
"Cukup,Tuan...!" seru Anindya sudah setengah marah.
Akmal pun menghentikan aktivitasnya seketika.
Anindya berlalu keluar kamar tanpa berkata sepatah katapun.
Meninggalkan Akmal di kamar manyun sendirian.
Anindya memutuskan untuk ikut bercengkrama bersama dengan Nyonya Mira dan Budhe Tini di ruang keluarga...sementara Tania sudah masuk kamar duluan.
"Kenapa turun lagi Anin ? Akmal udah tidur ?" tanya Nyonya Mira,mama mertuanya.
"Sudah,Ma...saya masih belum mengantuk..." alasan Akmal.
"Nanti Mas Akmal bangun nyariin Mbak Anin,lhoo..." goda Budhe Tini.
Anin hanya tersenyum simpul meresponnya.
Dia berbaur dan berbincang ringan sambil menonton tv...tapi tak dapat dipungkiri...pikirannya masih tertaut pada Akmal yang dia tinggalkan di kamar sendirian tadi..
'Apa dia marah aku tinggal kesini tadi ? Tak ada pesan atau telefon masuk darinya juga...' batin Anin sambil mengeluarkan ponsel dari saku baju tidurnya.
Hampir satu jam semenjak dia turun dari kamar tadi...tapi tetap saja hati dan pikirannya dihantui rasa bersalah karena mengabaikan Akmal yang notabene adalah suaminya...tapi dia juga tidak nyaman ada di dekatnya tadi....takutnya nantu terjadi sesuatu yang kebablasan dan tidak dia inginkan.
Karena di satu sisi dia belum siap...di sisi lain dia merasa pernikahan mereka saat ini sudah abu-abu...seperti yang Akmal bilang tempo hari.
Sesaat kemudian Nyonya Mira pamit masuk ke kamarnya...disusul Budhe Tini...tinggallag Anindya sendiri saat ini.
__ADS_1
Waktu memang menunjukkan sudah pukul 10 malam.
Pantas saja yang lain udah pada pamit masuk kamar.
"Gimana nich...aku masuk kamar nggak yaa...tapi masak aku diam di sini terus...sendirian pula..." monolog Anin.
Akhirnya kakinya dia langkahkan menaiki anak tangga.
Sesampinya di depan kamar...
"Semoga Tuan Dokter sudah tidur..." gumamnya lirih.
Lalu Anin membuka pintu kamar perlahan dan hati-hati sekali.
Pandangan netranya langsung mengarah ke arah ranjang tidur Akmal.
"Kosong ?" gumam Anin.
Dan ternyata Akmal tidur di sofa yang biasa dia tiduri.
"Astagaa...dia sedang merajuk atau gimana ? Kenapa tidur di sofa ?" monolog Anin mendekat ke arah Akmal.
Diamatinya dari dekat...wajah Akmal memang ganteng maksimal itu tampak terpejam.
'Maafin saya,Tuan Dokter....hati dan fikiran saya masih sulit untuk sinkron....' kata Anin dalam hati.
Sebenarnya Anin merasa kasihan melakukan penolakan dan menjauh dari Akmal...tapi apa mau dikata,pikirannya masih ragu dan secara otomatis membangun benteng kokoh membatasi diri dari laki-laki halalnya itu.
__ADS_1
Dia masih gamang mengambil keputusan...walaupun saat Akmal tertembak dia mulai menyadari kalau perasaannya pada Akmal belum berubah...tapi dia takut...lagi-lagi dia takut kecewa untuk kedua kalinya dalam pernikahan terpaksanya.
Perlakuan kasar Akmal dulu padanya....sedikit banyak mempengaruhi psikisnya...walaupun tidak sampai timbul trauma.
Akhirnya Anindya tidur di ranjang Akmal malam ini.
Setelah Anin mematikan lampu kamar dan mengganti ke mode redup...Akmal membuka matanya dan melihat ke arah Anindya sekarang.
Rupanya dari tadi dia belum tidur...hanya memejamkan mata saja.
Dia sengaja tidur di sofa agar Anindya saja yang tidur di ranjangnya...dia tidak mau mengulang kedzolimannya dulu pada istrinya itu...yang sengaja memintanya tidur di sofa supaya merasa tidak nyaman dan tidak betah di kamar bersamanya.
Rupanya sekarang keadaan berbalik 180 derajat....Akmal kini berharap perempuan halalnya itu betah dan nyaman ada di kamarnya.
*
*
Keesokan harinya...
Seperti biasa...Akmal dan Anin biasa bangun saat mendengar adzan shubuh.
Mereka hampir bersamaan bangun kali ini.
Akmal terlebih dahulu masuk ke kamar mandi...
Tak ada percakapan diantara keduanya.
__ADS_1
Anin memperhatikan sampai Akmal masuk kamar mandi...
'Apa dia marah ?' batin Anin berprasangka sendiri setelah kejadian kemarin malam.