
Akmal kembali ke gedung rumah sakit setelah mengantar Papa dan Mamanya ke mobil.
Dan ternyata ia sudah ditunggu oleh Rika di tempat resepsionis. ''Ayo sayang..aku nungguin kamu dari tadi..." kata Rika menggapai tangan Akmal dengan gestur manjanya. "Udah gak marah lagi nih ceritanya..?" goda Akmal pada Rika mengingat kejadian kemarin malam.
"Masih marah ! Nanti aku lanjutin marahnya.." kata Rika merajuk.
Di seberang mereka berdua...ada Anindya dan Novi sedang melakukan pekerjaan harian mereka yaitu membersihkan kursi tunggu dan mengepel lantai.Novi dan Anin sempat mencuri pandang pada mereka..dan bersamaan dengan itu,Akmal pun mencuri pandang pada Anindya..sontak mereka berdua langsung gelagapan mengalihkan pandangan.Anindya meneruskan mengepel sedang Akmal digandeng Rika menuju lift.
Tak terasa waktu istirahat pun tiba..tapi di luar sedang turun hujan lebat.Jadi tak banyak yang keluar gedung untuk sekedar istirahat atau makan siang di luar.
Kebanyakan memilih untuk makan siang di kantin rumah sakit.Akibatnya suasana kantin lebih ramai dari biasanya.Akmal dan Rika yang biasanya jam istirahat makan di luar pun tampak mendatangi kantin siang ini.Mereka berdua tampak duduk di kursi dekat pintu keluar..dan tentu saja mereka menjadi sorotan dan bahan perbincangan sebagian besar pengunjung kantin.
Berbeda dengan Anindya dan Novi yang lebih dulu berada di kantin..mereka terlihat lebih menikmati mie instan yang mereka pesan..mungkin karena rasa lelah yang mendera mereka..
Dan satu lagi sosok yang pesonanya tidak pernah gagal meghipnotis kaum hawa dimanapun dia berada..dokter Barra..tampak juga memasuki kantin RS.
Dia menyapa Akmal yang terlihat duduk di dekat pintu masuk..dengan gerakan menganggukkan kepalanya..dan di balas Akmal dengan anggukan kepala juga.Rika pun melakukan hal yang sama.
"Kamu kenal siapa dia ,Sayang ?'' tanya Akmal pada Rika.
"Dia dokter muda di divisi poli bedah..Dia salah satu arjuna rumah sakit ini,Sayang.." kata Rika.
Dan Barra melihat Anindya dan Novi di dalam kantin...lalu menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum.." sapa Barra
"Wa'alaikumsalam warohmah..'' jawab Anin juga Novi.
"Boleh aku gabung bersama kalian disini ?" tanya Barra.
"Maaf Dokter..sebaiknya anda bergabung dengan rekan dokter yang lain saja..rasanya kurang pantas kalau anda duduk di sini bersama kami.." ucap Anin.
"Kenapa sih An..kan Dokter Barra yang mau..biarin aja..!" protes Novi yang kegirangan kedatangan seorang Barra.
Orang-orang di sekitar mereka,mencuri pandang ke arah mereka diam-diam.
"Tuh kan..Novi aja ngizinin.." kata Barra lalu duduk di kursi.Tangannya mengacung memanggil pegawai kantin..
"Tolong wedang jahenya satu.." katanya lagi.
Anin hanya bisa diam meneruskan makan mie instannya..sedangkan Novi cengengas-cengenges melihat Barra.
Di meja lain tampak Rika dan Akmal mengawasi dengan rasa penasaran.
"Ngapain juga dokter Barra bergaul sama para OG itu.." kata Rika.
"Ya mungkin dokter itu lagi pe-de-ka-te sama salah satu OG itu kali..." jawab Akmal sambil menyeruput kopi susunya.
"Gak mungkin...yang ngantri nungguin cinta dokter Barra itu bejibun jumlahnya,Sayang.." jawab Rika.
''Ya kalau gak pe-de-ka-te apa namanya coba..sampek mbelain janjian ke kafe..sampek nyamperin ke rumah segala.." cerita Akmal
"Maksud kamu gimana sih ?" tanya Rika. ''Ya itu...si notulis baru divisi kita.." kata Akmal.
"Tunggu tunggu...kok kamu tahu sih dokter Barra janjian di kafe sampek nyamperin rumah si OG ceroboh itu ? Jangan-jangan kamu ngikutin dia ya ?'' tebak Rika curiga
"Ngapain juga aku ngikutin dia..kurang kerjaaan amat.." kata Akmal.
"Lha terus..tahu dari mana itu semua tadi ?" telisik Rika.
"Nenek Anindya itu ART di rumahku dulu..pas aku pulang studi aku ke rumah ART-ku yang ternyata rumah Anindya,dan disana ada Barra juga.." papar Akmal.
