
'DORRR !!'
Suara peluru melesat keluar dari pistol yang dibawa Rika.
Sejatinya mengarah lurus ke arah Anindya berada.
Tapi diluar dugaan semua orang...peluru itu menemukan sarangnya lebih cepat sebelum mencapai target utamanya.
Ya...! Peluru itu mengenai seseorang yang dengan sigapnya menjadikan tubuh bagian belakangnya menjadi tameng bagi Anindya.
"Akmal ! Tidak !" Rika histeris...karena sudah salah sasaran.
Peluru itu bersarang di punggung atas sebelah kiri badan Akmal.
Akmal-lah yang rela menjadi perisai bagi Anindya.
"Tuan Dokter..." kata Anindya lirih dan tercekat.
Akmal dan Anin dalam posisi berpelukan saat ini.
Anindya merasa tangan yang digunakannya untuk merangkul Akmal basah oleh sesuatu...
Dilihatnya tangannya itu...dan benar saja...tangannya berlumur cairan merah kental yang keluar dari punggung Akmal.
"Darah ?" Anindya loading beberapa saat.
Lalu selanjutnya dia melihat ke arah Akmal yang tampak meringis menahan kesakitan.
"Astaghfirullooh...! Anda tertembak Tuan Dokter !" Anindya histeris sambil memeluk Akmal erat...bingung harus berbuat apa.
Sementara Akmal tampak sangat nyaman dengan posisinya sekarang...senyumnya tersungging di wajahnya yang memang high rate..walaupun sesekali dia tampak memejamkan matanya dalam...menahan sakit karena tembusan timah panas ke dalam punggung kiri atasnya.
"Maafkan aku Anin...tapi aku sangat bahagia sekarang...mungkin ini adalah jalan dari Alloh untukku menebus kesalahan padamu..." Akmal berbicara dalam pelukan Anin sambil mengulas senyum di bibirnya.
"Sstt !! Sudah diam dulu ! Jangan banyak bicara..." kata Anin lirih tepat di telinga Akmal.
"Akmal ! Maafkan aku...aku tak sengaja..." Rika terlihat sangat menyesal melihat kondisi laki-laki yang mengisi hatinya 4 tahun terakhir ini bersimbah darah.
Pistol di tangannya dia geletakkan begitu saja.
Lalu setengah berlari menghampiri Akmal.
"Tetap disitu ! Jangan mendekat !" teriak Anindya histeris memperingatkan Rika dengan tatapan nanar...sambil tetap menahan tubuh Akmal yang ada dalam pelukannya.
Rika pun tak jadi menyentuh Akmal.
Sementara Roby juga shock melihat Akmal tertembak...dia mundur teratur menjauh dari Akmal dan Anindya berada...seolah takut dilibatkan dalam peristiwa penembakan Akmal.
"Jangan bergerak ! Diam di tempat semuanya !" tiba-tiba muncul beberapa polisi di tengah-tengah mereka...bersama dengan Barra dan Novi yang ikut di belakang para polisi itu.
Polisi menodongkan senjata yang mereka bawa...ke arah Roby yang hendak melarikan diri.
__ADS_1
Rika juga tak luput dari todongan senjata polisi.
"Angkat tangan kalian !" seru polisi pada Roby dan Rika...mereka pun tak berkutik lagi.
Polisi memborgol dan menggelandang mereks berdua...tentu Rika dengan polwan yang menangani.
"Tuan Dokter..." Anin berusaha sebisa mungkin menahan air mata.
Tubuhnya pun sudah tak mampu menahan tubuh Akmal yang semakin lemas...hingga akhirnya mereka jatuh terduduk...dan posisi Akmal sekarang ada di pangkuan Anindya.
"Maafkan aku...aku sudah dzolim padamu..." lagi-lagi kata maaf yang terlontar dari bibir Akmal yang semakin pucat.
Anindya hanya menggelengkan kepalanya berulang pelan.
Pandangannya beralih ke Barra.. mengisyaratkan permintaan bantuan padanya
Barra menunduk menghampiri mereka berdua..memeriksa sebentar kondisi Akmal.
"Aku akan telefon ambulans..." kata Barra.
"Bertahanlah Tuan Dokter...bantuan akan segera datang..." kata Anindya sambil menatap lekat dan menggenggam tangan laki-laki yang berstatus suaminya itu.
Akmal hanya mengangguk lemah...walaupun tampak kesakitan...tapi dia menemukan kenyamanan bisa dekat dan bersama Anindya.
Sedangkan Novi hanya berdiri kaku...tak tahu harus berbuat apa
Beberapa saat kemudian mobil ambulans tiba...
*
*
Sesampainya di RS...Akmal segera diobservasi dan selanjutnya dilakukan tindakan operasi.
