
Akmal memandang lekat perempuan di hadapannya sekarang ini...
Entah kenapa hatinya merasa sakit dan iba saat mendapati Anindya seperti ini.
Rasa bencinya mendadak rontok seketika...
Perempuan muda yang dianggapnya biang kerok...bocil tengil...licik....saat ini tampak rapuh dan terpuruk.
"Kenapa kamu menangis ?" hanya kata itu yang mampu terlontar dari bibir Akmal.
Anindya hanya menggeleng pelan dan memutar badannya memunggungi Akmal kembali.
"Udah jangan nangis terus ! Nanti sofaku itu rusak kena air matamu...!" ledek Akmal.
Anin tak bergeming...
"Apa perlu aku telfonkan Dokter Barra ?" tanya Akmal karena kehabisan kata-kata.
Entah karena canggung atau karena iba.
' Dasar Dokter reseh ! Ngapain pakek nelfon Dokter Barra segala ? Nggak peka banget sih ! Ini kan juga kesalahannya terlalu gegabah main lapor aja pada Tuan Wirawan....Dia kan dokter...harusnya dia kan juga pintar mendiagnosa masalah...' batin Anin masih sangat kesal pada Akmal.
' Kalau aku minta maaf...dia nanti malah besar kepala lagi...' Akmal berkata dalam hati dan masih memenangkan egonya.
Akmal pun menjauh dari sofa menuju ranjang tidurnya...meskipun tak dapat dia pungkiri...hatinya seperti ada ganjalan besar karena tidak jadi meminta maaf pada Anindya.
__ADS_1
Sedang Anin,akhirnya tertidur dengan sisa kekesalannya.
......................
Pagi harinya...
Suasana di kamar Devan.
"Kamu tuh harus berterimakasih sama Anindya dan Akmal...terutama Anindya...yang sudah mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi nama baik kamu..." kata Devan.
"Halahh...paling-paling juga pencitraan dia doang..." kata Tania meremehkan.
Lalu dia berjalan keluar kamar dan berpapasan dengan Anindya.
Anindya hanya memandangnya datar...sedang Tania tampak ketus saja...
"Saya tidak butuh Kak Tania bersujud pada saya...saya hanya butuh kesadaran Kak Tania untuk belajar mengasihani suami sendiri....Kak Devan...jadikan dia mitra dalam suka dan duka...agar kejadian seperti tempo hari tidak terulang lagi...dan pencitraan Kakak bilang ? Untuk saya ? Nama saya sudah kepalang buruk di mata keluarga ini...makanya tanpa pikir terlalu panjang...saya siap menjadi kambing hitam dalam kejadian tempo hari..." panjang lebar Anindya.
Tania yang mendengarnya tambah semakin bersungut-sungut.
Sedang Anindya berlalu turun menyusuri anak tangga.
Dan ternyata selain mereka berdua...ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka..yaitu Akmal.
Akmal hanya diam termangu..entah apa yang ada dalam pikirannnya.
__ADS_1
Setelah sarapan...Akmal dan Anindya seperti biasa berangkat bersama.
Tapi kali ini ada perbedaan sedikit...Rafa ikut mobil Akmal karena dia ingin diantar oleh Om-nya itu..
Mereka bertiga masuk mobil...
Anindya memangku Rafa.
"Awas..." kata Akmal meminta Anin mencondongkan duduknya ke belakang....untuk kemudian Akmal memiringkan tubuhnya ke pintu mobil sebelah Anindya...memastikan pintu sudah aman terkunci dari dalam.
' Hanya perhatian kecil seperti itu saja...sudah membuat hatiku ini berbunga-bunga...' Anindya berkata dalam hati.
Di bibirnya tersungging senyum kecil.
Walaupun disadari Anindya...hal itu dilakukan Akmal lebih kepada kekhawatirannya pada keselamatan Rafa.
Sesampainya di perempatan...tempat Anin biasa turun...
"Rafa...Tante turun dulu yaa..." pamit Anindya pada Rafa.
"Tante mau kemana ?" tanya Rafa polos.
"Tante ada keperluan sebentar...jadi turun di sini.." kata Anindya.
"Nggalk mau ! Rafa maunya sama Tante Anin aja..." rengek Rafa.
__ADS_1
"Rafa maunya Tante Anin yang nganterin Rafa sampai di sekolah Rafa..." Rafa semakin meremgek.