
Anindya turun lagi membawa tas pakaiannya.
"Eh,Anin...mau kemana malam-malam begini ?" tanya Nyonya Mira yang berpapasan dengan Anin.
"Permisi,Ma..." kata Anin singkat lalu melanjutkan langkahnya keluar dari rumah.
"Akmal...Pa...!" teriak Nyonya Mira gusar.
Tuan Wirawan bergegas keluar dari ruang kerjanya...disusul Akmal dengan langkah gontainya.
"Pa...Anin,Pa...dia bawa tas pakaian dan keluar rumah tergesa...ada apa dengan dia,Pa ?" Nyonya Mira bingung.
"Tanyakan pada anak kesayangan Mama itu..." Tuan Wirawan bergegas menyusul menantunya itu.
Sedang Akmal tak bergeming...tak menjawab segala pertanyaan Mamanya juga tak ada niatan menyusul istrinya.
Sementara itu...di luar rumah keluarga Wirawan....
"Anin ! Kamu mau kemana ? Kita bicarakan baik-baik dulu..." bujuk Papa mertuanya sambil membuntuti langkah Anindya.
"Saya masih punya rumah untuk saya tinggali,Tuan...jangan khawatirkan saya...saya sudah biasa sendiri..." jawab Anin.
"Anin...maafkan Papa...maafkan Akmal...ayo kita masuk,yuk.." bujuk Tuan Wirawan.
"Terimakasih...saya masih punya harga diri...mana mungkin saya kembali untuk kedua kalinya setelah pengusiran Tuan Dokter tadi..." kata Anin menghentikan langkahnya karena sudah berada di tepi jalan raya...dia berniat mencari ojol atau taxi atau angkot atau apapun...yang penting bisa sampai ke rumah lamanya.
"Oke...kalau kamu mau pulang kerumahmu...akan Papa antar...tunggu sebentar..." kata Tuan Wirawan yang mengambil ponsel dari saku celananya dan melakukan panggilan kepada seseorang.
Tak lama kemudian...ada mobil merapat ke arah mereka berdua,yang ternyata dikendarai supir dari keluarga Wirawan.
"Izinkan Papa mertuamu ini mengantar kamu sampai rumah...dan memastikan kamu baik-baik saja di sana..." kata Tuan Wirawan memelas.
Tuan Wirawan membuka pintu depan mobil untuk Anindya...dan syukurlah Anindya bersedia diantar oleh Tuan Wirawan.
Meninggalkan Pak supir sendirian di tempat mereka berada tadi...kira-kira berjarak 500 meter dari kediaman Wirawan.
Dan mobilpun melaju menuju rumah lama Anindya.
Sesampainya di rumah...
"Terimakasih sudah mengantar saya sampai rumah,Tuan...Anda bisa pulang sekarang..." kata Anin lemah.
"Maafkan Papa,Nak..." hanya kata itu yang terlontar dari mulut Tuan Wirawan dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Saya ingin sendiri,Tuan....dan mohon jangan usik saya lagi...saya juga berhak bahagia.." kata Anin lalu menutup pintu rumahnya.
Ucapan menohok Anindya barusan membuat Tuan Wirawan tak berani memaksakan lagi kehendaknya.
Dia berbalik arah dan meninggalkan rumah Mbah Rasni.
Sementara di dalam rumah...
Anindya terguguk sambil terduduk di bawah pintu...hatinya remuk berkeping seribu...kenyataan kalau Ayahnya telah lama tiada sudah membuatnya sangat kecewa pada Tuan Wirawan...ditambah lagi luka hatinya sebab kata-kata kasar dan hinaan dari Akmal.
Dia seakan baru saja jatuh dihempaskan ke bawah secara tiba-tiba....setelah sebelumnya sempat terbuai terbang melayang...semua itu karena sikap dan perlakuan Akmal yang berubah 180 derajat secara tiba-tiba.
"Kamu jahat !! Apa salahku padamu,Tuan Dokter...!" monolog Anin sambil tersedu.
Keesokan harinya...
Setelah semalam hampir tidak tidur karena terus menangis...Anindya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit...tapi bukan untuk bekerja...melainkan untuk mengurus kepulangan Mbah Rasni.Ya..Anin memutuskan untuk merawat Mbah Rasni di rumah saja...karena di samping kondisi Mbah Rasni yang sudah memungkinkan untuk dbawa pulang,Anin tidak ingin lagi menjadi beban Tuan Wirawan soal biaya perawatan Mbah Rasni.
Tuan Wirawan tentu keberatan atas keputusan Anindya...tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah Anindya...dia hanya meminta izin pada Anindya agar boleh mengirimkan dokter dan suster secara rutin dan berkala guna memantau kesehatan Mbah Rasni.
Dan Anindya dengan berat hati mengizinkannya demi kesembuhan Mbahnya.
