
"Alhamdulillaah...kenyang.Minumku mana ?"
tanyanya belagak gak dengar perkataan Anindya.
Anindya yang belum selesai makannya terpaksa harus berdiri mengambil air mineral di lemari es yang dibeli Akmal tadi.
"Anda jangan pura-pura gak dengar yaa,Tuan Dokter..." kata Anin sambil menyodorkan botol air mineral ke depan Akmal.
"Gelasnya doong ! Masak aku tenggak langsung dari botol sebesar ini ?" kata Akmal lagi.
"Ishsh..!! Ngrepotin banget sihh ?" protes Anin menuju ke dapur lagi.
Akmal terlihat menyunggingkan senyumnya tak kentara...dia puas membuat Anin uring-uringan.
"Setelah minum...silahkan pulang ! Sudah malam...Anda kan juga harus kerja besok..." kata Anin tanpa duduk lagi...dia sudah tak berselera melanjutkan makannya.
Anin ke dapur...mengeluarkan isi paper bag dan menyusunnya satu persatu..sebagian di meja dan yang lainnya di lemari es.
Akmal menyusulnya ke dapur dan berdiri tepat di samping Anin.
"Kamu senang ya,kalau aku kena siraman rohani lagi dari Papa dan Mama ? Kalau kamu nyuruh aku pulang,ya ayo kita pulang bareng..." kata Akmal.
"Pulang kemana ? Ya ini rumah saya.." jawab Anin enteng.
"Di sana bahkan kamar aja saya gak berhak memakai fasilitasnya dengan bebas.." sindir Anindya pada Akmal.
"Oke..kalau kamu mau pulang ke sana...kamu boleh menguasai kamarku sesuka hatimu,gimana ?" penawaran Akmal.
"Saya jauh lebih nyaman disini..." jawab Anin.
"Lagian untuk apa saya kembali ke sana ? Gak ada gunanya juga,kan ? Jadi mendingan saya disini sampai proses perceraian kita kelar..." kata Anin.
Seketika Akmal menarik tangan Anin kasar dan menutup pintu lemari es dengan keras.
Mereka dalam posisi berhadapan dan terkikis jarak saat ini.
"Kamu begitu keukeuh ingin segera bercerai dariku...apa karena Barra ? Kamu sudah menerima cintanya ?" Akmal berkata setengah berbisik.
Hening sejenak...Akmal dan Anin beradu hidung mancung mereka...bahkan deru nafas dan aroma tubuh satu sama lain pun bisa tercium saat ini.
Anin mencoba melepaskan diri dari dekapan Akmal dalam diam...namun sepertinya lengan kekar Akmal belum rela melepas tubuh ramping perempuan muda itu.
"Lepasin,Tuan !" seru Anin disertai pergerakan tubuh meronta.
Akmal melepas dekapan tangannya di tubuh Anin.
Lalu dia terpejam perlahan mengatur deru nafasnya sendiri yang tiba-tiba tersengal dan merasakan sensasi aneh karena bersentuhan kulit dengan Anin.
"Darimana Anda tahu ?" tanya Anin heran.
__ADS_1
"Dia sendiri yang menceritakannya...bahkan aku sempat kena bogem mentahnya pagi tadi...karena dia marah aku meninggalkan kamu semalam.." papar Akmal sambil mengusap pipinya mengingat kejadian pagi tadi.
'Rasain !! ' batin Anin.
"Emang kenapa ? Ada yang salah ? Saya juga berhak bahagia...! Bukan Anda doang yang dengan leluasa seenak hati bisa bersama dengan Suster Rika..." Anin mulai ketus.
"Sampai tega ninggalin saya sendirian..." suara Anin parau menahan tangis ingat kejadian semalam.
"Sekali lagi aku minta maaf atas kebodohanku itu..." Akmal begitu menyesali perbuatannya.
"Tahukah Anda,Tuan Dokter yang terhormat ? Kehormatan saya sebagai seorang perempuan telah dilecehkan secara verbal !! Dan kalau Dokter Barra terlambat sedikit saja, entah apa yang terjadi pada saya..." Anin begitu emosi dengan suara parau karena menahan butiran bening netranya agar jangan sampai luruh.
"Maafkan aku.." hanya kata maaf yang bisa terlontar dari mulut Akmal.
Dia mencoba meraih bahu Anindya...tapi segera ditepis oleh sang empunya.
"Saya begitu tak berharga di penglihatan Anda ternyata...sehingga begitu jahat dan tega menumbalkan saya...sementara Anda bersama Suster Rika menikmati pergantian tahun bersama..." pertahanan netra Anin mulai jebol..tetes demi tetes semakin intens jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Aku bersalah Anin...aku menyesal.." Akmal terus mencoba merengkuh tubuh Anin.
