Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Terkuaknya Rahasia Untuk Si Mbah.


__ADS_3

Di rumah sakit..Anin dan Novi sedang sibuk mengeksplore hp barunya Anindya.


Mereka saling menge-save nomer masing-masing,nomer teman-teman dan ketua divisi mereka dan tidak lupa nomer Barra tentunya.


"Udah kamu wa semua kalau itu nomer kamu yang baru,An ?" tanya Novi.


"Sudah..Bu Arum juga sudah..kalau-kalau aku disuruh lembur.." kata Anin.


"Dokter Barra ?" tanya Novi.


"Enggak lah Nov..malu aku.." jawab Anin.


"Lha kenapa harus malu ? Gak papa lagi,An.." kata Novi.


Anin hanya menggeleng pelan.


Ehh ayo Nov...udah masuk waktu kerja ini...kamu udah absen ?" ajak dan tanya Anin


"Beres.." kata Novi.


Lalu mereka mulai mengerjakan tugas harian mereka.


Anin dan Novi hari ini mendapat tugas di divisi poli bedah untuk menyiapkan kudapan dan rice box buat acara rapat bulanan.


Mereka bergegas menuju lokasi rapat akan dilaksanakan dibantu dua OB teman mereka.


Setelah semua sudah beres...Anin dan tiga temannya bercengkrama di dapur...tampak satu persatu para staff divisi poli bedah masuk ke ruang rapat.


Dari posisi mereka berada sekarang,mereka bisa melihat dengan jelas para staff di ruangan rapat tersebut.


"Suasana rapat di poli bedah agak horor ya Nov..semua yang hadir di ruangan ini adalah penyayat yang legal.." kata Anin.


"Betul An...apalagi yang satu ini...dia adalah penyayat hatiku.." kata Novi saat dokter Barra masuk ke ruang rapat.


"Kok bisa gitu ?" tanya Anin


"Karena hatiku sudah diambil olehnya..." jawab Novi penuh penghayatan.Kemudian ketawa cekikikan..Anin yang mengerti maksud Novi juga ikutan tertawa.


"Lihat An..kebanyakan dokter bedah itu tuwir-tuwir..dan wajah mereka itu wajah serius..." kata Novi lagi.


"Ya kan setiap hari berhadapan dengan hidup dan mati manusia,Nov..dokter Barra palingan juga gitu pas tuanya nanti..." kata Anin.


" Ya enggak laah...dokter Barra mah beda...dia itu tampan hakiki dan abadi.." kata Novi tidak terima pendapat Anin.


"Apaan..mana ada seperti itu..dasar lebay akut.." ledek Anin.


Dan mereka pun tertawa lagi...sampai Anin menegangi perutnya karena menahan tawa..


"Udah ah Nov...aku dari tadi ketawa terus deh perasaan..kata Mbah jangan kebanyakan ketawa nanti bisa mengalami hal yang membuat menangis..." kata Anin.


"Itu mah mitos jawa, An.." sanggah Novi.


"Drrrt drrrtt.." hp Anin bergetar.


"Lagi menggibah apaan ? seru banget kayaknya...jangan-jangan nggibah aku yaa ? (emotikon tertawa dan berfikir).." WA dari seseorang.


Anin langsung tahu karena dia menyimpan nomer seseorang itu.


"Udah di save kah nomerku ?'' WA seseorang itu lagi.


"(emotikon tertawa) Sudah Dokter..ini pasti kerjaan Novi..ngasih tahu nomer saya pada Anda.." jawab Anin dan langsung melihat ke arah Barra yang hanya tersenyum kecil.


"Kamu yang jahat..punya hp baru nggak ingat sama aku.." WA Barra masuk lagi.


" He he he...Maaf Dokter..bukannya nggak ingat..tapi malu mau WA Dokter tanpa tujuan yang jelas.." jawab Anin.


"Dasar kamu Nov..." kata Anin pada Novi di sebelahnya sekarang.


"Apa ?" Novi gagal faham.


"Kamu ngasih tahu dokter Barra nomer baruku,kan ?'' terka Anin.


"Iya..sekalian biar aku ada alasan WA ke dia,gitu.." jawab Novi cengengesan.


Dan akhirnya rapat usai seiring jam istirahat tiba...Anin dan ketiga rekannya memutuskan untuk tetap meneruskan beres-beres ruang rapat sekalian...biar nanti setelah istirahat tidak perlu kembali ke divisi poli bedah.


"Gak istirahat dulu ?" tegur Barra lewat WA.Entah dia sekarang ada dimana..karena dalam jangkauan pandangan Anin,tidak menemukan adanya lelaki itu.Tapi lelaki itu tahu Anin belum istirahat.


"Biar beres sekalian,Dokter.." jawab Anin.


Anin sebenarnya penasaran dimana dokter Barra berada sekarang...tapi dia malu bertanya ke empunya langsung.