Barra ikut masuk ke ruang operasi.Sementara Anindya dan Novi menunggu di luar ruang operasi.
Novi memegang bahu Anindya untuk menguatkannya.
Terimakasih Nov...kamu selalu menjadi support system buat aku..." kata Anin pada Novi.
"Tapi apa kamu tahu ceritanya bagaimana Tuan Dokter bisa tahu keberadaanku ? Padahal yang aku shareloc kan kamu,Nov ?"
"Dokter Akmal datang ke rumah kamu,An....dia tidak menjawab panggilan kamu karena dia sedang sibuk dengan pekerjaannya...begitu dia melihat ponselnya ,dia menelfonmu balik tapi tak kamu angkat...dia curiga ada sesuatu yang tidak beres...apalagi saat melihat kantong plastik berisi barang belanjamu tergeletak di depan pintu...ditambah lagi ada bekas roda mobil di halaman rumahmu.." papar Novi.
Anindya hanya diam dan mendengarkan dengan seksama.
"Lalu Dokter Akmal menelfon Dokter Barra...bertanya barangkali dia tahu keberadaanmu...tentu saja jawabannya tidak...lalu Dokter Barra menelfonku...jadi aku ceritakan semuanya pada Dokter Barra dan Dokter Akmal...tak mau menunggu lagi...Dokter Akmal mendatagi tempat yang kamu shareloc ke aku...gitu ceritanya.." lanjut Novi.
"Oohh...jadi seperti itu..." kata Anin
"Dokter Barra ingin ikut tapi dicegah oleh Dokter Akmal...dia katakan lebih baik sendiri...dan kalau dalam 1 jam dia tidak kembali maka kami disuruh lapor polisi...saat aku dan Dokter Barra bersama polisi ke rumah itu....ada 2 orang preman yang terkapar di ikat di tengah pilar ruang depan...mungkin mereka dilumpuhkan oleh Dokter Akmal saat dia baru masuk rumah itu..." sambung Novi lagi.
__ADS_1
"Dia tadi datang di saar yangtepat,Nov...tepat sebelum Roby melakukan hal bejatnya padaku...dan sampai kemudian dia menjadi perisai bagiku saat Rika mengarahkan tembakan ke arahku..." kenang Anin.
"Tembakan itu seharusnya mengenai aku...tapi dihalangi oleh Tuan Dokter..." lanjutnya tak kuasa menahan lelehan bening keluar dari sudut netranya.
"Kita berdo'a semoga operasi Dokter Akmal berjalan dengan lancar den berhasil..." kata Novi.
"Aamiin Yaa Robb..." ucap Anindya.
*
*
Setelah menunggu sekitar 2 jam setengah...
Pintu ruang operasi terbuka.
Barra tampak keluar dari situ...Anindya berhambur mendekat guna meminta keterangan soal kondisi Akmal terkini.
"Bagaiman,Dokter ?" tanya Anin.
"Operasinya Alhamsulillah berhasil...ternyata suamimu tangguh juga...padahal pelurunya hampir tembus ke organ dalamnya...dan dia kehilangan banyak darah..." papar Barra.
"Alhamdulillaah..." ucap Anin dan Novi.
"Dia meracau...yang dia sebut nama kamu dan kata minta maaf terus...kayaknya dia sama dengan kamu...punya hobi minta maaf..." kata Barra lagi.
Anindya jadi bisa sedikit tersenyum mendengarnya...setelah sedari tadi hanya bisa pasrah dan berdo'a dalam hati selama operasi berlangsung.
Dia kini bisa sedikit lega setelah dari tadi diliputi kecemasan yang sangat.
"Kamu sudah hubungi Pak Wirawan ?" tanya Barra.
"Tuan dan Nyonya Wirawan sedang ada di luar kota;Dokter...Kak Devan akan segera kesini katanya..." jawab Anindya.
"Baiklah kalau begitu...kita sekarang menunggu kondisi Akmal stabil dulu..baru Akmal bisa dipindahkan ke ruang perawatan..." jelas Barra.
"Iya,Dokter...terimakasih.." kata Anindya.
"Sudah kewajibanku..." kata Barra.
*
*
Lalu beberapa saat kemudian,Devan datang.
Dia juga baru pulang dari luar kota dan langsung ke rumah sakit melihat kondisi adiknya.
"Dokter Akmal mengalami henti jantung,Dokter Barra...tindakan PCR harus segera dilakukan..." kata perawat pada Barra yang ada di luar ruang operasi bersama Anindya juga Devan dan Novi.
"Apa ??" Barra kaget dan langsung masuk ke ruang operasi lagi.
__ADS_1
"Ya Allooh..." ucap Anindya tak kalah panik.