"Jangan mendekat !! Pergi dari sini !! Saya ingin sendiri di sini bersama Pusy.." kata Anindya lirih tapi penuh penekanan di dalamnya.
"Silahkan pulang atau menemui Suster Rika...terserah ! Asal keluar dari rumah ini...!" usir Anindya.
"Anin...." kata Akmal
Anindya hanya menggeleng.Lalu dia membuks pintu depan rumahnya...mengisyaratkan agar Akmal segera keluar.
Akmal menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
Dia memutar otak...dan seketika muncul ide gokilnya.
Dia mondar-mandir di depan mobilnya...sesekali pandangannya mengedar ke arah rumah Mbah Rasni dimana Anindya ada di dalamnya.
Dia sengaja melakukannya...menciptakan pandangan meresahkan bagi orang-orang di sekelilingnya yang saat ini mulai memperhatikannya.
Alhasil...beberapa orang mendatanginya.
"Maaf...Anda sedang apa di sini ? Dan mencari siapa ?" tanya salah seorang warga yang mendatangi Akmal karena mulai curiga.
"Iya...malam-malam begini...Anda orang mana ?" tanya yang lainnya.
"Maaf,Bapak-bapak...saya sedang bertengkar dengan istri saya..." Akmal mulai menyusun skenario.
"Istri ? Siapa istri Anda ? Orang sini ?" tanya warga.
"Iya...itu tuh...cucu dari Mbah Rasni...gadis yang bernama Anindya itu istri saya..." papar Akmal.
"Ah...Anda jangan bohong...Dek Anin itu setahu saya belum menikah...Anda pasti punya niatan buruk pada Dek Anin...!" kata salah satu warga.
__ADS_1
"Saya tidak bohong,Bapak-bapak...Anindya itu beneran istri saya..." kata Akmal.
"Mana buktinya kalau Anda suami dari Dek Anin ?" tanya Warga.
"Iya..Anda punya bukti kuat kalau kalian sudah menikah ? Jangan-jangan Anda ini penculik atau penjahat.." kata warga.
Akmal mulai panik...karena dia tentu saja tidak punya bukti kalau dia dan Anin sudah menikah.
"Kalau ada penculik good looking seperti saya...yang ada para gadis antri minta diculik, Pak...Begini saja...kalau kalian semua tidak percaya..kalian bisa tanya Anindya langsung..." kata Akmal.
"Baik...mari kita tanya Dek Anin saja biar semuanya jelas.." ajak warga.
Akmal tersenyum tipis penuh kemenangan karena rencananya sedikit lagi goal.
Lalu mereka menuju ke rumah Anindya.
Salah satu warga mengetuk pintu rumah Anin...beberapa saat kemudian Anin melihat dari kaca jendela siapa yang mengetuk pintu..mendapati banyak orang di luar rumahnya...Anindya panik dan membuka pintu.
"Iya ? Ini ada apa ya kok rame-rame di depan rumah saya ?" tanya Anindya bingung.
Lalu Akmal menyembul menampakkan diri dari kumpulan para warga.
"Tuan Dokter ?" Anin semakin bingung.
"Begini Dek Anin...laki-laki ini kamj dapati mondar-mandir di depan mobilnya dan melihat ke arah rumah Dek Anin ini...dan setelah kami tanya...katanya dia sedang menunggu istrinya...istrinya itu lagi marah padanya...dan yang mengejutkan dia bilang istrinya itu adalah Dek Anin..." penjelasan warga.
"Apa semua itu benar,Dek Anin? Setahu kami Dek Anin kan belum menikah ?" tanya warga.
Anin langsung menatap tajam dan kesal pada Akmal.
'Bisa-bisanya dia ngomong gitu ke warga sekitar sini...' batin Anin.
'Oke...aku ikutin skenario Tuan Dokter reseh ini...awas aja...tanggung sendiri akibatnya..!' lanjut Anin dalam hati.
"Bukan ! Dia bukan suami saya ! Dia bohong !" jawab Anin.
"Naah...ketahuan kaan ? Jadi Anda siapa dan punya niat apa ? Ayo ngaku !" kata warga riuh bersahutan.
"Anin ! Kamu kok gitu sih ? Bilang yang sebenarnya pada mereka..." pinta Akmal mulai panik.
"Ayo kita bawa ke kantor polisi saja !" kata warga.
"Anin kamu tega...!" kata Akmal.
Anin hanya menatapnya dengan mimik wajah mengejeknya.
"Rasain..!!" kata Anin tanpa suara hanya gerakan mulutnya saja.
"Dasar pembohong ! Kita hajar bareng-bareng aja !" seru salah satu warga.
__ADS_1
"Tunggu..tunggu !! Anin !! Kamu tega banget..." kata Akmal yang tangannya mulai di pegangi warga agar tidak kabur.