Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
TiTan 147.


__ADS_3

Setelah sampai di apartemennya...Akmal membaringkan tubuhnya yang letih sembarangan di ranjangnya.


Dipandanginya langit-langit kamarnya....sambil mengingat kembali kondisi Rafa saat ini...


"Kasihan anak itu...langkah apa yang harus ditempuh untuk mengembalikan keceriaannya yang dulu..." Akmal berkata dalam hati....dia sangat prihatin melihat kondisi keponakan kecilnya saat ini.


Lalu memorinya tiba-tiba memutar pada saat orang suruhannya memberikan laporan padanya tempo hari.


"Bagaimana kalaauuu...achh iya !! Kenapa tidak ??" monolog Akmal heboh sendiri dan bangkit dari posisi merebahnya


Sejenak kemudian mencari keberadaan handphonennya...akhirnya ketemu di tas kerja yang ada di sampingnya dari tadi.


Tangan kekarnya memeriksa kotak masuk...ada sejumlah pesan dan telepon diterima,tapi tidak ada yang dari orang yang diharapkannya...yaitu kakaknya.


"Dia bilang mau nelfon...mau bicara sesuatu...nyatanya mana ?" gerutu Akmal sendirian.


Lalu dia memutuskan untuk menelfon duluan kakaknya itu...tujuan utamanya untuk membahas tentang Rafa,keponakan semata wayangnya....yang saat ini butuh perawatan psikis secepatnya.


Dan akhirnya setelah mereka berdua berbincang lewat telepon...mereka berdua menemukan kesepakatan dan solusi masalah Rafa.


*


*


Di klinik Anindya dkk...


Tampak Barra turun dari mobilnya...mengedarkan pandangannya ke sekeliling klinik di depannya saat ini....karena ini pertama kali Barra berkunjung ke klinik Anindya dkk.


Langkahnya tampak sedikit canggung...tapi diteruskannya juga hingga menuju tempat informasi dan pendaftaran.


Di kursi tunggu ada sejumlah orang yang tengah mengantre menunggu gilirannya untuk mendapat pelayanan dari para ahli psikolog di klinik itu.


"Permisi..." kata Barra pada seorang wanita yang duduk di belakang meja kerjanya dan sedang asyik menunduk pada tumpukan kertas di meja.


"Ya ?? Ada yang bisa saya bantu ?" tanya wanita itu ramah.


"Saya sudah ada janji dengan Mbak Anindya..." kat Barra dengan seulas senyum.


"Baik...dengan Tuan siapa ?" tanya wanita bagian informasi sopan.


"Barra..." jawabnya singkat.


Kemudian wanita tersebut melakukan panggilan lewat telepon di mejanya....dia tampak bicara dengan seseorang di seberang telepon...dan sesaat kemudian mengakhiri dan menaruh kembali gagang telepon.


"Baik,Tuan Barra...sudah saya konfirmasi pada Mbak Anindya...silahkan duduk dulu...sebentar lagi beliau kesini..." kata wanita itu ramah.


Barra mengangguk sambil kembali tersenyum tipis..lalu duduk di kursi tunggu.


Dia datang ke klinik ini atas permintaan Anindya...dengan dalih ingin menunjukkan tempat prakteknya...dan satu lagi..Anindya bilang pada Barra kalau akan mengenalkan salah satu temannya pada Barra.


Barra geleng-geleng dan tersenyum sendiri mengingat begitu antusiasnya wanita muda yang sudah dianggapnya adik itu menyampaikan keinginannya beberapa waktu lalu..


Sesaat kemudian...tampak seorang wanita muda berpakaian kerja dan berhijab keluar dari salah satu ruangan di depan Barra duduk...


"Saya permisi Ayang...sampai jumpa minggu depan..." kata seorang pria dewasa yang keluar bersama wanita tadi.


"Iya Pak...sampai jumpa lagi..." balas wanita muda itu dengan raut wajah dibuat seramah mungkin.


"Wanita itu...kayaknya gak asing deh wajahnya..." monolog Barra dalam hati...netranya tertuju pada wanita yang terbilang good looking itu...sambil mengingat dimana dia melihat wanita di depannya itu sebelumnya.


Wanita itu tak sadar sedang diperhatikan Barra dari tadi...saat ini wanita itu menuju meja resepsionis di samping ruangannya.

__ADS_1


"Syl...aku mau keluar dulu yaa...ada perlu sebentar....tolong bilang sama Anin..." kata wanita itu.


"Lho...!?! masih ada 3 pasien lagi yang sudah mengantre dari tadi,Mbak...Mbak Ayang mau kemana ?" tanya resepsionis pada wanita yang ternyata bernama Ayang itu.


