
Suasana di RS Bhakti Wirawan..
Anin turun dari angkot..kemudian dia memasuki pelataran rumah sakit.Sesekali dia melempar senyum karena berpapasan dengan beberapa staff dan pegawai yang mulai dia kenal,Anin-pun tidak menyadari bahwa dia cukup menyedot perhatian..karena paras ayu dan kepolosan penampilannya..dia terlalu minder jika berhadapan dengan banyak orang,apalagi lawan jenisnya.Padahal ibarat bunga,ia adalah bunga melati..putih polos namun menarik hati.Anin tiba di area parkir...dari belakang meluncur sepedamotor ke arah parkir khusus dokter dan staff.Sepedamotor dan pengendaranya tidak asing lagi bagi Anin."Sepedamotor hitam,orangnya tinggi..apa mungkin?..bisa juga..Dokter Barra kan tahu rumahku.."gumam Anin sendirian.Barra turun dari sepedamotornya..pesonanya memang tidak diragukan..bikin hati meleleh..Anin pun mengakui hal itu dalam diam.Anin hendak menghampiri Barra ingin bertanya,tapi diurungkannya,khawatir tak sopan karena di tempat umum..mengingat Barra seorang dokter sedang dia hanya OG..lagi-lagi dia minder.
__ADS_1
"Hai An..gimana lembur pertamamu semalam ?" tanya Novi."Sesuatu banget..hehe.."jawab Anin terkekeh kecil."Eh gaes hari ini kita waktunya ngerjain tugas mingguan..ini list dari Bu Arum..apa aja pekerjaan yang harus kita selesaikan,"kata ketua regu OG."Silahkan baca sendiri pembagiannya yaa.."sambungnya.Anin dan OG yang lain langsung sibuk membaca list pembagian kerja dari Bu Arum."An..kamu sama aku ternyata..dapat bagian bersihin dispenser dan kaca kantor semua divisi.."kata Novi antusias pada Anin."Iya,Nov.."jawab Anin tak kalah antusias.
Dan semua OG dan OB pun berpencar menyelesaikan tugas mingguan mereka.Divisi demi divisi mereka susuri.Termasuk Anin dan Novi..mereka sekarang ada di divisi poli bedah.Dan saat ini hampir waktu istirahat."Nov..kamu gak capek ?"tanya Anin sambil membersihkan kaca.""Banget,An.."jawab Novi mengusap peluh didahinya."Haus banget..air dingin seger kali ya?"kata Anin."Sabaar...istirahat kita langsung ke kantin,"kata Novi."He-em,"jawab Anin.Tak lama kemudian,nampak beberapa orang keluar dari kantor divisi poli bedah..berarti sudah waktunya istirahat.Tampak juga Barra keluar dari ruangannya..ia meliihat Anin dan Novi sedang terlihat kecapek-an di sudut kursi tempat pasien biasa mengantri."Yuk ke kantin.."kata Anin pada Novi,dan mereka pun melangkah ke kantin.Sesampai di kantin..suasana kantin sangat ramai.."Ya Allooh...ramainya."kata Novi."Hemm...ada dua macam kesabaran..sabar untuk sesuatu yang tidak kita inginkan dan sabar menahan diri untuk sesuatu yang kita inginkan..."kata Anin mengutip kata bijak Ali bin Abi Thalib."Enggeh Bu Nyai.."ledek Novi,lalu mereka berdua tertawa.Dan sesaat kemudian,ada seseorang yang menyodorkan dua bungkusan paket makanan dan minuman dari samping mereka duduk saat ini.Anin dan Novi mendongak mencari tahu siapa gerangan orangnya.Ternyata Barra."Dokter Barra,"gumam Novi pelan seakan tidak percaya dengan pandangannya saat ini,figur dokter idola banyak kaum hawa,sedang berdiri di sampingnya menyodorkan makanan dan minuman.Anin hanya terpaku diam."Untuk kami ?"tanya Novi."Silahkan.."kata Barra singkat."Terimakasih.."ucap Anin dan Novi hampir bersamaan.Kemudian mereka segera mengeluarkan minuman dingin dari dalam bungkusan dan