Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Ada Ketidaktulusan Di Suara Anin.


__ADS_3

Rika tak menyangÄ·a kalau Akmal bakal semarah ini...tapi dia tidak menyadari kesalahannya..malah melimpahkan kesalahan pada Anindya. "Semua ini gara-gara OG ganjen itu..!'' kata Rika geregetan.


'Kemana perginya gadis itu..' gumam Akmal dalam hati.Dia menuju lift hendak turun ke lantai dasar,kedua matanya mencari keberadaan Anindya yang sempat dilihatnya menitikkan air mata.


Tak ditemukan juga sosok yang dicarinya..hingga dia keluar gedung utama RS..lalu Akmal melewati taman samping RS....lalu menuju lorong ruang inap di lantai dasar...belum juga ditemukan sosok yang dia cari.Dan Akmal pun memutuskan untuk kembali ke divisinya.


Dan saat melewati lorong menuju lift..dia melihat Anindya dari jau...hatinya bergemuruh saat melihat gadis itu...tak dapat dipungkiri...otaknya sulit diajak berfikir hingga bibirnya tak bisa mengeluarkan kata-kata...


Hingga akhirnya mereka berpapasan.


"Tunggu.." kata Akmal.Anindya hanya menunduk...dan tak merespon ucapannya.


"Tolong sampaikan ke Mbah..saya minta maaf atas kelakuan Rika..dan nanti sore saya akan mampir ke rumah.." kata Akmal lagi.


Anindya hanya diam tak bergeming..tetap menunduk dan berlalu.


Membuat Akmal semakin kikuk dibuatnya.


"Kenapa aku jadi minta maaf ke Mbah..harusnya kan aku minta maaf ke dia...bodohnya aku.." ucap Akmal sambil menepuk jidadnya.Lalu dia menuju lift.


Akmal kembali ke ruang kerjanya ..Rika membuntuti masuk juga ke ruang kerja Akmal.


"Kamu dari mana ,Sayang ?'' tanya Rika seperti tak berdosa.


"Nyari Anin.." jawab Akmal singkat.


"Ada keperluan apa kamu nyarii si OG ganjen itu ?" tanya Rika jutek.


''Kamu tuh yaa..udah ngelakuin kesalahan tapi belum nyadar juga...ya minta maaf atas kelakuan kamu tadi..yang sudah buang masakan Mbah Rasni..." kata Akmal dengan suara penuh penekanan.


"Masakan kampung gitu aja...kita bisa beli yang lebih enak di restoran,Sayang.." jawab Rika santai.


"Aku yang minta dimasakin sama Mbah Rasni,Rika..aku yang minta..!! Malah kamu buang gitu aja tanpa perasaan iba sedikitpun.." kata Akmal masih penuh penekanan,malu kalau didengar orang.


"Iba pada OG itu maksud kamu ? Cihh..jangan-jangan kamu sudah terjerat tebar pesonanya seperti dokter Barra.." kata Rika malah marah.


"Apaan sih kamu ? Bukan perkara tebar pesona..sudah aku bilang di forum waktu itu..kita harus memanusiakan manusia...dan di dalam ajaran agama kita pun dilarang buang-buang makanan..kamu faham doong...masak iya gak faham.." panjang lebar Akmal.


"Kamu kok malah marahin aku sih.." ujar Rika merajuk,senjata andalannya.


" Ya karena dalam hal ini kamu yang salah.." kata Akmal


"Udah deh...aku udah bad mood kali ini..tolong tinggalin aku sendiri.." sambungnya.


Membuat Rika tak bisa berkata apa-apa lagj.Dan dia gak menyangka kalau Akmal bakal semarah ini pada dirinya.Lalu dia melangkah keluar dari ruang kerja Akmal.


''Sialan..gara-gara OG ganjen itu aku di marahin sama Akmal..awas aja..tunggu pembalasanku Anindya.." gumam Rika culas.


Jam pulang kerja tiba...Rika tak di ajak Akmal pulang bareng kali ini..Sedangkan Anindya minta diantar Novi untuk beli hp baru..karena hari ini dia gajian..


Tapi Novi gak bisa nemanin Anin..soalnya dia terlanjur di jemput oleh Ayahnya..


"Sorry banget ya An...kamu sih gak bilang dari kemarin.." kata Novi.


"Iya..kemarin aku lupa ngomong ke kamu,Nov.." kata Anin.


