Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
TiTan 159


__ADS_3

"Mas ?!?" seru Anin karena merasa tak percaya dengan pandangan dan pendengarannya.


Akmal hanya mengulas senyum tipis di wajah pucatnya.


"Aku haus..." keluh Akmal dengan suara paraunya.


"E-i-iya...aku ambilkan minum..." Anin melangkah gusar menuju meja sofa dimana ada botol air mineral disitu...lalu menaruh sedotan dan dengan segera menyodorkannya tepat ke bibir Akmal.


Akmal hanya minum sedikit...sekedar membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"Aku panggil dokter dulu..." Anin melangkah keluar kamar dengan tergesa.


Padahal kalau dia bisa melihat...tangan Akmal mengulur berusaha mencegahnya keluar...tapi sepertinya pergerakan Akmal yang baru sadar dari komanya,kalah telak dengan langkah Anin yang diliputi kepanikan.


Tak lama kemudian Anin kembali bersama seorang dokter dan seorang perawat.


"Ini,Dokter...tolong diperiksa keadaannya..." ucap Anin gusar.


Sementara Akmal....dia masih terlihat sangat lemah saat ini.


Setelah dokter dan suster melakukan serangkaian pemeriksaan....


"Keadaan pasien saat ini sudah lebih stabil...dan sekarang tinggal recovery saja...dan sepertinya diagnosa saya tepat...perhatian dan support system dari orang terkasih pasien memotivasi pasien bangun dari koma..." papar dokter.


"Alhamdulillaah...terimakasih dokter..." ucap Anindya merasa lega.


Lalu dokter dan perawat permisi keluar dari ruang rawat...meninggalkan Anin dan Akmal yang tanpa mereka sadari,netra mereka tak lepas memandang satu sama lain sedari tadi.


Suasana hening dan keduanya terlihat canggung...


"Oh ya..aku sampai lupa...aku mau ngasih kabar Kak Devan dulu..." kata Anin mengalihkan perhatian.


"Aduhh...!" seru Akmal tiba-tiba mengeluh kesakitan sambil menautkan kedua alisnya.


"Kenapa ? Apanya yang sakit ?" respon Anin panik sambil merangkum wajah diselingi dengan menyentuh dahi pria yang sejatinya tak bisa tergantikan tempat dihatinya itu.


Akmal diperlakukan seperti itu jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini...sudah pasti sangat happy sekali.


Hening sejenak...dalam posisi saling memandang intens dan terkikis jarak antara keduanya.


"Maafkan aku..." kata itu lagi yang meluncur dari bibir Akmal...mewakili perasaan dan pikirannya yang masih dipenuhi rasa bersalah pada wanita di hadapannya saat ini.


Kabut kesedihan juga tertangkap jelas oleh Anin...di wajah Akmal yang masih pucat.


"Iya.." jawab pendek Anin sambil melepas tangannya dari wajah Akmal.


Tapi kalah cepat dengan pergerakan tangan Akmal yang menahan tangan Anin...kini kedua tangan Anin ada di genggaman Akmal,tepatnya depan dada Akmal.


"Begitu banyak kata yang ingin aku ucapkan untuk mengekspresikan permintaan maafku padamu...hingga rasanya aku rela nyawaku sebagai penebusnya.." masih dengan suara paraunya.


"Ssstt...!! Jangan asal kalau bicara..." sergah Anin dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan.


"Apa kamu mendengar semua ucapanku selama kamu koma ?" tanya Anin ingin memastikan.


Akmal mengangguk pasti dengan senyum tipis di bibirnya.


"Kamu tahu Anin ? Di alam bawah sadarku...aku seperti terus berlari...dengan tetap ada rasa bersalah yang mendominasi di hatiku..." papar Akmal.


