Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
TiTan 153


__ADS_3

"Kamu !?!" seru Anin dengan posisi tangannya bersiap megayunkan gagang sapu.


"Stop ! Jangan pukul lagi ! Sakit ini !" seru Akmal yang 2 kali terkena ayunan gagang sapu.


"I-Ini beneran kamu ? Atau aku cuma mimpi ?" Anin masih linglung.


"Iya...ini beneran aku kena pukul sapu kamu...." Akmal memegangi pelipisnya.


"Kamu beneran nginep disini ?" tanya Anin masih seperti dejavu.


Tak ada permintaan maaf terucap dari mulut Anin karena sudah menghadiahi Akmal 2 kali ayunan gagang sapu.


"Iya aku disuruh Mbah nginep..." jawab singkat Akmal.


Lalu di detik selanjutnya keduanya saling terdiam...Anin larut dalam pikirannya sendiri...sedang Akmal memandang aneh ke Anin...mengoreksi penampilan Anin yang saat ini hanya memakai gaun tidurnya...tanpa jilbab....dengan belahan dada yang sedikit terkspose.


Anin menangkap pandangan aneh Akmal saat ini...lalu sedetik kemudian dia sadar penyebab Akmal memandangnya seperti itu.


Sapu yang dari tadi Anin pegang spontan dia jatuhkan begitu saja....lalu tangannya menyilang di depan dadanya.


"Apa lihat-lihat ??" ketus Anin.


"Maaf...aku mulai terbiasa melihatmu memakai jilbab...sedangkan saat ini..." perkataan Akmal tak berlanjut.


"Ak-Aku kan gak tahu kalau bakalan ketemu orang lain selain Mbah dan Budhe saat turun tadi....apalagi seorang pria..." sahut Anin membela diri.


Sejurus kemudian pandangan Anin terfokus ke celana Akmal...tepatnya di pangkal paha Akmal...dia terngiang-ngiang mimpinya...yang mana Akmal berkata setiap kali Akmal dekat dengannya...juniornya langsung tegak tanpa aba-aba....


Tak ada yang menonjol.astaga Aniin...mikir apaan kamu ihh...itu semua kan hanya dalam mimpimu...batin Anin dengan memasang ekspresi kikuknya.


Lalu Anin berbalik badan berniat kembali ke kamarnya...melupakan haus dan lapar yang saat ini dia rasakan.


Anin mulai menaiki anak tangga.


"Eeh..tunggu ! Mau kemana ?Hati-ha..." Akmal setengah teriak karena khawatir Anin naik tangga dengan tergesa....tapi belum selasai perkataannya...


"Alloohu Akbar...!!" pekik Anin sambil bersimpuh di anak tangga ke tiga dari bawah.


Kakinya terkilir karena tergesa-gesa dalam melangkah.


Akmal yang melihatnya reflek berniat akan mendekat.


"Jangan mendekat...! Stop..!! Kamu disitu aja...!!" Anin berseru waspada karena khawatir yang ada di mimpinya...berubah jadi kenyataan.


"Kamu baik-baik aja,kan ?" tanya Akmal mencemaskan Anin.


"Aku baik....tenang aja.." kata Anin berdiri dan mencoba melangkah.


"Aughh...!" Anin mengeluh kesakitan.


"Kakimu terkilir kayaknya...izinkan aku kesitu...aku cuma berniat membantu...aku nggak akan ngapa-ngapain..." kata Akmal mencoba meyakinkan Anindya.


"Ayo aku bantu jalan...kita lihat seberapa parah terkilirnya kaki kamu..." tawaran Akmal terpaksa disetujui Anin...karena kayaknya tak ada pilihan lain kali ini.


"Tetap disitu...aku bisa berjalan turun sendiri..." Anin tak ingin Akmal memapahnya.

__ADS_1


"O-kehh..." kata Akmal tetap diam di tempat.


Anin turun dengan sedikit terpincang-pincang hingga dia sampai di sofa ruang tengah.


Sedang Akmal membuntutinya dari belakang.


Dasar keras kepala...Akmal berkata dalam hati sambil geleng-geleng dan menyunggingkan senyum di bibirnya.


