Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Dokter setengah jadi


__ADS_3

Di saat yang sama di dalam rumah Anindya.


"Assalamu'alaikum.." ucap salam Akmal ketika masuk ke rumah bersama Rafa. "Mbah..." seru Rafa.Mbah keluar dari kamarnya dan melihat siapa yang uluk salam dan memanggilnya. ''Wa'alaikumsalam warohmah...eeh...ada tamu agung...Ya Alloh arek ngganteng..Mbah kangen bangeet.." seru Mbah melihat Rafa.Rafa langsung berhambur memeluk wanita paruh baya yang memakai daster batik lengan panjang itu. ''Mbah...kenapa Mbah gak ke rumah Rafa kalau kangen..Rafa nungguin Mbah datang tapi Mbah nggak datang-datang..''celoteh Rafa.


'' Mosok Rafa nungguin Mbah ?" tanya Mbah menggoda. ''He-em...kan biasanya Rafa makan sama Mbah...mandi juga sama Mbah..bobok siang juga" jawab Rafa belum melepas pelukannya dari Mbah. "Rafa kan sudah gedhe..sudah pinter..harus bisa maem sendiri..harus bisa mandi sendiri...kalau bobok kan bisa ditemenin Mama atau Papa.."kata Mbah sambil mengelus kepala bocah itu.Akmal hanya melihat dari kursi ruang tamu. "Ini rumah Mbah ?" tanya Rafa polos. ''Iya.." jawab Mbah Rasni. ''Mbah kalau tidur dimana ?'' tanya Rafa lagi. "Disinii.." kata Mbah Rasni menunjuk kamar di belakangnya. ''Rafa mau lihat.." kata Rafa sambil berlari menuju ke dalam kamar seperti ingin tahu kamar temannya saja.Akmal menggeleng sambil tersenyum tipis. ''Dasar bocah..Omnya malah ditinggal sendirian.." gumamnya pelan.Akmal memainkan hpnya..sesekali matanya memindai sekeliling ruang tamu rumah Mbah Rasni..dan telinganya pun menangkap suara percakapan dua orang yang ada di teras,yang memang hanya terhalang tembok di belakang dia duduk saat ini..ditambah lagi posisinya duduk juga dekat pintu masuk..jadi gelombang suara leluasa masuk ke lubang telinganya.Dia mendengar sejak Anin minta maaf hingga Barra mengajukan syarat jika Anin ingin dimaafkan,yaitu Anin diminta mau memakai hp yang dipinjamkan oleh Barra.


"Maaf Dokter..saya menghargai maksud baik Anda..tapi tetap saya tidak bisa..jangan membuat saya semakin berhutang budi pada Anda.." kata Anin.


"Hhh...baiklah kalau itu keputusanmu..aku bisa apa.." kata Barra. "Kalau kamu butuh bantuanku..kamu jangan sungkan bilang..aku tidak pernah merasa kamu berhutang budi padaku.." sambungnya. "Iya terimakasih banyak Dokter.." jawab Anin.


''Jadi dia laki-laki yang kulihat bersama Anin di kafe depan rumah sakit siang tadi..rupanya dia seorang dokter..' kata Akmal dalam hati. 'Apa dia pacanya Anin ?' lanjut suaranya dalam hati. 'Ah ngapain aku kepo ?' batin Akmal lagi menepis segala rasa yang berkecamuk di dadanya...entah apa nama rasa itu..belum jelas rasanya...tapi yang jelas, rasa yang tak biasa Akmal rasakan.Ribet kan ??


"Pelan-pelan Le(sebutan untuk anak laki-laki di jawa timur)..." seru Mbah Rasni yang ditarik tangannya sama Rafa.Sontak Akmal terbangun dari kursi tempat ia duduk.."Lho lho lho..mau kemana Rafa..? Mbah jangan ditarik gitu..!!" serunya mengikuti langkah Mbah dan Rafa.