"Hingga aku mendengar suara beberapa orang memanggilku...yaitu Mama,Kak Devan,Papa dan juga kamu...aku merasa kalian semua memelukku dan mengajakku kembali....tapi anehnya tubuhku terasa sangat lemas dan mataku belum bisa kubuka...padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga membuka mata dan menggerakkan tubuh ini..." papar Akmal dengan tetap menahan tangan Anin di genggamannya.


"Walaupun begitu...aku sangat bersyukur karena aku masih bisa mendengar suara kalian semua disini...aku menyadari satu hal kalau Mama,Papa,Kak Devan sangat menyayangi aku...dan kamu..." kata Akmal tak berlanjut.


"Kata- katamu dan kontak fisik denganmu membuatku sedikit demi sedikit merasakan ada kekuatan dalam tubuhku...hingga puncaķnya kamu menyeka pahaku tadi...aku merasa geli..." lanjut Akmal membuat Anin salting...dia menarik tangannya dari genggaman Akmal.


"Tadi kamu mengaduh sakit...bagian mana yang sakit,Mas ?" tanya Anin yang berusaha mengalihkan pembicaraan...tapi justru membuat Akmal serasa melayang karena saking bahagianya...alasannya adalah panggilan 'mas' pada dirinya barusan.


"Tubuhku rasanya sakit semua...terlebih kaki kiri,leher dan bahu kanan belakang..." keluh Akmal apa adanya sekaligus ingin bermanja pada istrinya itu.


"Sabar ya....biar aku angkat sedikit brankarnya supanya posisi kamu bisa sedikit duduk..." kata Anin sambil memutari Akmal mencari tombol otomatis pengatur brankar.


"Gimana ? Lebih enakan ?" tanya Anin setelah mengubah sandaran brankar.


Dijawab dengan anggukan kepala oleh Akmal.


"Kamu mau kemana ?" tanya Akmal melihat pergerakan Anin yang hendak menjauh dari sisinya.


"Ambilin sesuatu untuk kamu makan...kamu belum makan apa-apa dari kemarin..." jawab Anin.


"Aku belum lapar...aku cuma mau satu hal,Anin..." kata Akmal tetap dengan suara paraunya.


"Apa ? Katakan..." tanya Anin antusias.


"Kamu...selalu di dekatku..." kata Akmal meraih tangan Anin untuk kembali digenggamnya.


"Isshh...kirain apaan.." kata Anindya yang tak menolak tangannya kembali digenggam Akmal.

__ADS_1


"Udaahh...jangan bicara terus...kamu harus banyak istirahat,Mas...supaya lekas pulih seperti sedia kala..." ucap Anindya yang sejatinya degup jantungnya tidak baik-baik saja saat ini karena tak biasa menerima kebucinan Akmal.


"Please jangan suruh aku istirahat lagi,Anin...aku udah kebanyakan istirahat.Aku harus banyak bicara padamu,Anin...aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Tuhan padaku..aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya..." kata Akmal sambil menatap intens Anindya.


Sedang Anindya saat ini begitu salah tingkah tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


"Anin...boleh aku minta sesuatu hal padamu ?" tanya Akmal kemudian.


"Katakan..." jawab singkat Anin.


"Saat ini.....aku ingin mendengar kata-kata yang kamu ucapkan selama aku koma...bahwa kamu sudah memaafkanku," kata Akmal.


"Iyaa.." jawab Anin canggung.


"Iya apa ?" tuntut Akmal dengan suara setengah berbisik sambil meremat lembut tangan Anin yang ada di genggamannya.


Dan hal itu sukses membuat tubuh Anindya meremang merasakan sensasi aneh.


"Iyaa...seperti yang kamu dengar waktu koma...aku sudah memutuskan untuk memaafkanmu...karena aku sadar kamu juga korban disini...dan kamu juga menderita selama 5 tahun belakangan ini...ini semua hanya kesalahpahaman dan miss komunikasi..." papar Anin.


"Terimakasih,Sayang...." kata Akmal dengan senyum yang sumringah di wajahnya.


