Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Gak Masalah Garing...Asal Renyah ?


__ADS_3

' Mau ngapain coba dia semakin mrndekat ke arahku...Gustii...jangan biarkan hamba-Mu ini melemah...' batin Anin sambil berjalan mundur teratur menjaga jarak aman dari Akmal yang saat ini terus melangkah maju mendekatinya.


'Pesona dokter setengah jadi ini memang tak diragukan lagi.." batin Anin yang diam-diam meneliti garis ketampanan wajah lelaki di hadapannya saat ini.


'Tapi aku tidak boleh lengah...karena bisa jadi ini hanya akal-akalannya untuk mempermainkan aku saja...karena aku tak lebih dari bocil tengil baginya...tentu saja begitu...dia kan sudah punya Suster Rika....' Anin berkata dalam hati.


"Mundur Tuan...Awas !! Mau apa Anda seperti ini ?" tanya Anin panik.


"Jangan menjadikan saya seperti mainan baru buat Anda...!" sarkas Anin.


Akmal bahkan tak merespon perkataan Anin sedikitpun.


Pandangan matanya tajam sedikit mesum terpusat ke Anindya.


"Jangan mendekat !" seru Anin...tapi ternyata langkah mundurnya kepentok dinding di belakangnya.


Alhasil perjuangannya menghindari Akmal harus berakhir seketika itu...giliran Akmal yang mengarahkan kedua tangannya ke dinding untuk mengunci pergerakan Anin ke samping...


"Mau kemana lagi kamu ?" Akmal menyengir meledek Anin.


"Rileks...aku bahkan belum melakukan apapun...kamu sudah suudzon duluan..." kata Akmal merapatkan dadanya ke dada Anin.


"Baik...saya tidak akan suudzon kalau Anda tidak berkelakuan begini...saya jadi suudzon jangan-jangan kepala Anda kena benturan keras ya kemarin ? Jadi aneh begini..." Anin berspekulasi sendiri.


"I am okey...bahkan lebih oke dari hari-hari sebelumnya...terbukti hari ini aku menyadari betapa blo'onnya aku karena selama ini mengabaikan anugrah Alloh yang di tuangkan-Nya di paras elok natural ini..." kata Akmal sembari tangannya berselancar di dagu Anindya...sedikit mendongakkan wajah perempuan muda itu ke atas.


Anin menepisnya segera dan berontak agar Akmal melepas kungkungannya.


"Jangan melampaui batas Anda,Tuan...katanya mau masak ? Malah sekarang reseh gini..." kata Anin berusaha biasa..padahal dadanya bergemuruh tak karuan.


"Iyaa...makanya aku belum selesai ngomong tadi..kamu malah parno duluan.." alasan Akmal dengan suara lembut yang semakin membuat suasana jadi semakin meresahkan.


"Aku bilang ' aku mau masak...asal kamu menemani aku untuk'..begitu ?"Akmal mengulangi kata-katanya tadi setengah berbisik tepat di samping telinga Anindya.


Aroma wangi tubuh seorang Tuan Dokter Akmal sukses m


Bagi Anindya yang masih polos....tentu saja hal itu bukan hal yang biasa...tubuhnya seketika meremang...bulu kuduknya spontan sepakat berbaris tegak...hingga netranya terpejam dengan mimik wajah nyengir memalingkan mukanya menghindari Akmal.


"Untuk ?" tanya Anin meminta kejelasan dengan tetap pada posisinya tadi.


"Untuk menemani aku masak lah..." kata Akmal dengan nada meledek sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Anin.


Dan kungkungan Akmal ke badan Anin melemah karenanya...tentu saja hal itu tak disia-siakan Anin..


"Ogahh !! Masak aja sendiri !!" serunya dan sejenak kemudian mengarahkan bibirnya ke dagu Akmal...


Akmal sudah ge-er duluan...dan.."Aaaghh...!" teriak Akmal karena bahunya digigit oleh Anin.

__ADS_1


Alhasil Akmal melepas tubuh Anin...memegangi bahunya yang sakit.


Anin segera lari dan masuk ke kamarnya sembari menutup pintunya dari dalam


Akmal meringis kesakitan...dan dia membuka kancing kemejanya melihat sumber sakit di bahunya...dia menggunakan kaca yang ada di dapur untuk melihatnya.


Dan anehnya bukan raut wajah marah yang terlihat di kaca itu setelah melihat bekas gigitan Anin di bahunya..


Malah terpampang raut wajah sumringah...


"Aku menganggap gigitanmu ini sebagai tanda kepemilikanmu atasku,Anin..." Akmal cengengesan sendiri


Lalu sesuai janjinya...Akmal memasak untuk Anindya...dia begitu sibuk di dapur...rencananya membuat pasta isi udang,sosis dan telur.


