Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Barra Laki-Laki Langka.


__ADS_3

"Eh Nov...aku duluan yaa..soalnya ada perlu nih..." pamit Anindya setelah mendapat pesan dari Dokter Barra.


"Oh..oke...tapi lanjutin dulu makannya...biar kamu punya energi ngadepin si tuan dokter dan pacarnya yang jutek itu..." kata Novi.


Karena Anin ngasih tahu Novi apa yang terjadi hari ini di divisinya.


Hanya seputar pekerjaan yang Anin ceritakan...dia belum bisa bercerita tentang Dokter Barra yang menyatakan cinta padanya juga status dia dan Dokter Akmal sekarang.


Mungkin Novi akan kena serangan jantung karena shock jika mengetahuinya...


"Udah cukup...ntar malah ngantuk kalau kekenyangan..kemungkinan hari ini aku lembur kalau pekerjaanku belum kelar..." kata Anin.


Lalu Anin bergegas keluar gedung utama RS...dan menuju kafe di depannya.


Sesosok laki-laki yang tak disangkal lagi kharisma dan ketampanannya tampak duduk sendirian..menikmati segelas jus pesanannya.


Anin melangkah gamang menuju tempat laki-laki itu berada.


"Ya Alloh...tuntunlah jalan hamba-Mu ini untuk mengambil keputusan yang paling baik menurut Engkau...hamba berlindung dari kejahatan hawa nafsu dan tipu muslihat syetan dan terkutuk hanya kepada-Mu..." batin Anindya terus bergejolak.


Dan akhirnya Anindya sampai di depan laki-laki itu...yaitu Dokter Barra.


"Dokter..." sapa Anindya.


Barra yang sedang melamun sedikit terperanjat mendengarnya.


"Oh...Anin.." katanya singkat.

__ADS_1


Lalu berdiri menyambut kedatangan Anindya...


' Ya Alloh...begitu terpuji attitude laki-laki ini...seandainya saja...' Anindya terbuai angan-angan.


"Maaf aku sudah menggaggu waktumu dengan mengajak kamu bertemu.." kata Barra lagi.


' Astaghfirullooh...laki-laki langka seperti ini menyatakan cinta padaku ? Sungguh hati dan fikiran ini tak ingin menyia-nyiakannya...' pergulatan batin Anindya.


"Seharusnya saya yang meminta maaf karena sudah membuat Anda menunggu lama..." kata Anindya.


"Mau pesan apa ? biar aku pesankan..." tawaran Barra.


"Tidak usah,Dokter...saya sudah makan di kantin tadi.." tolak Anindya.


"Baiklah kalau begitu...jadi gimana ?" Barra rupanya to the point.


"Jawaban kamu..." sambung Barra.


"Dokter...bisakah kita seperti ini saja ?" pertanyaan Anin meluncur begitu saja dari bibirnya.


"Okee...fix...jadi kamu menolakku..." ucap Barra datar.


"Tepatnya bukan menolak...tapi saya merasa tidak pantas..." kata Anindya cepat.


"Anda terlalu baik untuk saya,Dokter..." sambungnya.


Barra hanya tertunduk lesu.

__ADS_1


Anindya merasa sangat tidak enak hati melihatnya.


"Lalu apa kekuranganku hingga kamu menolakku ?" tanya Barra lemas.


"Kekurangan itu ada pada diri saya,Dokter..." jawab Anin meyakinkan Barra.


"Aku memilih kamu karena aku merasa kamu yang terbaik dari lainnya..." kata Barra lagi.


"Aku ingin kita saling melengkapi..." sambung Barra.


"Saya menganggap Anda lebih dari pelengkap dalam hidup saya...Anda adalah penyelamat dan sosok pelindung bagi saya..." jelas Anin.


"Aku ingin lebih leluasa melindungimu..karena aku mempunyai hak atas dirimu..." Barra akhirnya memandang Anindya.


Sorot matanya yang sendu membuat Anindya seakan seketika meleleh tak bertenaga.


"Katakan apa yang harus aku lakukan agar bisa meyakinkanmu untuk menerimaku..." Barra tetap dengan pandangannya ke Anin.


"Tidak ada...jangan membuat saya semakin tidak enak hati,Dokter...sungguh saya tidak bisa..." kata Anin yang giliran menundukkan kepalanya lemas.


"Oke...katakan alasannya padaku...tempo hari kamu bilang ada alasan yang mendasar yang belum bisa kamu ceritakan padaku..." kejar Barra.


"Saya belum bisa memberitahu Anda untuk saat ini...maaf,Dokter..." kata Anin lirih.


"Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku masih berharap kamu menerima perasaan cintaku...bersiaplah menghadapi segala bentuk usahaku untuk itu..." kata Barra.


Anindya hanya menggeleng dan menekuk mukanya sambil memegang dahinya yang terasa berat tiba-tiba...karena Barra yang beraikukuh.

__ADS_1


__ADS_2