
Beberapa jam berlalu...
Akmal kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap....di kelas VVIP.
Anindya saat ini sedang ada di samping ranjang Akmal bersama Nyonya Mira.
Anindya tak melepaskan pandangannya pada Akmal yang saat ini masih tak sadarkan diri.
Masih memakai penyangga leher dan kaki kirinya di gibs.
Terdapat luka memar dan gores di wajah dan di beberapa tempat lainnya...namun tak mampu melunturkan ketampanan seorang Akmal Wirawan.
"Sebaiknya kamu pulang dulu,Anin... Tubuhmu juga butuh istirahat setelah semua yang kamu alami...Akmal biar Mama yang jaga..." kata Nyonya Mira lirih pada Anindya.
Anindya hanya tersenyum tipis...entah kenapa...tapi bagi Anindya,saat ini rasanya berat meninggalkan Akmal.
Ingin menolak...tapi rasanya tidak enak...mengingat hubunganya dengan Akmal yang selama ini tidak baik saja...lagian Nyonya Mira benar juga...tubuhnya memang butuh istirahat barang sejenak.
Alhasil...Anindya akhirnya menuruti saran Nyonya Mira..setelah terlebih dulu berpamitan pada Tuan Wirawan dan Devan,Anindya pulang ke rumahnya.
Sesampainya dirumah...
Mbah Rasni memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
Wajar saja...wanita renta itu tentu khawatir pada cucu semata wayangnya itu.
Setelah menjawab segala penasaran Si Mbah...Anin permisi untuk masuk ke kamarnya.
Membersihkan dirinya terlebih dahulu...setelah itu Anin melaksanakan sholat Isya'.
Usai salam...Anin enggan melepas mukenanya...dia merebahkan tubuhnya di sajadahnya yang terhampar...pikirannya tak lepas dari Akmal yang belum sadar sampai dia pamit pulang tadi...setelah itu entah di menit ke berapa..Anin terlelap dalam tidurnya.
Tiba-tiba Anin mendengar beberapa orang sedang berdebat di lantai dasar rumahnya...suaranya tidak asing di telinga Anindya.
Berbekal rasa penasarannya...Anin bangun dan melepas mukananya lalu turun ke bawah...
Ternyata di bawah banyak orang....terlihat oleh Anindya, ada Mbah Rasni,Budhe...yang membuat heran,ada Tuan dan Nyonya Wirawan,Kak Devan juga Tuan Dokter ?
'Dia sudah sembuh ? ' Anin bermonolog...dan tanpa menyadarinya,Anin mempercepat langkah kakinya untuk menuruni anak tangga...juga tak ketinggalan tampak senyuma tersungging di bibirnya.
"Mama mohon jangan pergi,Akmal...jangan tinggalkan Mama yang sudah mulai renta ini,Nak...Pa..! Jangan diam saja..! Cegah anak bungsu Papa ini untuk pergi !" teriak Nyonya Mira histeris.
Dan itu tertangkap telinga Anin yang masih di anak tangga...dia seketika memperlambat langkahnya.
Sedang yang tertangkap netran.ya saat ini,Akmal memakai jacket hoodie warna putih dengan lapisan kaos polos putih juga...dipadu dengan celana dan sepatu warna senada.
Kehadiran Anin mulai disadari oleh yang lain.
"Anin...tolong cegah suamimu ini untuk pergi,Nduuk...!" suara dan mimik wajah Mbah Rasni penuh kecemasan.
"Iya,Anin...cegah dia agar tidak pergi...kalau dia pergi kali ini,Mama yakin dia tidak akan kembali ke tengah-tengah kita...!" sambung Nyonya Mira.
"Akmal ! Kamu jangan gila ! Gimana urusan rumah sakitmu,hah ?" Devan juga tak kalah khawatir.
"Iya,Den Akmal...kan Den Akmal baru saja ketemu sama Non Anin,masak ditinggal pergi ?" Budhe juga ikut mencegah Akmal pergi.
Hanya Anin dan Tuan Wirawan yang diam tak bergeming...
Perasaan Anin campur aduk...hati dan fikirannya belum sinkron...membuat bibirnya jadi kelu..tak sanggup mrngeluarkan kata-kata.
Entahlah dengan perasaan Tuan Wirawan saat ini...yang jelas...tampak lelehan air mata di kedua netranya keluar..walau hanya dalam diam.