Anindya juga sempat menghubungi Barra...untuk sekedar bercerita tentang masalah yang dihadapinya...tapi ternyata dia sedang ada di luar kota....dia rupanya sedang mengikuti seminar...dan baru kembali bulan depan.
Jadi Anindya mengurungkan niatnya untuk bercerita...takut menjadi beban fikiran bagi Barra yang saat ini harus konsentrasi pada seminar dan pekerjaannya.
Sampai dia memutuskan untuk memulai proses gugatan perceraiannya di pengadilan.
"Kamu ini kenapa sih,Akmal...sebentar-sebentar berubah fikiran..apa motivasimu saat ini menggugat cerai Anindya ?" tanya Tuan Wirawan.
Mereka saat ini sedang duduk...berada di ruang tengah atau ruang keluarga.
"Baiklah kalau Papa bersikeras ingin mengetahui alasannya..." kata Akmal.
Akhirnya dia menceritakan semua kejadian yang dilihatnya di hotel.
"Nggak mungkin...nggak mungkin Anindya melakukan semua itu..pasti ada kesalahpahaman..." kata Tuan Wirawan.
"Papa selalu saja membela Anindya.." lirih Akmal tapi penuh kekecewaan.
Papanya hanya diam...tak berniat berdebat lagi dengan anak bontotnya itu...karena melihat gurat kesedihan yang mendalam di wajahnya.
"Kamu sudah bertanya secara langsung pada Anindya ?" tanya Tuan Wirawan menyelidik dan hati-hati sekali.
__ADS_1
"Belum..." jawab Akmal singkat.
"Coba tanya langsung..." saran Papanya.
"Akan aku tanya kalau kami bertemu di sidang mediasi..." kata Akmal.
*
*
Hari berganti hari...
Tak terasa sudah satu bulan berlalu.
Anindya terhitung 2 kali selama sebulan ini,mendapat surat untuk hadir di pengadilan perihal gugatan cerai Akmal padanya.
Tapi tak ada yang dihadirinya...apalagi dia membaca alasan gugatan Akmal karena dirinya telah berselingkuh.
Tentu saja bagi Anindya itu adalah alasan yang konyol dan tidak masuk akal...karena dia tidak pernah merasa telah berselingkuh.
Tapi selama sebulan ini,ada yang membuat Anin bersyukur dan bahagia...yaitu Mbah Rasni telah sadar dan sudah mulai bisa diajak komunikasi.
Dan Mbah juga sudah tahu semua permasalahan yang dialami Anindya selama ini...sebab ternyata Mbah Rasni masih bisa mendengar dengan jelas semua keluh kesah Anindya....walaupun dalam keadaan koma.
"Mbah...Anin dapat tawaran yang bagus soal harga rumah ini...karena seperti yang Mbah tahu,Anin selama ini memang sudah berniat menjual rumah dan Mbah juga sudah setuju akan hal itu...." cerita Anin pada Mbah Rasni sambil bermanja di pangkuan Mbah diatas tempat tidur,di dalam kamar Mbah.
"Iya Nduk...Mbah manut opo karepmu wae (Mbah ikut apa keinginanmu saja)..." jawab Mbah Rasni.
"Kita jual lalu kita akan pindah ke Jakarta, tepatnya Jakarta Barat,dimana Ayah dimakamkan...menurut cerita Tuan Wirawan pada Mbah...Anin ingin dekat dengan keberadaan Ayah...disamping itu Anin juga akan melanjutkan kuliah,Mbah...doakan Anin berhasil dapat jalur beasiswa...sehingga tidak perlu terlalu banyak biaya..." panjang lebar Anin.
"Iyaa...maafkan Mbah ya,Nduuk....sudah membuat kamu menderita seperti ini..." sesal Mbah Rasni sambil mengelus rambut cucu semata wayangnya yang berbaring di pangkuannya saat ini.
Sesuatu yang sudah lama dirindukan Anindya dan baru terwujud beberapa hari belakangan ini.
"Mbah tidak perlu minta maaf...yang terpenting sekarang adalah Mbah sudah pulih kesehatannya....Anin sudah sangat bersyukur sekali...selebihnya,anggap saja ini skenario yang harus kita jalani dari Gusti Alloh.." jawab Anin.
"Mbah...Mbah tidak keberatan kan kalau Anin selama ini melarang keluarga Wirawan berkunjung ke rumah ini ?" tanya Anin.
"Ora,Nduuk..." jawab Mbah Rasni.
"Besok sidang terakhir gugatan cerai Anin,Mbah..." suara Anin mendadak bergetar menahan tangis.
"Kamu masih cinta sama Nak Akmal,Nduuk ?" tanya Mbah.
__ADS_1
"Apa gunanya rasa cinta,Mbah...semuanya sudah berakhir..." lirih Anindya.
.