Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Anindya Memilih Menyerah.


__ADS_3

"Halahh...jangan sok alim...gimana kalau kamu sama kami aja malam ini...biar gak sendirian lagi di sini.." kata salah seorang dari mereka.


"Ayo cantik..." ada yang berusaha mencolek lengan Anindya.


Anindya mundur untuk menghindarinya.


"Ayolahh...jangan sok jual mahal..." kata yang lain.


Pertahanan Anindya rontok...dia menangis terisak mendengar kata-kata tak sopan mereka.


"Kok malah nangis ? Tenang aja...kami bayar nanti..." kata salah satu pemuda.


"Jangan kelewat batas omongan kalian ! Dan awas kalau kalian berani mendekat !" ancam Anindya.


Rasanya Anindya ingin berlari sekencangnya dari tempat itu.


' Kebangetan Dokter reseh itu memang...ini semua karena dia..' kata Anin dalam hati.


"Jangan pegang-pegang ! Menjauh kalian semua !" seru Anindya mencoba membangun benteng pertahanan lagi.


Padahal dadanya saat ini terasa begitu sesak dan tubuhnya gemetar menahan ketakutan yang sangat.


' Gusti...Tolong hamba-Mu ini...' batin Anin.


Dan syukurlah...pertolongan Itu nyata ada..lewat perantara munculnya sepeda motor sport yang tak asing lagi baginya.


Dokter Barra...


Dia turun dari sepeda sportnya dan menghampiri Anindya.


Seketika sekelompok pemuda iseng tadi kocar-kacir membubarkan diri.


"Anin...kamu gak papa ?" tanya Barra panik.


Anindya terlihat menahan air matanya dan berhenti menangis sesenggukan seperti tadi...mungkin karena malu pada Barra.


"Tidak apa-apa,Dokter..." jawab Anin.


Mereka duduk si sebuah bangku panjang kosong...


Barra melihat raut wajah ketakutan dan bekas air mata di pipi Anindya.


"Tunggu disini sebentar..." kata Barra.


" Jangan tinggalin saya, Dokter...!" seru Anin ketakutan.


Padahal Barra hanya ingin membeli air mineral untuknya.


"Enggak ! Aku nggak akan ninggalin kamu...aku cuma mau beli air mineral..." kata Barra.

__ADS_1


Kemudian suasana hening...


Barra memberi waktu Anin untuk menenangkan diri dulu tanpa bertanya apa-apa.


"Ayo kita pergi dari sini..." akhirnya kata itu yang keluar dari bibir Anindya.


"Iya...tenang aja...kita akan pergi dari sini..." kata Barra.


"Kenapa ? Kalau kamu ingin menangis...menangis saja.." kata Barra melirik Anin yang hanya menatap kosong ke depan.


"Tidak masalah kalau sejenak kamu melepas baju perang dan meletakkan senjata perangmu,Anin.." kata Barra lembut.


"Sah-sah saja kamu menampakkan kerapuhanmu dan kelemahanmu... jangan berusaha terlihat kuat terus.." sambungnya.


Anindya seketika menangis keras dan sejadi- jadinya..


Barra membiarkan Anin meluapkan kesedihan yang dipendamnya dari tadi.


Rasanya dia ingin merengkuh Anindya dalam pelukannya..tapi apalah daya...hal itu jauh dari mungkin.


Setelah beberapa saat kemudian...Anin menyudahi tangisannya dan tinggal menyisakan sesenggukan saja.


"Merasa lebih baikan ?" tanya Barra.


Anindya hanya mengangguk pelan.


"Ayo kita pergi dari sini...kita cari tempat makan yang enak !" ajak Barra.


Barra menghidupkan mesin sepeda motornya dan Anin naik dengan posisi miring.


Lalu Barra melajukan sepeda motornya meninggalkan tempat itu.


Mereka menuju sebuah restoran...suasananya cukup ramai...mengingat malam ini adalah malam pergantian tahun.


Mereka masuk dan memilih tempat duduk di dekat kaca transparan yang menampakkan pemandangan di luar dengan jelas.


"Kamu mau pesan apa ? Kamu pasti lapar setelah lembur hari ini...kita makan dulu,kemudian aku akan mengantar kamu pulang..." kata Barra penuh kelembutan.


"Saya mau pulang ke rumah saya yang dulu,Dokter.." kata Anin singkat dengan menunduk tanpa melihat ke arah Barra.


Barra sedikit kaget dengan permintaan Anin...dia memandang lekat wajah perempuan muda di depannya itu...terlihat tanpa ekspresi.


