
Anin disambut beberapa tenaga medis di luar...membawanya ke pintu belakang ambulance...untuk diperiksa keadaannya.
"Saya baik-baik saja...! Tolong suami saya saja...! Saya ingin tahu kondisinya...!" Anin mencoba berontak lari ke arah gedung.
"Anda tenang dulu...biar saya obati luka-luka Anda...tim damkar sedang berupaya mengevakuasi suami Anda keluar dari gedung...semoga tidak ada gempa susulan lagi..." kata salah satu tenaga medis sambil mengobati pergelangan kaki Anin.
"Saya ingin bersama suami saya,Suster...! Ijinkan saya kesana..." pinta Anin frustasi karena memikirkan nasib Akmal di dalam gedung sana.
Rasa sakit hati dan marah di dalam dirinya pada Akmal....mendadak kini sirna...tergantikan oleh rasa cemas dan takut kehilangan sosok Akmal.
"Kita tunggu saja disini..disana berbahaya...gedung sewaktu-waktu bisa runtuh..." kata suster.
Hampir satu jam Anin duduk di belakang mobil Ambulance...dengan penuh frustasi dan tanpa kepastian...menunggu kabar kondisi Akmal saat ini.
Anin membenahi jilbab lusuhnya yang acak-acakan...sambil terus memandang ke arah gedung...berharap tim damkar segera keluar membawa Akmal...dalam keadaan selamat tentunya.
Sejurus kemudian tampak rombongan tim damkar keluar dengan membawa seseorang diatas tandu.
Riuh orang-orang yang ada di sekitar gedung penasaran ingin mendekat melihat siapa dan bagaimana kondisi sosok orang yang ada di atas tandu....namun dengan sigap tim damkar mencegah pergerakan mereka.
Tim damkar menuju ke mobil ambulance tempat Anin sejak tadi berada.
"Bagaimana kondisi suami saya saat ini ??" kata-kata suami meluncur begitu saja dari bibir Anin.
"Suami Anda harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit..." kata salah satu petugas.
Tampak Akmal masih tetap terpejam matanya...dengan penyangga leher...dibawa masuk ke dalam ambulance...bersama Anin yang duduk di sampingnya.
Anin tak bisa berkata apa-apa melihat kondisi Akmal saat ini.
"Sepertinya dia mengalami patah tulang di kakinya...selebihnya dokter nanti yang lebih paham..." kata seorang petugas damkar sebelum nenutup pintu belakang ambulance.
"Terimakasih banyak..." ucap Anin.
Lalu ambulance mulai menuju rumah sakit.
"Bertahanlah,Tuan Dokter...aku yakin kamu pasti kuat...!" hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Anin sambil menggenggam tangan Akmal.
*
*
*
Setibanya di RS terdekat...
Akmal langsung dapat penanganan medis.
Anin menunggu di kursi luar ruangan dengan perasaan gusar.
Sejenak kemudian dia melakukan panggilan di hpnya.
Dia mengabari keadaannya juga Akmal pada Mbah Rasni...juga memutuskan untuk mengabari Kak Devan.
Cukup lama Akmal di dalam ruang IGD untuk mendapat penanganan medis.
Anin hanya bisa menunggu dengan gusar dan pasrah...tapi tetap berharap hasil yang baik saat dokter keluar nanti.
Anin sesekali berdiri mencoba mencari celah untuk bisa melihat Akmal di dalam...namun hasilnya nihil...karena pintu ruangan itu di design tak tembus pandang.
Dia mondar-mandir sendirian tanpa seorang pun bersamanya menunggu dokter yang menangani Akmal keluar.
Sejurus kemudian dia dikagetkan dengan telepon yang masuk di hpnya.
Ternyata Barra...
A: " Hallo Assalamu'alaikum,Kak ?"
B: "Wa'alaikum salam,Anin...syukurlah kamu mengangkat telepon dariku...gimana kabar kamu pasca gempa disana ?"
A: "Kak Barra yang dari kemarin-kemarin gak ngangkat telepon dari Anin...Anin Alhamdulillaah baik,Kak...tapi sekarang Anin sedang di rumah sakit....nungguin Dokter Akmal..."
B: "Emangnya kenapa bisa dia di rumah sakit ?"
A: " Ceritanya panjang, Kak..."
Lalu Anin menceritakan semua kejadian yang dia alami secara detail kepada kakak angkatnya itu...tak lupa Anindya juga berterimakasih atas campur tangan Barra dalam pembelian tanah dan gedung kliniknya.
Anindya juga berjanji akan membayar uang itu secepatnya kalau pihak bank sudah melakukan pencairan pinjaman padanya.
Tapi alangkah terkejutnya Anin...saat Barra bilang bukan dia yang mengurusi hal itu...karena selama ini dia masih sibuk dengan urusannya di LN...soal klinik,dia hanya dengar dari Ayang saat VC...dia belum melakukan langkah apapun.
