Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
TiTan 144


__ADS_3

Di dalam kediaman Anindya...


"Assalamu'alaikum..." ucap Anindya saat masuk ke ruang tengah dan melihat Mbah Rasni.


"Wa'alaikumsalam warohmah...." jawab Mbah Rasni seraya menoleh ke sumber suara.


"Cucuku udah pulang...capek Nduk ?" sapa Mbah Rasni yang duduk di sofa sembari mematikan tv yang sedari tadi ditontonnya.


"Capek,Mbah...! Capek pikiran,capek hati juga..." keluh Anindya sembari menjatuhkan badannya di sofa,di samping Mbah Rasni.


"Emangnya ada masalah apa,Nduk ? Coba cerita ke Mbah sini..." kata Mbah Rasni sambil mengelus bahu cucu kesayangannya itu.


"Hari ini di kantor sibuk banget,Mbah..." jawab Anindya singkat.


"Lalu..? Capek hatinya ?" pancing Mbah Rasni.


"Anin ketemu seseorang...." kata Anin.


"Siapa,Nduk ?" Mbah Rasni penasaran orang yang membuat cucunya itu capek hati.


"Coba Mbah tebak siapa..." kata Anin.


Mbah Rasni semakin bingung.


"Akmal Wirawan..." sambung Anin.


Mbah langsung menutup mulutnya yang menganga karena kaget dengan telapak tangannya.


Dan Anindya menceritakan kejadian pertemuannya dengan Akmal dari awal hingga akhir.


"Anin yakin...hari ini bukan pertemuan terakhir kami,Mbah...pasti dia akan mencari cara untuk bertemu dengan Anin lagi..." kata Anin kesal.


"Apa ini Mbah ? Kenapa Anin harus bertemu dengan pria itu lagi ? Kenapa Alloh mempertemukan kami lagi ? Apa yang harus Anin lakukan selanjutnya ?" keluh Anin sambil menahan buliran bening keluar...tapi tak dapat menutupi suara paraunya.


Anindya memeluk manja tubuh wanita tua di sampingnya saat ini.


"Nduuk....ingat satu hal...sesuatu yang tampak baik menurut kita...kadang malah membawa keburukan kedepannya bagi kita....sesuatu yang tampak buruk menurut kita...bisa jadi membawa kebaikan bagi kita di kemudian hari..." kata Mbah Rasni sambil memeluk sayang cucu semata wayangnya itu.


"Kita hanya makhluk lemah....kita hanya bisa sebatas ikhtiar...selebihnya kita harus tawakkal pada Yang Maha Mengetahui...percayalah...hanya GustiAlloh yang tahu mana yang baik dan buruk bagi para hamba-Nya..." lanjut Mbah Rasni.


"Dalam permasalahan ini...kamu sudah ikhtiar selama ini untuk manjauh dari keluarga Wirawan,sampai bela-belain pindah kesini....kalau sekarang disini kamu malah dipertemukan dengan Nak Akmal kembali....berarti tugasmu sekarang hanya tinggal berserah diri pada Alloh...mohon yang terbaik,Nduuk..." kata Mbah Rasni.

__ADS_1


"Tapi hatiku masih sakit,Mbah...sakiitt sekali..." kata Anin sambil terisak pada akhirnya.


"Mbah bisa mengerti itu,Nduuk...tapi ini semua tak luput dari kuasa Alloh yang memang mutlak atas segalanya....semua ada hikmahnya..." kata Mbah.


"Anin benci sama pria itu Mbah ! Anin sangatt membencinya..." suara Anin lirih dan terisak namun penuh penekanan.


*


*


Sementara di dalam kamar hotel tempat Akmal menginap...Akmal sedang menelpon Devan...memberitahu hasil pertemuannya tadi dengan Pak Dirga dan timnya.


Dia juga menceritakan pertemuannya dengan Anindya.


Akmal juga mengetahui alasan Devan yang tidak bercerita tentang Anindya sebelum ini...dan Akmal menghargai itu.


Akmal tak lupa bertanya soal keadaan Rafa saat ini....dan menurut Devan anak semata wayangnya itu sudah tidak demam,tapi tidak mau lepas sedikitpun darinya...bahkan untuk sekedar ditinggal ke kamar mandipun susah.


Devan terpaksa mempercayakan penandatanganan deal contract pada Akmal...dan alhasil Devan juga terpaksa harus memenuhi satu permintaan Akmal padanya...


*


*


Anindya sedang menghadap Pak Dirga yang memanggil Anindya ke ruangannya beberapa saar yang lalu.


