
Tak berapa lama kemudian...
"Tuan Dokter..." Anin yang dari tadi tak berani bergerak,memanggil Akmal yang masih betah memeluknya dari belakang...tak ada sahutan.
Lalu Anin menengok ke belakang....terlihat olehnya wajah suami tampannya itu kini begitu nyaman tidur terlelap.
Anindya tersenyum kecil.Tangannya berusaha menyingkirkan tangan Akmal yang melingkar di pinggangnya...tapi rupanya Akmal masih tak rela melepaskan pelukannya.
Dalam hati tak dapat dipungkiri...Anin senang diperlakukan seperti ini oleh Akmal...hanya lagi-lagi Anindya tak ingin larut terlalu dalam dengan perasaannya.
Akhirnya Anindya tak dapat menahan kantuknya yang sangat...sehingga dia pun terlelap dalam pelukan Akmal.
*
*
Keesokan paginya...
Saat shubuh tiba...Akmal terjaga dari tidurnya..saat dia membuka mata...dia memindai sekitarnya.
Ternyata posisi tidurnya dan Anindya telah berubah dari posisi awal tidur mereka semalam.
Sekarang ini kepala Anindya berada tepat di atas lengannya menghadap ke dada bidangnya.
Akmal lalu menyentuh lembut pipi istrinya yang kini terlihat dengan jelas wajah ayu naturalnya...kemudian jarinya beralih menyusuri hidung mancung Anindya...lalu turun mengukir mengikuti lekuk bibir Anindya.
"Aku tak akan rela melepaskan kamu,istri kecilku..." gumamnya lirih.
Rupanya Anindya terganggu tidurnya dengan pergerakan jari Akmal di seputar wajahnya..
Dengan masih terpejam...dia mengulatkan tubuhnya dan mengusap-usapkan kepalanya ke dada bidang Akmal.
Alhasil...walaupun terlapisi baju tidur...gerakan Anindya itu sukses menciptakan sensasi geli bercampur sengatan listrik tegangan rendah di tubuh Akmal.
"Ssshh..." Akmal mendesah lirih
__ADS_1
Anindya membuka matanya....sesaat dia memindai sekitar...dan dia terperanjat mendapati wajah Akmal hanya berjarak beberapa senti darinya saat ini.
"Tuan...!" serunya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Akmal.
Lalu dia bangun dari lengan Akmal yang entah sejak kapan beralih fungsi sebagai bantalnya.
"Maaf..." ucap Anin sedikit malu.
"Kamu memang istri sholehah...seharusnya aku yang minta maaf karena sudah mengganggu tidur pulasmu..." kata Akmal penuh penyesalan.
"Kan saya tidur di lengan Anda...entah sejak kapan...jadi saya minta maaf.Emangnya apa yang Tuan Dokter lakukan kok minta maaf ?" tanya Anin polos.
"Menciummu..." jawab Akmal menjahili Anindya.
"Apa ??" teriak Anindya kemudian menutup mulutnya.
"Emang kenapa ?" kata Akmal lirih.
"Jorok !! Kan kita baru bangun tidur..." kata Anindya polos.
"Kirain karena kamu gak merasakan sensasinya....karena masih tidur....kalau begitu...biar kuulangi lagi..." goda Akmal mendekatkan wajahnya ke arah Anindya.
"Isshh ! Apaan...?" Anindya mendorong tubuh Akmal dengan kedua tangannya.
Akmal terkekeh dan menikmati momen menggoda Anindya seperti ini.
Anindya lalu beranjak dari ranjang...menuju kamar mandi.
"Mau sholat shubuh berjama'ah atau tidak ?" tanya Anin sebelum masuk ke kamar mandi.
"Mau doong...!" jawab Akmal beranjak juga dari ranjang.
Selesai sholat...Akmal dan Anin turun ke bawah menuju taman samping ruang keluarga.
Di situ seperti biasanya...ada Tuan dan Nyonya Wirawan sedang melakukan jogging kecil dan berolah raga ringan.
__ADS_1
"Selamat pagi ,Ma,Pa...!" sapa Akmal dan Anin hampir bersamaan.
Akmal lalu memeluk juga cipika cipiki pada Mamanya.
"Senang melihat kamu kembali kesini lagi,Anin..." ujar Nyonya Mira.
Anin hanya tersenyum tersipu.
"Iya,Ma...Pap juga sangat senang kamu kembali....kelihatannya suami kamu juga senang...sampai-sampai tak membawa kamu turun untuk makan malam kemarin..." kata Tuan Wirawan.
"Hehehe....seneng pastinya Pa...karena Akmal merasa menemukan soul Akmal...apalagi setelah Rika terhempas dari kehidupan Akmal...Akmal hanya ingin memperbaiki kesalahan Akmal pada Anindya...juga mempertahankan pernikahan ini..." papar Akmal.
"Kemarin malam,saya masih kenyang,Pa...jadi tidak turun untuk makan malam,maaf..." ucap Anin sopan.
"Oohh... Begitu...Lalu apa rencana kalian hari ini ?" tanya Tuan Wirawan.
"Tidak ada.." kata Anin.
"Banyak.." kata Akmal.
Hampir bersamaan tapi berbeda dalam jawaban.
"Akmal akan mengajak Anin keluar,Pa...membeli ponsel dan mengurus pengaktifan nomer telefon Anin yang dibakar Rika tempo hari..." jelas Akmal sambil mengarahkan pandangannya ke Anindya...Anin yang menyadari itu langsung menundukkan kepalanya.
"Akmal beda ya,Pa...dengan Akmal beberapa minggu yang lalu,saat Anindya pulang ke rumahnya..." goda Nyonya Mira.
"Beda banget ! Kemarin-kemarin Akmal jadi pemarah, uring-uringan,cemberut dan mrengut...sekarang sumringah,ramah dan bahagia..." kata Tuan Wirawan.
Mereka lalu tertawa lepas bersama...kecuali Anindya...dia tampak tersipu malu.
"Baiklah...tapi Papa minta kamu hari ini meluangkan waktu sebentar Anindya....Papa ingin bicara berdua saja denganmu hari ini...ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan denganmu..." kata Tuan Wirawan.
"Baik,Pa..." Anin menjawab singkat.
'Apa yang akan dibahas Papa berdua saja dengan Anindya...soal Ayahnya...atau soal Barra ?' Akmal cemas dan bertanya dalam hati.
__ADS_1