"Kenapa kamu gak cerita aku sebelum ini sih,Sayang ?" tanya Rika.
"Ya menurutku itu bukan hal yang penting untuk diceritain ke kamu.." kata Akmal santai.Dia agak takut kalau Rika ngambek lagi.
'Sepertinya aku harus mulai waspada sama OG ganjen yang namanya Anindya ini...' kata batin Rika.
Akmal yang secara tidak sadar mengarahkan pandangannya ke meja Anindya,diam-diam penasaran dengan apa yang di perbincangkan di meja itu oleh Anindya dan Barra.
'Apa yang di bahas oleh Anindya dan Barra saat ini ? Ah..kenapa aku jadi kepo ? Biarin aja...' kata batin Akmal.Lalu segera mengalihkan pendangannya lagi.
"Kamu kok cuma makan mie instan,Anin ?" tegur Barra pada Anin.
"Iya Dokter..lagi males makan nasi.." jawab Anin kikuk sambil mengambil mie di mangkok dengan garpu.
' Aku jadi sungkan makan dengan lahap..soalnya ada dokter Barra disini..Novi sih ngizinin..." kata batin Anindya.
"Ee..Dokter kok tidak pesan makanan ?" tanya Novi masih cengengesan dan gak bosan liatin wajah Barra. "Udah kenyang tadi makan kudapan waktu rapat,Nov..." kata Barra.
"Udaranya dingin banget yaa ?" sambung Barra.
Novi dan Anin merespon dengan anggukan kepala. "Kamu udah beli hp ?" tanya Barra lagi.
"Belum Dokter,nunggu gajian bulan ini.. " jawab Anin. "Iya udah..kalau udah punya hp..jangan lupa save nomerku..minta ke Novi,dia kan punya nomerku.." kata Barra.
"Iya,Dokter.." jawab Anin.
"Tenang Dokter..nomer dokter ter-save dengan baik di hp saya.." kata Novi
Barra tersenyum mendengar hal itu..
"Kalau hujan gini..kamu pulangnya gimana ?" tanya Barra pada Anin,dia terus mencari topik pembicaraan.
"Seperti biasa..naik angkot.." jawab Anin sambil tersenyum kecil tanda segan pada Barra.
__ADS_1
"Nunggunya di mana ?" tanya Barra lagi.
"Ya di tempat biasa.." jawab Anin.
Novi melihat ada yang ganjil dengan dokter satu di hadapannya ini..sepertinya dia mulai mencium benih-benih asmara dalam kata-kata yang di tanyakannya.
Pada teman dekatnya Anindya tentu saja..tapi dia hanya sebagai pengamat saja saat ini.
Ya memang tidak sulit jatuh hati pada sosok seperti Anindya...parasnya yang ayu natural..pribadinya yang polos apa adanya..membuat orang yang mengenalnya pasti bersimpati kepadanya,pikir Novi.
Sampai jam pulang tiba...ternyata hujan masih turun lumayan deras..disertai gemuruh suara geledek.
"Para staff dan pegawai banyak yang menunda kepulangan mereka saat ini..mereka memilih untuk bercengkrama satu sama lain di ruangan masing-masing..ada yang tetap pulang karena memakai mobil..atau dijemput mobil.
Hilir mudik pasien dan keluarga pasien pun tampak memadati semua bagian dari gedung rumah sakit...walaupun hujan mengguyur.
Anindya berniat untuk tetap menunggu angkot di tempat biasa...karena hari sudah mulai gelap...takut sang Mbah khawatir.Dia menyusuri koridor menuju ke parkiran.Namun langkahnya terhenti karena namanya dipanggil oleh seseorang.
"Anin...tunggu.." seru suara itu.Anindya menoleh dan ternyata Barra. "Kamu mau pulang sekarang ?" tanya Barra. "Iya.Dokter..takut Mbah khawatir.." jawab Anin.
" Kamu keberatan kalau pulang sama aku ?" tanya Barra .
"Tenang..aku ada jas hujan kok buat kita berdua.." sambung Barra melihat Anin ragu dengan ajakannya.
"Tidak usah repot-repot Dokter..saya naik angkot saja.." kata Anin menolak.
"Ayolah..aku gak tenang kalau kamu nyari angkot hujan-hujan gini..aku dari tadi nungguin kamu lho..yuk !!" Barra sedikit memaksa.
Anindya speechless mendengarnya dan gak tau kenapa dia akhirnya menerima ajakan Barra.
Lalu mereka menuju parkir khusus dokter dan staff..mereka berpapasan dengan Akmal dan Rika yang juga hendak masuk mobil.Barra hanya tersenyum kecil menyapa mereka.Anindya masih shock dengan ajakan Barra, jadi dia hanya diam termangu..hingga Barra menyodorkan jas hujan untuk dia pakai.
