
Sementara di tempat lain...
Anindya sedang duduk menunggu Dokter Barra.
Anindya membuat janji bertemu dengan dokter Barra lewat chatting wa di taman kota.
Taman kota sengaja dipilih Anindya dengan pertimbangan tempat itu adalah tempat umum...selalu ramai orang lalu lalang...agar tidak timbul fitnah dan suudzon.
Anindya menikmati pemandangan aneka bunga yang berwarna-warni yang tersaji di depan netranya saat ini.
Hingga beberapa saat kemudian....ada sepeda motor sport merapat mendekat ke tempat Anindya berada saat ini.
Sepeda motor sport yang didominasi warna merah...pengendaramya tak asing lagi bagi Anindya...yaitu Dokter Barra.
Dia melepas helm full face dari kepalanya...dari kejauhan Anin dan Dokter Barra sudah saling melempar senyuman satu sama lain..sepertinya mereka sudah saling kangen karena beberapa hari tak jumpa.
"Assalamu'alaikum.." ucap Dokter Barra...lalu duduk di bangku yang sama dengan Anindya.
Pesona seorang Barra memang tak terelakkan...aura ketampanannya sebelas dua belas dengan Akmal.
Hanya saja dari usia Barra lebih dewasa..kepribadian mereka pun sebenarnya hampir sama...cenderung introvert...pun tak jauh beda dengan Anindya.
"Wa'alaikum salam warohmah.." jawab Anindya.
Dokter Barra menampilkan senyumannya yang bikin ambyar kaum hawa yang ada di sekitar.
Anin membalas dengan senyum tipis nan manis.
"Sudah lama menunggu ?" tanya Barra.
"Tidak juga,Dokter..." jawab Anin.
"Gimana kabar kamu dua hari terakhir ini ?" tanya Barra lagi.
"Apa Akmal membuatmu dalam kesulitan saat dia bermalam di rumahmu ?" sambung Barra sepertinya sangat khawatir dan penasaran dengan yang terjadi pada Anindya.
"Tidak Dokter....bahkan sikapnya berubah 180 derajat kepada saya..." kata Anin.
Lalu menceritakan garis besar apa yang terjadi saat dia dan Akmal berada dalam satu atap berdua.
"Jadi Akmal tidak ingin kalian bercerai..." kata Barra setelah mendengar cerita Anindya.
"Bagaimana dengan perasaan kamu sekarang ?" tanya Barra.
"Saya berusaha untuk tidak terlena dan terbawa arus...karena saya takut hanyut dan akhirnya terdampar dalam keadaan hancur..." kata Anin.
"Mungkin saja Dokter Akmal benar-benar menyesali kesalahannya padamu...dan dia ingin memperbaiki hubungan kalian kedepannya..." kata Barra.
"Kemungkinan akan selalu ada,Dokter...mungkin juga dia hanya berusaha membuat saya baper...sampai ketika saya sudah masuk ke jeratannya...dia akan menghempaskan dan mencampakkan saya dengan mudah..." Anin berlogika.
"Kamu baper sama dokter Akmal...kenapa sama aku tidak ??" Barra meledek Anindya.
__ADS_1
"Hehhehe...saya itu sadar diri kalau saya itu sudah berstatus istri orang..." jawab Anin.
"Emm...begini saja...mulai sekarang...kalau diperbolehkan...saya ingin memanggil Dokter Barra dengan panggilan 'kakak'...gimana ? Itupun kalau kita sedang berdua saja seperti sekarang..." ide Anindya.
"Waduhh..semakin tertutup dong peluangku jadi pengganti Akmal...apa karena faktor 'U'...aku udah terlalu berumur yaa untuk kamu ?" canda Barra terkekeh kecil.
"Whakakakk..." Anin tertawa lepas.
"Gitu dong...tertawa...jangan sedih terus..." kata Barra.
"Boleh...kamu boleh panggil aku 'kakak'...aku juga pengen punya adek dari dulu..." lanjut Barra.
"Terimakasih,Kak..." kata Anin.
"Sama-sama Adekku..." kata Barra.
Dan mereka sama-sama tersenyum lebar...seperti terlepas dari beban berat...dengan mendeklarasikan hubungan baru mereka yaitu adek dan kakak.
Barra tidak bercerita pada Anin...kalau dua hari yang lalu dia menemui Tuan Wirawan..
FLASH BACK...
Di ruang pribadi Tuan Wirawan.
"Apa Anda bilang ?" Tuan Wirawan terkejut dengan perkataan Barra.
"Iya,Pak...suruh Dokter Akmal untuk menceraikan Anindya...dan saya siap menjadi pengganti Dokter Akmal.." Barra mengulangi perkataannya.
"Tolong Anda dengar dulu penjelasan saya..begini,Pak...ini semua hanya skenario kita,Pak..." kata Barra.
Dia juga tampak berhati-hati berbicara pada Tuan Wirawan yang notabene adalah atasannya.
Tapi untunglah Tuan Wirawan bukan tipikal seorang pemimpin yang otoriter dan diktator...dia selalu terbuka menerima hal baru juga kritik dan saran dari seluruh jajaran staff dan pegawainya.
"Maksudnya ?" tanya Tuan Wirawan.
"Memang benar saya mencintai Anindya...tapi tidak demikian dengan Anindya...saya sudah ditolaknya berkali-kali...dia hanya menganggap saya sebagai kakak..." kata Akmal.
