Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Rika Gelap Mata.


__ADS_3

Dan tiba-tiba saja suara pintu digedor dengan keras dan terburu.


"Anindya ? Kamu di dalam ?" suara seseorang dari luar pintu.


Roby langsung menghentikan aksinya pada Anindya sebelum sempat menyentuhnya.


"Tuan Dokter !! Saya disini !! Tolong saya !!" teriak Anindya langsung mengenali suara Akmal yang ada di luar sekarang.


'Syukurlah... Mas Reseh tiba di saat yang tepat...' batin Anindya.


"Buka pintunya ! Roby ! Atau aku dobrak !" teriak Akmal.


"Bedebahh !! Dari mana dia tahu tempat ini ??" umpat Roby.


Roby menuju pintu dan membukanya....tampak Akmal di depan pintu dengan mimik wajah penuh amarah dan gestur tubuh siaga.


Tanpa menunggu lama Anindya berhambur keluar...seketika lengannya ditangkap Akmal dan mengarahkan tubuh Anin ke belakang tubuhnya...posisi siap menjadi tameng dan pelindung bagi Anindya.


Anindya menurut saja...


Lalu Akmal melepas jasnya dan diberikan kepada Anindya...karena tadi sekilas Akmal sempat melihat kemeja bagian bahu Anin terkoyak.


"Pakai ini..." kata Akmal sambil tetap mamandang nanar ke arah Roby.


Anindya menerima jas Akmal dan memakainya tanpa memasukkan lengan jas itu.


"Kamu itu selalu mengganggu kesenanganku !" kata Roby dengan senyum smirk juga nada suara ledekan.


Sambil keluar dari kamar dengan santainya.


Lalu Roby bersandar di buffet yang terletak di dekat pintu kamarnya.


"Beraninya kamu..."


"Kenapa ? Kamu keberatan aku bersama istri paksaanmu,hahh ? Apa salahnya ? Kalian kan hanya terpaksa menikah ? Lagian kamu kan sudah punya Rika...jangan serakah kamu dr.Akmal..." Roby malah menasehati Akmal.


Akmal.semakin terlihat bersungut-sungut.


Anindya termakan omongan Roby dan hendak menjauh dari Akmal...tapi tangan Akmal menahannya agar tidak pergi menjauh darinya...semua itu dilakukan Akmal tanpa melihat ke arah Anindya yang ada tepat di belakang tubuhnya.


Anindya memandang Akmal lekat dalam diam...lagi-lagi dia tak kuasa menolak.


"Bukan urusanmu !!" kata Akmal penuh penekanan.


"Sekarang menjadi urusanku ! Karena kekasihmu sekarang berkongsi denganku dan istri paksaanmu itu...menjadi incaranku sejak pertama aku melihatnya..." tukas Roby tanpa merasa bersalah.


"Aku heran...dari dulu aku selalu kalah darimu...baik di sekolah...urusan asmara...urusan pekerjaan juga..." runtuk Roby.


"Atau seharusnya aku menghabisimu saja kali, yaa ?" Roby semakin berani.


Anindya terperanjat mendengar perkataan Roby tersebut.


Tanpa sadar dia meng-eratkan jemari tangannya pada tangan Akmal...seolah mengisyaratkan agar Akmal lebih berhati-hati karena Anin tak rela kehilangan Akmal.

__ADS_1


"Silahkan kalau bisa...jangan fikir aku akan diam saja.." kata Akmal enteng.


"Atau begini saja...aku kan sudah merelakan Rika untukmu...sekarang biarkan aku memiliki istri paksaanmu...kita berbagi dan masalah kelar...soal urusan kontrak kerja...aku akan mundur teratur untuk itu...gimana, deal ??" penawaran Roby.


"Ckckck...sepicik itu pemikiranmu,Rob !! Aku tidak takut bersaing denganmu...secara fair...dan jangan bawa Anindya di dalamnya.." kata Akmal.


"Soal Rika...aku sangat lega sekarang...karena kejadian ini membuka lebar-lebar mataku...dia sudah menunjukkan jati dirinya padaku...setidaknya aku tidak perlu susah payah menjaga perasaannya lagi...seperti yang selama ini aku lakukan..." sambung Akmal.


"Apa maksud perkataanmu itu,Sayang ?" tiba-tiba Rika muncul dari belakang Akmal dan Anin.


Ternyata sejak tadi Rika ada di dalam rumah itu...rumah yang Roby gunakan untuk menyekap Anindya...yang merupakan salah satu aset pribadi milik Roby.


Tentu Akmal dan Anin terkejut mendengar suara dan kehadiran Rika di tengah-tengah mereka secara tiba-tiba.


Rika melangkah maju mendekat ke arah Roby yang merupakan sekutunya.


"Baguslah kamu ada disini...dan jangan memanggilku sayang lagi...mulai sekarang hubungan kita berakhir..." kata Akmal tegas.


"Tidak !! Aku tidak mau hubungan kita berakhir...kamu harus jadi milikku !!" jerit histeris Rika sambil mendorong Anindya menjauh dari Akmal.


Anindya terhuyung ke belakang...syukurlah dia tidak sampai jatuh.


