Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Bukan Bangga Tapi Bahagia.


__ADS_3

FLASH BACK END.


Barra dan Anin sedikit terkejut dengan suara deheman seseorang dari belakang mereka..


"Eh...Akmal.." kata Barra.


"Iya...silahkan lanjutkan obrolan kalian..." kata Barra lalu mengambil posisi duduk di sebelah Barra..sedang Anin duduk di seberang mereka.


Anin kelihatan canggung sekali..tadi waktu berdua dengan Barra saja sudah sangat rikuh...sekarang malah harus berhadapan dengan dua orang laki-laki sekaligus.


"Dokter Barra mau minum apa ? Biar saya ambilin.." kata Anin mencoba bersikap santai.


' Tuh kan..mulai deh ganjennya...' batin Akmal mendapati Anin menawari Barra mau minum apa.


"Enggak...nggak usah repot...aku tadi udah minum jus di kafe..." jawab Barra.


Akmal lalu mengeluarkan ponselnya dan memainkannya.


"Oh iya...ini tadi aku belikan pisang krispy topping coklat keju yang tempo hari gagal kamu pesan di kafe...karena kamu tergesa pulang..." papar Barra.


"Ohh...iya Dokter...terimakasih..." jawab Anin.


' Ketahuan kan kalau sering ketemuan di kafe...' kata Akmal dalam hati.


Barra tampak tak terganggu dengan kehadiran Akmal dan masih ingin ngobrol dengan Anin.


"Kalau dari sini berarti lebih jauh jaraknya ke rumah sakit ketimbang dari rumah kamu ya,An ?" tanya Barra.


"Iya,Dokter..." jawab Anin singkat.


"Kamu tidur di mana kalau di sini ?" tanya Barra lagi.


Anin langsung gelagapan dan melirik ke arah Akmal yang juga sedang melirik ke Anin mendengar pertanyaan Barra.


"Eee..di atas,Dokter.." jawan Anin tidak bisa bohong.


"Sendirian ?" tanya Barra lagi.

__ADS_1


Akmal langsung salting...Anin pun demikian.


"Iyah.." jawab Anin sambil mengarahkan rambutnya ke belakang telinga menutupi saltingnya.


Tentu saja jawabannya kali ini bohong pada Barra.


"Dokter Barra kalau ke rumah sakit naik sepeda motor sport,ya ?" Akmal membuka pembicaraan.


"Iya...mungkin karena itu Anin enggan aku ajak bareng kalau pulang.." jawab Barra sambil mengulas senyum kecilnya.


Barra tak menyadari kalau ucapannya barusan sukses membuat Akmal dan Anin nembelalakkan mata mereka.


Anin karena merasa malu...Akmal karena mengetahui fakta baru.


"Becanda Anin...aku tahu alasan kamu sebenarnya,kok.." kata Barra.


' Apa cobak alasan sebenarnya ?'' kata Akmal dalam hati.


Yang sebenarnya tentu saja karena Anin menghormati ikatan pernikahan yang dianggapnya suci...walaupun pernikahan terpaksa juga baginya.


"Ok...udah jam 9 malam...aku permisi pulang dulu..." akhirnya Barra berpamitan.


"Kenapa tergesa,Dokter ? Santai aja.." ucap Akmal mencoba biasa.


Padahal dalam hatinya dia berharap Barra segera pamit...


"Lain kali aku akan mampir lagi..kalau diizinkan.." kata Barra memandang Anin dan Akmal bergantian.


"Tentu..tentu saja boleh..." kata Akmal cepat.


Barra tampak tersenyum lega.


Berbeda dengan Anin yang hanya bisa tersenyum kecil menyembunyikan kegelisahannya.


"Tolong pamitkan ke Pak Wirawan nanti.." kata Barra pada Akmal.


"Siap !" jawab Akmal.

__ADS_1


Lalu Anin dan Akmal mengantar Barra sampai pintu depan...selanjutnya Barra menuju ke pintu gerbang sendirian.


Anin pun mengambil buah tangan dari Barra di atas meja..


Akmal melihatnya dan tidak tahan berkomentar.


"Dokter Barra memorinya tajam juga,ya..masih ingat pesanan kamu yang batal di kafe..." kata Akmal sambil berjalan menuju tangga.


Sedangkan Anin menuju meja makan dan membuka kotak oleh-oleh dari Barra dan mencomotnya satu lalu memakannya.


"Bukan hanya memorinya yang tajam tapi juga sangat perhatian orangnya..." penjelasan Anin yang rupanya sukses membuat Akmal sewot juga.


"Idih...segitu aja udah bangga..." ledek Akmal.


"Bukan bangga tapi bahagia tepatnya..." jawab Anin sekenanya.


"Mau ?" tawar Anin pada Akmal.


"Enggak ! cemilan gak sehat...high carbo and glucosa..." tolak Akmal.


Anin agaknya acuh dengan pendapat Akmal dan meneruskan memakannya.


Akmal menaiki tangga menuju kamar.


Sekitar seperempat jam kemudian Anin menyusul masuk kamar.


Tampak seperti biasa,Akmal sedang asyik memainkan ponsel di ranjang tidurnya.


"Gosok gigi dulu !" perintah Akmal melirik kedatangan Anin.


"Iya,Tuan Dokter..." jawab Anin dengan nada meledek.


"Dibilangin juga...lagian kenapa gak mau kalau diajak bareng Dokter Barra naik sepeda sportnya ? kan lumayan menghemat uang jatah ojol..." ledek Akmal ganti.


"Saran yang bagus dan patut untuk dicoba..." jawab Anin asal sambil berlalu ke kamar mandi.


"Dasar bocil tengil..." dengus Akmal kesal.

__ADS_1


__ADS_2