meneguknya."Alhamdulillaah...Anda memberi di saat yang tepat.."kata Anin membuat Barra tersenyum kecil."Makanlah.."kata Barra singkat."Iya nanti sesudah sholat dzuhur.."jawab Anin.Novi yang di sampingnya salting gak tau harus berbuat apa ada Barra di hadapannya,berbeda dengan Anin yang bisa lebih menutupi kesaltingannya."Ee Dokter.."ucap Anin."Ya ?"tanya Barra antusias."Nanti bisa minta waktunya sebentar?"tanya Anin ragu."Tentu.."jawab Barra."Ee..Anda bisanya kapan? Ada sedikit hal yang ingin saya sampaikan.."kata Anin."Nanti pulang kerja saja di kafe depan RS.."kata Barra."Terimakasih.."kata Anin."Hemm..Saya ke musholla dulu.."pamit Barra.Anin dan Novi mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
Waktu istirahat usai..sekarang waktu untuk melanjutkan tugas mingguan OG.Sekarang Anin dan Novi sampai di divisi poli nutrisi dan gizi.Anin membersihkan dispenser di ruangan kantor,Novi membersihkan kaca ruangan."Eh An..denger-denger,anak pemilik RS ini,kerja di divisi poli nutrisi dan gizi.."bisik Novi."Ooh.."jawab Anin pura-pura belum tahu,sembari mengosongkan isi dispenser yang akan dibersihkannya."Dan dia kabarnya pacaran sama kepala perawat Rika.."sambung Novi lagi.'Ooh..gadis jutek yang tempo hari sama Tuan Dokter itu pacarnya..' kata Anin dalam hati yang membuatnya melamun sesaat.Hingga membuatnya meluberkan air dispenser ke lantai hingga mengalir ke depan pintu."An..airnya..!"seru Novi sontak membuyarkan lamunan Anin.Kemudian dia melihat air sudah meluber kemana-mana.Anin bergegas ambil kain pel untuk membersihkannya.Belum selesai membersihkan,bersamaan dengan itu dua orang tampak akan masuk ke ruangan.Ternyata Akmal dan Rika yang baru datang dan hendak masuk.Spontan Anin menghalangi mereka untuk masuk,agar tidak sampai terpeleset."Awas licin.."seru Anin.Tapi apesnya kakinya sendiri yang tergelincir."Sruutt..dugh.."Anin terpeleset dan kepalanya terantuk pinggiran pintu."Ya Alloh An.."teriak Novi kaget.Akmal dan Rika juga kaget."Astaghfirullooh.."keluh Anin sambil memegangi pelipisnya yang sakit."Ati -ati dong...kerja apa mainan sih ?" keluh Rika.Anin hanya diam dan meneruskan membersihkan luberan air dengan jongkok..karena kepalanya dirasanya pening akibat kejadian tadi Akmal hanya memperhatikan Anin dalam diam..samar-samar seperti ada yang mengalir pelan di pelipis Anin.Novi membantu Anin berdiri seakan tak terima temannya itu jongkok di depan Akmal dan Rika.Ditatapnya wajah temannya itu.."Pelipismu berdarah,An.."kata Novi lirih."Gak papa.."jawaban Anin."Kita obati aja dulu.."Novi menyeret Anin menuju kotak P3K di sudut ruangan,lalu menyuruh Anin duduk di kursi."Songong banget sih kepala perawat itu.."kata Novi sewot."Udah abaikan aja..aku yang salah juga.."jawab Anin."Coba lihat..sakit An ?"tanya Novi memeriksa pelipis Anin."Sshh..perih..agak pusing.." jawab Anin." Lagian kamu..mikirin apa sampek meluber tuh air ?" tanya Novi.'Mikirin aku.." jawab seseorang dari belakang mereka.Anin dan Novi kompak menoleh dan ternyata Akmal'Kok tau nih orang....' kata Anin dalam hati."Ya Pak...ada perlu apa Anda kemari ?" tanya Novi gugup. Anin hanya menatap Anin bingung...sedang Akmal mengamati pelipis gadis itu..lebam dan sedikit berdarah.Di hatinya timbul rasa iba."Sudah dibersihkan lukanya ?" tanya Akmal.