"Oh,ya ??" seketika pandangannya beralih pada kursi tunggu pasien...tapi hanya sekilas.


"Kirain mereka udah ada janji temu terapi dengan Anin..." kata Ayang.


"Bukan,Mbak...mereka pasien baru semua..." jawab resepsionis.


"Kecuali pria ganteng di depan itu...dia ada janji sama Mbak Anin katanya...dan sudah saya konfirmasi pada Mbak Anin juga..." bisik resepsionis.


Ayang menoleh ke kursi tunggu lagi...sekarang dia fokus mencari keberadaan sosok pria yang dimaksud oleh Syla sang resepsionis.


Dan kali ini netra Barra dan Ayang beradu pandang.


"Kamu ?!?" seru mereka bersamaan.


"Barra mendekati tempat Ayang berada sekarang.


"Kamu lagi..!" lanjut Barra.


"Ngapain kamu kesini,hah ?" tanya Ayang ketus.


"Ooo...aku tahu...kamu mau minta ganti rugi, iya ? Mau mrmerasku,iya kan ? Jangan mimpi..." cerocos Ayang.


"Dasar wanita senewen....emang tepat banget kamu datang ke klinik ini...kayaknya kamu butuh mendapat terapi dari psikolog,deh..." kata Barra santai.


"Apa kamu bilang ??" Ayang semakin kesal dengan ucapan Barra barusan.


Bagaimana tidak...dia yang berprofesi sebagai psikolog...biasa memberikan terapi pada pasiennya...malah disuruh ikut terapi oleh Barra.


"Kamu seenaknya aja ngatain aku senewen....dua kali malah...sekarang malah nyuruh aku terapi ke psikolog...!" sungut Ayang.


"Apa ?? Kamu bener-bener yaa...!!" Ayang menunjuk ke arah wajah Barra.


Mereka berdua jadi pusat perhatian oleh orang-orang disekitar mereka.


"Eitt...apa nunjuk-nunjuk...! Bukannya minta maaf...malah semakin senewen aja..." lanjut Barra.


"Iihh...awas kamu...!" Ayang meraih lengan Bsrra dan mencubitnya dengan keras.


"Aduhh..!! Gak usah main tangan,doong..." keluh Barra sambil memegang lengannya yang terasa panas karens cubitan Ayang.


"Mau lagi ? Sini ! Biar tahu rasa....!!" Ayang mencoba menarik kaos Barra...sedang Barra berusaha menjauh dan menepis tangan Ayang.


"Eh..eh...eh...Stop !!" seru seseorang yang baru keluar dari ruangannya diikuti Syla dari belakang.


"Kak Barra ? Ayang ? Apa-apaan sih kalian berdua ?? Dilihatin banyak orang tuh...!" lanjut seseorang tadi yang ternyata Anindya...Syla memberitahunya soal keributan antara tamu yang menunggunya dan Ayang.


"Tau nih ! Perempuan senewen ! Gemar banget bikin gaduh dan jadi pusat perhatian...!" kata Barra kesal.


"Kamu punya hubungan apa sama dokter gak jelas ini,Anin ? Dokter reseh !" ledek Ayang.


Tiba-tiba Anin terdiam sejenak... ingat pada seseorang yang dulu juga dia sebut dokter gak jelas dan dokter reseh setiap kali berdebat dengannya....ya...Anin teringat Akmal.


"Sstt..! Udah doong...ayo kalian berdua masuk ke ruanganku...malu tau sama pasien-pasien disini..." kata Anindya seraya mendorong punggung Barra dan Ayang dengan kedua tangannya.


Dan mereka bertiga sekarang udah ada di dalam ruangan Anindya....


Barra dan Ayang masih memasang wajah jutek mereka.

__ADS_1


"Astaghfirullooh...kalian berdua kenapa sihh ? Kalian tuh mau aku kenalin satu sama lain...ehh malah udah bertengkar duluan...." kata Anindya heran karena tidak tahu duduk perkaranya.


"Kenalan sama dia ? Ogahh..." kata - kata yang terlontar dari bibir Barra dan Ayang hampir bersamaan.


"Tuhh kan....barengan...jangan-jangan kalian ini berjodoh..." goda Anindya.


"Iiihh...." cibir keduanya hampir bersamaan lagi.


Anindya tertawa geli melihat kelakuan mereka berdua.


"Sekarang aku tanya....gimana ceritanya sampai kalian berdua ribut- ribut di luar tadi ?" selidik Anindya.


Lalu Barra menceritakan semua kejadian yang dialaminya dari A hingga Z saat pertama kali bertemu Ayang....dengan nada mengadu dan dongkol tentunya.


