Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Yang Istimewa Dan Yang Sederhana.


__ADS_3

Anin menduduki kursi yang ada di sepanjang pinggir ruangan tempat berlangsungnya acara.


Dia tak tahu harus berbuat apa..sampai seseorang menghampirinya.


Lalu seseorang itu menyentuh bahunya pelan.


Anin spontan menoleh ke belakang.


Wajahnya langsung berubah ekspresi dari kikuk menjadi setengah terkejut bercampur senang.


"Dokter !" seru Anin


"Sedang apa kamu disini sendirian ?" tanya seseorang itu yang ternyata Dokter Barra.


"Anda disini juga ?" tanya Anin seakan tak percaya.


"Oh maaf...maksud saya..tidak menyangka bertemu Anda sekarang.." Anin tampak girang.


"Tuan Wirawan meminta saya untuk menghadiri acara ini sebagai tugas pertama saya menjadi sekretaris medis.." penjelasan Anin.


Barra hanya tersenyum kecil melihat tingkah dan ekspresi gadis polos itu.


"Ayo ikut aku..aku tunjukkan di mana meja kita sebagai wakil dari RS. Bhakti Wirawan.." ajak Barra.


"Jadi ada meja khusus ?" tanya Anin polos.


"Kayaknya sih begitu.." jawab Barra santai.


Anin lalu berdiri dari kursi dia duduk tadi dan mengikuti Barra dari belakang.


Dan mereka sampai di meja dimana disitu ada Akmal dan Rika duduk bersama beberapa orang lain.


Akmal memandang sekilas kehadiran Anin dan Dokter Barra..berbeda dengan Rika yang memandang lekat pada Anin dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Ngapain si dekil ini ada disini ?" gumam Rika pelan pada Akmal.


"Sayang...kamu gak lapar ? Atau mau aku ambilkan kudapan apa ?" kata Akmal pada Rika dibuat semanis dan semesra mungkin.

__ADS_1


Sampai Rika pun kaget...karena tak biasanya Akmal bersikap begitu padanya.


"Tidak usah sayang..nanti aja kita ambil sama-sama.." jawab Rika manja.


Anin yang duduk bersebranga dengan mereka hanya menunduk sambil memilin tas yang tersandang menyilang di bahunya.


Sesaat kemudian ada seorang laki-laki datang menghampiri mereka.


Laki-laki itu berpakaian parlente dan menasukkan tangannya sebelah ke saku celananya.


"Selamat malam semuanya.." sapanya pada perwakilan dari RS. Bhakti Wirawan.


"Selamat malam.." jawab mereka hampir bersamaan.


"Hallo Dokter Akmal.." sapa dia lebih spesifik sambil menghampiri tempat Akmal duduk.


"Dan hallo Rika..kamu cantik sekali malam ini.." sambungnya lagi.


Rika membalas dengan senyum bangganya.


Akmal menjabat tangan laki-laki itu tanpa berdiri dari kursinya.


"Terimakasih..Papaku memang membangun rumah sakit ini untukku.." jawabnya jumawa.


"Boleh kamu perkenalkan siapa saja yang hadir sebagai perwakilan dari rumah sakitmu ?" tanya laki-laki yang bermana Roby itu sambil tak lepas memandang ke arah Anindya.


Tampak di matanya dia begitu penasaran dengan sosok Anindya..


Tentu saja..walaupun Anindya berpakaian sederhana namun pesona kecantikan naturalnya tidak bisa tersembunyikan.


"Oh ya..ini manajer kami...lalu ada kepala divisi umum...ada dokter bedah kami dan..." kata-kata Akmal terputus sambil melihat ke arah Anin.


Anin pun melihat ke arah Akmal dengan tatapan datar.


"Sekretaris medis divisi poli kami.." lanjut Akmal.


Barra menyadari tatapan nakal Roby pada Anindya.

__ADS_1


Dia menatap tajam ke arah Roby.


"Ooh...tentu..sekretaris kamu masih muda dan...pretty.." kata Roby lagi.


Anindya hanya merespon dengan senyuman tipisnya.


"Baiklah...terimaksih atas kedatangan kalian di acaraku ini...jangan lupa menikmati hidangan yang telah kami sediakan.." kata Roby.


"Saya tinggal dulu..mau menyapa tamu yang lain..." pungkas Roby dengan mata yang masih menilik ke sosok Anindya.


Anindya tak menyadarinya...dia sibuk dengan ketidak nyamanan yang dia rasakan saat ini,karena berada di tengah orang-orang elite.


"Kamu mau aku ambilkan makanan ?" tawar Barra pada Anin.


"Ehh..tidak Dokter..." tolak Anindya.


"Ayolah..tidak apa-apa...kamu pasti masih canggung saat ini..." kata Barra meyakinkan.


"Atau begini saja..aku akan ambil dua porsi makanan yang sama untuk aku dan kamu...lalu kita makan berdua disini..." kata Barra lagi setengah berbisik pada Anin,agar tak terdengar orang lain.


Anin melihat ke arah Barra dan mengangguk dengan senyum canggungnya.


Sebenarnya dia malu Barra yang mengambilkan makanan untuknya.


Dan Barra pun berdiri meninggalkan Anin.


Rika pun mulutnya tak tahan menegur Anin.


"Eh..Anin..kamu tadi dari pasar lalu kesini apa gimana ? Dekil dan sederhana banget pakaian kamu !" tegurnya kasar.


Anin hanya diam menahan malu karena ditegur seperti itu di depan banyak orang.


Akmal hanya acuh mendengar ocehan Rika.


Hatinya yang kadung dipenuhi kebencian..membuatnya tak membela sedikitpun perempuan yang notabene sekarang ini berstatus sebagai istrinya.


"Kayaknya aku pernah lihat deh pakaian yang kamu kenakan itu sebelumnya...! Sederhana dan berulang dipakai lagi..!" ejek Rika berlanjut.

__ADS_1


Anindya tak bergeming dan hanya memainkan tasnya menutupi rasa malu yang dia rasakan.


__ADS_2