Akhirnya waktu pulang tiba,Anin menuju ke kafe depan RS.Sepertinya Barra yang memilih kafe itu saat Anin mengajaknya bicara, belum datang.Anin memilih duduk di bagian teras kafe..biar Barra melihatnya saat dia datang.Tak lama kemudian Barra datang dengan sepeda motor sportnya dan masih berjas putih.Dia memarkirnya dan menuju tempat Anin duduk.Keduanya saling melempar senyum."Udah lama nunggu ? " tanya Barra.Anin menggeleng."Terimakasih Anda sudah mau datang.." kata Anin."Fix itu memang hobi kamu.."kata Barra."Apa ?" tanya Anin."Bilang terimakasih.."kata Barra.Dan mereka pun tertawa lepas.Bersamaan dengan itu melintas mobil Akmal..didalamnya seperti biasa ada juga Rika.Akmal melihat Anin tertawa bersama seorang laki-laki berjas putih.'Siapa yang bersama Anin di kafe ? tampaknya mereka akrab banget ? Kayaknya dokter atau staff RS kalau dilihat dari pakaiannya.." kata Akmal dalam hati.Di kafe Anin dan Barra masih terlihat kaku walaupun tadi sempat tertawa lepas bersama."Eh..kenapa pelipismu Anin ?" tanya Barra baru menyadari pelipis Anin berplester."Oh..ini tadi terpeleset saat kerja.." jawab Anin."Luka serius atau ringan ?" Barra menelisik cemas."Hanya ringan,Dokter.."jawab Anin meyakinkan.Kecemasan yang tidak biasa,tampak di wajah Barra sang dokter muda..saat menatap gadis lugu dan polos di hadapannya."Kenapa kamu tidak melanjutkan kuliah saja ?" tanya Barra."Tidak Dokter..saya hanya pengen kerja,ngeringanin beban Mbah.."jawab Anin."Oh ya..saya sampai lupa tujuan saya ingin bicara dengan Anda..." seru Anin."Ya..ada apa ?" tanya Barra."Emm..Dokter ya yang datang ke Mbah..bilang kalau saya harus lembur tempo hari ? Maaf kalau saya salah.." kata Anin ragu."Iya.." jawab Barra singkat." Syukurlah saya tidak salah duga...darimana Anda tahu kalau hari itu saya lembur ?" tanya Anin penasaran." Nguping.." kata Barra."Hah..?" Anin belum faham." Iya kebetulan waktu aku mau pulang..aku lihat kamu ngobrol sama temanmu.." kata Barra santai." Terimakasih Dokter Barra...anda baik sekali dari awal kita bertemu sampai sekarang.." kata Anin harus berkata apa lagi.