"Ma...maafkan,Akmal...kehadiran Akmal di sini hanya akan membuat luka yang mulai kering kembali menganga..." ucap Akmal sambil melirik ke arah Anindya.
"Akmal sudah gagal jadi anak dan suami yang baik...untuk apa Akmal disini ? Lebih baik Akmal pergi...Akmal minta maaf pada kalian semua...terutama kamu,Anindya...selamat tinggal semuanya..." Akmal melangkah keluar rumah Anindya sambil menyeret koper di tangan kanannya...meninggalkan semua orang yang ada di ruang keluarga.
"Akmal...!"
"Nak Akmal..!"
"Den Akmal...!"
Ucap semua orang hampir bersamaan...kecuali Anindya dan Tuan Wirawan.
Anindya hanya bisa menangis tergugu hingga bahunya bergetar...tapi masih dalam diamnya.
"Kenapa kamu tidak tanya perasaanku ? Kenapa kamu pergi semaumu saja ? Dasar Dokter Reseh !!" Anin teriak sekencangnya hingga dia terlonjak dari sajadahnya.
Ternyata Anindya terbangun dari mimpinya...ditengoknya jam dinding...menunjukkan waktu pukul setengah 3 dini hari.
'Astaghfirulloohal'adhiim...' gumamnya.
Lalu melepas mukenanya yang masih dia kenakan sedari sholat isya' tadi...dia menuju kamar mandi lalu mengambil wudhu...dia pakai kembali mukenanya kemudian sholat tahajud 2 rokaat.
Selepas salam...dia memanjatkan do'a dikhususkan untuk Akmal lagi...dia memohon perlindungan untuk pria yang masih berstatus suami sahnya itu.
Setelah kegundahan hatinya berangsur hilang...Anin menaiki ranjangnya bersiap untuk tidur...tapi sebelum itu ditiliknya hp yang dia letakkan di meja sebelah ranjangnya...barangkali ada notifikasi dari keluarga wirawan...ternyata tidak...Anin berfikir hendak menanyakan kabar Akmal pada Devan atau Nyonya Mira...tapi rasa malu dan gengsinya mengalahkan keinginannya itu.
__ADS_1
Wajar saja seorang Anin bersikap seperti itu...pasalnya walau status mereka pasangan sah...tapi hubungan antara mereka tidak baik-baik saja selama ini.
Anin batal untuk tidur...malahan pikirannya menerawang jauh pada saat masih bersama Akmal 4 tahun silam.
Dimana dia juga pernah merasakan sikap manis dan penuh kasih sayang Akmal kepada dirinya walaupun sesaat....dengan keposesifannya dan kecemburuannya.
Dimana Akmal tak hanya sekali mempertaruhkan nyawanya demi untuk menyelamatkn Anin.
Dimana Akmal begitu intens meminta maaf atas kesalahannya karena mwnganggap Anin memanfaatkan keluarga wirawan.
Alhasil hingga shubuh tiba...Anin batal tidur....matanya terpejam,tapi tidak hati dan pikirannya...dia ingin segera pagi dan segera ke rumah sakit...berharap mendapar kabar baik tentang kondisi Akmal.
*
*
Keesokan harinya...
Setelah sarapan dan pamitan pada Mbah Rasni...Anin bergegas pergi ke RS...tak lupa dia juga mrmbawakan sarapan untuk Tuan dan Nyonya Wirawan.
Sesampainya di RS...di depan kamar Akmal dirawat kemarin...
Anindya melihat semua keluarga Wirawan berkumpul di luar kamar rawat Akmal...dengan gurat kesedihan di wajah mereka.
'Astaghfirullooh...ada apa ini ?' gumam Anin seperti dejavu mimpinya tadi malam.
"Nyonya Mira ?" panggilnya lirih pada wanita yang saat ini dalam pelukan Devan.
"Anindya..." Nyonya Mira berhambur mendekati Anin lalu menggenggam erat tangan menantunya itu.
Anindya memandang Nyonya Mira,Devan dan Tuan Wirawan secara bergantian.
"Kenapa semua ada di luar ? Ada apa ini ?" tanya Anindya yang perasaannya mulai tidak enak.
"Akmal,Anin.." Nyonya Mira masih menggenggam tangan Anin...seperti meminta dukungan kekuatan.
