Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Anindya Mulai Speak Up.


__ADS_3

"Salah sendiri kamu gak minta nomer keluarga ini yang lain..." Akmal berkata sekenanya menutupi kegugupannya.


"Emang saya kan yang selalu salah ? Dan Tuan Dokter yang selalu benar..." sindir Anin.


"Kamu tuh yaa...!" Akmal semakin maju ke posisi Anin tanpa mereka berdua sadari.


"Jelas salah lah...! Malam-malam keluyuran...boncengan sama yang bukan mukhrim...! Kamu gagal dapetin secawan madu...seteguk air pun kamu embat juga...!" seru Akmal


Membuat perumpamaan dirinya dan Barra dengan secawan madu dan seteguk air...


Yang langsung dipahami oleh Anindya.


"Hhhh..! Kalau saya bisa memilih...saya akan lebih memilih seteguk air daripada secawan madu...karena seteguk air bisa menghilangkan dahaga saya...dan setiap saat saya butuh seteguk air itu...daripada secawan madu....manis tapi mencekat di kerongkongan dan malah membuat dahaga...!" kata Anin datar.


"Dan apa Anda bilang ? Saya berboncengan dengan bukan mukhrim ? Helloww !! Seharusnya Anda itu bercermin dulu sebelum bicara ! Anda jelas-jelas bermesraan dengan perempuan yang bukan mukhrim...di lift...di mobil...saya saksinya...saya tidak komplain..!" seru Anindya.


"Kenapa ? Kamu cemburu hah ?" tanya Akmal angkuh sambil mendekat ke wajah Anindya.


"Cemburu ? Apa saya punya hak untuk cemburu ? Siapalah saya...saya hanya istri status saja bagi Anda..." kata Anin berusaha mundur menghindar dari Akmal.


"Tapi satu hal yang perlu Anda ketahui Tuan Dokter...! Kalau Anda jeli...saya tadi berboncengan dengan posisi menyamping...untuk menjaga pegangan saya agar tidak sampai bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan mukhrim...itu adalah upaya saya menjaga diri sejak dulu...dan menjaga kesakralan pernikahan saya sekarang...walaupun itu pernikahan terpaksa..." panjang lebar Anin.


"Nggak kayak situ...bermesraan di depan umum dengan bergandengan tangan dan bersandaran kepala dan bahu...!" ungkit Anindya.


"Jadi kamu diam-diam ngepoin aku sama Rika yaa..." kata Akmal menarik tubuh Anindya agar menghadap ke arahnya.


Tapi salah satu kaki Anindya terselip dan terhuyung ke sofa...


"Eh eh eh....!" tubuh Anin roboh.


Akmal yang menarik tubuhnya alhasil ikut roboh di sofa.


Dalam posisi Akmal di atas tubuh Anin.


Mereka terdiam seketika...merasakan sengatan arus listrik seperti sebelumnya.. saat bersentuhan kulit.


"Kenyataannya memang seperti itu...semua orang pun tahu..." kata Anin dengan berusaha mengatur nafasnya.


Akmal masih tetap diam..lekat memandang wajah Anindya dengan nafas yang juga terburu-buru...


"Sedangkan kenyataan lain yang tidak bisa saya pungkiri adalah....hanya dengan Tuan yang notabene adalah mukhrim saya...saat bersentuhan kulit...saya merasakan hal yang aneh.. " kata Anin lirih dan mengungkap kejujuran pada Akmal.


Lalu seketika dia tersadar dan nenyingkirkan tangan Akmal yang memeluknya.


Akmal pun tersadar juga...lalu berusaha bangkit dan berdiri di posisi awal tadi.


"Itu hanya perasaan kamu saja...aku mah biasa aja !" sesumbar Akmal tak mengakui kebenarannya.

__ADS_1


Setelah itu...tak ada perdebatan lagi...


Akmal putar badan..... lalu menaiki ranjang tidurnya dan melihat Anin yang sudah berbaring di sofa memunggunginya....


...----------------...


Keesokan harinya...


Anindya tak mau bareng sama Akmal berangkat dari rumah.


Dia meminta Mbak ojol langganannya datang langsung di depan gerbang rumah keluarga Wirawan.


"Lho...Anin...! Kenapa gak bareng sama Akmal seperti biasanya ?" tanya Mama mertuanya.


