Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Janji Yang Tertunda.


__ADS_3

"Johan..bagaimana ini..aku membunuhnya.." kata Wirawan panik dengan suara tertahan.


"Tenang Wira..kita pikirkan apa yang harus kita lakukan.." kata Johan.


"Johan..aku seorang pembunuh.." kata Wirawan meninggikan suaranya karena semakin panik.


Johan masih terdiam..bingung langkah apa yang harus diambil.Suasana di sekitar masih lengang.


"Johan..aku harus apa..aku pembunuh Johan..! Wirawan semakin histeris.


"Tenang Wira..tenang ! Dengarkan aku !" seru Johan sambil menghentak-hentakkan tubuh Wirawan agar bisa stabil kembali emosinya.


"Kita teriak minta tolong agar orang-orang kesini dan suruh mereka memanggil polisi..lalu kita cerita kejadian sebenarnya.." kata Johan.


"Tapi satu hal...biar aku yang mengakui kalau akulah yang membunuh berandal ini..karena membela diri.." kata Johan.


"Kenapa harus begitu ?" tanya Wirawan


"Coba kamu pikir jauh ke depan..kalau kamu yang mengakui..kamu yang akan menjalani hukuman di penjara...sedangkan kamu masih punya kewajiban terhadap istri dan kedua putramu..pikirkan nasib mereka jika kamu yang


dipenjara.." kata Johan


"Lalu kamu sendiri bagaimana ? Aku tidak mau kamu diperjara,Johan..kamu juga punya anak dan ibu di kampung.." kata Wirawan.


"Gusti Alloh yang akan menjaga mereka.Aku berharap senantiasa seperti itu untuk anak dan ibuku.." kata Johan.


" Toloong..ada orang mati disini...toloong !" teriak Johan agar orang-orang mendatangi mereka.


Akhirnya orang-orang berdatangan ke lokasi Johan dan Wirawan berada dan melihat ada mayat terkapar di situ.


"Kami hanya membela diri..dia berandal yang menyerang kami.." kata Wirawan.


"Lalu siapa yang membunuhnya ?" tanya orang-orang di sekitar mereka.


"Aku pelakunya," jawab Johan sambil menekan bahu Wirawan agar dia setuju dengan apa yang Johan katakan.


Dan seperti itu..walaupun tidak adil bagi Johan, tapi itu kemauan dia sendiri yang disetujui Wirawan pada akhirnya karena mempertimbangkan pendapat dari Johan tentang nasib istri dan putra- putranya.


Waktu berjalan terus...Wirawan mencoba mencari bantuan pengacara untuk membebaskan Johan..tapi nihil yang bersedia membantu,karena ini kasus pembunuhan..dan tak ada embel-embel uang juga sebagai penguatnya.Wirawan juga berusaha menghubungi Papanya di kampung halamannya..tapi Papanya juga tidak mau mengambil resiko ikut campur kasus pembunuhan ini..takut terjadi black list lagi atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya...


Papanya juga belum bisa membantu dalam urusan materi...dia masih fokus mengatasi masalah yang ditimbulkan rivalnya..yang tentu saja menguras waktu dan harta benda yang tidak sedikit.


Wirawan semakin merasa berdosa pada Johan.Yang bisa dia lakukan sekarang hanya rutin membesuk Johan di rutan bersama istrinya.


Wirawan tetap berkerja sebagai jukir sembari mencari cara mendapatkan pinjaman uang dari bank untuk menyewa pengacara..agar Johan bisa bebas.


Tapi kenyataan berkata lain...


Saat dia mendengar kabar kalau Johan di dalam penjara mengalami sakit.


Kondisinya semakin drop dan harus dirawat di rumah sakit penjara.


"Kondisi Pak Johan semakin menurun selama di rumah sakit,Pak..asam lambung akut dan beban fikiran dia sepertinya yang menjadi pemicu.." kata dokter yang menangani.


"Silahkan Anda temui dia di ruang perawatan.." sambung dokter.


Hati Wirawan seakan tercabik-cabik melihat kondisi Johan saat ini..tubuhnya terlihat ringkih dan matanya sayu..bukan Johan seperti yang dulu pertama kali menolongnya.


"Johan.." sapa Wirawan.


Johan menoleh menghadap Wirawan..dia memaksakan bibirnya tersenyum.


"Maafkan aku yang telah membuatmu jadi menderita begini.." kata Wirawan sambil menggenggam tangan Johan yang lemas.


