
"Anin !" seru Barra sambil menepikan sepeda motor sportnya.
"Dokter Barra.." kata Anin.
"Kok di sini ? Sedang apa kamu ?" tanya Barra.
"Nunggu ojol,Dokter..." jawab Anin tidak bisa berbohong.
"Lho...bukannya jarak rumah Pak Wirawan kesini lumayan jauh ?" tanya Barra lagi.
"Eee...iya..tadi Tuan Dokter masuk shift malam..." kata Anin bohong.
"Terus kamu kesini sama siapa ?" tanya Barra lagi.
"Eee...sama Budhe Tini..ee...sama sopir....maksud saya tadi...saya barengan sama Budhe Tini yang mau ke pasar...diantar naik mobil...tapi saya minta turun di sini..." kata Anin terbata-bata.
"Kenapa gak sekalian aja...kan ke pasar sama ke RS satu arah..." selidik Barra.
"Eee...itu...kasihan mbak ojol langganan saya,Dokter.." Anindya beralasan.
' Kayaknya ada yang nggak beres nih...' Barra berkata dalam hati.
' Anin...kamu gak pandai berbohong...ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku...' lanjut kata Barra dalam hati.
"Ngomong-ngomong...Dokter sendiri mau kemana ?" tanya Anin balik.
"Mau beli spare part sepeda motor...mumpung aku hari ini shift malam..." jawab Barra.
"Ooo.." kata Anin.
Sesaat kemudian Mbak ojol datang dan Anin berpamitan ke Dokter Barra.
__ADS_1
Akhirnya Anin sampai di RS...
Dia hendak menaiki lift khusus staff dan dokter menuju divisi poli nutrisi dan gizi.
Tak dinyana...Anin berpapasan dengan Akmal dan Rika.
Mereka sudah ada di dalam lift terlebih dahulu...entah dari lantai mana...yang jelas sekarang mereka dan Anin ada di dalam satu lift bersama.
Akmal dan Rika sempat memasang ekspresi muka kaget...Anin pun demikian.
Posisi Akmal dan Rika ada di belakang Anindya sekarang...
Akmal tak lepas memandang Anin...tapi dari belakang tempat dia berdiri sekarang.
"Ee...Sayaang...aku gak mau yaa kalau kamu sampai mau diboncengin atau mau diajak jalan sama selain aku...kayak itu tuh...benalu.." sindir Akmal yang sejatinya ditujukan pada Anin.
"Ya gak mungkin lah Sayyang...ibaratnya tuh gini...dihadapanku tuh udah ada madu asli...masak aku milih air putih..." sambut Rika ikut meledek Anin.
Alhasil...tangan Rika gak tahan untuk menarik tangan Anindya dari belakang.
Sampai Anindya terhuyung badannya dan secara refleks Akmal yang berada tepat di belakangnya menahan tubuhnya.
Lagi...mereka tidak sengaja bersentuhan kulit secara langsung.
Dan lagi...mereka merasakan aliran medan listrik yang unik.
Akmal dan Anindya mematung lagi dalam posisi mereka.
Hening seketika...
"Appaan sihh...leppass..!" seru Rika sambil menepis tangan Akmal dari tubuh Anindya.
__ADS_1
"Ehh... ! kamu jangan keganjenan yaa jadi perempuan ! Ingat satu hal...Akmal itu milikku ! Akmal cintanya sama aku ! Dasar kamunya aja yang gak tahu diri ! Udah dikasih hati masih minta jantung !" Rika mendamprat Anin.
Anin hanya diam saja...
Tak ada keinginan untuk membalas...
Anindya justru lebih merasa tersayat perasaannya...saat melihat ke arah Akmal sekilas...yang tampak acuh atas perlakuan Rika kepadanya.
Sedangkan Akmal memang berusaha acuh...
Tapi tak dapat dia pungkiri...kalau dia merasa ada yang tak biasa di hatinya.
Anindya memilih untuk keluar dari lift dan meninggalkan Akmal dan Rika berdua dalam lift.
Sepeninggal Anindya...Akmal justru terlihat tidak nyaman.
"Lain kali...kalau kamu marah...bisa gak sih gak main tangan gitu ? kayak orang bar-bar aja..." tegur Akmal pada Rika.
"Sayaang...kok kamu malah marahin aku ?" kata Rika manja.
"Habisnya kamu keterlaluan ! Kalau dia terluka...dia bisa nuntut kamu lho...!" kata Akmal.
"Apaan sih kamu,Sayang...! Gak asik deh..." kata Rika.
"Baru aja aku merasa senang...kamu tadi mau menyindir Anindya...sekarang kok kesannya kamu belain dia ?" protes Rika.
Akmal hanya geleng-geleng kepala...merasa percuma saja saat ini ngomong ke Rika.
Sedangkan bagi Anindya...jam kerja hari ini terasa lama sekali..
Karena dari tadi dia menunggu waktu istirahat...ada yang harus dia lakukan segera saat istiraahat tiba.
__ADS_1