'' Mau lihat Pussy...'' jawab Rafa sambil berlalu ke teras.Di teras Anin dan Barra kompak berdiri begitu Mbah dan Rafa datang.Rafa langsung asyik bermain dengan Pussy."Lho ada tamu kok ndak dipinarakno nang njero omah(diajak ke dalam rumah) to Nduuk ?" kata Mbah melihat Barra.Lalu Barra mengulurkan tangan ke Mbah.."Sek sek..kayak pernah ketemu aku..oh iyo ! yo iki Nduk yang datang ngabari Mbah kalau kamu harus lembur.." kata Mbah mengingat Barra tempo hari datang."Enggeh Mbah.." jawab Anin. "Temanmu to Nduk ?" tanya Barra. "Ini Dokter Barra,Mbah..yang ngantar Anin pulang saat ada konvoi di depan toko Anin kerja dulu..dan Dokter Barra juga yang memberi informasi ada lowongan kerja di rumah sakit Bhakti Wirawan.." penjelasan Anin kepada Mbah..yang tentu saja ikut didengar secara tidak langsung oleh Akmal. 'Jadi itu yang dimaksud hutang balas budi tadi..' kata Akmal dalam hati. " Jadi seperti itu ceritanya..terimakasih ya Nak Dokter..sudah nolongin cucu Mbah ini.." kata Mbah sambil mengelus bahu cucunya. " Alhamdulillah Anindya dikelilingi orang-orang baik seperti Nak Dokter dan Nak Akmal.." sambungnya.Barra spontan memandang Akmal. "Hai..kenalin aku Barra.." kata Barra menyodorkan tangan mengajak kenalan Akmal. "Akmal.."kata Akmal singkat. "Aku udah dengar cerita kalau kamu anak pemilik RS Bhakti Wirawan.."sambung Barra. "He-em..'' jawab Akmal singkat dan tersenyum tipis. ''Calon dokter juga ?'' tanya Barra. ''Masih koas..'' jawab Akmal. ''Eee..Mbah..saya sekalian mau pamit dulu.." kata Barra. "Lho kok udah pamit aja..belum masuk rumah juga.." kata Mbah. ''InsyaAlloh lain kali saya akan masuk Mbah.." kata Barra yang bernada ambigu.Dan hal itu hanya Akmal yang menyadarinya sebagai sesama laki-laki. "Mari semua.Assalamu'alaikum.." salam Barra. ''Wa'alaikumsalam warohmah..'' jawab semua yang ada di teras..kecuali Rafa yang sedang asyik sama Pussy.Barra pun mengendarai sepedamotor sportnya menuju jalan raya dan menghilang di keramaian. " Kak..Pussy boleh aku bawa pulang ya ?" tanya Rafa polos pada Anin. ''Emm..gimana yaa ? Pussy itu udah nyaman di sini sama Kakak..kalau Pussy dipindah nanti Pussynya nangis dong.." bujuk Anin ke Rafa.Rafa tampak kecewa. ''Gini aja..Rafa minta antar Papa ke toko hewan peliharaan untuk beli kucing yang lebih bagus dari Pussy..banyak kok," sambung Anin. ''Jangan dong Rafa..nanti siapa yang ngurus ?" Akmal spontan menjawab. " Lagian Om juga gak suka melihara kucing dalam rumah..suka pup dan pipis sembarangan.."sambung Akmal.Anindya langsung sewot mendengarnya. "Ya namanya juga hewan ya kaan..asal kita rajin-rajin bersihin rumah gak ada masalah..atau di taruh di kandang kan bisa.." kata Anin jutek. "Dilatih pup dan pipis di luar rumah kalau si Pussy ini Nak Akmal.." Mbah Rasni ikut menambahi sambil tersenyum geli dengan tetap asyik menemani Rafa bermain bersama Pussy.Sembari mengikuti bocah itu yang masuk ke dalam rumah. ''Pokoknya saya nggak suka ada kucing dalam rumah..gak higienis.." kata Akmal lagi. ''Iya Tuan higienis..sekalian makan sabun aja, biar selalu higienis.."kata Anin sewot.Akmal memandang kesal ke Anin sambil memonyongkan mulutnya. "Susah ngomong sama bagian nulis-nulis..udah kerjaannya nulis-nulis,suka pacaran di kafe pula.." ledek Akmal pelan pada Anin, agar tidak sampai terdengar Mbah. "Idih ada yang kepo..sok tahu pula.." gumam Anin pelan agar Mbah tidak dengar juga. "Emang belum puas pacaran di kafe ? dilanjutin di rumah juga ngerayu dokter muda ?" kata Akmal lagi tapi tetap pelan. ''Anda kan sarjana kedokteran..seharusnya pintar dong..masak enggak...kira-kira kalau saya yang ngerayu, masak dia yang datang ke rumah saya..coba dipikir Tuan Dokter reseh !" Anin masih sewot.