Dan akhirnya tugas para OB dan OG pun kelar semua..mereka lalu menyantap rice box bersama-sama di dapur divisi poli bedah.


Belum lagi selesai Anin menyantap rice box-nya..Barra masuk dengan tergesa.


"Anin.." panggilnya.


"Ya,Dokter.." jawab Anin berdiri dari kursinya karena kaget sekaligus penasaran hal apa yang membuat Barra sampai memanggilnya.


Begitupun rasa hati ketiga rekannya.


"Mbah kamu.." lanjut Barra


"Ada apa dengan Mbah saya ?" Anin bertanya datar.


"Mbah kamu ada di IGD sekarang.." jawab Barra hati-hati takut Anin shock.

__ADS_1


"Maksud Dokter..Mbah saya nyariin saya di IGD,gitu ?" tebak Anin mengira Mbahnya mengunjungi tempat kerjanya dan tanya ke IGD.


"Mbah kamu sekarang dirawat di IGD.." Barra memperjelas ucapannya.


"Apa ?" pekik Anin kaget.


"Mbah kenapa,Dokter ?" tanya Anin panik.


"Aku belum tahu pasti...kamu tenang dulu dan mari kita lihat kesana..." kata Barra berusaha menenangkan Anin.


"Ayo Dokter..tolong tunjukin dimana Mbah saya.." kata Anin seraya menarik tangan Barra tidak sabar.


Barra tercengang sebentar mendapati tangannya bersentuhan kulit dengan tangan Anin.Ada rasa tak biasa yang merambati tubuhnya seketika itu..seperti getaran tersengat aliran listrik tapi pelan..


"Ayo,Dokter !" seru Anin sambil menghentak tangan Barra lagi.


Barra tersadar dan langsung menepis rasa aneh itu...


"Iya..Ayo.." katanya kemudian mendahului Anin menuju lift dengan tujuan IGD.Novi menyusuldi belakang mereka.


Tiba di IGD..Anin kaget karena disitu adaTuan dan Nyonya Wirawan yang mendampingi Mbah Rasni...dan dia lebih kaget setengah mati mendapati Mbahnya tak sadarkan diri dan sedang dilakukan tindakan.


"Mbah..apa yang teradi Mbah...bangun Mbah.." kata Anin sambil memeluk erat tubuh Mbah Rasni.Air matanya tak terbendung lagi..


Barra berbincang dengan tenaga medis yang menangani Mbah Rasni.


"Kira-kira apa yang terjadi dengan pasien, Dokter ?" tanya Barra.


"Saya belum bisa memastikan Dokter,perlu observasi lebih lanjut.." jawab Dokter.


"Tolong semuanya harap tunggu di luar dulu..pasien harus menjalani serangkaian pemeriksaan saat ini.." kata perawat.


"Suster..izinkan saya menemani Mbah saya,Suster.." pinta Anin dengan berderai air mata.


"Kamu tenang dulu..biar Mbah mendapat penanganan dulu,Anin.." kata Barra.


Dan mereka semua setuju untuk keluar.Novi memeluk Anin..mencoba menguatkan sahabatnya itu yang kelihatan sangat rapuh sekarang ini..


Tuan dan Nyonya Wirawan menghampiri Anindya. "Kamu cucu Mbah Rasni...Anindya ?" tanya Nyonya Wirawan


"Iya..Nyonya..bagaimana ceritanya bisa anda berdua bersama Mbah saya di sini ? Apa yang terjadi pada Mbah saya ? Tadi pagi saat saya tinggal pamit kerja..dia tidak apa-apa.." kata Anin dengan air mata tertahan.


"Sebenarnya begini..tadi.." Tuan Wirawan hendak bercerita tapi terputus karena di sela oleh istrinya.


"Tadi kami mengunjungi Mbah Rasni...di tengah-tengah saat kita ngobrol bertiga..tiba-tiba Mbah Rasni pingsan.." kata Nyonya Wirawan.Dia memberikan kode dengan mwngedipkan matanya dalam agar suaminya itu tidak menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Anindya.


Flash back di rumah Mbah Rasni.


"Kenapa baru anda ceritakan sekarang kepada saya Tuan..." kata Mbah Rasni dengan menahan tangis.


"Maafkan saya,Mbah..bukan maksud saya menyembunyikan semua ini.Saya akan menunaikan janji saya kepada Johan..saya tidak akan ingkar.." kata Wirawan.


Sedang Mbah Rasni yang ada di kursi bersebrangan meja dengan mereka,tak mampu membendung butiran bening dari sudut matanya.


"Anakku yang malang...begitu mulia ternyata kamu,Nak..padahal selama ini Ibu menganggapmu anak dan ayah yang tidak bertanggung jawab...meninggalkan kami dalam segala keterbatasan..." penyesalan Mbah Rasni.