"Gak papa...biar aku pergi sendiri Nov..nyantai aja.." kata Anin.


"Beneran kamu mau pergi sendiri ?" tanya Novi.


"Beneran.." jawab Anin."


''Yaudah..hati-hati ya,An.." kata Novi.


Lalu Anindya menunggu angkot di tempat biasa,tapi tempat yang dituju adalah toko handphone yang ada di jalan Bhayangkara.


Di toko handphone dia bingung harus memilih handphone seperti apa...karena ini pengalaman pertamanya membeli handphone.


"Mbak ingin hp merk apa dan type berapa ?" tanya pegawai toko.


"Ee..saya sendiri juga bingung.." jawab Anin polos.


"Maaf, kalau boleh tahu..Mbaknya cari hp dengan kisaran harga berapa ?" tanya pegawai toko sopan.


''Budget saya kisaran 2 juta-an.." kata Anin.


"Baiklah kalau begitu mari saya tunjukkan macam-macamnya,Mbak.." kata pegawai toko lagi sembari memperlihatkan kepada Anindya beberapa hp di atas etalase.


Anindya pun ditunjukkan kelebihan dan kekurangan hp-hp tersebut. ''Baiklah saya pilih yang ini.." kata Anin sudah menjatuhkan pilihannya.


Dan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya..


' Waduh..terpaksa harus berteduh dulu ini..' kata Anin dalam hati.


"Mas..numpang neduh dulu yaa.." kata Anin pada pegawai toko. " Iya..silahkan,Mbak.." jawab pegawai toko.


Dan setelah beberapa waktu menunggu bersama beberapa orang yang juga berteduh...hujan belum juga reda.


Anin sebenarnya sudah tidak sabar ingin pulang,tapi apa mau dikata...

__ADS_1


Dan tiba-tiba ada mobil berhenti di depan toko..mobil yang tidak asing bagi Anindya...pemilik mobil itupun turun sembari membawa payung...aura maskulin tampak dari wajahnya yang berahang tegas dan bermata tajam...tubuhnya berbalut kemeja warna navy yang dia singsingkan lengannya..dengan celana bahan warna gelap..memperjelas ketampanan yang dimilikinya.


Anindya tak asing dengan laki-laki ini..tapi yang tidak disangka oleh Anin adalah laki-laki itu menuju ke arahnya.


"Ayo pulang.." ajak lelaki itu.


Anin masih tercengang. ''Mbah yang menyuruhku mencarimu..." kata lelaki itu lagi, yang tidak lain adalah Akmal.


"Darimana Tuan dokter tahu kalau saya disini ?" tanya Anin masih bingung.


"Nanti aku jelasin di mobil...Mbah udah cemas dari tadi mikirin kamu.." kata Akmal sambil menarik Anin dari tempat duduknya.


"Tapi.." ucap Anin terputus.


" Nggak ada tapi-tapian.." kata Akmal lagi.


"Saya bisa pulang sendiri.." seru Anin.


"Kelamaan nunggu hujan berhenti..keburu malam.." kata Akmal.


"Ayoo..!!" kata Akmal sambil membuka pintu depan mobilnya.


Seketika mereka menjadi pusat perhatian orang-orang disekitar mereka.


"Makanya Mbak..jangan main kabur aja dari suami..hujan-hujan begini...sampek dicariin sama Mbah-e.." celetuk seorang ibu setengah baya.


"Untung aja ditemu suami sendiri...kalau ditemu orang lain gimana ?" kata seorang laki-laki yang juga lagi berteduh di toko.


"Bukan bukan..dia bukan suami saya..."kata Anin.


"Udahlah percuma juga ngejelasin ke mereka..daripada makin runyam..cepat masuk mobil.." kata Akmal pelan.


Dan akhirnya Anindya menuruti kata Akmal.


Lalu mobil melaju menuju rumah Anindya.


Di perjalanan Anin hanya melihat ke arah kaca samping mobil.


Akmal juga bingung harus ngomong apa...


Alhasil hanya keheningan yang ada di dalam mobil.


Sampai mobil menepi di jalan raya depan rumah Anindya.


"Anin bergegas turun dari mobil tanpa melihat Akmal.'Wajahnya tak kelihatan lagi marah ...tapi kenapa dia diam aja? sariawan atau bau mulut sih..' kata Akmal dalam hati, dan dia pun ikut turun menyusul Anin masuk ke rumah.


"Assalamu'alaikum.." ucap Anin.