'Jadi siapa yang sudah membelinya untukku ?' monolog Anin.
'Kata Pak Teguh....yang membeli itu asisten dari dokter yang mengaku kerabatku....sedangkan dokter yang aku kenal itu ya Kak Barra...' Anin menelaah di benaknya.
__ADS_1
'Tunggu-tunggu....dokter ? kerabat ? bukan kak Barra...lalu siapa ? ' Anin berkata masih dibenaknya.
"Astaga !! Apa mungkin dia....Tuan Dokter ?? Tapi dia kan gak pernah tahu urusan klinik ?? Aku harus tanya ke siapa lagi,ya ?" Anin kembali bermonolog.
Disaat Anin masih penasaran soal siapa yang mmbeli klinik atas namanya...dokter yang menangani Akmal keluar dari ruangan.
Sontak Anin berhambur mendekati dokter itu...guna meminta penjelasan perihal kondisi Akmal terkini.
"Pasien perlu mendapat tindakan operasi...kaki kirinya mengalami patah tulang...terdapat juga beberapa retakan di punggung dan juga tulang leher....saya perlu tanda tangan persetujuan dari keluarga untuk melakukannya..." papar dokter.
"Keluarganya belum datang,Dok...mereka sedang dalam perjalanan kesini dari Jatim..." kata Anin.
"Tapi ini mendesak...pasien harus segera dioperasi....Anda siapanya ?" tanya Dokter kemudian.
"Saya ? Saya...ee...saya temannya....bolehkah saya yang menandatanganinya ?" Anin bertanya kikuk...padahal jelas-jelas dia istri sah Akmal...tapi entahlah...bagi Anin,masih berat mengakuinya pada orang lain.
"Silahkan..."kata dokter.
Dan sore itu juga Akmal masuk ruang operasi.
Anin sebenarnya enggan beranjak dari kursi tunggu...tapi dia sadar kalau harus menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim...dia memutuskan untuk membeli satu stel pakaian di toko terdekat.
Baru Anin sadari...ternyata situasi di rumah sakit juga tak kalah kacau balau...banyak korban gempa yang lain,juga dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Akmal.
Situasi di luar pun sama...masih hiruk pikuk di sepanjang perjalanan Anin menuju toko pakaian.
"Maaf,Nona...kartu Anda tidak bisa digunakan...mungkin karena error system dampak gempa..." kata pegawai kasir toko dekat RS...satu-satunya yang masih buka juga.
"Coba yang ini..." Anin menyodorkan kartu lain.
"Tidak bisa juga,Nona..." jawab pegawai kasir.
Anin garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Coba ini,Mbak..." Anin akhirnya menyerahkan black card dari Akmal tempo hari.
"Ini bisa, Nona..." pegawai kasir tampak sumringah.
"Silahkan...ini kartunya..ini billnya..." kata kasir toko.
"Maaf,Mbak...bisa sekalian cek saldo ?" tanya Anin.
"Bisa,Nona..." jawab kasir toko.
"Terimakasih..." ucap Anin lalu beranjak keluar toko.
Saat menuju kembali ke RS...Anin menilik kertas yang tertera jumlah saldo debet black card dari Akmal.
"MasyaAlloh...!" Anin terbelalak tak percaya dengan nominal saldo yang tertera di kertas itu.
Jumlahnya fantastis...!! Lebih dari cukup untuk mrmbeli tanah + gedung kliniknya.
'Coba kamu cek rekening koran yang black card ini....selama 4 tahun belakangan ini,aku rutin setiap bulan mentransfer sejumlah uang sebagai nafkahku pada kamu...aku juga mentransfer uang provit RS kedalamnya..karena kamu aku masukkan sebagai pemegang saham terbesar di RS Bhakti Wirawan...' Anin terngiang-ngiang omongan Akmal saat di restoran tempo hari.
'Ternyata benar yang dia bilang...' ucap Anin di benaknya.
Sesampainya di RS,Anin menuju ke musholla...dia membersihkan diri lalu menunaikan sholat.
Di penghujung sholatnya...Anin menyebut Akmal dalam do'a panjangnya.
' Ya Robb...mulai saat ini...hamba akan lebih legowo...menerima ketentuan ndugi Panjenengan...entah perasaan apa ini...yang jelas melihatnya terluka dan sakit tak berdaya...hamba ikut merasa sakit...rasa marah,dendam dan kecewa padanya seketika sirna...hamba mohon ampuni dosa hamba juga dosanya...berilah kesembuhan pada pria yang masih berstatus suami sah hamba itu,Ya Robb...seperti kata Mbah...kami sama-sama korban...hamba bersaksi dan tidak memungkiri kalau dia sebenarnya orang yang baik...selain luka yang dia torehkan pada hati hamba...dia juga sering menjadi penyelamat bagi hamba...jika memang dia yang terbaik bagi hamba,keluarga kami,kehidupan kami fiddinii waddunya wal akhiroh....tolong tunjukkan pada hamba kalau dia layak untuk diberi kesempatan kedua....kabulkanlah do'a dan pinta hamba...Aamiin Alloohumma Aamiin...' doa Anindya.
