
"Biar saya aja yang menemuinya...kamu kan capek,istirahat aja di kamar.." kata Akmal.
"Saya ingin menemui Dokter Barra sebentar,boleh ?" tanya Anin.
"Hahh ?" Akmal terperangah mendengar pertanyaan Anindya barusan.
Bukannya apa-apa...Akmal merasa dirinya dihargai dengan permintaan izin Anibdya kepadanya untuk menemui Dokter Barra.
"Kamu minta izin padaku ?" tanya Akmal.
"Iya...saya kan di sini hanya numpang tinggal...dan status saya masih istri Anda...sepatutnya saya minta izin,kan ?" kata Anindya.
"Duuh...memang Mbak Anin ini benar-benar istri sholehah..." kata Budhe Tini yang dari tadi masih di depan pintu kamar Akmal.
"Jadi gimana,Mas Akmal...diizinin nggak,nih ?" goda Budhe Tini.
Akmal sebenarnya ingin melarang...tapi karena Anin sudah mau minta izin kepadanya...jadi dia sedikit berbaik hati.
"Baiklah...kamu boleh menemuinya..tapi bersama denganku..." kata Akmal.
"Kami akan segera turun,Budhe..." kata Akmal.
"Baik...saya permisi kalau begitu.." pamit Budhe Tini.
Lalu Akmal mengganti sarungnya dengan celana chinos dengan tetap atasan hem lengan pendek...karena belum memungkinkan baginya untuk memakai kaos...mengingat luka di punggungnya.
Anindya sudah siap lebih dulu dengan hem lengan panjang dan celana kain polos warna pastel biru senada.
"Ayo..." ajak Akmal pada Anindya yang dari tadi duduk di sofa.
Sesampainya di ruang tamu..
Tampak Barra sedang berbincang dengan Tuan Wirawan.
Akmal dan Anindya menyapa mereka dengan senyum tipis mereka.
Barra membalas senyuman serupa...
Barra tampak perfect dengan setelan casualnya.
"Assalamu'alaikum.." ucap Akmal lalu menyalami Barra.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam..." jawab Barra.
"Ya sudah...kalian terusin ngobrolnya..says tinggal dulu..." pamit Tuan Wirawan.
"Iya,Pak.." kata Barra.
Akmal dan Anin merespon dengan anggukan dan senyum kecil.
"Gimana kabarmu,Anin ?" tanya Barra pada Anin yang ada di depannya terhalang meja.
Sementara Akmal duduk tepat di sebelah Anindya.
'Dasar somplak...yang habis dirawat di rumah sakit siapa...yang ditanya siapa...' kata Akmal dalam hati.
"Alhamdulillaah baik,Dokter..." jawab Anindya.
Sementara Akmal memandang Barra dengan pandangan siaga.
"Aku bawakan cemilan favorit kamu..." Barra menyodorkan kotak makanan ke depan Anindya.
"Martabak manis...rasa coklat keju..." sambung Barra.
'Idihh...sok banget nih dokter...' Akmal menggerutu dalam hati.
"Sama sekali tidak...aku senang bisa mengunjungi kamu...dari kemarin-kemarin aku telefon kamu tapi nomer kamu tidak aktif...aku lupa kalau hp kamu dibakar oleh Suster Rika dalam peristiwa tempo hari..." kata Barra.
"Iya,Dokter...saya belum sempat mengurus pengaktifan nomer saya lagi ke galeri..." jawab Anindya.
"Besok saya akan antar kamu..." Akmal menyahuti obrolan Barra dan Anin.
"Aku sih siap ngantar kamu...tapi aku tahu kamu pasti tidak mau kalau keluar berdua denganku..." kata Barra.
"Saya buatkan minuman dulu..." Anindya berdiri dari kursinya menuju dapur.
Tinggal Akmal dan Barra berdua.
"Ehemm..." Akmal berdehem.
"Anda tidak ingin tanya keadaan saya yang baru keluar dari RS, Dokter Barra ?" sindir Akmal.
"Kamu terlihat sangat baik dan bahagia sekarang...jadi aku tidak perlu tanya lagi.." kata Barra.
__ADS_1
"Okeyy...aku nggak akan sungkan lagi ngobrol pakai sebutan 'aku kamu'...sama sepertimu..." kata Akmal.
"Kamu sudah sangat sehat untuk memulai mengurus proses perceraianmu dengan Anindya..." kata Barra.
Akmal terperanjat mendengar perkataan Barra.
"Maaf...tapi itu tidak ada dalam planningku dalam waktu dekat ini...jistru aku ingin mengulang pengucapan ijab kobulku...agar status pernikahanku dengan Anindya tidak lagi abu-abu..." kata Akmal tegas.
"Agar tidak ada lagi keraguan dan paksaan dalam hubungan kami...aku akan meyakinkan Anindya untuk mengulang prosesi akad nikah kami..." sambungnya dengan mantap.
Barra yang memang berniat untuk menjadi kompor meledug berusaha bersikap sebiasa mungkin.
Sedangkan Anindya ada di belakangnya mendengar ucapan Akmal barusan.
Tapi dia pura-pura tak mendengar apa-apa.
Anindya berjalan menuju ke ruang tamu membawa dua cangkir minuman untuk Akmal.dan Barra.
"Silahkan diminum,Dokter..." kata Anindya.
"Terimakasih, Aein..." malah Akmal yang menjawab Anindya.
Animdya melotot mengkode agar tak gunakan panggilan itu di depan Barra.
Sedang Barra memandang ke arah Akmal.
"Aein ??" tanya Barra.
"Iya...panggilan sayangku pada Anindya adalah 'Aein'..." pamer Akmal.
"Oh iya ??" tanya Barra.
"Dan aku senang dan mulai terbiasa mendengar Anindya memanggilku 'Kakak' ketika kami hanya berdua saja..." sambung Barra.
Akmal kembali terperanjat mendengarnya.
Sementara Anindya mengernyitkan dahi sambil memejamkan mata dalam pada Barra...mengkode kenapa harus memberitahu Akmal soal itu.
"Astaghfirullooh...dua orang ini ngapain cobak...!!" monolog Anin lirih dengan kesal.
Akmal terlihat mulai terpancing amarahnya karena pernyataan Barra barusan.
__ADS_1
Sumbu pendek amarahnya rupanya mulai tersulut.