"Kamu harus kuat.. waktu kebebasanmu hanya kurang dua bulan lagi..lalu kita akan pulang kampung bersama..menemui anak dan ibumu.." kata Wirawan.


"Sepertinya waktuku tidak sepanjang itu lagi, Wira...boleh aku minta tolong satu hal ?" tanya Johan lemah.


Wirawan tak tega melihat kondisinya seperti itu.Dengan sekuat tenaga dia menahan air matanya menetes.


"Katakan..aku akan berusaha menyanggupinya.." jawab Johan.


"Wakili aku menemui mereka di kampung..mereka ada di alamat ini.." kata Johan sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat.


"Iya...aku akan menemui mereka..." kata Johan.

__ADS_1


"Pastikan mereka berdua aman dan mapan, Wira..agar aku bisa tenang.." lanjut Johan.


"Tentu..akan aku pastikan itu.." kata Wirawan.


"Aku tidak akan melupakan jasa baikmu kepadaku, Johan...seumur hidupku aku berhutang budi padamu..tidak akan sanggup aku membalasnya seumur hidupku...aku ingin hubungan kita langgeng selamanya.. " kata Wirawan sesenggukan.


"Bagaimana kalau kita nikahkan putrimu dengan salah satu putraku, Johan ? Kamu setuju ?" tanya Wirawan dengan setengah berbisik.


"Aku senang mendengarnya.." jawab Johan lemah.


"Baik..aku janji akan melakukannya !Tapi kamu harus kuat..harus sembuh..biar bisa melihat anak-anak kita menikah kelak.." pinta Wirawan.


"Aku pasrahkan semua padamu,Wira.." kata Johan lemah.


"Iya Johan..jangan khawatir..serahkan urusan ini padaku..seperti selama ini kamu mengurusku dan keluargaku..kamu adalah saudaraku...melebihi saudara kandung..." kata Wirawan dengan suara tertahan air mata.


Johan hanya merespon dengan helaan nafas panjang dan memejamkan matanya pelan.


Dan..selang satu minggu kemudian..


Wirawan dapat kabar yang menyesakkan dadanya dari pihak rutan.Johan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit rutan.


Dadanya terasa remuk..orang yang mendukungnya saat dia terpuruk harus pergi untuk selamanya dan itupun karena menanggung kesalahan yang diperbuat oleh Wirawan.


Johan dimakamkan di pemakaman umum di daerah Jakarta Barat.


Tak ada keluarganya yang menghadiri pemakamannya.Karena mereka memang tidak mengetahui kalau anak dan ayah mereka kini telah meninggal dunia.


Hanya teman-temannya yang di area terminal dan Wirawan sekeluarga yang mengiringi kepergiannya ke pangkuan Ilahi Robbi.


Kebaikan hati Johan memang tak perlu diragukan atau dipertanyakan lagi..teman-temannya pun merasa kehilangan sekali...apalagi Wirawan sekeluarga.Bahkan putra pertama Wirawan,Devan, juga sangat dekat dengan Johan..


Beberapa bulan setelah kepergian Johan..


Wirawan dapat pinjaman dari bank..yang semula ingin dia gunakan untuk membayar pengacara..akhirnya ia gunakan untuk memulai bisnis kecil-kecilan berjualan sosis frozen...Wirawan bersama istrinya Mira,merintis usaha dari nol.


Seiring berjalannya waktu..


Papa dari Wirawan meminta agar ia beserta istri dan putra-putranya untuk kembali ke Jawa Timur, daerah asal mereka..karena dirasa kondisi sudah jauh kondusif....walaupun harus mengganti nama rumah sakitnya setelah terkena black list.Rumah sakit milik Papanya berubah nama menjadi Bhakti Wirawan.


Dan sesuai permintaan sang Papa..Wirawan dan keluarganya kembali ke Jawa Timur.


Disela-sela menjalankan usahanya...Wirawan pun tak lupa meluangkan waktu untuk mencari informasi tentang anak dan ibu Johan.


Karena setelah dia mendatangi alamat yang diberikan Johan sebelum dia meninggal..anak dan ibunya sudah tidak ada di alamat tersebut.


Informasi terakhir yang Wirawan dapat...mereka pindah ke daerah asal ayah Johan,namun sayangnya tidak ada yang tahu dimana daerah tersebut...


Hari ke hari..minggu demi minggu..tahun berganti tahun...Wirawan tetap berusaha mencari mereka..namun sedikitnya informasi,membuat pencarian kepada anak dan ibu Johan tak membuahkan hasil.


