Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Pertemuan Kembali.


__ADS_3

Kemudian Anin memasuki mobilnya.


Lalu melajukannya menuju kantor tempat ia bekerja.


Izinnya hanya setengah hari...karena keperluan menjemput Barra tadi.


Dan hari ini ada jadwal meeting penting dengan mitra bisnis perusahaan tempatnya bekerja...dengan agenda tanda tangan deal contract.


Anindya masuk ruangan Pak Dirga dengan langkah tergesa.


'TOK-TOK...'


Jemarinya mengepal mengetuk daun pintu presdir perusahaan tempatnya bekerja.


"Masuk..." jawab Pak Dirga.


"Nah...ini dia yang ditunggu sudah datang..." lanjut Pak Dirga.


""Saya tidak terlambat kan,Pak ?" tanya Anindya khawatir.


"Tidak,Mbak Anin...mitra kita belum datang..." timpal staff yang juga ada di ruangan Pak Dirga.


"Syukurlah..." jawab Anin.


Lalu Anindya mulai menyiapkan berkas-berkas guna kepentingan deal contract..dibantu asisten pribadinya.


Beberapa saat kemudian...sekretaris Pak Dirga masuk ke dalam ruangan...


"Pak..mereka sudah ada di luar.." katanya mengabari.


"Persilahkan mereka masuk..." titah Pak Dirga pada sekretarisnya.


"Baik..." lalu sekretaris itu kembali keluar ruangan.


Sejenak kemudian beberapa orang masuk ke dalam ruaang Pak Dirga...memang sengaja tidak di aula...agar lebih privasi...walaupun kesannya jadi agak jumlah orang di ruangan itu.


"Selamat siang,semua..." sapa seorang pria...staff ahli yang merupakan orang kepercayaan Devan.


"Selamat siang...selamat datang....Mari silahkan duduk.." sambut Pak Dirga.


Semua tim dari pihak Frozen mengambil duduk di sofa...Akmal yang dari tadi di belakang krunya....dipersilahkan oleh staff kepercayaan Devan untuk duduk terlebih dahulu.


"Silahkan duduk,Pak Akmal..." kata staff itu.


Dan begitu mendengar nama itu disebut...Anindya yang dari tadi menunduk...seketika mengedarkan pandangannya ke arah sofa.


'DEG DEG DEGHH...!'


"Astaga !?! Benarkah apa yang aku lihat sekarang ini ??" batin Anindya.


Anindya lalu menarik diri mundur ke belakang timnya Pak Dirga....berusaha agar saat ini Akmal tidak melihatnya.


"Perkenalkan,Pak Dirga...ini Pak Akmal adik dari pimpinan kami Pak Dirga....beliau mewakili Pak Devan yang dengan sangat terpaksa tidak bisa hadir....karena sesuatu hal yang tidak bisa ditinngal..." kata staff kepercayaan Devan.


Tak ayal semua pandangan netra tim Pak Dirga tertuju pada Akmal...kesan pertama yang mereka tangkap tentu wajah Akmal yang memang high rate...didukung dengan outfitnya yang stylish memakai celana bahan warna coklat dengan kemeja warna navy...dipadu warna blazer yang senada...sementara rambut sebahunya disisir ke belakang...membuat Akmal semakin good looking dan elegan.


"Salam kenal Pak Akmal..." sapa Pak Dirga.

__ADS_1


Akmal memamerkan senyum formalnya pada Pak Dirga dan timnya.


"Tapi Saya harap ketidakhadiran Pak Devan di tengah-tengah kita tidak berpengaruh pada keputusannya meneruskan kontak kerja dengan perusahaan kami...." kata asisten pribadi Pak Dirga.


"Sama sekali tidak....maka dari itu Pak Devan mengutus Pak Akmal yang merupakan adiknya menggantikan beliau langsung..." papar staff kepercayaan Devan.


"Anda tidak perlu khawatir,Pak...tidak ada yang berubah...saya disini diberi kekuasaan penuh oleh kakak saya...dengan arahan para staffnya tentunya..." kata Akmal.


Anindya yang mendengar suara Akmal setelah bertahun-tahun lamanya...masih mencoba menyinkronkan hati dan fikirannya.


Penggalan-penggalan kenangan masa lalunya saat bersama Akmal dulu berseliweran kembali di kepalanya...kenangan yang selama ini berusaha Anindya kubur...juga kenangan yang sempat membuatnya sesaat mengalami traima mendalam.


Kakinya mendadak gemetar menyangga tubuh rampingnya....Anindya berusaha keras menjaga pertahanan tubuhnya.


"Syukurlah kalau begitu..." kata Pak Dirga.


"Saudari Anindya...apakah sudah siap berkas-berkas yang diperlukan ?" pertanyaan Tuan Dirga yang sekaligus menjadi akhir persembunyian Anindya sejak awal tadi dari Akmal.


Sekali lagi...ilmu psikolog sangat membantunya saat ini...Anindya mampu mengontrol emosi juga ketakutannya...dan siap tampil profesional di depan semua orang.


"Sudah Pak..." jawab Anindya dengan pasti dan memunculkan tubuh rampingnya dari belakang tubuh salah satu staff yang dari tadi digunakannya bersembunyi dari Akmal.


'JDERRR...!!'


'Suara itu....' batin Akmal...lalu menoleh ke sumber suara.


Sontak netra Akmal disuguhkan pemandangan yang tak ia sangka sebelumnya...


Suara yang sangat familar di telinganya barusan ternyata bersumber dari seorang wanita cantik yang tampak anggun sekali...


Dan yang paling membuat Akmal tercengang....hijab warna senada dengan rok yang dipakai wanita itu...