"Jadi ini pertemuan kedua kalian....dan kamu Ayang....kebangetan dehh nuduh Kakak aku sebagai copet...!!" Anindya protes pada sahabat dan partner kerjanya di klinik itu.


"Sorry..." ucap Ayang lirih dengan nada menyesal.


"Giliran ke Anin bilang sorry....ke aku sebagai korban malah ngajak ribut..." gerutu Barra menyindir Ayang.


"Tapi dia juga ngatain aku senewen berulang kali,Anin...kan aku jadi kesal..." protes Ayang.


"Udah..udah..sekarang gini aja...kalian berdua saling minta maaf..." suruh Anindya pada Barra dan Ayang.


Keduanya tampak keberatan...


"Ayoo...!!" paksa Anin.


"Maaf ..." ucap Barra dan Ayang yang entah kenapa hampir bersamaan lagi...dan dengan berat hati.


"Naah...gitu kan lebih baik....Oke...karena dari awal niatku akan mengenalkan kalian satu sama lain...jadi akan tetap kulakukan...walaupun situasinya bukan seperti ini dalam ekspektasiku sebelumnya...kalian berdua juga sudah pernah bertemu sebelumnya...Ayang,ini kakak angkatku,namanya Kak Barra...dia adalah penyelamat dalam hidupku...dia selalu ada saat aku membutuhkan bantuan...dia seorang dokter ahli bedah...dan Kak Barra ini partner kerjaku di klinik ini...namanya Ayang...kami dulu satu jurusan dan kami lulus barengan...lalu kami memutuskan untuk membuka klinik ini bersama..." papar Anindya.


Barra dan Ayang saling melirik dalam diam satu sama lain...masih ada aura kesal.


"Oke...sebentar lagi waktu istirahat siang tiba...kita makan bersama yuk...sebelumnya kamu selesaikan dulu pekerjaan kamu Ayang...tinggal beberapa pasien kan tadi...setelah itu kita keluar makan siang bertiga....oke ?" Anin mencoba mencairkan suasana.


"Eee...aku gak bisa....aku ada urusan...lain waktu aja ya,Anin..." tolak Barra dengan lembut pada Anin...seperti biasanya.


"Aku juga gak bisa...aku mau ambil pesananku di butik..." senada dengan Barra,Ayang juga menolak.


"Hhh....gemesh dech sama kalian berdua !! Selalu kompak dari tadi..!!" Anin mulai kesal sendiri melihat sikap kedua orang terdekatnya saat ini.


"Udaah...sana temuin pasien kamu...aku dan Kak Barra akan tunggu disini....kalian berdua harus mau makan siang diluar sama aku....titik.." paksa Anin sambil mendorong Ayang keluar dari ruangannya.


"Tapi,Anin..." keluh Ayang.


"Gak ada tapi-tapian...aku tunggu kamu disini...." kata Anin sambil melakukan kissbay pada Ayang di ambang pintu ruangannya.


Dan setelah beberapa saat menunggu sambil ngobrol santai bercerita tentang klinik dan juga tentang Ayang....Anin dan Barra keluar dari ruangan...karena dapat kabar kalau Ayang sudah selesai dengan pasien-pasiennya.


Dan mereka bertiga pun keluar untuk makan siang bersama.


Sementara Anindya,Barra dan Ayang keluar makan siang....di parkiran klinik tampak sebuag mobil sedan tengah berhenti.


Dari pintu kemudi....tampak turun seorang pria...disusul seorang pria lainnya dari pintu sebelahnya...lalu pria itu membuka pintu belakang mobil...dan tampak turun seorang bocah laki-laki.


Ketiganya melangkah menasuki pintu gerbang klinik yang terletak di pinggir jalan raya dan tidak terlalu besar itu...


"Pa...dimana kita sekarang ?" tanya bocah laki-laki yang ternyata adalah Rafa.


"Kita ada di klinik tempat terapi kamu nantinya,Rafa...biar kamu lekas sembuh..." jawab Papanya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Devan.

__ADS_1


Sedang pria yang satunya tampak sedang memindai situasi dan kondisi sekitar klinik....ya...dia adalah Akmal....yang menyarankan pada Devan agar Rafa dibawa terapi ke psikolog....dan menyarankan agar ke klinik Anindya saja...dengan pertimbangan utama tentu saja mencari kesempatan agar bisa dekat dengan Anindya....sedangkan faktor lainnya adalah tentang kenyamanan Rafa...karena Anindya dulu sangat dekat dengan Rafa.


Dan disinilah mereka berada sekarang...di klinik terapi psikolog milik Anindya dan temannya.


__ADS_2