"Kamu perlu tahu satu hal,Anin...kalau apa yang dikatakan Kak Devan adalah benar...bahwa aku sangat posesif pada orang yang aku sayang...dan aku type orang yang setia...waktu itu aku menyuruhmu pergi karena aku sangat kecewa...amarahku meluap karena merasa dikhianati oleh kamu...orang yang sangat aku cintai..." kata Akmal.


"Dan soal yang kamu curhatkan ke Ayang waktu itu apa benar ? Kalau kamu sampai saat ini juga masih mencintai aku ?" selidik Akmal lagi.


"Dasar tukang nguping !! udah tahu nanyak...!" sungut Anin menyembunyikan rasa malunya.


Akmal terkekeh mendapati ekspresi Anin yang wajahnya sudah mirip kepiting rebus.


Setelah 5 tahun lamanya...saat inilah untuk pertama kalinya mereka saling menatap secara intens berliput bahagia....amarah sirna,rasa bersalah mereda...keduanya larut dalam satu rasa,yaitu cinta...


"Sekarang kamu harus makan sesuatu dulu untuk mengisi perut,Mas...setelah itu aku akan menelpon Kak Devan,untuk megabari kondisi kamu sekarang..." kata sekaligus titah Anin pada Akmal.


"Sesuai kehendakmu,Sayang...asal kamu tetap menemani aku disini..." manja Akmal dengan suara paraunya.


Setelahnya Anin menyuapi Akmal buah apel dan jeruk yang sebelumnya sudah dia kupas dan potong dadu...tentu Akmal dengan lahap memakannya...karena dia tidak ingin menyia-nyiakan momen kebersamaannya dengan Anin.


Dan saat ini Anin membenarkan posisi Akmal agar lebih nyaman untuk tidur...setelah sebelumnya dia melakukan VC dengan Devan juga Papa dan Mama mertuanya guna memberitahu kabar Akmal sekarang.


Dan mereka bilang akan ke RS pagi hari saja...tentu saja pertimbangan mereka agar Anin dan Akmal bisa quality time malam ini.


"Sekarang kamu istirahat ya,Mas..." kata Anin sambil membenahi posisi bantal Akmal.


"Kamu juga tidur disini,ya...seranjang sama aku...' pinta Akmal sedikit memelas.


"Tapi aku nggak ngantuk...aku ingin kamu bersandar di bahuku seperti yang kamu lakukan saat aku masih koma..." pinta Akmal sambil mengulurkan tangannya agar Anin menyambutnya dan mau naik ke brankar.


"Hhhh..." dengus halus Anin.


"Baiklah...aku akan menemani kamu sampek kamu tertidur...setelahnya aku akan tidur di sofa..." kata Anin sambil menaiki brankar Akmal.


Kini keduanya sudah berbaring satu ranjang....Anin dengan malu-malu menuruti kemauan Akmal untuk bersandar di bahunya...hingga beberapa menit kemudian...Anin yang sejatinya memang capek berjaga sepanjang waktu saat Akmal koma...akhirnya tertidur pulas di bahu Aknal...sedang Akmal,tak bisa tidur hingga shubuh...karena hatinya begitu bahagia bisa berkesempatan memandangi wajah ayu nan teduh milik wanitanya.


*


*


*


*


Setelah seminggu dirawat di RS..dimana setiap saat dan setiap waktu Akmal minta agar Anin yang menemaninya....hari ini kondisi Akmal saat ini jauh lebih baik....gips dan penyangga lehernya sudah boleh dilepas...tapi tetap dia menggunakan penyangga untuk alat bantu jalannya.


Dan hari ini juga Akmal bersikeras untuk keluar dari RS..


"Kamu yakin mau pulang hari ini,Akmal ?" tanya Tuan Wirawan yang sikapnya pada Akmal sudah sehangat dulu sebelum Akmal meninggalkan rumah.Dan rupanya itu sangat berdampak besar pada kesehatan pribadi Tuan Wirawan sendiri,dia saat ini terlihat jauh lebih sehat dan bersemangat,tanpa memakai bantuan kursi roda,aura wajahnya pun sudah tampak bersinar cerah...tidak pucat lagi.