"Maafkan Ibumu ini...karena telah berburuk sangka padamu...kamu anak dan ayah yang baik.." sambung Mbah Rasni.


Wirawan dan Mira mendekat jongkok di bawah kursi tempat Mbah Rasni duduk.


"Maafkan kami Mbah...telah memisahkan Mbah dengan anak Mbah satu-satunya..." kata Wirawan lagi.


"Cucuku masih berharap dia bisa bertemu ayahnya suatu saat nanti...walau hanya dalam diam tanpa mengutarakannya kepada saya,Tuan..'' cerita Mbah Rasni membuat Wirawan dan Mira juga ikut larut dalam kesedihan yang mendalam.


"Saya akan bertanggung jawab atas kehidupan Mbah dan cucu Mbah...Insyaalloh saya sanggup.." kata Wirawan.


"Apa Tuan sanggup membawa Johan kesini lagi ? Hidup bersama-sama kami ?'' kata Mbah Rasni dengan tatapan kosong.


"Itu tidak mungkin,Mbah..tapi saya akan menikahkan anak saya dengan cucu Mbah..sesuai janji saya pada Johan...." kata Wirawan lagi.Lagi-lagi Mira hanya menghela nafas panjang dan tetap diam.


"Itu juga tidak mungkin,Tuan..mereka berdua tidak saling mencintai..dengan alasan apa Anda akan mengikat mereka dalam pernikahan ?" Mbah Rasni berkata dengan lemah.


"Saya akan jelaskan pada anak saya yang sebenarnya.." kata Wirawan.


"Jangan...jangan membuat kami seperti pengemis...terlebih cucu saya...dia jangan sampai tahu semua ini.." kata Mbah Rasni.


"Dia pasti tidak akan setuju menikah dengan alasan balas budi Anda pada ayahnya..biarlah dia tetap dengan harapannya untuk bisa bertemu ayahnya lagi..." kata Mbah Rasni.


"Apa Mbah tidak kasihan padanya kalau dia tidak mengetahui kalau ayahnya telah tiada ?" tanya Mira.


"Saya tidak bisa menjamin respon dia setelah tahu kronologis ayahnya tiada...jadi saya tidak mau mengambil resiko.." jawab Mbah Rasni lemah.


"Cucuku Anindya..." kata Mbah Rasni lirih dan akhirnya pingsan.


"Mbah...Mbah Rasni...bangun Mbah..! Pa..bagaimana ini ?'' kata Mira panik begitu juga Wirawan.


''Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit,Ma.." kata Wirawan sambil membopong Mbah Rasni ke dalam mobilnya.


Flash back berakhir.


"Terimakasih telah membawa Mbah ke rumah sakit,Tuan dan Nyonya.." ucap Anindya.Entah bagaimana responnya jika dia tahu kejadian yang sebenarnya.Anindya harap-harap cemas menanti kabar dari dokter yang memeruksa Mbahnya di dalam.


Dokter Barra dan Novi dengan setia menemani di samping Anin.


Tuan dan Nyonya Wirawan juga diliputi kecemasan..


Dan sesaat kemudian akhirnya dokter yang memeriksa Mbah keluar.

__ADS_1


"Dokter bagaimana kondisi Mbah saya ?" Anin berhambur menyambut dokter dengan pertanyaannya.


"Pasien sepertinya mengalami serangan jantung dan penyumbatan pembuluh darah di otak..kita pantau dulu apakah obat-obatan yang kita berikan bereaksi dengan baik atau tidak.Kalau tidak bereaksi maka harus kita lakukan tindakan operasi.." papar dokter.


"Dan Dokter Barra yang dalam hal ini lebih berkompeten menjelaskannya.." sambungnya.


"Operasi Dokter ?" gumam Anindya lirih


"Iya...itu opsi terakhir kita..dan mengingat usia pasien..operasi juga beresiko tingg baginya.." lanjut dokter yang menangani Mbah Rasni.


Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong bagi Anindya terutama...bagi Tuan dan Nyonya Wirawan juga pastinya...mereka menyadari bahwa semua ini karena kebenaran yang mereka katakan.


Anindya menangis sejadi-jadinya di pelukan Novi...sedang Barra hanya bisa menatap iba dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Ingin rasanya Barra merengkuh perempuan muda itu dalam pelukannya..tapi tidak mungkin..atas dasar hubungan apa ? Mereka tidak terikat hubungan apapun...


Tapi entah kenapa...Barra merasa napasnya begitu sesak melihat Anindya menangis...hatinya terasa tercabik-cabik ikut merasakan kesedihan yang mendalam..


''Tolong usahakan yang terbaik untuk pasien ini,Dokter.." kata Nyonya Wirawan.


"Tentu,Bu.." jawab dokter.


