
"Jadi dia perempuan ?" tanya Barra seakan masih ragu perkataan Anin kalau ojol langganannya perempuan.
"Iya,Dokter..." jawab Anin.
Ojol itu membuka helmnya dan jelaslah dia memang perempuan...rambut dan raut wajah serta anting membuktikannya dengan telak.
Dia menundukkan kepalanya pada Barra tanda menyapa.
Barra membalas tundukan kepala itu dan tersenyum kecil pada ojol.
"Saya duluan,Dokter..." pamit Anin.
"Iya...hati-hati..." jawab Barra terlihat sangat posesif.
Dan ojol pun melaju meninggalkan Barra.
"Anin...Anin...kamu memang beda...tak salah aku menjatuhkan hatiku padamu..." gumam Dokter Barra.
Lalu menuju sepeda motor sportnya...dan melaju ke jalan raya.
Beralih ke Anindya dan si Mbak ojol.
"Siapa tadi neng ? Pacarnya ya ? Kok kelihatannya khawatir banget sampek tanya apa benar saya perempuan ?" tanya si Mbak ojol.
"Bukan Mbak...cuma teman kerja...tapi dia dokter..." jawab Anin.
"Dokter apa neng ? Ganteng ee wonge...! " kata Mbak ojol.
"Dokter bedah.." jawab Anin singkat.
"Waduuhh...kok ngeri yoo...!" seru Mbak ojol
"Kalau aku minta dibedah dompetku aja wes...biar diganti isinya...jadi warna merah semua..." sambung Mbak ojol.
Anin dan Mbak ojol pun tertawa lepas berdua.
Lalu mereka pun menuju butik...
Mbak ojol setia menunggu Anin di luar butik.
Setelah kelar urusan beli pakaian...Anin baru pulang ke kediaman keluarga Wirawan.
"Makasih Mbak...udah nemanin aku hari ini..." kata Anin saat sampai di depan gerbang.
"Sama-sama,Neng...besok seperti biasa kan ?" tanya Mbak ojol.
"Iya,doong...di tempat biasa aku nunggu juga..." jawab Anin.
'"Siaaap...!!" seru Mbak ojol.
Lalu Anin masuk rumah dengan menenteng beberapa paper bag belanjaannya..
Dia berpapasan dengan Tania yang sedang turun dari tangga.
"Wah...kayaknya ada yang habis belanja,nih..!" celetuknya.
"Eh iya,Kak...ini tadi belanja beberapa pakaian untuk kerja...mumpung hari ini aku terima gaji..." penjelasan Anin.
__ADS_1
"Kalau punya ATM no limited ya gak perlu nunggu gajian,doong...!" sindirnya.
"Saya lebih senang kalau bisa belanja dengan hasil jerih payah saya sendiri,Kak.." jawab Anin.
"Saya permisi ke kamar dulu..." sambungnya.
Lalu melangkah menaiki anak tangga.
Tania hanya memandangnya dengan sinis.
"Halahh...belagu !" gumamnya lirih.
Anindya sempat mendengar tapi memilih untuk acuh saja.
Dia membuka pintu kamar Akmal...ternyata pemilik kamar sudah ada di dalam duluan.
Akmal tampak duduk santai di sofa yang biasa Anindya gunakan.
Akmal beranjak dari sofa melihat Anindya masuk...matanya menangkap paper bag yang ditenteng Anin.
"Darimana saja kamu jam segini baru pulang ?" telisiknya.
"Dari..." kata Anin terpotong.
"Gak usah dijelasin deh..gak penting juga bagi aku..." sela Akmal dengan nada songongnya.
Anindya hanya menghela nafas dalam dan memilih untuk diam.
' Jadi itu hasil dia keluar bareng sama Dokter Barra tadi...' kata Akmal dalam hati.
Saat melihat Anindya mengeluarkan satu persatu isi paper bag bawaannya tadi..lalu menyimpannya di tas...