"Dan sekarang...yang saya inginkan hanyalah melihat Anindya bahagia...sedangkan kebahagiaannya sepertinya terletak pada putra Anda...dia berjuang untuk mempertahankan pernikahannya...dan sejak itu dia sudah mulai jatuh hati pada putra Anda...tapi setelah kejadian malam tahun baru kemarin...dia memutuskan untuk berhenti berjuang...dia memutuskan menyerah...tapi saya tahu betul kalau perasaannya pada putra Anda belum berubah sampai sekarang..." lanjut Akmal.
"Lalu ?" Tuan Wirawan mendengarkan dengan seksama.
"Kita sudah tahu perasaan Anindya pada Akmal...tapi kita belum tahu perasaan Akmal pada Anindya..." jelas Akmal.
"Dengan menyuruh dia menceraikan Anindya...dan bilang saya siap menjadi penggantinya...kita akan memancing perasaan Akmal pada Anindya yang sebenarnya...itu harapan saya..." sambung Barra.
"Oohh...begitu maksud Anda..." Tuan Wirawan baru faham.
"Akmal akan merasa mendapat saingan dan merasa akan segera kehilangan istrinya,Anindya..." kata Barra.
"Oke ! Kita jajal saran dari Anda,Dokter Barra..." kata Tuan Wirawan menjabat tangan Barra.
__ADS_1
Dan mereka berdua tersenyum penuh optimis.
FLASH BACK END.
"Kita lihat saja kelanjutannya,Anin...apakah skenarioku dan mertuamu berhasil atau tidak...jika menilik ceritamu kalau sikap Akmal berubah 180 derajat kepadamu...sepertinya dugaanku benar...Akmal juga sebenarnya cinta sama kamu..." batin Barra sambil menyunggingkan senyumnya tanpa sepengetahuan Anindya.
"Jadi kapan kamu akan masuk kerja lagi ?" tanya Barra.
"Entahlah,Dokter...ehh...Kak...saya masih malas...ini tadi saya ke RS...tapi hanya untuk menyerahkan dokumen yang tertinggal dan melihat kondisi Mbah..." cerita Anin.
"Ya sudah....gimana nyamannya kamu saja..." jawab Barra.
*
*
"Ini salinan dokumen yang kamu mau...aslinya nanti akan aku berikan ke Akmal...aku tidak bisa lama-lama menemuimu...hanya karena aku adalah kekasih dari Akmal...aku bisa keluar saat jam kerja seperti ini.." kata Rika pada lawan bicara di depannya.
Mereka sedang berada di restoran dengan secangkir kopi di hadapan masing-masing.
"Terimakasih,Sayang...kamu memang bisa diandalkan...dan percayalah...kamu tidak akan kecewa dengan hasilnya nanti..." suara licik laki-laki di hadapan Rika yang ternyata adalah Roby.
"Dan ini adalah hadiah kecil dariku...aku yakin kamu akan terkejut melihatnya..." sambung Roby.
Roby menyodorkan beberapa foto...seperti kita ketahui bersama...Roby menyuruh orang kepercayaannya untuk mengikuti segala gerak-gerik dan aktivitas Anindya...perempuan yang membuat dia sangat penasaran sejak pertama kali bertemu dengannya di acara peresmian RS milik Papa Roby.
Rika langsung mendelik melihat foto-foto tersebut.
"Darimana kamu dapat foto-foto ini dan kapan foto ini diambil ?" tanya Rika dengan nada suara kesal sekali.
"Orang suruhanku yang mengambil foto itu dua hari terakhir ini...." jawab Roby dengan senyum smirknya...dia puas telah menyulut emosi Rika.
'Akmal !! Kamu mulai mencoba bermain di belakangku yaa...bilangnya sedang mengurus pekerjaan mendadak di luar kota....ternyata malah asyik berduaan dengan Anindya...!!" geram Rika dalam hati setelah melihat foto-foto kebersamaan Akmal dan Anindya.
"Tapi apa motivasimu menyuruh orangmu mengambil foto-foto ini dan foto-foto sebelumnya yang kamu berikan ke Papaku ? Menguntit Akmal atau Anindya ?" telisik Rika.
"Naluri laki-lakiku terusik sejak pertama kali melihat perempuan muda ini....ternyata selera ku dan selera Akmal selalu sama,yaa..." kata Roby meledek Rika.
"Dasar kalian laki-laki memang sama !! Gak bisa lihat barang bagus dikit aja..." omel Rika.
Roby menyeringai senang melihat Rika uring-uringan.
"Aku penasaran sekali dengan gadis muda ini...dia terlihat lugu dan polos...tapi ternyata dia smart juga...bisa menikungmu dari belakang...hahaha...!" ledek Roby sambil tertawa lepas.
"Tenang Rika...akan aku memenangkan siapa namanya...ee..Anindya..dari kekasihmu itu..aku sudah mengincarnya...jadi pasti gadis itu harus aku miliki seutuhnya..!" janji Roby pada Rika.
"Maksudmu ? Kamu berniat menidurinya ?" Rika memperjelas maksud perkataan Roby.
"Seperti itulah...walaupun aku juga ragu dia masih perawan atau tidak...karena dia adalah nyonya Akmal....bisa saja Akmal yang sudah mencicipinya duluan....tapi aku belum lega kalau belun terlampiasksn hasratku pada perempuan muda itu..." Roby tersenyum licik penuh kemesuman.
'Dasar maniak !! Tapi selama itu untuk menghancurkan Anindya...aku akan mendukungmu,Rob...terserah cara apa yang akan kamu tempuh...' batin Rika.
__ADS_1