"Dokter Barra..bisa kita bicara sebentar ?" tanya dokter yang menangabi Mbah Rasni pada Barra.


Barra sekilas menatap Anindya...serasa tak tega meninggalkannya sendirian dalam kondisi seperti ini...tapi pekerjaan juga sudah menantinya.Dengan berat hati dia mengangguk dan berjalan bersama dokter tadi.


"Hanya Mbah yang kupunya di dunia ini,Nov...aku tidak sanggup membayangkan kalau terjadi apa-apa padanya.." kata Anin lirih.


Tuan dan Nyonya Wirawan mendengar hal itu..


Mereka menghampiri Anindya dan memegang bahunya..


"Kita berdoa bersama-sama untuk kesembuhan Mbah Rasni,Anin.." kata Nyonya Wirawan.


Anin hanya mengangguk pelan.


Sementara di lain tempat.yaitu di ruang kerja Akmal.


"Sayang...aku minta maaf atas kelakuanku..aku mengaku salah.." kata Rika merangkul Akmal dari belakang.Lelaki itu tampaknya tengah membuat menilik berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.


"Aku harap kamu merubah tabiat jelekmu itu...semena-mena pada golongan yang lebih rendah darimu.." kata Akmal datar.


"Iya aku akan berusaha...maafkan aku..mungkin karena aku anak tunggal dan sejak kecil selalu dimanja oleh orang tuaku..." kata Rika lagi.


"Kamu udah maafin aku kan ?" rengek manja Rika. " Hemm..mana bisa aku lama-lama marah sama kamu,cintaku.." kata Akmal menyerah.


"Aku tahu itu..." kata Rika girang sambil mengecup pipi Akmal.


Akmal terlihat kurang nyaman...tapi karena dia sejatinya mencintai perempuan itu..jadi dia tidak mengelak.


"Pulang kerja nanti ajak aku jalan-jalan dong,Sayang.." rengek Rika.


"Jalan-jalan kemana ?" kata Akmal sembari memandang lekat penuh sayang perempuan yang duduk di depannya itu.


"Kemana aja..asal berdua sama kamu.." kata Rika.


"Siaap..!!" kata Akmal sambil terus membaca berkas... yang tentu saja membuat girang Rika.


Dan sesaat kemudian handphone Akmal berdering."Hallo..Assalamu'alaikum..ya Pa ?" kata Akmal.


"Iya,saya akan segera kesana.." sambungnya pada lawan bicaranya di hp.Dan diapun menutup map berkas yang tadi di bacanya.


"Siapa,Sayang ?" tanya Rika.


"Papa..ternyata sekarang ada di sini..aku diminta datang ke ruangannya.." kata Akmal."


''Ooh..gitu.." kata Rika.


''Ok...sampai ketemu nanti pulang kerja...aku tinggal ke ruangan Papa dulu yaa.." pamit Akmal.


"Ok..aku juga mau kembali ke ruanganku.." jawab Rika lalu keluar membuntuti Akmal.


Setibanya Akmal di ruangan Papanya...


"Assalamu'alaikum..ya Pa ?'' tanya Akmal sambil mengetuk pintu ruangan Papanya.


"Masuk Akmal..ada yang ingin Papa bicarakan pada kamu.." kata Papanya.


"Eh..Mama juga ada disini ? tumben.." seru Akmal kemudian mencium tangan kedua orang tuanya dan bercipika cipiki kepada keduanya.


Mira kembali memberi kode pada suaminya..


"Kami tadi mengantar Mbah Rasni untuk dirawat di sini.." jawab Mamanya.


''Lho..apa yang terjadi pada Mbah Rasni ?" tanya Akmal cemas.


"Mbah terkena serangan jantung..kondisinya tidak baik...dia koma karena penyumbatan darah di otak.." penjelasan Mamanya.


"Ya Alloh..kok bisa sampek gitu ?" Akmal berkata lirih sambil mendudukkan dirinya di sofa.Belum lagi orang tuanya menjawab kronolaginya...Akmak sudah melontarkan pertanyaan lagi.."Anindya gimana,Ma ?" tanya Akmal lagi.


"Dia sekarang menemani Mbah Rasni..." jawab Mamanya.


Akmal lalu langsung berdiri dari sofa dan beranjak keluar ruangan.Mama dan Papanya hanya tercengang melihat sikap Akmal.


Sesaat kemudian dia kembali ke depan pintu ruang kerja Papanya.


"Di ruangan mana Mbah Rasni dirawat,Ma ?" tanya Akmal lagi

__ADS_1


"VVIP 5.." jawab Papanya.Dan Akmal berlalu lagi.


Entah apa yang sedang ada dibenaknya...hanya mencemaskan kondisi Mbah Rasni atau juga cemas keadaan Anindya..hanya Akmal yang tahu.


__ADS_2