"Sangat yakin,Pa...' jawab Akmal meyakinkan Papanya.


Saat ini keluarga Wirawan tengah berkumpul di kamar rawat Akmal,Nyonya Mira dan Anindya pun tampak beres-beres persiapan untuk pulang.


Dan seperti kesepakatan Anindya dan Akmal sebelumnya yang cukup alot awalnya...mereka mrmutuskan akan pulang ke Jawa Tumur...karena pekerjaan Akmal tidak bisa ditinggal terlalu lama...juga saat ini perusahaan tempat Anin bekerja sedang di renovasi pasca gempa.


Sementara rumah Anin yang di Jakarta,dipasrahkan kepada Budhe Ruroh untuk menempati dan merawatnya.


Sedangkan klinik praktek Anindya dipercayakan kepada Ayang dibantu Barra sebagai penanggung jawab utamanya.


Sebelum meninggalkan Jakarta,mereka semua mengunjungi makam Ayah Johan,untuk berziarah sekaligus berpamitan.


Nanti sesampainya di Jawa Timur,mereka akan melakukan prosesi pengucapan ijab qobul...untuk meng-upgrate pernikahan mereka yang selama ini 'abu-abu' meski sah secara hukum dan negara.


Akmal sebenarnya ingin mengadakan pesta besar-besaran untuk mengumumkan pernikahan mereka...tetapi Anin menolak keinginan Akmal tersebut.


*

__ADS_1


*


*


Sesampainya di Jatim...setelah sebelumnya menempuh perjalanan lewat jalur udara dengan pesawat pribadi keluarga Wirawan....Anin,Akmal dan Mbah Rasni ikut menuju kediaman Wirawan untuk sementara waktu...sampai kesehatan Akmal pulih total...sembari mereka mencari rumah yang lokasinya diusahakan tidak jauh dari kediaman Wirawan.


"Tantee.! Ooomm...!" suara Rafa berhambur menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita di ruang keluarga.


Tampak juga Tania yang pandangannya tertuju pada Anindya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Anindya menyambut pelukan Rafa dengam hangat.


Tania tampak mendekat....dan tanpa aba-aba,dia langsung memeluk erat Anindya..hingga Anin sedikit terlonjak kaget dibuatnya.


Setelah beberapa saat...Tania melepaskan pelukannya pada Anindya.


Semua perhatian orang yang ada di ruang tengah tertuju pada Tania dan Anindya.


"Semoga kamu mau memaafkan semua kesalahanku padamu,Anin....dan...terimakasih banyak kamu sudah menyembuhkan Rafa," ucap Tania yang tampak tulus dengan senyum tipis dan netra berkaca -kaca.


"Iya,Kak....sama-sama," jawab singkat Anin,karena masih menelaah sikap Tania padanya saat ini.


"Sudah,Tania...biar Anindya istirahat dulu...nanti dilanjut ngobrolnya.." kata Devan.


"Ayo Rafa...lepas dulu tangan Om Akmal...Om kamu itu belum pulih benar...nanti jatuh gimana ?" lanjut Devan yang sekarang ditujukan ke Rafa,karena dari tadi bergelayut manja di tangan Omnya itu.


Rafa tampak mengerucutkan mulutnya sebagai tanda protesnya.


"Om mau istirahat dulu,yaa...Om janji akan ngajak Rafa main nanti,Oke ?" bujuk Akmal pada Rafa.


"Beneran ya,Om..." kata Rafa penuh harap...maklumlah...bocah itu selama ini sudah hidup terpisah dengan Akmal...kepulangan Akmal ke kediaman Wirawan merupakan hal yang sangat dinantikannya selama ini,apalagi bersama Anindya dan Mbah Rasni....dua sosok orang yang selama ini dekat juga dengan Rafa.


