
"Semua ini pasti rencana licik Anindya...karenanya juga dia beberapa hari terakhir ini absen tidak masuk kerja.." lanjut Rika culas.
"Dokter Akmal,coba kita panggil saja Anindya kesini...kita cari tahu kebenarannya..." usul ketua divisi poli nutrisi dan gizi.
Akmal masih diam saja...dia berusaha menyaring hal apa yang mesti dia lakukan...karena ini adalah urusan RS...dia tidak mungkin mengambil keputusan sendiri.
Sebagai pimpinan yang baik...Akmal harus mengambil keputusan berimbang...tanpa menyududutkan atau mrmbela salah satu pihak...guna menyelidiki lebih lanjut kebenarannya.
Pada hakikatnya Akmal tentu saja tidak sedikitpun mencurigai kalau ini semua perbuatan Anindya, tapi lagi-lagi dia harus menempatkan diri sebagai Dokter Akmal yang bertanggung jawab penuh atas semua hal yang berurusan dengan RS Bhakti Wirawan...bukan sebagai Akmal yang ingin memperbaiki hubungannya dalam perrnikahan terpaksanya.
"Baiklah kita panggil Anindya...kita tanya alibinya...jangan dulu ada yang menyudutkannya sebelum kita punya bukti yang jelas.." akhirnya Akmal mengambil keputusan.
Dia juga mengingat dengan baik kalau sudah dua kali melakukan kesalahan dengan menuduh Anindya...padahal perempuan muda itu akhirnya terbukti tidak bersalah.
"Minta Pak Wisnu untuk memanggil Anindya kesini..." lanjutnya.
Dia tidak memanggil Anindya secara langsung...karena ini urusan pekerjaan bukan urusan pribadi.
Setelah ditelfon Wisnu...Anindya yang memang sadar dia harus profesional karena konteksnya urusan pekerjaan yang darurat...secepatnya datang memenuhi panggilan dari ketua divisi poli nutrisi dan gizi yang menaunginya.
Beberapa saat kemudian Anin sudah berada di dalam ruang meeting tersebut.
Dia sejatinya sedikit terkejut melihat seluruh pimpinan divisi dan staff juga direksi ada di ruang itu...sebagian bahkan Anindya belum pernah bertatap muka sebelumnya.
Seperti biasa...Anindya selalu berpenampilan sederhana namun selalu bersahaja dan sukses menarik perhatian orang-orang yang melihatnya...ditambah paras ayu natural yang dimilikinya.
__ADS_1
Sebagian dari mereka mulai mengghibah dalam gumaman satu sama lain...menilik dan mengagumi kepolosan dan kecantikan Anindya.
Akmal juga bisa melihat tatapan mata orang-orang di sekitarnya yang berbeda pada perempuan yang berstatus istrinya itu.
"Sudah cukup saling bergumamnya...sekarang kita kembali ke pokok permasalahan kita !" seru Akmal dengan dibumbui nada jealous di dalamnya... yang membuat mereka menyudahi perghibahan dalam ruangan meeting itu.
Anindya dari tadi masih berdiri di tengah ruangan...tampak seperti pajangan mewah yang terpampang nyata.
"Silahkan duduk Anindya.." kata Akmal menyudahi pemandangan indah bagi para peserta meeting.
Anindya dengan kalemnya mengambil duduk dan ternyata posisinya tak jauh dari Rika...hanya berjarak dua kursi saja.
"Aku harap sekarang adalah hari terakhirmu menginjakkan kaki sebagai karyawan di RS ini,Anindya..." gumam Rika sinis.
"Tolong beri penjelasan kepada saya...kenapa saya dipanggil mendadak mengukuti meeting saat ini..." kata Anindya sopan.
Sementara Akmal masih memandang Anindya dengan harap-harap cemas.
Lalu Anindya dengan seksama mendengarkan penjelasan ketua divisinya.
Dan dia faham arah dan maksud dia dipanggil saat ini.
Tapi sebelum dia mengutarakan pendapatnya...Rika sudah menghakimi dia duluan.
"Kamu tidak bisa mengelak lagi...ngaku saja kalau kamulah pelaku pencurian dokumen penting milik RS ini...!" hardik Rika sebagai upaya provokasinya pada anggota meeting.
__ADS_1
"Atas dasar apa Anda menuduh saya yang melakukannya ?" Anindya tetap terlihat tenang menanggapinya.
Akmal sedikit merasa lega melihat reaksi Anindya seperti itu.
Berbeda dengan Rika yang berapi-api dan bersungut-sungut.
"Ya kan kamu yang menyerahkan dokumen itu pada saya untuk diserahkan ke Dokter Akmal..." kata Rika.
"Sebentar...kalau boleh saya tahu...bagaimana ceritanya sehingga dokumen itu ada di tangan Anda,Saudari Anindya ?" tanya pimpinan divisinya.
Anindya dan Akmal bertemu pandang mendengar pertanyaan tersebut.
"Begini,Pak..." Akmal hendak memberi penjelasan.
"Biar saya saja yang menjelaskan...Mbah saya dulu ART di keluarga Dokter Akmal...karena Mbah saya saat ini sedang koma dan dirawat di rumah sakit ini...itupun dengan biaya Tuan Wirawan,Papa dari Dokter Akmal....saya diminta oleh Tuan Wirawan untuk sementara tinggal di kediama Tuan Wirawan..hingga Mbah saya bangun dari koma dan sembuh.." papar Anindya
"Oohh...seperti itu.." suara riuh rendah para anggota meeting.
"Dan waktu itu...Nyonya Rika menyuruh saya mengantar dokumen penting itu dengan pesan agar diberikan langsung pada Dokter Akmal...tapi saat saya bertemu Suster Rika...dia bilang kalau dia saja yang memberikannya pada Dokter Akmal...dengan dalih dia adalah kekasih Dokter Akmal..." lanjut Anindya.
"Wahh...seharusnya tidak diberikan ke Suster Rika..." riuh rendah anggota meeting lagi.
"Dan karena Suster Rika bersikeras untuk menyerahkan ke Dokter Akmal...maka saya melepas dokumen itu dari tangan saya ke tangan Suster Rika sebelum dokumen itu sampai di tangan Dokter Akmal.." lanjut Anindya.
"Dan kalau ada yang mencurigai saya pelaku pembocoran dokumen penting RS itu pada pihak lain....merujuk azas berimbang sebelum adanya bukti kuat akan tuduhan itu...maka Suster Rika juga patut dicurigai sebagai pelakunya juga...!" sanggahan Anindya.
__ADS_1
"Betul juga itu..." riuh rendah dalam ruangan meeting.
Akmal dan Rika terperangah dengan sanggahan Anindya yang begitu lugas dan jelas.