"Mama tenang dulu...jangan malah membuat Anin panik..." kata Devan lembut.
"Akmal belum sadar sampai sekarang...kata Dokter,harusnya sudah sejak tadi malam dia siuman...sekarang Akmal dibawa ke ruangan CT Scan...untuk mengetahui penyebab dia masih belum siuman pasca operasi..." penjelasan Nyonya Mira.
"Mama takut,Anin..." sambung Nyonya Mira.
"Kita sama-sama berdo'a ya,Ma....hanya itu yang saat ini bisa kita lakukan..." kata Anin berusaha menenangkan Mama mertuanya.
"Sekarang Mama duduk dulu..." Anin membimbing Nyonya Mira duduk di sebelah kursi roda Tuan Wirawan.
"Terimakasih,Nak..." jawab Tuan Wirawan sambil tersenyum bahagia.
Mendengar Anin memanggilnya dengan sebutan Papa lagi..menjadi penyejuk jiwanya yang kering kerontang selama ini.
"Mari kita makan di sofa kamar saja.." ajak Devan.
Kemudian Devan mendorong kursi roda Tuan Wirawan masuk kamar rawat Akmal...disusul Nyonya Mira dan Anindya.
Selesai sarapan...mereka tetap di kamar...hingga beberapa jam kemudian ada suara mengetuk pintu...ternyata seorang perawat dan seorang dokter masuk ke kamar rawat.
"Dokter...bagaimana keadaan Anak saya ? Kenapa belum dibawa ke kamar ini lagi ?" tanya Nyonya Mira berdiri dari sofa menghambur ke arah dokter...diikuti oleh Anindya dan Devan.
"Belum...sebentar lagi pasien akan dibawa ke sini...dan keadaan pasien masih belum sadar...dan penyebab inilah yang masih kami cari...karena secara keseluruhan hasil CT Scan tidak ada masalah...tapi entah kenapa pasien seperti enggan untuk bangun...dia seperti lebih nyaman dengan kondisinya yang sekarang...maka dari itu kami harap pihak keluarga sekarang mengambil peran aktif...agar memberi kata-kata sugesti positif agar pasien segera bangun dari komanya....mungkin ada sesuatu yang membuat dia enggan untuk sadar kembali....ajak pasien bicara...yakinkan dia kalau kehadirannya di tengah-tengah kalian masih sangat kalian harapkan...buat dia mengerti kalau kalian membutuhkan dia...mungkin itu yang bisa dilakukan sekarang...disamping do'a dan tindakan medis pada umumnya...".panjang lebar dokter.
Anindya jadi teringat mimpinya kemarin malam...dimana Akmal pamit untuk pergi karena dia merasa kehadirannya hanya akan membuat luka lama menganga kembali.
"Baik,Dok...terimakasih atas penjelasannya.." ucap Devan.
"Sama-sama...ini memang sudah bagian tugas saya...sebentar lagi pasien akan kami pindah ke sini...karena kondisi keseluruhannya baik jadi tidak perlu di ruang ICU..." sambung dokter.
Lalu dokter dan perawat meninggalkan kamar rawat Akmal.
Tak lama kemudian...Akmal yang ada di ataa brankar didorong oleh beberapa perawat laki-laki memasuki kamar rawatnya.
"Ya Alllooh...Akmal anakku..." kata Nyonya Mira lirih namun penuh kesedihan.
Kemudian berdiri di samping ranjang Akmal bersama Anindya.
Anindya masih canggung...ingin dia merangkum wajah sayu pria yang notabene masih suami sahnya itu...tapi dia masih malu dengan orang-orang sekelilingnya.
Devan dan Nyonya Mira menyadari hal itu...
"Ma...sebaiknya Mama dan Papa istirahat dulu...kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh langsung begadang semalaman di rumah sakit menunggu Akmal....Devan akan pesankan kamar di hotel terdekat dari sini...biar Akmal bersama Anindya untuk sementara waktu..." kata Devan.
"Apa kamu tidak keberatan Anin, menemani Akmal disini ?" tanya Nyonya Mira memastikan.
"Tentu tidak Ma..." jawab Anin pasti.
"Tapi sebelum kalian pergi,Anin ingin mengatakan sesuatu...terutama pada Papa..." kata Anin sambil mengedarkan pandangannya ke Tuan Wirawan yang sejak tadi ada di kursi roda dekat sofa.