Lalu Anindya bergegas masuk ke kamar mandi..
Tapi sejenak kemudian dia keluar lagi lalu menghampiri Akmal dengan sedikit canggung.
Akmal menoleh Anindya..
"Apa ??" katanya galak.
"Ada cicak di lantai kamar mandi..." kata Anindya.
"Lalu ? Tinggal siram aja..gitu aja kok repot..." jawab Akmal enteng.
"Masih hidup...." kata Anin tampak ketakutan sekali.
"Ya usir doong..." Akmal menjawab sambil tetap memainkan ponselnya.
"Saya gak berani...saya phobia sama cicak..." penjelasan Anin.
"Dasar bocil...nyusahin orang aja !" seru Akmal lalu berdiri menuju ke kamar mandi.
Anindya menunggu di luar pintu kamar mandi dengan masih ketakutan.
"Mana ? Gak ada cicaknya..." teriak Akmal dari dalam kamar mandi.
"Ada Tuan Dokter...coba dicari dulu..." teriak Anin dari luar kamar mandi.
__ADS_1
"Gak ada...coba kamu lihat sendiri kalau gak percaya..." sambung Akmal.
Anin menuruti kata Akmal...dia masuk dan melihat sendiri.
Dia menilik setiap sudut kamar mandi...memang benar sudah tidak ada.
"Gak ada kan ? Pasti udah lari takut sama kamu cicaknya..." ledek Akmal.
Anin masih belum merasa yakin dan menoleh ke sekelilingnya berkali-kali.
Tanpa memperdulikan ledekan Akmal.
Hingga sejenak kemudian dia melihat makhluk yang membuatnya phobia itu...
"Aaachh...itu...itu...ada di pojok lantai belakang pintu,Tuan...!" teriak Anin histeris.
Akmal menoleh ke tempat yang dimaksud Anin.
Dan benar...dia melihat seekor cicak di situ.
Muncul ide jahilnya seketika.
"Ooh...jadi kamu toh yang bisa bikin phobia bocil tengil di depanku ini..." kata Akmal sambil memungut cicak dengan memegang ekornya.
"Aaachh..!! Jangan..jangan,Tuan ! Saya mohon !" seru Anin tampak ketakutan sekali.
Akmal kelihatan menikmati ketakutan Anin itu...
"Gini aja takut..." katanya sambil menyodor- nyodorkan cicak ke arah badan Anin.
"Jangaaan ! Aaachh ! Itu nanti putus ekornya ! Jangan,Tuaaan !" teriakan Anin berlanjut.
Hingga yang dia takutkan terjadi...tapi bukan ekornya yang putus...tapi cicak itu terlihat olehnya terlepas dari tangan Akmal.
Dia langsung mundur dan mencak-mencak (menghentak-hentakkan kakinya) sambil menutup mata tidak karuan...takut cicak itu lari ke arahnya.
'SRUUUTT...!'
Hingga dia terpeleset ke belakang dan tangannya tak sengaja menggidupkan tombol shower di atasnya...
Dan untunglah Akmal reflex menangkap satu tangannya dan juga pinggangnya...sehingga Anin tidak sampai terjatuh.
Tapi kejadian yang tak terduga terjadi...
Akmal ikut tertarik ke belakang bersama Anin ke arah shower yang sedang mengucur deras airnya.
Alhasil...keduanya jadi basah kuyub dalam posisi berpelukan di bawah shower.
Sejenak suasana hening...mereka berpandangan dengan pandangan sama-sama terpana.
'KRACAKK KRACAKK....'
Hanya suara air dari shower yang terdengar.
'DEG DEG....DEG DEG...'
Sedang degupan jantung yang tak karuan hanya mereka sendiri yang merasakannya.
__ADS_1
Mencoba mencerna dan sedikit menikmati rasa aneh yang saat ini sama-sama mereka rasakan....hingga keduanya masih betah terdiam dalam posisi berpelukan.