Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Provokasi dr. Barra.


__ADS_3

"Yang benar saja kamu,An !! Mau tanya langsung ke mak lampir itu ? Mana ada maling ngaku.." kata Novi.


"Dia itu beda,Nov...obsesinya mengalahkan rasa malu dan nalarnya...aku harus bertindak cepat...kalau tidak,pihak yang mendapat bocoran dokumen itu yang akan menang.." kata Anin.


"Tapi..kamu jangan bertindak sendirian..kamu harus memberitahu dr.Akmal..." saran Novi.


"Iya...nanti kalau semuanya sudah pasti..." jawab Anin enteng.


"Aku bagaimana ?" tanya Novi ragu.


"Kamu tidak usah melibatkan diri...biar aku saja...nanti kamu aku kabari kalau ada perkembangan...kalau ada apa-apa...kamu bisa mencari bantuan buat aku...oke ?" kata Anin menepuk bahu sahabatnya itu.


"Astaga,An...kamu membuat aku ngeri aja..kamu nggak ngasih tahu dr.Barra ?" tanya Novi lebih lanjut.


"Enggak...dia sudah banyak bantuin aku...aku nggak ingin merepotkan dia lagi..." sambung Anin.


"Kamu harus waspada,Anin...ini urusan besar dan berbahaya..." pesan Novi mengkhawatirkan Anin.


"Aku sudah siap dengan segala resiko Nov...setidaknya aku yang sebatang kara ini tak harus memikirkan keluarga.." kata Anin yakin.


"Kamu jangan ngaco !! Kamu tuh udah punya suami....juga udah ada yang ngarepin kamu menjanda...!!" seloroh Novi.


Disusul dengan suara tawa lepas keduanya.


"Apaan kamu...gak jelas..." kata Anin dengan sisa tawanya.


"Kenyataannya seperti itu,kan...Mbah Rasni juga menunjukkan perkembangan kesehatannya...kamu jangan sembarangan mengambil tindakan..." kata Novi mewanti-wanti sahabatnya itu.


"Assiyyaapp...!" kata Anin.


Lalu mereka berdua berpelukan erat.


Lalu sejenak kemudian mereka menyusuri koridor sembari berjalan beriringan...menuju lift hendak turun ke basecamp OG.


Tapi di depan lift mereka bertemu dr.Barra...


"Anin ?!?" seru Barra dengan mimik wajah senang seolah tak percaya akan bertemu Anin sekarang ini.


"Apa kabar,Dokter ?' sapa Anin dengan sopan.


"Baik...kamu dari ruangan Mbah ?" Barra menebak.


"Iya..." jawab Anin singkat.


"Eee...saya duluan ya,An...mau lanjutin pekerjaan dulu...dan..ingat pesenku tadi..." kata Novi berinisiatif duluan karena dipikirnya dr.Barra pasti ingin berbincang dulu dengan Anindya.

__ADS_1


"Oh iya,Nov...mamaci.." kata Anin.


"Macama....mari Dokter.." kata Novi kaku...dia tak berniat te-pe ( tebar pesona ) lagi pada dr.Barra...setelah Anin cerita kalau dr.Barra menyatakan cinta padanya.


"Kita ke kafe atau ke kantin ?" tawar Barra.


"Maaf..mungkin lain kali,Dokter...saya ada urusan sedikit.." penolakan halus Anindya.


"Ckk..kamu sendiri yang lupa,kan ?" kata Barra sambil masuk lift.


"Soal apa,ya ?" Anindya balik bertanya.


"Kata kamu kalau hanya ada kita berdua...kamu manggil aku 'Kakak'.." kata Barra.


"Oh iya ya..." Anin merasa malu.


Selanjutnya mereka berdua tertawa lepas bersama...bersamaan itu pintu lift terbuka...dan menampakkan beberapa orang yang ada di luar lift.


Tapi...satu orang itu terlihat berbeda...raut wajahnya menyiratkan amarah...


Saat mendapati Anindya dan Barra se-lift berdua dan tertawa lepas bersama,terlihat sangat akrab dan bahagia.


Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Akmal.


"Tuan Dokter..." Anin menyudahi tawanya seketika saat Akmal tepat berada di depannya.


Rahangnya mengeras menahan kemarahan...melihat pemandangan yang sebenarnya bagi sebagian besar orang adalah hal biasa...tapi tidak bagi pemegang tampuk pimpinan RS Bhakti Wirawan itu...melihat perempuan yang dinikahinya secara sah menurut agama dan negara bersenda gurau dengan laki-laki lain saat berdua di lift...adalah sebuah ancaman besar baginya.