Anin menyelonjorkan kakinya dengan sedikit memijit-mijitnya dengan mimik meringis menahan sakit.


"Sakit sekali yah ?" tanya Akmal penuh kecemasan.


"Coba aku periksa..." lanjut Akmal mengulurkan tangannya hendak menyentuh kaki Anin.


"Stop ! Jangan sentuh ! Kita bukan muhrim !" warning Anin mengarahkan kedua tangannya di atas kakinya yang sakit.


"Kalau begitu aku akan membangunkan Mbah atau Budhe....biar kamu tidak kesakitan terus.." isiatif Akmal karena tak tega dan khawatir kaki Anin mengalami cidera serius.


"Jangan ! Kasihan mereka sedang nyenyak-nyenyaknya tidur jam segini...karena jam 1 malam keatas biasanya mereka udah bangun untuk sholat...dan gak tidur lagi hingga waktu shubuh..." penjelasan Anin masih dengan meringis menahan nyeri di pergelangan kakinya.


"Oohh..." kata Akmal yang tentu saja Akmal tidak tahu kebiasaan Mbah dan Budhe.


Akmal duduk jongkok di depan sofa tempat Anin menyelonjorkan kakinya.


"Kamu...nga-ngapain duduk disitu ?" Anin terbata karena fokus netranya lagi-lagi pada pangkal paha Akmal yang saat ini memakai celana chinos warna khakhi dan kaos over size warna putih...lagi - lagi karena terngiang pengakuan Akmal dalam mimpinya yang mengatakan kalau setiap Akmal dekat dengannya, 'juiornya' akan meronta berdiri drngan sendirinya....tapi realnya sekarang rupanya tak seperti itu.


"Ya kan aku gak bisa tidur lagi...karena dari tadi aku tidur di sofa ini...terus aku haus mau ambil minum...eh malah kena gethog kepalaku..." cerita Akmal.


"Jangan jongkok disitu !" sergah Anin...tapi sambil memalingkan wajahnya dari Akmal.


Akmal yang melihat itu reflek menyentuh kakinya...


Zzzrrrttt....sensasi medan listrik dirasakan keduanya.


"Udah aku bilang jangan sentuh ! Kita bukan mahrom..!" seru Anin ketus sambil menengahkan kakinya agar lebih jauh dari jangkauan Akmal


"ini kan situasinya darurat,Anin....misiku penyelamatan...bagian dari tugasku sebagai seorang dokter..." bujuk Akmal masih tetap menyembunyikan kebenaran kalau sebenarnya mereka masih berstatus suami istri.


"Kalau dibiarkan nanti tambah sakit..." nada suara lembut dan penuh perhatian Akmal saat ini...sejenak melenakan hati dan pendengaran Anin...hingga dengan setengah sadar dia menyodorkan pergelangan kakinya untuk diperiksa Akmal....dengan pandangan tertunduknya..tak berani eyes contact dengan Akmal.


Tentu saja Akmal langsung berdiri dari posisi jongkoknya tadi...lalu duduk di sofa ynag sama dengan Anin dan mulai dengan sigap dan teliti memeriksa pergelangan kaki Anindya.


"Syukurlah tak ada yang serius...dikompres dengan es insyaAlloh akan reda sakitnya.." kata Akmal sejurus kemudian sambil memijat pelan.


"Ngomong-ngomong...kamu tadi mau apa turun kebawah ?" Akmal membuka obrolan.


"Haus juga lapar....soalnya tadi belum makan sebelum ti...aaachh...!" tiba-tiba Anin berteriak ...tak melanjutkan perkataannya.


KRETEGG...!


Entah tulang atau persendian Anin yang berbunyi...imbas ditarik oleh Akmal.


"Sssttt..! Nanti Mbah atau Budhe bangun..." Akmal meletakkan jari telunjuknya di bibirnya...kemudian berkata setengah berbisik.


"Tapi sakkiiit...!" sambat Anin dengan suara tertahan tapi tanpa meninggalkan kesan ketusnya.

__ADS_1


"InsyaAlloh sekarang gak sakit lagi...coba kamu gerak-gerakin..." kata Akmal dengan lembut dan full care...masih dengan pandangan yang penuh damba pada Anin.


