Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Obat Penyakit Cemburu


__ADS_3

Anindya memilih menjauh dari Akmal...dia menata hatinya agar tidak besar rasa...juga menjaga matanya agar tak tergoda akan ketampanan Akmal yang memang maksimal.


Tapi begitu hendak berdiri dari kursi...Akmal menahan tangannya...


"Mau kemana ?" tanya Akmal.


"Mau lihat Rafa...takutnya digigit nyamuk..." alasan Anin.


"Tadi udah aku pasang anti nyamuk elektrik...jadi kamu tenang aja..." kata Akmal.


"Tungguin aku makan disini doong !! Masak tamu dibiarin makan sendiri..." Akmal mulai manja.


"Tamu tak diundang..!! Anda sengaja kan bawa Rafa...biar ada alasan kesini ?" tebak Anindya.


"Udah tahu nanya..." jawab Akmal enteng sambil tetap menahan tangan Anindya.


"Isshh..!! Ngapain sih kesini ? Sana ke rumah Suster Rika gih...biar Rafa aja disini...lagian udah saya bilang jangan kesini sampai urusan perceraian kita kelar..." tandas Anin.


"Uhukk uhukk..!" Akmal seketika tersedak mendengar perkataan Anin.


"Astaghfirullooh...! Pelan-pelan,Tuan Dokter...minum dulu..." Anindya panik dan mengambilkan minum untuk Akmal.

__ADS_1


"Ada nada cemburu di suaramu..." kata Akmal setelah minum air putih...sambil mengulas senyum menggoda Anin.


"Idihh...sok tahu pula.." kata Anin menyangkal.


"Halahh...ngaku aja.." ledek Akmal pada Anindya yang sekarang tengah sibuk memainkan ponselnya menutupi gugupnya.


Lalu Akmal melahap nasgor yang sejatinya masih tersisa banyak...karena Anin tadi memakannya hanya sedikit...hingga piringnya terlihat kosong.


"Alhamdulillaah...nikmat sekali makan malam kali ini...ditemani orang terkasih.." kata Akmal beranjak dari kursi meja makan tapi memandang intens ke Anindya.


"Idihh...apaan ?? Terkasih ngeliatnya kesini...kalau disini mah bukan terkasih...yang ada tuh terdzolimi...!" sangkal Anin dongkol sambil beresin meja makan.


"Yang terkasih tuh disana...namanya Suster Rika...awas jangan sampai lupa...bisa pecah perang dunia ketiga..." sindir Anindya.


Dia mendekati Anindya dan menariknya ke dalam pelukannya...


"Dari tadi tuh ada cemburu di suaramu...ngaku dehh..!" goda Akmal.


"Cemburu ? emang saya siapa harus cemburu ?" tanya Anin balik mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan Akmal.


"Kamu kan Nyonya Akmal Wirawan...wajar kok kalau kamu cemburu..." kata Akmal terus mendekap tubuh Anindya.

__ADS_1


"Leppass !! Saya itu Anindya bukan Nyonya Akmal...!" seru Anin...tak setuju panggilan Akmal atas dirinya.


"Ngaku aja kalau cemburu..." kata Akmal.


"Enggakk ! Saya nggak cemburu !" elak Anin.


"Cemburu itu salah satu penyakit...dan harus segera diobati biar gak tambah kronis...dan aku punya obat untuk penyakit cemburu...kamu mau ?" tanya Akmal.


"Enggakk...enggakk...saya tidak butuh obat...!" Anindya meronta karena tahu yang dimaksud Akmal obat adalah ciuman.


Akmal terus menggoda.dengan semakin merapatkan wajahnya ke wajah Anindya...hingga terkikis jarak diantara mereka...


"Gimana ? Masih cemburu ?" tanya Akmal mendekatkan bibirnya ke bibir Anindya.


Anindya menggeleng-gelengkan kepalanya berulang dan cepat...sambil memejamkan matanya rapat-rapat dan mengernyitkan dahinya...bersiap dalam ketakutan akan sesuatu yang mungkin terjadi.


"Okeyy fix !! Kamu memang cemburu..." Akmal seketika melepaskan tubuh Anindya sambil menyunggingkan senyum kemenangan dan berlalu masuk ke dalam kamar Mbah...dimana Rafa tidur sekarang.


Meninggalkan Anindya sendirian dalam kekesalan.


Anindya loading sejenak...dan dia baru menyadari kalau barusan secara tidak langsung dia mengakui kalau sedang cemburu.

__ADS_1


'Astaghfirullooh...aku terperangkap taktik dokter reseh ini...pintar dia menjebak mangsa dalam kata-kata ! Ini juga tanda kalau aku harus lebih waspada padanya..." Anin berkata dalam hati.


__ADS_2