Di benaknya langsung terbayang kata-kata Papanya yang mengatakan kalau Barra,laki-laki yang sedang bersama istrinya saat ini...meminta secara langsung agar Papanya mengurus perceraian untuknya...dan Barra siap menjadi pengganti posisinya sebagai suami dari Anindya.


"Dokter Akmal ?" sapa Barra saat sudah berada di luar lift.


Dan pintu lift pun tertutup...tapi Akmal urung ikut masuk kedalamya.


"Tidak jadi masuk ke lift ?" tanya Barra.


"Tidak !" jawab Akmal singkat tapi berat.


Barra menyadari pandangan kemarahan Akmal padanya...dan berniat memanfaatkan momen ini untuk mengompori Akmal.


"Baiklah kami permisi dulu...saya mau ajak Anindya ke kafe depan RS...mau ngobrol ringan dan saling melepas kerinduan...karena beberapa hari ini kami belum bertemu..." kata Barra enteng.


Anindya memandang Barra dengan mengernyitkan dahi...karena seingatnya tadi dia sudah menolak ajakan Barra.


Barra mengkode dengan memgedipkan matanya pelan dan dalam...memgisayaratkan agar Anin mengikuti saja skenarionya.

__ADS_1


"Tunggu ! Kamu bilang tadi mau ke ruangan Mbah..." kata Akmal bingung harus ngomong apa untuk mencegah kepergian Anin dan Barra.


"Sudah tadi...bahkan Mbah tadi diperiksa dokter...dan katanya semoga Mbah dalam waktu dekat bisa siuman..karena organ fisiknya sudah mulai menunjukkan reaksi gerakan.." papar Anin.


"Syukurlah kalau begitu..." kata Barra.


"Aku ikut senang mendengarnya.." kata Akmal.


"Oke..kami tinggal dulu,dr.Akmal...jangan bilang Anda keberatan...kareana Anda sudah menutup akses saya untuk datang ke rumah Anindya...dengan membuat warga mengetahui status pernikahan kalian...saya hanya bisa bersama dengan Anin di luar rumah seperti ini..." kata Barra.


Sementara Anin hanya menunduk saja.


"Tapi..." Akmal ingin melarang...tapi mendadak lidahya kelu tak mampu berucap larangan itu.


"Kenapa ? Anda tidak mungkin cemburu,kan ? Anda masih punya Suster Rika juga..." provokasi Barra.


"Ayo,Anin...mumpung aku tidak ada jadwal operasi.." Barra menyuruh Anin berjalan duluan di depannya...kemudian dia mengekor di belakangnya.


Anin melewati Akmal dengan tetap tertunduk...berbeda dengan Akmal yang memandangnya lekat dan mencoba meraih tangan Anin dalam diam...alhasil tangan mereka hanya sedikit bergeseran pelan.


Akmal memperhatikan kepergian Anin dan Barra hingga mereka menjauh dari posisi dia berada.


Hatinya berkecamuk...perasaannya campur aduk... yang intinya tak rela Anindya berdua saja dengan Barra...walaupun di tempat umum sekalipun.


Tapi dia tak kuasa melarang mereka...lagi-lagi karena masih ada Rika yang lebih dulu mengisi hatinya sejak 4 tahun lamanya.


Anin dan Barra berpisah di area parkiran.


Anin menuju jalan raya menunggu mbak ojol langganannya.


"Aku akan menghubungi Suster Rika..."


gumam Anin sambil menunggu kedatangan mbak ojol.


"Hallo...bisa kita bertemu ?"


"Saya mempunyai bukti kuat keterlibatan Anda dalam pembocoran dokumen RS.."


''Maka dari itu...kalau Anda tidak percaya...buktikan sendiri kebenarannya..."


"Baiklah...kita bertemu di depan gedung olahraga.." Anin mengakhiri panggilannya ke Suster Rika.


Lalu dia melakukan panggilan lagi ke nomer lain.


"Hallo ? Nov..."

__ADS_1


"Aku akan bertemu dengan Suster Rika di depan gedung olahraga..."


"Iya..kamu tenang aja...aku akan berhati-hati...bantu do'a yaa.." panggilan ke Novi pun diakhiri.


__ADS_2