"Astaga !?! Anindya ?? Benarkah dia Anindya ?" Akmal berkata dalam hati tanpa berkedip sedikitpun memendang ke arah Anindya yang di depannya sekarang.


Sementara Anindya...berusaha menjaga agar tidak kontak mata dengan Akmal,sambil kedua tangannya mendekap map berisi berkas...sekaligus pertahanan bagi tubuhnya yang serasa sedikit melayang saat ini.


"Anin ?? Berhijab ??" Akmal masih speechless.


"Baiklah...tolong Anda tunjukkan dan beri penjelasan kepada mitra kerja kita...poin-poin penting kontak kerja kita..." kata Pak Dirga.


"Baik Pak...permisi..." Anindya mengambil duduk di depan Akmal dan di samping Pak Dirga.


"Anin...?" gumam Akmal tak lepas memandang Anindya.


"Apa kalian juga sudah saling kenal seperti halnya Pak Devan ?" tanya Pak Dirga.


"Iy...." kata Akmal terpotong.


"Tidak,Pak...kami tidak saling kenal..." sahut Anindya cepat.


"Baiklah sebelum saya mulai...perkenalkan Pak Akmal...nama saya Anindya dari bagian HRD di perusahaan ini..." Anindya menatap ke arah Akmal yang di depannya dengan percaya diri.


Penjelasan yang diberikan Anin pada Akmal sepertinya hanya lewat saja di telinga Akmal...karena saat ini dia lebih fokus memandang Anindya tanpa kedip.


Akmal tak percaya akan pertemuannya dengan Anindya saat ini...terkejut dan senang luar biasa membaur jadi satu.


Wanita yang dulu begitu dalam dia sakiti...wanita yang selama ini dia cari-cari...wanita yang selama ini mengunci perasaannya dari wanita lain yang mengincarnya....wanita yang membuatnya diusir dari keluarganya....wanita yang membuatnya merasakan penyesalan berkepanjangan...

__ADS_1


Tanpa terasa...sudut netranya berair...dan segera dia mengusapnya...karena saat ini dia berada di tengah orang banyak.


"Bagaimana,Pak Akmal ? Ada yang Anda permasalahkan soal kontrak kerja kita ini ?" tanya Pak Dirga


Akmal terlihat gelagapan mendengar pertanyaan Pak Dirga.


Sementara Anindya berusaha bersikap sebiasa mungkin di depan Akmal...walaupun tak dipungkiri hatinya saat ini bergemuruh riuh.


"Hahh ? Eee...tidak ada masalah,Pak Dirga..." jawab Akmal sekenanya.


"Jadi kita bisa menandatangani kontrak ini sekarang ?" tanya Pak Dirga.


Suasana hening seketika...menunggu jawaban Akmal.


"Eee...begini..." kata Akmal mengatur duduknya.


Pak Dirga dan yang lainnya memandang cemas.


"Saya perlu mempelajari kontrak kerja ini dan menunjukkan ke Pak Devan lebih dulu..." kata Akmal mulai memutar otak.


"Kenapa begitu,Pak Akmal...Anda bilang tadi sudah diberi kekuasaan penuh oleh Pak Devan ?" tanya Pak Dirga.


"Iya memang betul...tapi tetap saja saya tidak enak hati kalau tidak berdiskusi terlebih dulu dengan kakak saya...." kata Akmal.


Ada gurat kecewa terlihat di wajah Pak Dirga dan timnya...termasuk Anindya.


"Baiklah kalau begitu...kapan kami akan dapat jawaban kepastiannya ?" tanya Pak Dirga.


"Dalam 1 × 24 jam..." jawab Akmal.


Lalu Akmal dan timnya permisi dengan membawa map isi perjanjian kontrak kerja tadi.


"Pak Dirga...boleh saya bicara sebentar dengan HRD Anda ? Ada hal yang perlu saya tanyakan soal poin perjanjian...supaya saya bisa menjelaskan dengan gamblang pada kakak saya nantinya..." alasan Akmal mencari akal untuk bisa bicara 4 mata dengan Anindya.


Anindya yang mendengar hal itu mengernyitkan dahi...curiga ini hanya akal-akalan Akmal.


"Silahkan,Pak Akmal....Anda bisa berbincang disini bersama Saudari Anindya....kami tunggu kalian di aula untuk makan siang..." kata Pak Dirga.


"Ee maaf Pak...sebaiknya kami berbincang di aula saja...di tempat yang lebih terbuka..." sanggah Anindya.


"Bagaimana Pak Akmal ?'" tanya Pak Dirga.


"Tidak masalah...dimana aulanya ?" tanya Akmal tanpa lepas memandang lekat Anindya....seolah dia tak ingin Anindya lepas dari pandangannya.


Sementara Anindya....dia hanya sesekali melihat ke arah Akmal dengan mimik wajah kesal dan menarik nafas enggan.


Tapi di depan Pak Dirga ? Dan menyangkut urusan deal contract ? Kayaknya Anin nggak mungkin bisa mengelak.


Lalu semua orang keluar ruangan Pak Dirga dan menuju aula.


Dengan senyum manis yang setengah dipaksakan...Anindya mengarahkan Akmal duduk di deretan kursi rapat di sebelah kanan aula....sementara yang lain menuju aula sebelah kiri dimana jamuan makanan dan minuman disuguhkan.


"Jadi poin mana dari perjanjian yang ingin Anda tanyakan,Pak ?" Anindya duduk dan mulai membuka pembicaraan...sikapnya dia jaga senormal mungkin...walaupun hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Akmal masih berdiri di depan Anindya dengan kikuk dan tak berhenti memandang wanita di depannya dengan pandangan penuh kerinduan.


"Apa kabar,Anin ?" tanya Akmal ragu dan kikuk.

__ADS_1


__ADS_2