"Anin capek banget,Mbah...mau ke kamar rebahan dulu.." kata Anin langsung masuk kamar.


"Eeh...kenapa anak itu ? Ndak biasanya seperti itu.." kata Mbah.


Akmal yang mengamati hanya diam saja..


"Ayo Nak Akmal..ini masakannya sudah mateng..silahkan makan..." kata Mbah pada Akmal yang dari tadi sudah duduk di meja makan.


"Nduuk..kamu ayo sini ikut makan bareng Mbah sama Nak Akmal..ini tadi Nak Akmal bawa sendiri bahan masakan telur dan teri balado..katanya tadi yang kamu bawain ke rumah sakit dia gak kebagian..soalnya dimakan sama temannya..jadi Nak Akmal minta dimasakin lagi.." cerita Mbah ke Anin yang berada di kamar...dan kamarnya memang di depan ruang makan, jadi Anin mendengar dengan jelas cerita Mbah.


"Dimakan teman...yang ada ditumpahin pacarnya Mbah..Mbah percaya aja.." Anin menggerutu sambil memonyongkan bibirnya.


"Kebetulan Nak Akmal kesini...jadi tadi Mbah suruh nyariin kamu..soalnya kamu pamit mau beli hp..tapi kok hujan deras..Mbah khawatir kamu gak bisa pulang.." lanjut cerita Mbah Rasni.


Sementara Akmal terus menyuap makanan kesukaannya ke mulutnya..dengan pandangan mata yang tertuju ke pintu kamar Anindya yang tak ditutup pintunya...tapi tertutup kelambu yang menghalangi pandangan ke dalam kamar.


"Oh ya...kamu tadi sudah beli hp,Nduuk ?" tanya Mbah.


"Sudah,Mbah.." jawab Anin.


"Lha Mbahe mbok ya di kasih lihat hp barunya.." kata Mbah..


Anindya yang sebenarnya malas keluar kamar, terpaksa keluar nunjukin hp ke Mbah Rasni.


'Akhirnya keluar juga..' kata Akmal dalam hati saat melihat Anin keluar dari balik kelambu.


Memorinya berputar ulang saat dia memarahi Anin yang sebenarnya tadi tidak salah...dan dia juga sempat melihat Anin menitikkan air mata.


Anin lalu menyodorkan hp barunya yang masih terbungkus rapi di kotaknya.


"Ini, Mbah.." kata Anin singkat dan hendak berbalik arah ke kamar lagi.


Tapi tangannya diraih oleh Mbah Rasni.


"Kamu sakit, Nduuk ?" tanya Mbah.


"Mboten,Mbah.." jawab Anin.


Akmal memandang lekat wajah Anindya..karena di hatinya ada rasa bersalah yang mendalam pada perempuan muda itu.


Tapi Anindya tak sedetikpun menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Ayo makan sini,Nduuk..Mbah dan Nak Akmal aja hampir selesai makannya...jangan diam seperti ini...Mbah jadi cemas melihatnya.." bujuk Mbah pada Anin.


"Enggeh Mbah.." jawab Anin terpaksa.


Anindya lalu duduk di samping Mbah Rasni.Dia mengambil sedikit nasi dan lauk ke piringnya.


"Bentar biar Mbah buatin teh hangat untuk kamu dan Nak Akmal.." Mbah Rasni berdiri dari kursinya lalu menuju dapur.


Tinggal Anin dan Akmal berdua saja.


"Maaf.." ucap Akmal sambil melihat ke arah Anin.


"Untuk ?" tanya Anin masih tanpa melihat Akmal.


"Untuk kelakuan Rika dan karena aku marah-marah sebelum tahu kebenarannya.." kata Akmal. "Hhh...saya sudah kebal kena omelan Tuan Dokter...lagian gak penting juga buat saya.." kata Anin sambil memainkan makanan di piringnya.


"Udah kebal..gak penting..tapi kok tadi kamu nangis ?" ledek Akmal.


"Kata siapa ?" Anin sontak salah tingkah.


"Ya kataku..dasar cengeng.." ledek Akmal lagi.Anin melotot ke arah Akmal.


"Mbah..saya minta dibungkusin dong telur sama teri baladonya..buat sarapan besok..." seru Akmal pada Mbah Rasni yang masih di dapur,mengalihkan pembicaraan dari Anin.


"Iya Nak Akmal...beres.Ini masih banyak..nanti Mbah bungkusin.." kata Mbah.