"Maaf Ma...saya lebih nyaman naik ojol aja..." jawab terus terang Anin.


Dia sudah tak sungkan menolak permintaan mertuanya untuk berangkat bersama Akmal seperti tempo hari.


"Kenapa ?" tanya Nyonya Mira.


"Tuan Dokter harus menjemput seseorang yang lain...saya takut mengganggu..." jawab Anindya.


Akmal mendengar itu...dia tidak menyangka Anin berani berkata seperti itu...


' Oo..jadi dia mulai speak up yaa...dasar tukang ngadu...!' kata Akmal dalam hati.


Dia berpamitan pada kedua mertuanya...lalu keluar dari pintu utama rumah dan menuju pintu gerbang...


Ada Mbak ojol sudah parkir di pos satpam.


Sementara Akmal harus menerima siraman rohani terlebih dahulu dari Papa dan Mamanya.


"Awas aja kamu Anindya !" gerutu Akmal sendirian.


Alhasil...Akmal dilarang menemui Rika oleh Papa dan Mamanya selain di RS.


Sesampainya Anin di RS...


Dia sudah ditunggu Barra di parkiran...


"Anin..." panggil Barra pada Anindya.


"Iya Dokter...kok Anda ada di sini ?" tanya Anindya.


"Sengaja nungguin kamu...kebetulan masih pagi...ada yang ingin aku bicarakan sama kamu..." kata Barra.


"Kita bicara taman belakang saja...biar lebih bebas..." ajak Barra.

__ADS_1


Anin mengangguk...dan mengikuti langkah Barra ke tempat yang mereka tuju.


' Sepertinya aku sudah tidak bisa menutupi kebenaran ini lagi dari Dokter Barra...aku harus katakan yang sebenarnya...apapun resikonya...Walaupun berat...karena aku tidak ingin kehilangan sosok Dokter Barra yang selama ini baik padaku...hanya dia satu-satunya pelindungku....dan mungkin setelah ini...aku harus rela kehilangan dia dan kebaikannya...' Anin berkata dalam hati.


Dan mereka berdua sudah ada di taman belakang RS sekarang.


Lengang...hanya tanaman dan bunga warna -warni di sekeliling mereka.


Mereka lalu duduk di bangku panjang...bersebelahan tapi tetap berjarak.


Attitude Barra memang tidak diragukan lagi...


Anindya selalu merasa aman dan tenang walaupun hanya berdua dengan Barra.


"Aku minta jawaban atas pernyataan perasaanku padamu tempo hari...aku rasa sudah cukup waktu untuk kamu berfikir dan mengambil jawaban..." Barra to the poin aja.


Tak dapat dipungkiri Anindya kalau sekarang ini hatinya begitu dag dig dug tak karuan...


Tapi dia berusaha menetralkannya sebisa mungkin.


"Aku merasa kamu menutupi suatu hal besar dariku...aku merasa ada yang tidak biasa di keseharianmu belakangan ini..." tebak Barra.


Anindya diam dan hanya tersenyum kecil mendengarnya.


"Jadi apa jawaban kamu ?" tanya Barra.


"Jawaban yang sama saat pertama kali Anda tanya tempo hari,Dokter..." kata Anin.


"Tapi kali ini...saya akan katakan alasan besar kenapa saya menolak pernyataan perasaan Dokter pada saya..." sambung Anin.


"Katakan...aku menunggu..." kata Barra tampak tidak sabar.


"Karena saya sudah menikah..." kata Anidya.


Yang sukses membuat Barra membelalakkan bola matanya....tanda kaget dan tak percaya dengan apa yang didengarnya...


"A..Apa ?" tanya Barra terbata.


"Iya Dokter...panjang ceritanya..." kata Anin.


Lalu dia mulai menceritakan awal mula dia terpaksa menikah.


Barra sudah mendengar semua kebenarannya sekarang.


Dia hanya diam...tak tahu apa yang ada di fikirannya sekarang.


"Anda sudah tahu semuanya...sekarang terserah Anda...maksud saya...saya rela menerima kenyataan kalau kebaikan Anda pada saya selama ini akan sirna...saya rela kalau harus kehilangan sosok kakak dan pelindung dari Anda...." kata Anindya.

__ADS_1


Barra tak bergeming...di pikiran dan hatinya masih berusaha mencerna kenyataan yang didapatinya barusan.


__ADS_2