"Yaa mungkin aja dia udah kemakan rayuanmu...jadi nyamperin ke rumah kamu.." ledek Akmal. ''Hiihh..susah emang ngomong sama dokter setengah jadi..." kata Anin geram.


"Apa kamu bilang ? Dokter setengah jadi ?" kata Akmal geram. ''Iya..walaupun saya OG..target rayuan saya jelas dong ! Saya milih yang asli dokter...dok-ter-be-dah...bukan macam Anda dokter setengah putaran jalan.." ledek Anin. ''Dasar dia aja dokter bego..kemakan rayuan kamu..kalau aku sih ogah...sorry aja...kamu bukan level dan tipeku.." ledek Akmal ganti." Iihh..ngomong tuh jangan jumawa..saya sumpahin Anda ngemis-ngemis cinta dari OG beneran baru tau rasa.." kata Anin menakut-nakuti Akmal. ''Gak ba-ka-lan !'' tegas Akmal. "Ingatt ! Jika Alloh berkehendak..Kun Fayakun.." lanjut Anindya lalu berlalu ke dalam rumah meninggalkan Akmal.Mereka berdua kesal satu sama lain.Kemudian Akmal juga masuk rumah Mbah Rasni." Rafa..ayo pamitan sama Mbah..kita pulang dulu..udah malam ini.." perintah Akmal pada Rafa. '' Iya Om..tapi janji Om akan ngajak Rafa kesini lagi lain hari. " kata Rafa. ''Iya Om janji..'' jawab Akmal asal.Yang penting Rafa mau pulang karena hari sudah malam. ''Seng pinter yo Le..nurut sama Mama,Papa,Yangti,Yangkung dan Om.." nasihat Mbah pada Rafa. ''Nggeh Mbah..kapan Mbah ke rumah Rafa ?" tanya Rafa sambil mencium tangan Mbah. "Kapan-kapan Mbah insyaAlloh akan kesana.." kata Mbah sambil mencium kening bocah itu.Akmal hanya melirik Anin yang dari tadi fokus ke Rafa. "Kak..Rafa pamit pulang dulu yaa.." kata Rafa. ''Iya sayang..ati-ati di jalan.."kata Anin sambil mengacak pelan rambut depan Rafa.Anin sekilas melihat Akmal yang ganti berpamitan pada Mbah Rasni dan mencium tangannya. "Mbah..saya kangen telur balado dan sambal teri buatan Mbah," kata Akmal kemudian. "Iya Nak Akmal siap..akan Mbah buatin.. InsyaAlloh Mbah titipin ke Anin.." kata Mbah. "Gak usah Mbah..nanti ngrepotin Anin..kalau Akmal kesini aja.." jawab Akmal. "Ndak ngrepoti.." jawab Mbah.Akmal dan Anindya saling bersitatap dengan tatapan sewot.Lalu Akmal dan Rafa keluar menuju mobil.


"Mbah..kayaknya Anin memang butuh beli hp deh sekarang ini..buat kepentingan informasi di kerjaan Anin.." kata Anin kepada Mbah setelah Akmal dan Rafa pulang


"Iya Nduuk..kamu beli aja..Mbah masih ada uang pesangon Mbah tempo hari.."kata Mbah.