"Kebanyakan makan masakan kampungan telur sama teri..nggak takut bisulan ?" ledek Anin.


"Kirain situ yang bisulan..dari tadi diam aja.." balas Akmal sambil tersenyum tipis.


Anin semakin melotot. ''Dasar dokter gak jelas !!"kata Anin geram.Tapi Akmal makin senang melihat Anin marah...daripada diam saja seperti tadi.


Lalu Akmal menuju dapur sambil membawa piring kotornya..


Dalam hati dia sedikit lega karena Anin sudah mau bicara padanya...walaupun masih dalam kegeraman karena ledekannya.


Dan akhirnya Akmal pun berpamitan pulang pada Mbah Rasni. "Nduuk..ini Nak Akmal mau pulang.." seru Mbah pada Anin yang sudah di kamar lagi,asyik bermain sama Pussy.


Dengan berat hati dia keluar kamar sambil menggendong Pussy.


"Salaman dulu..dan bilang terimakasih pada Nak Akmal karena tadi mau nyariin kamu.." perintah Mbah.


"Terimakasih.." kata Anin datar.


" Ada ketidak tulusan di suara Anin,Mbah.." Akmal mengadu pada Mbah Rasni.


"Dasar tukang ngadu..! Terimakasih.." kata Anin lagi sambil mengembangkan senyumnya,walaupun masih terlihat dipaksain.


"Gitu kan lebih baik.." kata Akmal.


Anin hanya memonyongkan bibirnya..sedang Akmal merasa puas udah ngerjain Anin.


Entah ada apa dengan Akmal...tapi yang jelas sekarang dia jauh lebih tenang setelah membuat Anin mau berinteraksi lagi dengannya...


...----------------...


Keesokan harinya...


Akmal dan keluarga sudah ada di meja makan untuk sarapan bersama.


"Om..antar Rafa ke sekolah yaa hari ini..." pinta Rafa pada Akmal


"Siap Boss..!" jawab Akmal sambil meminum segelas susu.


"Ma,Pa..Akmal berangkat.Assalamu'alaikum..ayo Rafa..Om sudah siap...'' kata Akmal.


Kemudian Rafa juga berpamitan pada Mama dan Papanya,juga Eyang Uti dan Eyang Kakungnya.


Setelah Akmal dan Rafa berangkat..Devan pun berangkat kerja..Tania ikut bersama Devan.


"Siang ini ayo kita ke rumah Mbah Rasni,Ma.." ajak Tuan Wirawan ke istrinya.


"Tapi Pa..apa kita sudah siap dengan segala ko sekuensinya nanti ?" tanya Nyonya Wirawan.


"Ini bukan hanya mengenai kita berdua..tapi juga masa depan dan kebahagiaan anak kita juga cucu Mbah Rasni.." sambungnya.


"Kita pasrahkan semua itu pada Yang Punya kehidupan dan kebahagiaan...tujuanku hanya ingin memenuhi janjiku yang tertunda,Ma.." jawab Tuan Wirawan.


"Agar Johan tenang di alam sana dan aku juga bebas dari rasa bersalah.." sambungnya.


"Tapi aku takut hal ini menimbulkan masalah baru,Pa.."keluh Nyonya Wirawan merasa keberatan.


"Karena aku merasa anak kita akan dikorbankan...guna memenuhi janji Papa pada Pak Johan.." katanya lagi.


"Kenapa Mama bicara pengorbanan ? Apa Mama lupa..Johan sudah mengorbankan kebahagiaan anak dan ibu kandungnya demi menghidupi keluarga kita...Johan sudah mengorbankan kebebasannya demi menanggung kesalahan yang aku lakukan..dan dia juga mengorbankan nyawanya Ma...karena tertekan hidup di balik jeruji penjara dan jauh dari orang-orang yang dicintainya.." panjang lebar Tuan Wirawan pada istrinya.


"Apa tidak bisa janji Papa itu ditebus dengan kompensasi materi untuk mereka ?" tanya Nyonya Wirawan.


"Papa tidak menyangka...Mama bisa sepicik itu.." Tuan Wirawan berkata penuh penekanan.

__ADS_1


Istrinya jadi merasa bersalah..dan menghampiri Tuan Wirawan sambil memegang pundaknya dari belakang.


" Maafkan aku Pa...baiklah kita lakukan sesuai keinginan Papa saja.." kata Nyonya Wirawan menyerah.


__ADS_2