"Katakan,Nak...ada apa ?" tanya Tuan Wirawan antusias sambil mengarahkan kursi rodanya mendekati Anin.
__ADS_1
"Pa...Anin mohon...tolong maafkan Tuan Dokter...maksud Anin...Mas Akmal..." kata Anin terbata -bata tapi penuh keyakinan sambil memandang Papa mertuanya itu.
Semua orang yang ada di kamar itu speechless....tertegun tak percaya dengan ucapan Anindya barusan...mungkin jika Akmal bisa
mendengarnya dia juga akan kaget.
"Anin...Papa tidak salah dengar,kan Nak ?" tanya Papa mertuanya memastikan.
"Tidak,Pa...Anin memang ingin Papa memaafkan Mas Akmal...karena Anin tahu disini yang masih menyimpan luka adalah Papa dan Anin....lagipula kalau boleh jujur...Anin dan Mas Akmal itu sama-sama korban,Pa...korban dari ketidak jujuran kalian orang tua kami..." papar Anin.
Tuan Wirawan hanya menangis tergugu tanpa suara.
"Mas Akmal selama ini juga menderita,Pa...memderita karena menanggung kemarahan Papa...juga menderita karena perasaan bersalah pada kita semua...asal Papa tahu...tidak melulu luka yang terekam di memori Anin tentang hubungan kami....Mas Akmal juga tak satu kali ini saja menyelamatkan nyawa Anin...dia juga pernah menunjukkan betapa dia menyesali kesalahannya menganggap Anin hanya mengincar kekayaan dan kekuasaan keluarga kalian....dia juga pernah menunjukkan betapa dia mencintai Anin...dan soal insiden pengusiran Anin...itu adalah bagian dari refleksi dia karena merasa kecewa yang teramat sangat....dia merasa dikhianati oleh orang yang juga sangat dia cintai,yaitu Anindya..." kata Anin yang masih disimak oleh Papa dan Mama mertuanya yang tak berhenti berderai air mata.
"Ucapan Kal Devan dan Mbah Rasni sudah membuka hati dan pikiran Anin...mulai sekarang mari kita hapus semua memori buruk 4 tahun silam,Pa...mari kita buka lembaran-lembaran baru...kita rangkai kenangan indah...mumpung kita masih diberi kesempatan bisa bersama di dunia ini...dan sesuai anjuran dokter tadi...mari kita yakinkan bersama kalau Mas Akmal adalah bagian penting dari kita semua...buat dia merasa kalau kehadirannya di tengah-tengah kita sangatlah berharga dan kita harapkan bersama...semoga dia segera siuman,Pa..." pungkas Anin tanpa menceritakan kalau dia mengalami mimpi yang ternyata firasat keadaan Akmal saat ini.
"Baiklah,Nak...Papa janji mulai sekarang Papa akan memaafkan Akmal...sesuai permintaanmu..." kata Papa mertuanya
Lalu Tuan Wirawan mendekat ke ranjang Akmal..
"Akmal...kamu dengar,kan ? Papa dan istrimu sudah memaafkanmu...Papa sangat sayang sama kamu...perlu kamu ketahui...rasa sayang Papa lebih besar dari rasa marah Papa ke kamu...bangunlah Akmal...kami semua mananti kamu bangun dan kembali bersama-sama kami...dalam keadaan sehat wal afiat seperti sedia kala...." Tuan Wirawan menngenggam erat tangan putra bungsunya itu...yang terlihat nyaman dalam tidurnya.
"Kami semua menyayangimu,Nak..jangan salah mengartikan kemarahan Papa dan istrimu...mereka hanya sangat kecewa padamu...mereka tidak benar-benar membencimu..." sambung Nyonya Mira.
"Bangunlah,Bro....di rumah Rafa sudah nungguin kamu pulang...kita tinggal bersama-sama lagi..." sambung Devan juga.
"Kami tinggal dulu ya, Anin...sekarang giliran kamu meyakinkan suami kamu,Nak..." kata Mama mertuanya.
Dan dibalas anggukan pasti oleh Anindya.
Lalu ketiganya beranjak keluar...meninggalkan Anindya dan Akmal berdua saja.
Lalu Anindya memegang tangan Akmal dengan penuh kelembutan...sesuatu hal yang sedari tadi ingin dia lakukan...namun rasa malu dan segan pada mertua dan kakak iparnya mengalahkan keinginannya itu.