"Kamu bisa kan naik tangga,Akmal ?" tanya Tuan Wirawan khawatir.


"InsyaAlloh bisa,Pa..." jawab Akmal sambil pandangannya mengarah ke Anindya.


Anindya yang masih speechless dan rikuh dari tadi mendadak langsung menundukkan kepalanya...karena tahu keinginan Akmal dibalik pandangannya itu.


Apalagi kalau bukan ingin Anin menemaninya naik ke kamarnya di lantai 2...kamar mereka dulu.


"Temani Nak Akmal ke kamarnya,Nduk...kasihan dia kan masih kesulitan berjalan..." titah Mbah Rasni seolag tahu kode Akmal pada Anin tadi.


"Tapi,Mbah..." Anin tampak malu dan keberatan.


"Kalau bukan kamu,siapa lagi yang akan menemani Akmal,Anin sayaang...sudah jangan sungkan ! Biar bagaimanapun kalian masih sah dalam ikatan pernikahan.." Nyonya Mira menimpali.


"Tuuh,kan...Mbah sama Mama udah ngijinin..." Akmal kembali memandang Anin dengan tatapan nakalnya.


"Dasar !! Itu kan yang kamu mau ?" ejek Devan.


Akmal mengerjap-ngerjapkan mata sambil tersenyum menanggapinya.


Tuan Wirawan hanya mesem melihat tingkah anak bungsunya itu...tak mau berkomentar karena takutnya Anin semakin malu.


Anindya pun akhirnya memapah Akmal menaiki anak tangga menuju kamar mereka dulu.


Setibanya di depan kamar....Anindya serasa bergemuruh dadanya....tak bisa ia pungkiri...perasaannya campur aduk saat ini...potongan-potongan kejadian 5 tahun silam di dalam kamar mulai bersliweran di memorinya.


Dari sikap dingin Akmal di awal mereka sekamar hingga sikap bucin Akmal saat keduanya mulai menyadari perasaan cinta mereka dulu.


'CEKLEKK'


Akmal membuka pintu kamar...dan dia menyadari raut wajah tegang Anin sedari tadi.


"Maaf, Sayang....aku memang tidak bisa mengikis habis memori buruk kamu di kamar ini...tapi aku janji....aku akan mulai mengukir memori manis kamu di kamar ini juga..." Akmal merasa sangat buruk di mata Anindya saat ini.


Anindya menarik nafas dalam-dalam...lalu menghembuskannya.


Lagi-lagi ilmunya sebagai psikolog sangat membantunya mengatasi perasaannya saat ini.


"Seperti komitmenku sebelumnya...aku sudah memafkanmu,Mas....kita buka lembaran baru..." ucap Anindya meyakinkan dirinya sendiri dan juga Akmal.


Akmal tersenyum lega mendengarnya.


Diraihnya tangan Anindya,digenggam lalu diciumnya lembut penuh cinta.


"Terimakasih,Sayang..." ucap Akmal.


Anin yang sejatinya belum terbiasa menerima perlakuan manis dan bucin dari Akmal...yang Akmal kerap tunjukkan seminggu belakangan ini,saat Anin menjaga Akmal di rumah sakit....masih saja salah tingkah dan kikuk menanggapinya.


"Sekarang kamu istirahat,gih...aku mau mandi duly...setelah itu aku siapin obat buat kamu minum....kan tadi udah makan di pesawat..." Anin mengalihkan pembicaraan menutupi kegugupannya.


"Sekalian aja kalau gitu..." celetuk Akmal.


"Maksudnya ?" tanya Anin gak ngeh.

__ADS_1


"Aku seminggu belum mandi,Sayaang....rasanya udah gerah banget...kan kata kamu tadi mau mandi...sekalian aja mandinya sama aku..." ucap Akmal tanpa rasa bersalah atau sungkan sedikitpun.


"Whatt ?!?" seru Anin merasa tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


__ADS_2