Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
TiTan 151


__ADS_3

Di kediaman Wirawan...


Tuan Wirawan dan Nyonya Mira berkeinginan untuk pergi ke Jakarta guna menemui Anindya dan Mbah Rasni secara langsung...setelah kemarin mereka sudah berhasil berbincang dengan Anindya dan Mbah Rasni lewat telepon untuk pertama kalinya setelah berpisah selama 4 tahun lamanya.


Lewat video caĺl...Tuan dan Nyonya Wirawan mengungkapkan kebahagiaannya bisa bertemu lagi dengan Anin dan Mbah Rasni...sekaligus memohon maaf atas segala masalah yang timbul 4 tahun lalu...tak lupa juga mengucapkan terimakasih karena sudi menolong Rafa.


Anin dan Mbah menyambut positif semua itu...tapi satu permintaan Tuan Wirawan yang enggan mereka kabulkan...yaitu untuk kembali ke kediaman Wirawan.


Sayangnya setelah percakapan lewat video kemarin...hari ini kesehatan Tuan Wirawan drop lagi...karena mengingat kembali kesalahan 4 tahun silam yang dilakukan Akmal kepada Anindya.


Akmal yang mendengar hal itu...tentu saja segera menèmui Papanya untuk tahu kondisinya secara langsung.


Seperti biasa...Tuan Wirawan selalu mengacuhkan anak bungsunya itu setiap kali bertemu.


Seperti kali ini...Akmal menemui Papanya yang tengah berbaring di ranjang kamarnya.


"Akmal kesini hanya ingin tahu kondisi Papa...Akmal berharap Papa segera sehat seperti sedia kala...dan...Akmal juga mau pamit pergi ke Jakarta...Akmal tidak akan kembali kalau Akmal tidak berhasil membawa Anindya dan Mbah Rasni pulang kesini...tolong do'akan Akmal,Pa..." pamit Akmal berdiri sembari mencium tangan Papanya yang Akmal ketahui saat ini sedang pura - pura tidur di ranjangnya.


*


*


*


Malam harinya...Di rumah Anindya...


"Rafa sudah tidur,Mbah ?" tanya Anin ketika melihat Mbah Rasni keluar dari kamarnya.


Sementara ia sekarang sedang santai membaca novel di handphonenya sambil berselonjor di sofa ruang tengah rumahnya.


"Sudah,Nduk..." jawab Mbah singkat lalu ikut duduk di sofa.


"Anak itu...katanya aja mau diam di rumah sama Mbah...gak akan ganggu Anin...kenyataannya adaa aja acaranya ngajak Anin keluar selama tiga hari disini..." Anin terkekeh kecil.


Mbah Rasni ikut tertawa kecil.


"Bocah itu ndak mau pulang,Nduk...dia bersedia pulang kalau Omnya yang jemput atau kita yang antar dia pulang ke Jawa Timur..." kata Mbah.


"Lah itu...kok bisa - bisanya tuh bocil kepikiran seperti itu...' kata Anin sambil geleng - geleng kepala.


"Waktu video call kemarin...Papanya bilang saat ini memang sedang sibuk di perusahaan...Mamanya sih mau jemput kesini...Rafanya seng emoh..." kata Mbah Rasni.


"Biarin disini aja kenapa ? Toh Rafa nyaman kayaknya disini..." kata Anin sementara netranya tak lepas dari layar handphonnya.


"Kamu itu,Nduk...ya kasihan YangTi sama Yang Kungnya....kesepian kalau gak ada Rafa.." kata Mbah Rasni.


"Terus Omnya gimana ?" tanya Anin dengan mode jaim.


 "Omnya juga saat ini masih sibuk...katanya ada audit barengan ada investor datang di rumah sakit...mungkin setelah semua acara selesai baru kesini jemput dia..." penjelasan Mbah Rasni.


"Hmm...moga aja pas Rafa dijemput,Anin gak di rumah,Mbah...biar Anin gak perlu ketemu dokter reseh itu...males beuh..." kata Anin.


"Nduk...Mbah mau tanya kamu...jawab yang jujur..." kata Mbah Rasni mulai mode serius sambil memegang kaki Anin yang diselonjorkan di sofa.


"Nopo,Mbah ?" Anin pun mematikan layar hpnya lalu memandang Mbah Rasni.


"Kamu sebenarnya masih ada rasa opo ora karo Nak Akmal ?" tanya Mbah hati- hati sekali.


"Koq itu lagi sih pertanyaannya,Mbah..." Anin memutar bola matanya...karena jengah dengan pertanyaan Mbah Rasni yang diulang lagi-diulang lagi.