"Gak mau ! Sakiitt !" tolak Anin dengan nada bicara setengah merengek...dimana hal itu bagi Akmal terdengar begitu menggemaskan....rasanya ingin sekali dia mencubit pipi wanita didepannya saat ini.


 Akmal yang mulai terbiasa melihat Anin berjilbab...melihat tampilan Anin saat ini yang tak berjilbab...dengan rambut ikalnya yang bervolume....dan memakai gaun tidur selutut...adalah pemandangan yang menggiurkan bagi Akmal.


Sayangnya takdir mempertemukan kita di saat yang tidak tepat Anin....andai kau tahu sebesar apa penyesalanku karena telah membuat sayatan luka di hatimu....kata Akmal dalam benaknya.


"Coba dulu...pelan-pelan..." saran Akmal dengan penuh kasih sayang.


OMG...! Anin..jangan sampai hanyut oleh sikap manis pria di depanmu ini...monolog Anin di benaknya menasihati diri sendiri.


Anin menggerak-gerakkan kakinya...dan Alhamdulillaah...nyeri di kaki yang tadi dia rasakan...sudah sangat berkurang...hanya tinggal sedikit yang tersisa.


"Gimana ?" tanya Akmal.


"Lumayan...tapi tetap masih sakit...!" jawab Anin masih dengan mode dingin bin ketus.


Tapi sejurus kemudian netranya tak sengaja menangkap sesuatu di pelipis pria yang ada di depannya saat ini.


"Itu...pelipis kamu...berdarah..." gengsi yang menguasai dirinya membuat Anin terbata-bata.


"Ahh...masak ?" Akmal meraba pelipisnya.


Dan benar saja..selain diraba lebam...dilihatnya tangan yang dia gunakan meraba tadi...ada lelehan darah disana....


"Ini tadi yang kena getog kamu...gak papa...cuma sedikit.." kata Akmal seakan mengisyaratkan agar Anin tak perlu khawatir.


"Salah kamu sendiri..!" jawaban Anin yang tidak seperti ekspektasi Akmal.


"Hhh..." Akmal menarik nafas dalam.


"Iya memang aku yang salah...aku minta maaf..." lanjutnya.


Keduanya tanpa sadar saling mencuri pandang satu sama lain.


"Ehh...mau kemana,Anin ?" Akmal lanjut bertanya karena Anin berusaha bangkit dari sofa.


"Kan aku tadi bilang...aku lapar...!" dengan nada ketus Anin beranjak dari sofa tapi dengan langkah hati-hati.


"Biar aku buatin sesuatu...kamu mau apa ?" tawaran Akmal.


"Gak usah ! Aku bisa sendiri...sok-sokan mau buatin sesuatu..." tolak Anin disambung ejekannya pada Akmal.


"Aku bisa...aku kan terbiasa masak di apartemen..." jelas Akmal mencoba meyakinkan Anin.


Ooh...jadi dia tinggal di apartemen sama istrinya...kata Anin dalam hati menarik kesimpulan sendiri.


Anin lalu memanaskan masakan Budhe di mikrowive...sejenak kemudian masakan sudah siap...lalu dia mengambil piring untuk makan dia sendiri...tentu aktivitas Anin tak luput dari pengawasam Akmal yang duduk di meja makan sambil meneguk air putih yang dia pegang.


Anin mencoba bersikap secuek mungkin...dengan cara melewati Akmal sambil mrmbawa piring dan gelas di masing-masing tangannya....bersiap menaiki anak tangga.


"Gak makan disini aja ? Kata orang tua dulu...anak gadis gak baik lho makan di dalam kamar..." goda Akmal.


"Ogahh...!! Lagian situ lupa apa gimana ? Kalau aku tuh bukan gadis lagi...tapi janda..!" kata Anin penuh penekanan sambil menaiki tangga...tapi tetap memperhatikan langkah kakinya agar tak lagi mengulang insiden barusan.

__ADS_1


Meninggalkan Akmal yang menepuk dahinya karena merasa ucapannya jadi senjata makan tuan baginya.


__ADS_2