Sesudah itu Anin kembali ke depan ruang operasi...belum ada tanda-tanda operasi Akmal selesai.
Anin masih harus kembali menunggu sendirian dalam gusar dan diam...hanya do'a dalam hati saja yang dirapalkan oleh Anin.
Sayup-sayup terdengar suara adzan isya'....operasi Akmal belum juga selesai.
Pandangan Anin mengedar ke arah koridor ruangan ..dari jauh tampak beberapa orang yang tidak asing bagi Anin....berjalan mendekat ke arahnya.
Anin masih speechless....
"Anindya ?" panggil seorang pria paruh baya yang duduk di kursi roda...pria yang tampak kurang sehat itu bersama dengan putra laki-laki dan istrinya berdiri di belakangnya.
'Satu hal yang belum bisa aku penuhi...janjiku pada mertuamu untuk membawamu menemui mereka walau harus nyawa taruhanku...jadi tolong...Temui mertua kamu walau tanpa aku...' kata-kata Akmal sebelum dia tak sadarkan diri...terlintas di memori Anin.
"Apa kabar,Tuan ?" sapa Anin sopan.
Lalu lanjut menyalami ta'dzim bergantian pada pria dan wanita separuh baya itu.
Sedangkan pada sang putra Anin hanya senyum sambil sedikit menundukkan kepala.
"Jangan panggilan itu,Anin...kamu masih menantu kami...jadi tolong panggil Papa saja..." kata pria tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Tuan Wirawan...yang saat ini bersama Nyonya Mira dan Devan.
Anin hanya merespon dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Senang bisa bertemu kamu secara langsung,Anin.." kata Nyonya Mira,karena sebelumnya mereka sudah sempat bicara via VC beberapa kali.
"Eee...Tuan Dokter ada di ruang operasi...maafkan saya tadi harus menandatangani surat kuasa mewakili keluarga...untuk izin melakukan tindakan operasi...situasinya mendesak..." papar Anin.
"Kamu lebih dari keluarga untuk Akmal...kamu istrinya,Nak..." tutur Nyonya Mira lembut dan sendu.
Anin hanya tersenyum kaku.
Lalu Anin mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan kondisi Akmal terkini...operasi apa saja yang harus dia jalani.
"Maafkan saya ...karena menyebabkan kondisi Tuan Dokter seperti ini..." pungkas Anin tak enak hati.
"Semua ini bukan salahmu,Anin...Papa dan Mama yakin,Akmal pasti bahagia mendapat kesempatan bisa jadi berguna untuk kamu...sekarang kita berdo'a saja semoga operasinya berjalan lancar..." perkataan Tuan Wirawan barusan sangat menohok bagi Anin.
Pasalnya Akmal selalu mendengungkan kalau dia ingin jadi berguna bagi Anin...ingin bertanggung jawab dan ingin sebisa mungkin melindunginya walau Anin tak membutuhkannya.
"Anak tak tahu diuntung itu saat ini sedang mendapat hukumannya karena perbuatan buruknya padamu..." kata Tuan Wirawan penuh kesedihan... Tersembunyi kasih sayang yang besar untuk Akmal dalam nada suara sendunya.
"Papa jangan berucap seperti itu...bukannya Devan membela Akmal atas kesalahan yang diperbuatnya....tapi dia sudah cukup kenyang dengan hukuman yang Papa berikan selama ini...tanpa protes,tanpa mengeluh,Akmal rela hidup terpisah dari kita selama 4 tahun belakangan ini,karena Papa mengusirnya dari rumah sejak kejadian itu..." tutur Devan yang seakan memberikan informasi pada Anin secara tak langsung.
'Jadi Tuan dokter tinggal di apartemen karena diusir oleh Papanya...' batin Anin.