"Mbah itu mulai kuatir lho,Nduk...usia kamu udah mateng, tapi kamu selalu nolak setiap ada pria yang mendekati kamu...kapan kamu siap berumah tangga lagi ? Keburu Mbah meninggal duluan,Nduk..." protes Mbah Rasni.


"Mbah itu ngomong apa sih..lagian siapa bilang Anin selalu nolak kalau didekati pria...buktinya nihh...Pussy kan pria,Anin gak nolak didekati Pussy..." kata Anin mencoba mengalihkan pembicaraan saat Pussy naik ke pangkuannya.


"Kamu itu malah guyon,Nduk...Mbah iki serius...kalau Nak Akmal ngajak balikan,kira-kira kamu mau opo ora ? Mbah kenal Nak Akmal sedari kecil,dia berkepribadian baik,pintar dan mandiri...tapi sayang...dia salah paham tentang perjodohan yang orang tuanya atur sendiri...kalau dipikir - pikir....Nak Akmal itu juga korban seperti kamu lho,Nduk...ujug ujug Tuan Wirawan nyuruh dia nikahin kamu waktu itu...tanpa tahu alasan yang jelas...sementara dia udah punya pacar yang hubungannya sudah 4 tahun lamanya....dan soal pengusiran kamu...itu karena dia lihat kamu dan Nak Barra masuk kamar hotel...padahal Nduk...sebelum itu,pas Mbah masih koma...dia bercerita banyak tentang kamu...katanya dia udah jatuh cinta sama kamu dan rencananya ingin mengulangi ijab qobulnya dan memulai pernikahan yang didasari rasa cinta bukan karena perjodohan paksa...." panjang lebar Mbah Rasni.


"Koq Mbah gak pernah cerita ke Anin soal itu semua ?" protes Anin.


"Lha wong kamu anti banget sama semua yang berhubungan dengan keluarga Wirawan...jangankan mau cerita...Mbah nyebut nama aja kamu udah uring-uringan karena efek trauma kamu selama ini..." sambung Mbah Rasni.


"Tapi sekarang sama Gusti Alloh kalian dikersakne ketemu lagi....mungkin dia memang jodoh kamu,Nduk...lagian kan...Nak Akmal yang...eè...anu..." Mbah Rasni mendadak gak jelas bicaranya.


"Anu apa Mbah ?" Anin gak paham maksud Mbah Rasni.


"Eemm...kan Nak Akmal yang udah anu kamu...mrawani (mengambil keperawanan kamu)..." Mbah Rasni malu-malu.


"Haahh ? Astaghfirullooh Mbaah...wkwkakk..." Anin tergelak mendengar penuturan Mbah Rasni.


"Mbaah...." Anin lalu memutar badannya dan membenamkan wajahnya di pangkuan Mbah Rasni...di perutnya tepatnya...ndusel kayak Pussy.


"Rupanya kita selama ini miss komunikasi...Mbah sibuk menjaga perasaan Anin...sedang Anin sibuk membuktikan kalau Anin bisa sukses walau tanpa bantuan keluarga Wirawan..." kata Anin.

__ADS_1


"Emm...asal Mbah tau aja....walaupun status cucu Mbah ini janda...tapi sampai sekarang Anin ini masih perawan ting ting..." Anin masih ndusel dan malu-malu mengungkapkan kebenaran pada Mbah Rasni.


"Hah ? Tenanan Nduk ? Koq bisa ?" nada tanya Mbah naik satu oktaf.


"Kok betah Nak Akmal gak minta jatahnya ke kamu....?" pertanyaan polos Mbah.


"Bukannya betah....sempat minta tapi Anin yang gak mau....karena Anin merasa hubungan pernikahan kami abu-abu,Mbah...makanya dia dulu sempat ingin mengulang prosesi pengucapan ijab qabul kami...tapi keburu Anin diusir..." cerita Anin.


"Oalaa Nduuk...baru tahu Mbah sekarang..." kata Mbah.


"Ahh udah ah,Mbah...jadi ngomong ngalor ngidul gini...itu semua masa lalu Anin...yang penting sekarang Anin udah jadi staff tetap di tempat Anin kerja dan barusan dapat bonus cash...besok kita pergi jalan-jalan,belanja,sekalian ngajak Rafa ke wahana renang juga....dia dari kemarin merengek minta renang,Mbah..." kata Anin sambil memeluk pinggang Mbah Rasni.


"Alhamdulillaah...iya Nduk..." Mbah Rasni mengusap sayang kepala cucu semata wayangnya itu.


Tapi tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu dari luar....


Budhe ART di rumah Anin keluar membukakan pintu...