"Apa Pak ? Kenapa seperti itu !" protes Anindya.


Anin berdiri dari posisi duduk dia sebelumnya di depan meja Pak Dirga.


"Iya...saya baru saja terima kabar ini...Pak Devan menelfon saya langsung barusan.." kata Pak Dirga dengan mimik penuh harap.


"Maaf,Pak...bagaimana kalau saya menolak ?" tanya Anin.


"Perpanjangan kontrak itu batal...artinya usaha dan kerja keras kita selama ini sia-sia,Anin...itu juga sama artinya perusahaan akan mengalami kerugian besar..." Pak Dirga memelas.


"Tapi kenapa harus saya sihh,Pak ? Kan banyak staff wanita yang lain yang bisa melakukan tugas itu..." protes Anin lagi.


"Karena Pak Devan secara khusus meminta kamu yang datang menemui adiknya di tempat yang sudah Pak Devan tentukan...dengan membawa berkas-berkas dan meminta tanda tangan dari adiknya..." jawab Pak Dirga.


"Dasarr !" spontan Anindya berseru.

__ADS_1


"Apa ??" Pak Dirga bukannya tak mendengar...tapi dia mwngira seruan Anindya itu ditujukan padanya.


"Maaf,Pak !! Saya kesal saja sama klien kita yang satu ini..." Anindya buru-buru memberi penjelasan.


"Ooo begitu....kalau boleh saya tahu...ada kaitan apa kamu dengan Pak Devan ? Sepertinya dia selalu mengincar kamu ?" tanya Pak Dirga.


"Anda salah Pak...bukan Pak Devan Wirawan...tapi Wirawan yang lain yang resehh..." batin Anindya.


"Tidak ada apa-apa,Pak..." jawab Anindya singkat.


Pak Dirga tahu sebenarnya ada sesuatu yang ditutupi oleh Anindya darinya.


"Terlepas dari semua itu...Saya mohon sama kamu agar bersedia memenuhi permintaan Pak Devan ini....demi provit perusahaan kita,Anin..." kata Pak Dirga memelas.


"Tapi,Pak..." Anindya masih keberatan.


"Saya tahu kekhawatiran kamu,Anindya...saya jamin tidak akan merugikan dan membahayakan keselamatan kamu,Anin....Pak Devan sudah saya wanti-wanti...." kata Pak Dirga meyakinkan.


"Dia pun menyanggupi...lagipula pertemuan kalian nantinya itu di tempat umum dan terbuka,Anindya..." sambung Pak Dirga.


Anindya memasang wajah keberatan malasnya.


"Dan sebagai gantinya....kamu akan saya angkat menjadi karyawati tetap di perusahaan ini....walaupun baru 1 tahun bekerja dan juga 1 unit mobil sedan mewah keluaran terbaru,bagaimana ?" iming-iming Pak Dirga.


Tentu saja untuk sejenak Anindya tergiur...tapi jika dibandingkan dengan derita yang ditanggungnya selama ini...juga usahanya untuk menjauh dan bangkit lagi....semua itu tidak sebanding.


"Ingat,Anindya....kamu harus profesional dalam membangun karier kamu...kesampingkan dulu urusan pribadi..." kata Pak Dirga.


"Astafhfirullooh....lagi dan lagi saya terbentur alasan itu..." keluh Anindya kesal sekali.


"Bagaimana ?" Pak Dirga mulai mendesak.


Akhirnya dengan sangatt berat hati,Anindya bersedia menemui adik Pak Devan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Akmal...guna meminta tanda tangannya.


Alhasil hingga waktu pulang tiba...Anindya sama sekali tidak bersemangat dalam melakukan pekerjaan kantornya.


Dengan langkah gontai dia keluar dari ruangannya...dan sialnya dia harus berpapasan dengan Pak Dirga lagi.


"Anin...apakah persiapan kamu untuk acara penting dengan klien kita nanti malam sudah rampung ? Berkas-berkasnya jangan sampai ada yang lupa...tempat dan waktunya sesuai yang sudah saya wa kan ke nomer kamu tadi...tolong usahan jangan sampai telat...saya tahu kamu bisa diandalkan..." kata Pak Dirga mencegat Anindya di depan pintu ruangannya dengan pangangan penuh pengharapan.


Anindya menarik nafas dalam..

__ADS_1


"Iya,Pak.." jawabnya singkat.


Lalu Pak Dirga kembali masuk ruangannya...sedang Anindya meneruskan langkahnya menuju area parkiran.


__ADS_2