik satu sama lainnya.


"Tidak apa-apa,Mbak...Mbak Anin pasti kecapekan banget...sampek mimpi hingga teriak-teriak..." kata Suster.

__ADS_1


Anindya hanya senyum kecil...lalu Suster itupun permisi keluar.


__ADS_2