
"Gimana caranya ? Kan masih ada slang infus juga...Saya seka aja yah ? Kalau sudah tidak diinfus baru bisa mandi..." kata Anindya.
"Kamu yang mandiin...aku yang pegang slang infusnya..." kata Akmal sedikit maksa.
"Luka bekas peluru juga masih baru kering,Tuan...saya takut nanti basah lagi..." kata Anindya.
"Tapi badanku ini rasanya sudah lepek banget...pengen keramas juga..." sambung Akmal.
"Iya sabaar...nanti kalau sudah kering betul lukanya...kita mandi." kata Anindya.
"Apa ?" tanya Akmal antusias.
"Apanya apa ?" timpal Anindya.
"Coba ulang perkataan kamu barusan..." pinta Akmal.
"Yang mana,Tuan ?" Anindya belum ngehh.
"Nanti kalau sudah kering lukaku..." kata Akmal.
"Oohh...nanti kalau sudah kering luka Tuan..kita mandi..." ulang Anindya.
"Naahh..itu maksudku !" seru Akmal membuat Anindya terperanjat dan mengernyitkan dahinya.
"Kita mandi...kita ? berarti aku dan kamu...mandi bareng,gitu ?" Akmal memperjelas sambil tersenyum menggoda Anindya.
Anindya pun beranjak dari pinggir ranjang Akmal...menghindar dari tatapan magnetisnya.
"Alhamdulillaah..berarti Anda sudah benar-benar sembuh...kelihatan tuh..." kata Anindya sambil menyiapkan air untuk menyeka Akmal.
"Kelihatan apanya ??" Akmal mengoreksi badannya karena tak faham maksud Anindya.
"Tuh...kelihatan resehnya udah balik lagi..." Anindya meledek Akmal.
Dia duduk di tepi ranjang lagi dengan membawa air hangat di ember dan kain di dalammya.
__ADS_1
"Kirain kelihatan apanya..." Akmal tersenyum nakal disambut senyum tipis Anindya.
"Kenapa pelit banget senyumnya,sih ? Jadi makin gumush aja.." goda Akmal.
"Cupp grakk !! Ayo buruan dilepas kemejanya.." kata Anindya mulai membuka kancing kemeja Akmal.
Akmal hanya pasrah dan menikmati saja perlakuan Anindya padanya.
Setelah kemeja terbuka...tampak sling perban di badan Akmal yang saat ini tengah telanjang dada.
Ini sudah kesekian kalinya Anindya menyeka badan Akmal...tapi jujur dia masih merasakan dag dig dug ser saat ini.
Ditambah dengan tatapan magnetis Akmal yang membuat jemari tangannya tremor....Anin berharap Akmal tak menyadarinya.
"Kamu masih merasakannya,kan ?" tanya Akmal setengah berbisik.
"Merasakan apa ?" tanya Anin singkat.
"Sengatan listrik seperti yang dulu kamu katakan...saat setiap kali kita kontak fisik..." papar Akmal.
"Bohong !! Lalu kenapa tangan kamu tremor begitu ?" Akmal menyanggah kata Anin.
Ternyata Anin tak bisa menutupi tremor tanda gugupnya dari Akmal saat ini.
Wajah Akmal dipantaunya dari jarak dekat sekali saat ini...jambang tipis sedikit tak beraturan mulai menghiasi sekitar dagu tegasnya.
Kumisnya juga mulai tampak membentuk garis hitam...tapi semua itu justru membuat Akmal tampak semakin 'lakik'...dan macho.
"Dibilangin gak percaya ya udah..." jawab Anin asal dengan masih terus menyeka Akmal.
Kain yang digunakannya menyeka kini beralih turun ke leher Akmal...dia setengah menengadah...sehingga tampak jakunnya yang naik turun.
Anindya berusaha biasa...padahal saat ini suasana hatinya sedang 'resahh'...
Beralih ke leher dan belakang telinga Akmal...membuat Akmal sedikit bergidik mengangkat bahunya karena geli.
__ADS_1
Anin sadar hal itu...tapi dia memilih abai.
Lalu turun ke dada...
"Sshh...!" Akmal mendesah pelan.
"Kenapa ? Sakit ?" Anindya panik dan menghentikan aktivitas menyekanya.
"Sedikit...tapi lebih banyak rasa gelinya.." seloroh Akmal dengan senyum nakalnya.
"Isshh !! Kirain kena bekas operasinya...Gak malu apa ngomong gitu sama anak di bawah umur...!" Anindya meneruskan menyeka.
Akmal tak kuasa menahan gelak tawanya mwndengar perkataan Anindya barusan.
"Aduhh...aduhh..!!" sambat Akmal.
"Astaghfirullooh..!! Tuhh kan..." Anindya terlihat panik lagi.
"Habisnya kamu...selalu menjadikan di bawah umur sebagai senjata utama...sakitt nih kalau dipakek ketawa...!" kata Akmal sambil nyengir kesakitan.
"Bisa dipercepat nggak kalau di bagian situ...rasanya double nihh...!!" kata Akmal saat Anin mulai menyeka area perutnya.
Anindya hanya geleng-geleng kepala meresponnya.
"Makasih Aein...udah mau merawat aku..." kata Akmal dengan pandangan syahdunya ke Anin.
Anin memandangnya sekilas...padahal maksud hatinya ingin menghindar kontak netra dengan Akmal...tapi sulit...tak bisa.
"Anin...bukan Aein,Tuan !!" Anindya sedikit ketus.
"Mass !! Bukan Tuan,Aein !!" Akmal tak kalah ketus.
Anindya terperanjat mendengar ucapan Akmal barusan.
"Mas ?!?.Gak mau,ah !!" tolak Anindya.
__ADS_1