"Dasar OG kegatelan..ganjen.." kata Rika.
"Sstt..gak baik ngomong gitu.." nasihat Akmal.
Dan sepeda motor Barra pun melaju menuju jalan raya,meninggalkan Akmal dan Rika yang masih di parkiran.
Disepanjang perjalanan Anin sama sekali tidak mau berpegangan pada tubuh Barra.Dan Barra pun menyadari hal itu dan menghormati tindakan Anin..jadi dia tidak berkendara terlalu kencang.. takut Anindya jatuh.
Perjalanan yang terasa lama bagi Anindya..entah bagaimana yang dirasakan Barra..karena mereka tak berkomunikasi sedikitpun selama di jalan..takut kalah dengan suara hujan.
Dan akhirnya mereka sampai di rumah Anindya..Mbah Rasni keluar menyambut kedatangan cucu semata wayangnya.
"Silahkan masuk dulu,Dokter.." ucap Anin sambil melepas jas hujan
"Gak usah..aku langsung pulang aja.." kata Barra.
"Mari masuk,Nak..Mbah buatin teh hangat.." kata Mbah Rasni.
"Assalamu'alaikum." ucap Barra. "Terimakasih Dokter..wa'alaikumsalam warohmah.." jawab Anin dan Mbah Rasni hampir bersamaan.
"Mbah..Anin kedinginan..di sepanjang jalan tadi kehujanan..." keluh Anin.
"Owalaaa..kasihan cucu Mbah..bentar Mbah buatin teh hangat yaa.." kata Mbah.
"Enggeh Mbah..matursuwun.." jawab Anin bergegas ke kamar bersih-bersih mandi dan ganti baju.
"Ayo Nduk..diminum tehnya dan makan dulu..nanti keburu dingin.." seru Mbah melihat Anin keluar dari kamar mandi.
" Mbah masak apa hari ini ?" tanya Anin.
"Pepes bandeng sama sayur bayam,Nduk.." jawab Mbah.
"Mantapp.." seru Anindya sembari duduk di kursi makan.
" Tadi Anin males makan nasi Mbah..cuma makan mie.." cerita Anin.
"Ya jangan gitu Nduuk..harus makan nasi..biar marem perute.." kata Mbah.
"Apa bawa bekal aja dari rumah ?" tawar Mbah.
"Mboten Mbah...kayak anak TK aja.." jawab Anin sambil tersenyum geli.
"Oh ya Nduk..besok Mbah nitip buat Nak Akmal..telur sama teri balado kesukaannya.." kata Mbah.
"Apa gak lebih baik nunggu dia datang kesini saja, Mbah ?" kata Anin.
"Ya kan ndak tahu kapan dia kesini lagi, Nduk.." kata Mbah.
"Ya udah terserah Mbah aja.." kata Anin lagi sambil melahap makanan di piringnya.
"Kepala ikannya buat Pussy aja,Mbah.." kata Anin. ''Iya Nduk..sisihkan aja nanti biar Mbah yang ngasih ke Pussy." kata Mbah lagi.
Di keesokan harinya..
Mbah Rasni jadi menitipkan masakan kesukaan Akmal pada Anindya.Tentu saja Anindya tidak berani menolaknya.Tapi diam-diam dia memutar otak berfikir bagaimana cara menyampailkan masakan Mbah-nya itu pada Tuan Dokter reseh itu..
Karena dia canggung harus ke divisi poli nutrisi dan gizi tanpa alasan yang kuat.
Tapi dia tetap memberanikan diri..guna menyampaikan amanat Mbah-nya itu.
Dia naik lift untuk umum menuju ruang kerja Akmal.Dan tak dinyana..disana dia justru bertemu Rika..malah orang yang dia tuju tidak ada di tempat.
Dia mengumpulkan keberaniannya untuk menyapa Rika.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum.." ucap Anin.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Rika dan beberapa temannya di ruang kerja itu.
"Ada perlu apa kesini ?" tanya Rika ketus pada Anin.
"Saya mencari dokter Akmal..Bu dokter.." kata Anin sedikit gugup.
Rika langsung curiga dengan maksud Anin mencari Akmal..karena tempo hari dia mendengar cerita tentang Anin dan Barra.
'Ngapain OG ganjen ini nyari Akmal..jangan-jangan untuk tebar pesona..' kata Rika dalam hati.
''Ngapain ? Ada perlu apa ?" telisik Rika.
"Mau nyampai-in titipan Mbah,Bu dokter.." jawab Anin sambil menunjukkan kotak makan ke Rika.
"Apa itu ?" tanya Rika ketus..temannya yang lain hanya memperhatikan saja.
"Telur dan teri balado.. " jawab Anin singkat.