Ditambah lagi kesibukan Wirawan pun semakin padat..karena Papanya juga dipanggil sang pencipta karena penyakit tuanya..seiring berkembangnya usaha sosis frozennya yang merambah menjadi frozen food..Jadi dia harus bertanggung jawab mengelola manajemen rumah sakit sekaligus mengelola bisnisnya sendiri.


Hingga dia melupakan untuk janjinya kepada Johan..sampai pada akhirnya dia melihat sebuah bingkai foto di rumah Mbah Rasni..didalamnya ada foto Johan, istri dan anaknya yang masih bayi.


...****************...


Kembali ke tahun 2017....


Keesokan harinya di RS Bhakti Wirawan..


Para staff dan pegawai seluruhnya diminta berkumpul di aula utama rumah sakit.Guna menyambut Tuan Wirawan yang datang berkunjung hari ini.


Tak terkecuali para OB dan OG...termasuk Anindya.


Setelah beberapa saat menunggu..akhirnya Tuan Wirawan tiba di aula utama bersama istrinya dan juga Akmal putra mereka.


Mereka disambut oleh para ketua divisi dan manajer rumah sakit.


"Selamat datang ,Pak,Bu.." ucap mereka bergantian sambil berjabat tangan.


"Terimakasih.." kata Tuan Wirawan.


"Silahkan anda memberikan sepatah dua patah kata kepada kami semua disini.." kata manajer rumah sakit lagi.


Wirawan mengangguk dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum wrwb..selamat pagi semuanya.." sapa Tuan Wirawan


"Selamat pagi..." jawab semua yang ada di aula hingga terdenger seperti koor.


"Saya disini hanya ingin menyapa anda semua...dan berharap agar terus bisa bekerja sama bahu membahu memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat sekitar kita..bukan hanya memikirkan bisnis dan keuntungan semata..tentu itu semua perlu untuk kelangsungan kinerja rumah sakit kita..namun mari kita kedepankan bhakti kita pada masyarakat..terutama kalangan bawah.


"Nah..hal tersebut tidak akan terwujud tanpa bantuan dari anda semua.Semua kata - kata saya di atas tadi..juga saya tujukan sebagai nasihat dan wejangan kepada anak saya Akmal Wirawan...yang saya harapkan menjadi pengganti saya sebagai pengelola rumah sakit ini.Perkenalkan saudara - saudara..ini dia anak saya yang saat ini sedang menjalani masa koasnya dengan bekerja di divisi poli nutrisi dan gizi di rumah sakit ini.." kata Tuan Wirawan sembari mengarahkan pandangan ke Akmal.


Sementara Akmal hanya menunduk saja..


"Kritik dan saran yang membangun silahkan anda semua berikan kepada anak saya demi kesuksesan program koasnya dan untuk kinerja rumah sakit yang lebih baik lagi dari sekarang.."


sambung Tuan Wirawan.


Semua yang ada di aula merespon dengan mengangguk-anggukkan kepala dan saling berbisik dengan rekan di sampingnya..tentu saja tentang Akmal..ada yang belum tahu kalau Akmal adalah anak pemilik rumah sakit..ada yang membicarakan pesona ketampanan Akmal..dan lain-lain.


"Cukup sekian kunjungan saya kali ini..semoga kita bisa bersua di lain waktu..dan anda semua bisa kembali ke tempat dan tugas masing - masing..terimakasih Wassalamu'alaikum warohmatulloohi wabarokatuh..." tutup Tuan Wirawan.


"Wa'alaikum salam warohmatulloohi wabarokatuh.." jawab semua yang ada di aula hampir bersamaan.


Rika kelihatan mulai meringsak ke arah Akmal...ia mendekati laki-laki yang notabene adalah kekasihnya itu.Yang sekarang tengah bersama Papa dan Mamanya.


Gestur tubuhnya menginginkan agar Akmal mengenalkan dia kepada Tuan dan Nyonya Wirawan.


Akmal menyadari hal tersebut..dan dia masih ingat kejadian tadi malam...yang membuat Rika merajuk. ' Kalau gak aku turuti lagi..bisa - bisa dia tambah merajuk..' kata batin Akmal.


"Ma..Pa..kenalin..ini Rika..teman dekat Akmal.." kata Akmal memperkenalkan Rika yang saat ini sedang menggenggam jari tangan Akmal.