"Mas...." panggilnya pada Akmal.
"Panggilan itu kan yang selalu kamu ingin dengar dariku ? Aku janji...mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan itu...Mas Akmal..." kata Anin sambil satu tangannya membelai pipi dan dagu suaminya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus karena beberapa hari tak bercukur....namun itu malah menampilkan ketampanan Akmal dari sisi yang lain dari biasanya.
Akmal sepertinya masih nyaman dan betah dalam keadaan tak sadarnya saat ini.
"Asalkan kamu mau bangun..." tambah Anin dengan suara penuh kelembutan.
"Dan seperti Mas Akmal dengar sedari tadi....aku sudah memaafkan kamu,Mas...karena itu bangunlah...aku menunggumu disini..." lanjut Anin.
"Oh,ya....terimakasih sudah membeli klinik atas namaku...dan mengenai saldo di black card yang kamu berikan padaku...aku sudah mengetahuinya....aku sudah mengecek rekening korannya...kamu benar,Mas....kamu masih menafkahiku secara rutin selama 4 tahun belakangan ini....kamu pintar tapi sekaligus curang ,Mas...hal itu membuat aku tidak bisa mengelak kalau aku memang masih sah istri kamu....maafkan aku,Mas....aku hanya fokus dengan rasa sakit hatiku...tanpa berfikir kalau kamu juga selama ini menderita..." tutur Anin dengan suara menahan isak tangis.
"Bangunlah...kita mulai kehidupan yang baru....yang indah dan penuh cinta dan kasih sayang...kita kubur rasa sakit hati,dendam dan salah paham diantara kita...kita mulai pernikahan kita tanpa rasa keterpaksaan...dan aku akan mulai menghabiskan saldo black card itu...itu kan yang kamu mau ?" Anin merangkum wajah tampan suaminya dengan pandangan penuh kehangatan dan cinta kasih.
Namun tak semudah bayangan Anin...belum ada tanda-tanda pergerakan dari Akmal...dia masih nyaman dalam tidurnya.
Lalu Anin merebahkan kepalanya di lengan kekar Akmal....mulai berusaha bersikap manja dan membuat Akmal merasa kalau dirinya membutuhkan sosok Akmal.
Selalu Anin berusaha mengajak Akmal komunikasi walau satu arah...kata-kata positif dan terkadang gurauan juga dia selipkan dalam obrolannya dengan Akmal.
Anin juga menyeka wajah,tangan dan kaki Akmal yang masih di gips yang sebelah kiri.
Disibaknya selimut yang menutup kaki Akmal...Anin dengan telaten dan penuh kelembutan menyekanya.
"Geli,Aein...." terdengar suara lirih,berat dan serak.
Anin langsung terlonjak ! Dan seketika menjatuhkan kain penyeka di tangannya.
Dia mencari sumber suara itu...tapi dia lihat Akmal masih terpejam dan diam tak bergerak sedikitpun.
'Ahh...mungkin aku lagi halu saja...terlalu berharap...' batin Anin.
Lalu dia mengambil kembali kain yang jatuh tadi...dan meneruskan menyeka kaki Akmal sambil menyingkap celana pendeknya hingga paha.
"Jangan terlalu ke atas....geli,Aein..." terdengar suara lirih kembali.
Anin lalu memandang ke arah Akmal lagi...kali ini tampak senyum tipis tersungging di wajah tampan pria itu.
"Mas !?! " wajah Anin dalam mode tak percaya.
Hallo para readers TiTan....🤗😊
Terimakasih yaa...atas dukungan kalian semua atas karya receh dan perdanaku ini...
Maafkan atas alur cerita yang mbuletisasi....jauh dari ekspektasi kalian para readers..😓
Maafkan juga atas hiatus dan keterlambatan dalam up othor.
Maklumlah semangat othor suka pasang surut...
Tapi saat membaca komentar dari para readers yang setia...othor berjanji pada diri sendiri untuk tidak meninggalkan cerita ini di tengah jalan...
Dan kayaknya sebentar lagi othor bakalan menamatkan cerita ini...maafkan atas semua kesalahan othor yaa...terimakasih sekali lagi karena kalian para readers sudah menjadi penyemangat othor selama ini....🤗😍😙
__ADS_1