"Sedari kecil kepribadian Akmal jauh dari kata buruk kan,Pa ? Satu kesalahan yang sayangnya fatal...membuat dia Papa kucilkan,tapi maaf Pa,apakah Papa selama ini menyadari kalau semua ini adalah kesalahan Papa juga...Papa membuat janji tanpa persetujuan dan sepengetahuan Akmal...Akmal hanya ingin melindungi keluarga kita...Akmal membenci Anin karena mengira Anin memanfaatkan keluarga kita....dan disaat semua mulai terungkap kebenarannya...dan Akmal sudah menyadari cintanya Anindya....Akmal disuguhkan pemandangan yang membuat dia dikuasai amarah...Papa tahu alasannya apa ? Itu karena Akmal adalah sosok laki-laki yang setia dan over posesif pada orang yang dicintainya...dan saya adalah saksi betapa menyesalnya dia atas tindakan gegabahnya hingga mengusir Anindya...setiap hari Akmal dengan gigih mencari informasi tentang Anindya...hingga titik dimana dia kehilangan harapannya untuk bisa menemukan kembali wanita yang begitu dia cintai...akhirnya pekerjaanlah pelampiasannya...dia bekerja siang malam tanpa lelah...sampai jarang pulang ke apartemennya...dan hasilnya Papa bisa lihat sendiri bagaimana perkembangan RS Bhakti Wirawan sekarang,bukan ? Soal hati...dia hingga detik ini menutup rapat-rapat untuk wanita lain...tentu pesona seorang Akmal tidaklah sulit untuk menemukan pengganti Anindya kalau dia mau....nyatanya hal itu tidak dia lakukan...lagi-lagi karena memang Akmal adalah typikal setia pada pasangannya...." panjang lebar Devan.
Dan hal itu didengarkan dengan seksama oleh Papa dan Mamanya...juga Anindya tentunya.
Hening sejenak...semua orang larut dalam pikirannya masing-masing.
Terlebih Anindya...pemaparan Devan barusan membuatnya jadi menyikapi masalah 4 tahun silam dari sudut pandang seorang Akmal.
'Ternyata bukan hanya aku yang menderita....dia...juga tersiksa...' Anin berkata dalam benaknya.
Bersamaan dengan itu pintu ruang operasi terbuka...menampakkan dokter yang keluar dari dalam sana...
Semua menghambur menyambut dokter itu...tak terkecuali Anindya.
"Bagaimana keadaan anak saya sekarang ini,dok ?" tanya Tuan Wirawan yang duduk di kursi roda.
"Operasi berjalan lancar dan sukses..." info dokter.
"Alhamdulillaah...!" ucap semua hampir bersamaan.
"Sebentar lagi pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat biasa...kita tunggu sampai dia sadar,baru kita bisa tahu kondisinya..." lanjut dokter.
"Baik,Dok...terimakasih banyak..." ucap Devan.
"Sama-sama..." jawab dokter dan brrlalu pergi.
Semua akhirnga bisa bernafas lega.
"Kak Devan...bisa kita bicara sebentar ?" tanya Anin.
"Bisa...ayo..." jawab Devan sambil menjauh dari depan ruang operasi....diikuti Anin di belakangnya.
Di taman samping ruang operasi...
"Ada apa,Anin ?" tanya Devan.
"Saya ingin bertanya...soal pembelian tanah dan bangunan klinik atas nama saya..." tanya Anin menggantung.
"Apa Kak Devan tahu sesuatu ?" lanjut Anin bertanya.
"Hhhh...jika sesuatu yang kamu maksud adalah siapa yang membelinya untuk kamu....aku memang tahu..." jawab Devan.
"Siapa ?" Anin penasaran.
"Asisten pribadi Akmal...atas perintah Akmal.." lanjut Devan menjawab.
"Tapi bagaimana Tuan Dokter tahu masalah ini ?" Anin masih bingung.
"Dia tahu dari percakapanmu dengan sahabatmu katanya..." penjelasan Devan.
Anin mengernyitkan dahinya...
'Kapan ?' tanyanya dalam hati.
"Akmal mengikuti kamu saat kamu pergi dari restoran waktu itu....dia takut hal buruk menimpamu...soal klinik...dia mendengar dari perbincanganmu dengan sahabatmu....lalu dia memutuskan untuk mengambil tindakan dengan menelfon asisten pribadinya untuk membereskan semuanya...sementara dia harus kembali ke Jatim guna menghandle masalah RS yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain...juga untuk mengantar Rafa pulang tentunya..." cerita Devan
'Astaghfirullooh...aku sudah suudzon pada Tuan Dokter...' sesal Anin dalam hati.
"Namun begitu dia mendengar telah terjadi gempa di dekat lokasi pabrik Tuan Dirga...Akmal segera terbang menggunakan pesawat pribadi untuk mencari keberadaanmu...dan selebihnya kamu lebih mengetahui detail kejadiannya hingga dia harua dioperasi saat ini..." tutur Devan sendu.
'Dia begitu memperhatikanku....dalam diamnya...tanpa sepengetahuanku...dan aku...hanya fokus pada kebencianku padanya..." kata hati Anin.
"Akmal sangat mencintaimu,Anin...sangatt..." kata Devan sambil berlalu meninggalkan Anin sendirian di taman...larut dalam pikirannya.
__ADS_1