" He-em.." jawab Tuan Wirawan.Nyonya Wirawan juga tersenyum kecil. " Selamat pagi..Om .Tante..." sapa Rika sambil menyalami tangan keduanya.


Kemudian Akmal melepaskan genggaman Rika dengan lembut..


"Bentar yaa..aku mau ngantar Papa sama Mamaku keluar dulu..." kata Akmal setengah berbisik.Rika hanya mengangguk.


Akmal mempercepat langkahnya menyusul Papa dan Mamanya..yang berjalan ke lift khusus dokter dan staff menuju lantai dasar.


Akhirnya mereka bertiga masuk lift.


"Akmal,tolong kamu tunjukin anak dari Jo...ee maksud Papa..cucu dari Mbah Rasni.." kata Papanya.


"Dia masuk kesini karena rekomendasi seseorang ?" tanya Mama.


"Tidak Ma..lewat seleksi dan percobaan masa kerja.." jawab Akmal.


"Ya Pa...kemungkinan dia sudah mulai bekerja..gak tau juga sekarang posisinya dimana.." jawab Akmal.Kemudian mereka keluar lift.Dan dari kejauhan nampak sosok yang ingin dijumpai oleh Wirawan,yaitu Anindya."Pa..coba Papa arahkan pandangan ke arah jam 9.." kaya Akmal.


Wirawan dan Mira menurutinya."Perempuan yang sedang membawa alat pengepel lantai di sana itu..dialah cucu Mbah Rasni.." kata Akmal.


"Yang mana ?" tanya Wirawan,karena ada dua orang yang mengepel. "Yang di depan.." kata Akmal.


Wira dan Mira menghentikan langkahnya memandang Anindya dari kejauhan...gadis yang saat ini mengepel menunduk bersama seorang temannya...berpakaian OG..rambutnya ikal sebahu..dibiarkan terurai..parasnya polos dan cantik.


'Johan..aku menemukan anakmu..dia sudah tumbuh jadi gadis dewasa sekarang..' kata batin Wirawan.


Membuat Wira dan Mira tertegun terdiam beberapa saat..hingga Anindya dan Novi menyadari kalau mereka tengah diamati dari kejauhan oleh pemilik rumah sakit dan anaknya.Mereka sontak gugup dan hanya menundukkan kepala tanda menyapa dari kejauhan.Wirawan dan Mira pun membalas dengan anggukan kepala mereka."Udah ah Pa..dikira mereka kita lagi ngapain ngelihatin mereka dari sini..." kata Akmal.Papanya itu hanya diam tak merespon..sudut matanya berair.Mamanya lalu menyadarkannya..dan mengajak agar segera beranjak dari tempat itu.


Lalu mereka pun berjalan keluar geedung utama rumah sakit,menuju area parkiran.


"Eh..An..kamu tadi ngerasa nggak kalau kita dilihatin sama pemilik rumah sakit tadi ?" tanya Novi. ''Iya Nov.." jawab Anin singkat.


"Ada apa ya ? Emangnya kita ngelakuin kesalahan atau gimana ya ?" sambung Novi penasaran.


"Enggak..mungkin dia tanya ke anaknya,mana cucu Mbah Rasni, ART mereka dulu yang adalah Mbahku.." jawab Anin.


"Ouw gitu..iya kali yaa.." kata Novi.


Di area parkiran..."Kapan-kapan,Papa ingin berbicara langsung dengan cucu Mbah Marni,Akmal.." kata Wirawan.


"Iya Pa..terserah gimana maunya Papa.." kata Akmal.


"Yaudah..Mama dan Papa pulang dulu yaa.." pamit Mama.Lalu Akmal mencium tangan mereka kemudian membuka pintu belakang untuk Papa dan Mamanya.


"Iya Ma..hati-hati.." kata Akmal.Dan mobilpun dilajukan oleh supir ke jalan raya,meninggalkan Akmal yang dilihat oleh Wirawan dari spion mobil,,masuk ke gedung rumah sakit lagi.


"Cepat atau lambat..kita harus merealisasikan janji kita pada Johan, Ma.." kata Wirawan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Akmal menolaknya,Pa ? Papa tahu sendiri kalau dia sudah punya teman dekat tadi.." kata Mama.


"Ya gimana caranya supaya dia mau..kita harus memberi tahu Mbah Rasni juga.." kata Wirawan Wajah Mira istrinya itu,langsung mengguratkan kegusaran yang mendalam.


__ADS_2