"Coba kulihat..sini berikan padaku.." perintah Rika.
Anin kemudian memberikan kotak makanan dari Mbah ke Rika.Lalu Rika membuka kotak makan itu..sesaat kemudian menciumnya.
"Cihh..makanan apaan ini ?" cibir Rika
"Berminyak banget...dan bau apaan ini ?" kata Rika yang mencium bau teri.
"Kamu jangan mengada-ada deh...masakan beginian mau kamu kasih ke calon suamiku ?" kata Rika lagi
"Kata Mbah saya..itu masakan kegemaran Dokter Akmal;Bu dokter.." jawab Anin mulai tidak nyaman dengan sikap Rika.
"Nggak mungkin...Akmal gak mungkin suka sama masakan kampungan seperti ini.." kata Rika menghempaskan kotak makanan di depannya hingga tumpah ke lantai berserakan semua.
"Iihh..Rika..!! kok kamu buang di sini sih makanannya..jadi kotor kan lantainya.." kata teman- teman Rika.
Anindya terkaget dengan perbuatan Rika..tapi dia tidak berkata- kata..hanya memundurkan kedua kakinya menghindari tumpahan makanan tadi.
"Pantesan nenekmu dipecat dari pekerjaannya sebagai ART di rumah Akmal...emang gak becus masak.." ledek Rika.
"Maaf..tapi Mbah saya bukannya dipecat..tapi dia yang berhenti sendiri dari pekerjaannya itu..mengikuti saran saya, cucunya.." penjelasan Anin.
"Halahh..itu kan menurut kamu !" sela Rika ketus.
"Rika..! makanannya megotori lantai ruang kerja kita lho..gimana dong.." keluh teman Rika.
"Tenang teman-teman..kan ada spesialis bersih-bersih disini.." kata Rika mengarahkan pandangan ke Anin.
"Heyy..OG..! Cepat bersihkan kotoran di lantai ini.." perintah Rika.
Anin tak kuasa mengatakan sepatah katapun..dadanya sesak..hingga mengeluarkan cairan bening di sudut matanya.
Dia sangat menyesal datang ke divisi poli nutrisi dan gizi hari ini..
Melihat masakan Mbahnya dihempas dengan angkuh oleh Rika dan disuruh membersihkan tumpahannya pula..
Dia keluar dari ruangan dengan berkaca-kaca hingga tak seberapa memperhatikan jalan..tujuannya hendak mengambil alat pel dan kantong plastik di dapur..tapi malah menabrak seseorang.
"Brughgh..!" tubuh kecilnya terantuk tubuk kekar di depannya.
"Dasar OG ceroboh..!" cemooh Rika.
Anin mendongak melihat siapa yang di tabraknya..lalu buru-buru menyeka sudut matanya yang berair.
"Kamu lagi..! hobi banget ya nabrak aku.." ucap Akmal, pemilik tubuh kekar yang ditabrak Anin.
"Maaf.." kata Anin singkat.Akmal melihat mata Anin yang sembab, jadi dia mengurungkan untuk berkata- kata lagi.
Anin meneruskan langkahnya menuju dapur..lalu masuk ke ruang kerja divisi poli nutrisi dan gizi membawa alat pel dan kantong plastik.
Sesaat kemudian dia berjongkok memunguti makanan yang tumpah tadi..lalu cepat-cepat mengepel sisanya.Rika yang berada di depannya hanya berdiri angkuh..
Tapi kemudian tersadar kalau ada Akmal..dia beralih mendekati Akmal..menggelayutkan kedua tangannya manja ke lengan Akmal.
"Sayang..baru datang ?" sapanya.
Anindya buru-buru keluar ruangan dengan menundukkan wajahnya melewati Akmal dan Rika.
Akmal mencoba menilik lagi wajah Anin tapi tidak bisa karena dia menunduk dalam.
"Kenapa dia tadi ?" tanya Akmal pada Rika.
''Ooh..itu tadi aku suruh bersihin tumpahan makanan.." jawab Rika.
"Makanan siapa ?" telisik Akmal.
"Makanan yang katanya titipan dari bekas ART kamu..Mbahnya OG itu..untuk kamu.." kata Rika santai.
"Lalu ?" tanya Akmal lagi.
"Yaa katanya sih makanan kesukaan kamu..aku lihat itu makanan kampung..mana mungkin kamu suka..jadi aku buang di depannya...lalu kusuruh bersihin sekalian..kan itu kerjaan dia.." penjelasan Rika.
Akmal yang baru mengetahui kronologi kejadiannya..mendadak merah padam wajahnya menahan amarah..
"Kamu kebangetan, Rika.." kata Akmal singkat sambil menghempaskan tangan Rika dari lengannya.Lalu berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Rika terkejut melihat reaksi Akmal seperti itu..