"Baiklah...apapun yang kamu inginkan.." kata Barra menyanggupi permintaan Anin.


"Tapi sebelum itu...kalau kamu berkenan...bisa kamu cerita apa yang terjadi sampai kamu minta aku mengantar ke rumah kamu yang dulu...bukan ke kediaman Pak Wirawan ?" tanya Barra hati-hati sekali.


Dan syukurlah...Anin akhirnya mau menceritakan kejadian yang dialaminya dari waktu lembur hingga meminta Barra menjemputnya di tempat dia ditinggalkan Akmal tadi.


"Keterlaluan !!" Barra geram setelah mendengar penuturan Anindya...pada Akmal tentunya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu !!" sambung Barra dengan penuh emosi.


"Dia sudah dibutakan oleh kebencian terhadap saya,Dokter...akar permasalahannya adalah dia mengira saya yang meminta untuk dinikahi karena jasa saya menyelamatkan RS Bhakti Wirawan..." penjelasan Anindya.


"Lalu kenapa kamu tidak cerita yang sebenarnya kalau pernikahan ini juga bukan keinginan kamu ! Agar dia tidak terus membencimu ?" tanya Barra.


"Dan dia menikahi saya karena mengasihani ?" tanya Anin datar.


"Setidaknya itu lebih baik,Anin...daripada kamu selalu menerima kebencian dari Akmal...atau begini...kalian kan bisa kawin kontrak demi operasi Mbah Rasni..." Barra mencoba memberi saran pada Anindya.


"Entahlah...hal itu tak pernah terbesit di benak saya, Dokter...mungkin saya yang terlalu bodoh dan polos sehingga menerima begitu saja permintaan Mbah juga Tuan dan Nyonya Wirawan..." kata Anin lemah.


"Nasi sudah menjadi bubur...dan maafkan aku sudah menyuruh kamu untuk memperjuangkan pernikahanmu..." kata Barra memandang Anin iba.


"Itu juga kemauan saya,Dokter...untuk menjadi pembuktian bagi saya pribadi dan pertanggung jawaban saya kelak di depan Mbah dan juga Alloh..." kata Anin.


"Dengan kata lain...kamu menyadarinya atau tidak,kamu mengakuinya atau tidak...kamu mulai punya rasa cinta pada Akmal,Anindya..." kata Barra lirih.


"Dengan rasa cinta itu...kamu bisa bertahan menerima kebencian dari Akmal hingga detik ini..." sambung Barra.


"Saya menyadari rasa itu hadir belakangan ini, Dokter..." kata Anindya.


Barra hanya menghela nafas dalam mendengarnya.


"Mungkin sebagai perempuan saya terlalu naif...terlalu polos...status sebagai istri merubah mindset saya untuk setia,tunduk dan patuh pada suami....mungkin dari situlah awal rasa cinta pada Tuan Dokter reseh itu hadir..." Anindya menerka-nerka sendiri.


"Tidak bisa saya pungkiri...sebagai manusia biasa.. saya sempat goyah saat Anda menyatakan perasaan cinta pada saya...seandainya saya bisa memilih...saya akan memilih Anda..tapi saya sadar dengan takdir dan status saya..." penjelasan Anindya.


Dan sukses membuat Barra terkekeh kecil mendengarnya.


"Jadi seperti itu..." kata Barra.


"Iya ! Tapi kemudian saya ingat salah satu alim ulama besar pernah mengatakan dalam tausiahnya...'ketika kita mencintai,kita harus siap juga tersakiti'...." kata Anindya.


"Betul sekali ! Karena aku juga mengalami..." seru Barra yang sukses mencairkan suasana.


Mereka tertawa lepas bersama.


"Saya berdo'a semoga Anda segera menemukan seseorang yang merupakan jodoh sejati Anda,Dokter Barra..." kata Anin.


"Aku berharap itu kamu..." kata Barra.


Anindya menggeleng dan tersenyum tipis.


"Anda adalah sosok pelindung dan sosok kakak bagi saya....itu lebih dari segalanya.." kata Anindya.


"Kamu gadis baik,Anindya...bodoh sekali Akmal menyia-nyiakanmu..." sambung Barra.


"Tidak akan lagi,Dokter...saya memilih untuk menyerah...saya sudah berusaha bertahan dalam kesakitan...sudah cukup...saya memilih pergi dari kediaman Tuan Wirawan..." kata Anindya tegas.

__ADS_1


"Tidak akan ada lagi air mata...tidak akan ada lagi sakit di hati...." sambung Anindya dengan wajah berbinar.


__ADS_2