"Kalau Anin udah gajian nanti Anin gantiin uang Mbah.."kata Anin.


"Yuk Pussy..Mbah Anin ke kamar dulu nggee..mau sholat terus tidur.." pamit Anin sambil menggiring Pussy ke kamar.


''Iya ..kamu istirahat,biar fresh..besok kan harus kerja lagi.." jawab Mbah.Lalu Mbah menutup pintu depan rumah mereka.


...----------------...


Keesokan hari di Rumah Sakit Bhakti Wirawan.Sesuai permintaan Novi kemarin..Anin izin ke Bu Arum untuk menggantikan tugas harian Novi hari ini..tentu saja setelah selesai dia melakukan tugas harian dia lebih dulu.


Dan Bu Arum menyetujuinya.Anin bergegas menuju divisi poli nutrisi dan gizi untuk menyiapkan proyektor dan mengeprint materi rapat.Anin dibantu sekretaris medis divisi poli nutrisi dan gizi.

__ADS_1


"Selamat siang Pak..saya mau menggantikan Novi disini..karena dia ada kepentingan keluarga.,'' sapa Anin


Sekretaris medis divisi polo nutrisi dan gizi ternyata laki-laki yang bernama Wisnu.Sosok laki-laki muda yang terlihat humble dan berlesung pipi saat tersenyum.


Dia rupanya tengah sibuk mengetik materi rapat hari ini..karena beberapa hal masih belum selesai diketik.Padahal rapat akan dimulai 1 jam lagi.


"Iya..tolong dibantu menyiapkan proyektor ya..maaf boleh tahu siapa nama kamu ?" tanya Wisnu.


"Anindya Pak.."jawab Anin.


"Oh iya..saya Wisnu.." jawab Wisnu sambil terus mengetik karena dikejar waktu.


Lalu Anin menyiapkan LCD proyektor lalu menata kursi rapat dan menyiapkan minuman di meja rapat..


Tiba-tiba ada seorang perawat datang menemui sekretaris medis.." Pak, tolong disiapin rekam medis pasien di kamar no 215 ruangan Bougenville.Dokter yang menangani akan mengumpulkan keluarganya hari ini untuk menjelaskan kondisi pasien.."


"Iya Suster..setelah saya selesai mengetik materi rapat ya.." jawab Wisnu.


"Waduh..Dokter mintanya sekarang tuh Pak..udah ditunggu," keluh perawat.


"Ya kan masih harus mencari dulu..baru di ketik lalu di print,Sus.."


"Ya belum doong..kan belum ada pemberitahuan sebelumnya.." kata Wisnu masih tetap sambil mengetik.Sementara Anin hanya bisa mendengar dan memperhatikan sambil menyapu ruangan rapat.


"Terus gimana ini solusinya ?" perawat itu mulai gundah. "Ini saya juga sibuk ngetik materi rapat..soalnya kerjaan saya kemarin numpuk..jadi belum beres," kata Wisnu.


"Maaf..ada yang bisa saya bantu ?" tanya Anindya pada Wisnu. "Eemm...apa kamu bisa mengoperasikan laptop ?'' tanya Wisnu ragu-ragu. "Kalau Anda perkenankan akan saya coba,Pak.." jawab Anin. "Emang kamu bisa beneran ? tanya perawat tadi. "Saya di SMA diajarkan pelajaran komputer..kalau saya sendiri di rumah tidak punya laptop.." jawab Anin.


"Bapak yakin menyerahkan pekerjaan mengetik kepada OG ini,Pak ?" tanya perawat masih ragu.


"Saya takutnya pekerjaan bukannya beres..malah amburadul.." kata perawat lagi.


Anin hanya diam dan menelan ludah..dia sadar posisinya sekarang sebagai apa..makanya kemampuannya di luar pekerjaan intinya pastj diragukan.


"Anin..saya percaya pada kamu..saya minta bantuanmu..jad tolongi jangan kecewakan saya.." kata Wisnu. ''InsyaAlloh saya akan berusaha semampu saya dan sebaik mungkin, Pak.."" kata Anin.