*


*


Hampir 1 jam berlalu...dari dalam kamar Anin tercium bau wangi masakan Akmal...tapi itu tak cukup ampuh membuat Anin bergeming dari persembunyiannya di dalam kamar...mengingat keresehan yang dilakukan Akmal padanya tadi.


'TOK TOK TOK...'


Suara pintu kamar Anindya diketuk.


"Anin...ayo keluar...aku sudah siap disantap... eh keliru...masakanku sudah siap disantap..." joke Akmal


Anin yang mendengarnya jadi menyunggingkan senyum tipisnya dari dalam kamar.


'Sejak kapan seorang introvert seperti Tuan Dokter Akmal Wirawan jadi kocak gini...fix deh...kepala dia juga kena benturan saat keributan kemarin...' monolog Anin dalam hati.


Dia lagi-lagi tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.


"Kelakuan dokter setengah jadi ini membuat hati dan fikiranku jadi tidak sinkron..." gumam Anin sendirian.


"Ayo Anin...kamu harus cobain masakanku...gak ada duanya dehh...aku tambahin bumbu spesial soalnya..." bujuk Akmal berseru dari meja makan.


Tak ada jawaban ataupun pergerakan dari kamar Anin.


Akmal mulai putus asa...


"Dia menatap pasrah pada piring saji yang berisi pasta hasil masakannya..dia hendak meninggalkan meja makan.


'CEKLEKK...'


Suara pintu kamar Anin.


Sesaat kemudian tampak pemiliknya keluar...Akmal melihatnya dan antusias menyambutnya.

__ADS_1


"Alhamdulillaah....silahkan duduk...aku sudah menunggu kamu dari tadi,lho..." kata Akmal.


"Bumbu spesial apa ?" tanya Anin sambil melangkah mendekat ke meja makan.


"Kasih dan sayang..." kata Akmal sambil cengengesan.


"Dasar tukang gombal..asal tahu aja saya tuh gak mempan sama gombalan...garing pula...selain raja gombal,Anda juga raja bohong ternyata....tadi merintih kesakitan...seneng banget bikin orang lain panik !" hardik Anin.


"Aku tuh gak pernah gombalin cewek,lho...you are the first one...garing gak pa-pa asal renyah aja,gak alot...terus aku tuh gak bohong,Anin....dadaku tadi tuh beneran sakit...ya kan,Pusy ?" sanggah Akmal.


"Meong..." Pusy yang ada di bawah meja makan seolah menjawab tanya Akmal.


Lalu Akmal mengambilkan makanan untuk Pusy sesuai janjinya tadi.


Dan Pusy makan dengan lahapnya pasta campur sosis,udang dan telur buatan Akmal.


"Tuuh lihat...Pusy aja suka sama masakanku...ayo dicicipi,Anin.." kata Akmal sambil menyodorkan piring yang berisi masakannya ke depan Anin.


"Aman kan ? Gak beracun,kan ?" Anin menyindir Akmal yang waktu itu tidak mau memakan masakannya dan berusaha mempermalukannya di depan keluarga Tuan Wirawan.


"Maaf...sekali lagi maaf...kalau kamu gak mau makan masakanku ya udah...gak pa-pa..." kata Akmal terlihat sangat menyesal,sambil menarik kembali piring saji di depan Anin.


"Kata Mbah...balaslah orang yang melemparmu batu dengan melempar dia roti..." kata Anin sambil menahan piringnya tadi.


Lalu dia menyuap ke dalam mulutnya pasta buatan Akmal.


Dikunyahnya perlahan dan sedikit memutar bola mata mencoba merasakan pasta itu.


"Gimana rasanya ?" Akmal tak sabar penilaian Anin.


"Kalau bisa masak gini...kenapa kemarin-kemarin nyuruh saya masak sih,Tuan Dokter ? Belajar masak darimana ?" tanya Anin.


"Enakk ?" tanya Akmal.


"Dari 1 sampai 10,berapa nilai yang kamu beri untuk masakanku ?" lanjut Akmal.


"8 mungkin..." jawab Anin asal.


"Kok mungkin sih ? Gak yakin gitu jawabannya..." kata Akmal belagak sedih.


" Maafkan aku,Anin...aku selalu membuat kamu berada dalam kesulitan..." kata Akmal lagi


"Sudahh jangan keseringan minta maafnya...nanti jadi hobi baru lho ! Anda belum menjawab tadi,belajar masak dimana ?" Anin mengalihkan pembicaraan karena tidak nyaman Akmal berulang kali mengatakan minta maaf padanya.


"Otodidak...waktu kuliah di luar negeri,mau gak mau aku harus bisa masak sedikit-sedikit...jadi gak beli terus.." jawab Akmal.


"Ayo dilanjut makannya..." kata Akmal.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka makan bersama di meja makan kali ini.


Anin kelihatan masih canggung...berbeda dengan Akmal yang memasang mimik wajah sumringah.


__ADS_2