Sejenak kemudian masuk lagi menemui Anin dan Mbah Rasni.


"Non...security bilang katanya ada tamu nyariin Non Anin..." kata Budhe.


"Siapa ? Anin gak ada janji sama siapapun hari ini..." kata Anin.


"Coba suruh masuk dulu, Budhe...Anin mau ganti baju..." sambung Anin lalu bergegas naik ke lantai atas...karena saat ini Anin tak pakai jilbab...kebiasaannya kalau di dalam rumah memang seperti itu...kan cuma ada Mbah dan Budhe.


Tak lama kemudian Anin turun dengan memakai jilbab dan mengganti daster yang tadi dia pakai dengan overall dan auter panjang...memberi kesan santai tapi tetap sopan dan terlihat cantik.


Dan alangkah kagetnya dia saat tahu siapa yang menunggunya di ruang tamu..


"Kamu lagi ? Udah aku bilang gak usah datang kesini lagi,kan ?" kata Anib dengan nada marahnya.


Mbah Rasni sampai menyusulnya ke ruang tamu.


"Nak Akmal ?" sekarang Mbah tahu penyebab kemarahan Anin.


"Maaf kalau saya mengganggu malam-malam begini..." basa basi Akmal...padahal emang disengaja datang malam hari begini.


Lalu mendekat ke arah Mbah Rasni dan mencium ta'dzim tangan Mbah.


"Udah tahu mengganggu...!" ketus Anin...tapi Akmal sangat menikmati keketusan Anin.


Dia memandang sekilas ke arah Anin yang berdiri sambil bersedekap


"Tau nihh...mbok ya mikir dikit...masak gak tau jam tidur Rafa..." kata Anin ketus.


"Maaf...saya memang tidak tahu...saya sudah lama tidak serumah dengan Rafa..." penjelasan Akmal.


"Besok aja,Nak Akmal...kasihan Rafa kalau harus dibangunin.." kata Mbah.


"Baik,Mbah..." jawab Akmal lalu balik badan ke arah sofa...menyingsingkan lengan jaketnya dan bersiap duduk di sofa.


"Terus ngapain lagi Anda di situ ?" tanya Anin dingin.


"Eee...nunggu diambilin minum..." jawab Akmal enteng sambil menyandarkan punggungnya di sofa.


Dia beneran lelah dan haus setelah perjalanan jauhnya.


"Jangan harap ada yang ambilin mi...' kalimat Anin tak berlanjut karena Budhe melewatinya dengan secangkir minuman di nampan.


"Budhe ?" Anin speechless.


"Ini,Den...teh tawar hangat permintaan Aden tadi..." Budhe menaruh minuman di meja tepat di depan Akmal.


"Makasih Budhe...kenalkan nama saya Akmal..." kata Akmal.


"Iya Den Akmal...gimana tehnya gak kepanasan,kan ?" tanya Budhe.


"Budhe..." panggil Anin dengan menggertakkan gigi depannya.


"Budhe cuma berusaha menghormati tamunya Non Anin aja...kasihan...udah gitu ganteng pisan euyy..." kata Budhe lalu berlalu ke dalam sambil menutup mulutnya dengan nampan.


"Ini sihh tamu tak diundang..." kata Anin memutar bola matanya malas.


"Okeyy...cepat habiskan minumannya lalu silahkan pulang...datang lagi besok sore...soalnya besok saya mau ajak Rafa jalan-jalan debelum dia pulang..." kata Anin.


"Pulang kemana ? Ke hotel dari sini kan jauh...izinkan saya bermalam disini hari ini,Anin...saya capek sekali..." pinta Akmal terus terang.


"Masa bodo'...itu derita kamu..." ucap Anin tanpa perasaan iba sedikitpun.


"Anin...apa ini tidak keterlaluan ? Biarkan Nak Akmal bermalam di sini...dia pasti kecapekan butuh istirahat..." Mbah Rasni bicara pelan dan hati-hati pada Anin.

__ADS_1


"Keterlaluan Mbah bilang ? Mbah....Anin pernah diperlakukan lebih kejam dari ini oleh seseorang....Anin ditinggal sendirian di suatu tempat asing....sementara orang itu asyik pacaran..." Anin menyindir kelakuan Akmal dulu padanya.


Akmal seperti diingatkan akan dosanya di masa lampau pada Anindya. Raut wajah Akmal yang tadinya tampak enjoy dengan keketusan Anin...kini tampak penuh penyesalan.


Seketika dia bangkit dari sofa....lalu berpamitan mencium tangan Mbah Rasni.