__ADS_1


"Yaudah Pak..saya tinggal dulu..saya tunggu segera panggil saya,kalau rekam medisnya sudah selesai.." kata perawat tadi sambil berbalik badan dan hanya medapat respon anggukan dari Wisnu.


"Ok Anin..kita mulai tugas ini..kamu mengetik materi rapat hari ini srdangkan saya akan merekap rekam medis pasien..'' kata Wisnu.


"Saat mengetik..saya harap kamu perhatikan tata letak tulisan...supaya maksud dan tujuan materi di dalamnya tersampaikan.." sambung Wisniu.Anin hanya menyimak penjelasannya.


"Kamu buat ketikan sekiranya yang membaca itu tidak bingung dan mengerti format dan isi materi tersebut," kata Wisnu lagi.


"Tolong jangan membuat kesalahan ya Nin..saya percaya pada kamu tanpa tahu kemampuan kamu sebelumnya.." Wisnu mewanti-wanti Anin.Lalu dia menyerahkan materi rapatnya dan mempersilahkan Anin duduk di depan laptop di sebelah Wisnu yang juga akan mengetik rekam medis.


"Bismillaahirrohmaanirrohiim.." ucap Anin memulai pekerjaannya.Lalu Anin mulai menghidupkan layar laptop dan memulai mengetik.Tangannya dengan gesit menekan tombol-tombol huruf yang ada di keyboard laptop.Walaupun tangannya itu sedikit gemetar karena harus mengemban tugas tak biasa di dalam profesinya sebagai OG.


Setengah jam berlalu belum nampak Anin menyelesaikan pekerjaannya.Wisnu juga masih sibuk di depan laptopnya sendiri.Keduanya tampak memasang wajah tegang saat ini karena dikejar waktu.


Waktu terus berjalan hingga menyisakan 15 menit lagi sebelum jadwal rapat dimulai


''Alhamdulillaah..sudah selesai,Pak.."seru Anin.


"Bagus Anin..segera print sebanyak 15 lembar untuk masing-masing halaman.."perintah Wisnu masih tetap di depan laptop.


"Tolong diperiksa dulu..barangkali ada kesalahan,Pak..." kata Anin. ''Gak keburu Nin..waktu kita sudah mepet banget.." kata Wisnu.


'Ya Alloh..semoga tidak ada kesalahan dalam materi rapat hasil ketikan saya..' kata Anin dalam hati sambil,menuju alat printer di belakang posisi dia duduk saat ini.


"Selesai !" seru Anin setelah mengeprint semua..kemudian dia taruh tersebar di meja rapat..di depan masing-masing kursi rapat.


"Sip ! Aku juga udah selesai Nin..kamu kembali ke dapur untuk menyiapkan kudapan.." kata Wisnu.


Seiring dengan itu..para anggota rapat mulai masuk ruangan.Tampak juga Akmal dan Rika yang memang satu divisi.Tapi mereka tidak menyadari keberadaan Anin saat ini.


Rapat pun dimulai dan pimpinan rapat yaitu ketua divisi pun memulai presentasinya.Ditengah-tengah presentasinya di depan anggota rapat yang lain dia membolak balik halaman materi rapat dsn menyeru pada Wisnu.


"Wisnu ! Apa kamu yang mengetik materi rapat ini ? " tanya ketus divisi pada Wisnu.


Wisnu bingung harus menjawab apa..apa dia harus berbohong kalau dia yang mengetik atau harus jujur kalau menyuruh OG mengetiknya.

__ADS_1


Kalau ada kesalahan dalam materi rapat yang diketik Anin..bakal runyam dan panjang urusannya. "Kenapa diam Wisnu ? Saya bertanya sama Anda.." kata ketua divisi yang usianya separuh baya dan terlihat tegas dan disiplin.


'Apa ada kesalahan dalam materi rapatnya ?' gumanm Wisnu dalam hati.


__ADS_2