"Aku mencintaimu,Akmal ! Kamu tidak bisa mencampakkanku begitu saja..!" teriak Rika.


"Cukup Rika ! Kamu sendiri yang menghancurkan ikatan cinta kita ! Kamu culas ! Kamu tidak mencintaiku ! Kamu mencintai dirimu sendiri dan hanya mengincar hartaku !" Akmal menepis tangan Rika.


"Iya aku memang mengincar hartamu..aku akui itu...karena aku tidak bodoh ! aku memikirkan penghasilan di samping perasaan dalam memilihmu sebagai kekasih !" kata Rika.


"Jangan bilang kalau kamu mencintai dia...perempuan yang menikah secara paksa denganmu !" seru Rika dengan suara tertahan.


Anindya yang beberapa langkah di belakangnya hanya menatap punggung Akmal dalam diam.


"Oh...sudahlah...cukup pertunjukannya...!" seru Roby.


"Aku muak melihatnya !" lanjutnya penuh amarah tidak seperti sebelumnya yang selalu santai.


Lalu dia membuka laci buffet yang ada di belakangnya.


Dan dengan cepat Roby mengambil pistol di dalamnya dan menodongkannya tepat ke kepala Akmal.


"Roby ! Jangan !" teriak Rika dan Anindya hampir bersamaan.


"Astaga...dua perempuan ini...begitu khawatirnya padamu dr. Akmal Wirawan..." Roby menyeringai sambil tetap mengarahkan pistolnya ke kepala Akmal.


"Roby ! Jangan gila kamu !" cegah Rika.


"Diam kamu ! Ini aku lakukan juga demi kamu !" bentak Roby.


"Anindya,Sayang...kalau kamu tidak ingin suami kamu mati...serahkan bukti-bukti yang kamu miliki padaku..." kata Roby dengan nada dibuat semanis mungkin.


"Jangan Anindya ! Jangan serahkan padanya...! Serahkan saja pada polisi ! Biar saja aku mati ditangannya ! Agar hukumannya semakin berat ! Dan aku...aku bisa tenang karena bisa menebus kesalahanku padamu..." kata Akmal pada Anindya.


"Jangan konyol Tuan Dokter ! Setidaknya pikirkan orang-orang yang mencintai Anda !" seru Anindya marah atas ucapan Akmal.

__ADS_1


Akmal memandang intens perempuan yang dicintainya itu.


"Semua bukti ada di ponsel ku..." kata Anindya.


"Bagus,Sayang..." kata Roby.


"Rika..ambil ponsel Anindya yang ada di atas kasur ranjangku itu..." perintah Roby.


"Kendalikan tanganmu,Roby...jangan sampai kau tarik pelatuk pistolmu itu !" wanti-wanti Rika.


Lalu Rika masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel Anindya.


"Oh astaga !! Kamu begitu khawatir dengan keturunan Wirawan ini...padahal dia sudah mencampakkanmu barusan .." ejek Roby.


Rika memandang Akmal dengan pandangan memelas.


Akmal membalas pandangan dengan acuh tak acuh.


Aku akan menghancurkan ponsel ini ! Selanjutnya akan kuhancurkan juga pemiliknya !" kata Rika geram.


"Jaga bicaramu,Rika !" Akmal berkata penuh penekanan menunjukkan pembelaan pada Anindya.


Lalu Rika melempar ponsel Anin ke dalam tong sampah di luar rumah dan menyulut api ke dalamnya...hingga tercipta api yang melahap habis sampah juga ponsel Anindya.


Rika kembali ke dalam.


"Beress !! Barang buktinya sudah kulenyapkan..." kata Rika puas.


"Bagus...sekarang kita apakan mereka berdua ?" tanya Roby minta saran pada Rika.


"Urus perempuan itu...aku akan mengamankan Akmal..." kata Rika mengambil alih pistol yang dipegang Roby...lalu tetap mengarahkan ke kepala Akmal.


Sementara Roby mendekat ke Anindya...hendak membawanya pergi.


"Jangan coba-coba menyentuh Anindya,Roby !!" teriak Akmal pada Roby.


"Akmal ! Apa kelebihannya sehingga kau lebih memilih dia daripada aku ?" Rika histeris.


"Tanyakan pada dirimu sendiri.." jawab Akmal.


"Jauhkan tangan kotormu itu ! Jangan mendekat !" Anindya menepis tangan Roby dengan memukulnya menggunakan tas.


"Dia juga sama denganku ! Dia hanya menginginkan kekeyaan keluargamu...dia licik !" seru Rika.


"Kamu tidak tahu apapun...jaga bicaramu !" bentak Akmal.


"Semua ini gara-gara kamu perempuan sialan..! Aku membencimu ! Aku muak melihatmu ! Mati saja kau !" teriak Rika histeris mengarahkan pistolnya ke arah Anindya.


"Rika ! Jangan gila kamu...! Jangan kataku !" kata Roby...tapi tak digubris Rika.


"Rika ! Bunuh saja aku !" kata Akmal.


"Rika letakkan pistolnya ! Rika ja...." kata-kata Roby tak berlanjut.

__ADS_1


'DORRR...!!!'


Suara peluru keluar dari pistol yang dipegang Rika.


__ADS_2