"Maafkan Aku,Anin....ini nomer teleponku...kamu bisa hubungi aku kalau-kalau Rafa butuh sesuatu..." Akmal meletakkan kartu nama di meja lalu keluar dari pintu utama rumah Anin dengan menyeret koper yang dari tadi dia letakkan di depan pintu.


Sementara Anin langsung berlalu ke lantai atas menuju kamarnya.


*


*


*


*


Keesokan harinya....


Anindya sudah bersiap mau berangkat ke tempatnya kerja....dia sudah tampil rapi dengan one set celana kulot lebar dan kemeja lengan panjang senada...serta jilbab segi empat bercorak coklat....dengan riasan flawlessnya dia terlihat simple dan elegan.


Dia berjalan menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh security rumahnya.


Tapi sebelum masuk mobilnya...netranya dikagetkan oleh seseorang yang ada di dekat pintu gerbangnya...beberapa meter dari pos security.


Orang itu dalam posisi duduk sambil menahan kepala dengan kedua tangannya yang memegangi koper.


"Jadi sejak semalam dia disitu,Pak ? Kenapa gak diusir ?" tanya Anin pada security.


"Kan saya gak dapat perintah mengusir dari Non Anin....malah saya kira itu kenalan Non Anin...jadi saya tawarkan tidur di pos security...tapi dianya gak mau...katanya anggap.aja ini hukuman yang gak seberapa dibanding dengan kelakuan kejamnya pada seseorang dulu..." penjelasan Pak Security.


"Ya sudah...bangunin dia Pak...saya mau berangkat kerja..." perintah Anin lalu menaiki mobilnya dan melajukannya di jalan raya.


Sedangkan Akmal....karena dia kecapekan semalam ..dia sampai harus dibangunkan security rumah Anin...dan beberapa saat kemudian dia menaiki taxi online yang dipesannya menuju hotel.


Siang harinya...Anin izin pulang karena dia sudah janji akan mengajak Mbah Rasni dan Rafa jalan-jalan.


Jadilah mereka bertiga menghabiskan waktu hingga sore hari dengan mengunjungi mall dan wahana berenang sesuai permintaan Rafa.


Sore hari setelah sampai rumah...


"Gimana Rafa ? Kamu senang hari ini ?" tanya Anin pada Rafa saat duduk di meja makan berriga bersama Mbah.


"Hatching...!" Rafa bersin dan itu sampai beberapa kali.


"Senang banget,Tante...sayangnya tadi Tante Anin gak ikut ke kolam renang...terus tadi kurang lama Raka berenangnya..." ujar Rafa.


"Idihh...kurang lama kok sampai bersin- bersin...itu berarti kelamaan kamu di kolam renang....' kata Anin.


"Iya Rafa....kamu kelamaan di kolam renang...mana main perosotan sama diguyur dari tong besar yang di atas berulang kali...jadi bersin-bersin deh..." kata Mbah.


"Setelah makan...ayo kita istirahat Le...sambil nunggu Om Akmal datang menjemput kamu..." sambung Mbah.


"Tapi Rafa masih pengen disini..." rengek Rafa.


"Kapan-kapan lagi yaa nginep disini....hari ini Rafa pulang dulu sama Om Akmal...oke ?" bujuk Anindya.


Lalu Rafa dan Mbah menuju ke dalam kamar untuk istirahat.


Tapi beberapa jam kemudian...


" Nduk..." Mbah Rasni mengetuk pintu kamar Anin di lantai atas.


Beberapa saat kemudian Anin keluat.


"Ada apa,Mbah...?" tanya Anin.


"Rafa,Nduk....dia..." kalimat Mbah Rasni terputus dan raut wajahnya panik.


"Kenapa Rafa ? Dia gak mau dijemput Omnya ?" tebak Anin.


"Bukan....Rafa badannya panas,Nduk..." kata Mbah Rasni.


"Waduch ini pasti karena keasyikan di kolam renang tadi...mari kita lihat dia,Mbah..." Anin menutup pintu kamarnya lalu bergegas menuruni tangga bersama Mbah.


Saat tiba di dalam kamar Mbah...


"Badannya panas bangetMbah...38 derajat celcius.." kata Anin sstelah memeriksa dengan termometer.


"Rafa...ayo bangun minum obat dulu sayang..." Anin menopang tubuh Rafa lalu meminumkan obat syrup penurun demam khusus anak.

__ADS_1


"Gimana ini,Nduk....sebaiknya kamu segera memberi tahu Nak Akmal kondisi Rafa sekarang....Mbah takut terjadi apa-apa sama Rafa..." kata Mbah Rasni panik.


__ADS_2