__ADS_1
" Gak usah kaku gitu ngobrol sama aku...jadi aneh rasanya.." kata Barra lagi."Terimakasih sudah mau ngobrol sama saya yang seorang OG biasa..padahal Anda seorang dokter.." kata Anin."Astagaa kata itu lagi.." Barra gemes Anin bilang 'terimakasih' lagi." Lagian kamu jangan suka merendahkan diri sendiri..gak baik dan aku gak suka.." kata Barra."Te......" kata-kata Anin tak dia lanjutkan karena ingat Barra udah bilang jangan ucap 'terimakasih' lagi.Anin dan Barra tertawa lepas kembali.Barra diam-diam menilik wajah gadis di hadapannya.Cantik.Dengan keluguan dan kepolosannya.Gadis yang lumayan jauh jarak umur dengannya,kira-kira lebih muda 6 tahun darinya,membuat sang dokter muda nyaman berbincang dengannya.. berdebar kala memandangnya..entah debaran apa namanya..sang dokter muda belum bisa mendiagnosanya."Baiklah Dokter..saya permisi pulang dulu..hari sudah mulai gelap..bentar lagi angkot udah stop lewat."Aku anterin aja,Anin..kamu bahkan belum pesan apa-apa.."kata Barra cepat."Nggak terimakasih...lain waktu mungkin..permisi," kata Anin.Barra pun tidak enak untuk memaksa.
Beralih ke mobil Akmal..Rika mencoba memancing Akmal dengan sentuhan dan kecupannya."Sstt..jangan dong sayaang..aku ntar gak fokus nyetir nih.." kata Akmal."Kamu siih gak segera kenalin aku ke ortu kamu.." Rika merajuk.Akmal tersenyum tipis."Idih..apa hubungannya coba ? " kata Akmal. " Ya lihat aja..apa kamu kuat untuk tidak berbuat khilaf kalau kupancing terus. " Rika jumawa."Jangan doong...aku ingin hubungan ini murni tanpa noda,Sayaang.." rayu Akmal."Apa belum cukup LDR-an kita selama 4 tahun ini ? Aku jadi merasa kamu gak niat nikahin aku..." sindir Rika."Justru aku niat nikah sama kamu..itu makanya aku jaga bener-bener kesucian hubungan kita,tanpa nafsu..Dan bukannya aku gak mau ngenalin kamu ke ortuku..aku pernah singgung ngomongin hubungan kita ke Papa dan Mama..mereka bilang jangan buru-buru..juga nyuruh aku siapin masa depan aku dulu.." papar Akmal sambil nyetir. "Dan kamu terima begitu aja pendapat mereka ?" tanya Rika kesal. " Ya karena aku merasa aku memang belum siap..orang aku aja masih punya gelar Sarjana Kedokteran..belum koas..belum jadi dokter seutuhnya.." kata Akmal. "Kenapa harus susah payah sih Yang kamu...kan kamu bakal jadi pewaris RS milik Papamu.." kata Rika." Warisan kalau gak tahu cara ngelolanya ya bakalan gak bertahan lama,Sayang.." jawab Akmal.Rika masih sewot dan memilih untuk tidak bicara lagi sambil mengarahkan pandangannya ke kaca samping mobil."Udah doong..ngambeknya..bentar lagi kamu nyampek rumah nih.." bujuk Akmal,tapi Rika masih tak bergeming.Sampai di rumah Rika..di teras ada seseorang yang sedang duduk di sana.Akmal maupun Rika sama-sama menajamkan pandangannya guna mengenali sosok itu.''Roby....'" Rika mulai mengenal sosok itu.Dan Akmal pun mengenalnya."Sedang apa anak tengil itu di rumah kamu ? " telisik Akmal."Entah...." Rika juga bingung.Roby adalah teman SMA mereka juga tapi beda kelas.Dulu dia menyukai Rika..tapi Rika tidak pernah membalas perasaan Roby dan memilih Akmal jadi kekasihnya.Mereka turun dari mobil dengan rasa penasaran."Selamat petang kawan-kawanku.."sapa Roby.sambil mengulurkan tangannya."Hai Akmal,Rika..masih ingat sama aku kan ?" tanya Roby pada Akmal dan Rika." Iya Rob..kamu ada perlu apa datang ke rumahku ?" tanya Rika.Akmal hanya tersenyum tipis." Bagaimana kabarmu cinta pertamaku ?" kata Roby.Akmal dan Rika langsung memicingkan mata mereka.
__ADS_1