Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Cuma Kira-kira Saja.


__ADS_3

Akmal tergesa-gesa nenuju kamar VVIP 5 dimana Mbah Rasni dirawat...sesampainya di depan kamar..dengan tidak sabar dia membuka pintu kamar.


Sontak yang ada di dalam kamar sedikit terkejut dengan suara pintu yang terbuka keras.


Akmal melihat sekeliling dulu..terlihat Anindya yang duduk di sebelah ranjang Mbah Rasni...dan tepat di samping perempuan muda itu berdiri seseorang yang tidak asing baginya..Dokter Barra.


Akmal menghela napas dalam...


Dia lalu beralih memusatkan pandangannya ke arah Mbah Rasni..tampak wanita tua itu terpejam tenang tak bergeming..


Akmal mendekat ke ranjang...menatap lekat wajah Mbah Rasni...dia genggam tangan wanita tua itu..."Mbah...kenapa bisa begini,Mbah.." kata Akmal lirih.


"Kalau besok pagi Mbah Rasni belum sadarkan diri..tindakan operasi harus dilakukan sebagai opsi terakhir.." penjelasan dokter Barra pada Akmal.


"Lalu..resiko operasi untuk seusia Mbah Rasni ?" tanya Akmal ragu dan pandangannya tak beralih dari Mbah Rasni.


"Kemungkinan berhasil hanya 30 persen..." kata Barra lagi.


Akmal beralih memandang Anindya yang ada di sampingnya...sudut mata perempuan muda itu tak berhenti meneteskan cairan bening...


Akmal bingung harus berkata apa untuk menguatkan Anindya.


Bibirnya serasa kelu tak bisa mengucap..


"Kuatkan hatimu Anin...Insyaalloh Mbah akan sembuh seperti sedia kala..kamu sudah makan ?" tanya Barra yang justru terlontar mencoba menguatkan Anindya


"Sudah tadi rice box di rapat divisi poli bedah.." jawab Anindya.


"Kamu tadi kan belum selesai makan saat aku ngasih kabar tentang Mbah kamu...mau aku belikan apa ?" tanya Barra.


"Saya tidak lapar,Dokter.." kata Anin lagi.


Akmal hanya sebagai pendengar saja diantara mereka.


"Saya bingung harus gimana ambil pakaian ganti ke rumah...saya gak tega ninggalin Mbah sendirian di sini.." kata Anin.


Barra dan Akmal hanya diam tak merespon dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.


''Kamu pulang saja ambil keperluan kamu sama Mbah..nanti saya antar..Mbah biar di jagain sama suster di sini.." saran Barra kemudian.


Anindya hanya diam..tampaknya dia mempertimbangkan saran yang dikatakan Barra.


Akmal melepas genggaman tangannya dari Mbah Rasni..


"Saya permisi dulu.." pamit Akmal sembari menatap Anin dan Barra.Mereka mengangguk kecil merespon Akmal.Lalu Akmal keluar dari kamar Mbah Rasni.


"Tidak usah repot,Dokter..saya akan telfon tetangga rumah saja minta tolong dibawakan keperluan saya dan Mbah.." kata Anin.


"Baiklah kalau begitu..saya permisi pulang dulu..kalau kamu butuh sesuatu,jangan segan hubungi saya.." kata Barra.


"Iya,Dokter..terimakasih.." jawab Anin.


Lalu Barra meninggalkan kamar itu..sekarang tinggal Anin dan Mbah saja.


Dan tak lama kemudian..Anin tertidur di sisi ranjang Mbahnya...


''Nduuk....Nduuk...bangun...makan dulu..." suara Mbah Rasni.


"Mbah..Mbah sudah sadar ?" seru Anin senang karena Mbah Rasni sudah siuman.


"Nduuk...maafin Mbah Nduuk...tidak bisa membahagiakan kamu Nduuk..." suara Mbah lemah dan akhirnya memejamkan matanya lagi.


"Mbah...Mbah..bangun Mbah..jangan tinggalkan Anin Mbah...Anin tidak punya siapa-siapa di dunia ini...Anin sama siapa Mbah ?" tangis Anin pilu sambil menggoyang-goyangkan tubuh wanita tua itu.


Tak ada respon."Mbah...Mbah...!" seru Anin mengangkat kepalanya hingga terantuk kursi.


" Aduh..sakit.." rintihnya lirih,lalu memandang sekitar...Mbah masih koma di hadapannya..


Ternyata tadi dia sedang bermimpi..dia sangat bersyukur tadi itu hanya sekedar mimpi...diusapnya kening Mbah Rasni lalu dikecupnya pelan. "Bangun Mbah...Anin takut sendirian.." katanya lirih.Lalu dia melihat ke arah kaca jendela kamar yang terlihat gelap dari luar tapi terang di dalam.


Dia melihat seseorang yang mengendap-endap di seberang ruang kamar Mbah..


'Apa dia tetangga yang ku mintai tolong antar keperluanku dan Mbah ya?" kata Anin dalam hati.


Anin hendak keluar memanggil orang tersebut...tapi orang yang memakai jacket hoodie yang tertutup wajahnya itu malah masuk ruang oksigen.Anin batal keluar..dan hanya mengamati dari dalam gerak-gerik orang tersebut.


Semakin mencurigakan..dia masuk ke kamar rawat VVIP 1 yang tepat di depan kamar rawat Mbah...yang lebih mencurigakan lagi orang tersebut menutup kamera CCTV dengan lakban lebar yang tampaknya sudah dipersiapkannya.


'Ada yang tidak beres ini.." Anin kembali berkata dalam hati.


Memang saat ini suasana sedang sepi,tak ada satu orangpun disekitar kamar VVIP...karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


Anin lalu menyalakan kamera hpnya...dia mendekat ke arah jendela kamar dengan perlahan...di fotonya orang tersebut beberapa kali...lalu Anin mengalihkan ke mode merekam video...merekam semua pergerakan orang asing itu..yang mengintai dari luar keberadaan orang di dalam kamar...hingga dia masuk kamar..dan sesaat kemudian keluar kamar lagi dengan tetap membawa tabung oksigen..lalu cepat-cepat dimasukkannya lagi ke dalam ruang persediaan oksigen.


Lalu orang asing itu menghilang di kegelapan malam.


'Jelas itu manusia biasa..bukan hantu..tapi apa tujuannya membawa keluar masuk tabung oksigen ke kamar itu ? " tanya Anin dalam hati.


Lalu dia kembali duduk di sisi ranjang Mbah Rasni...di pegangnya kening Mbah..memeriksa suhu badannya..


Lalu tiba-tiba suara pintu dibuka.

__ADS_1


"Aaaagh..." teriaknya sambil menoleh ke pintu dengan mata tertutup.


"Heyy..ada apa Anin..kenapa berteriak ?" tanya seseorang yang masuk tadi yang ternyata Akmal.


Anin membuka matanya..."Ya Alloh..Tuan dokter..ternyata anda...kenapa tidak mengetuk pintu dulu...bikin jantungan aja..." protes Anin.


"Ya aku kira kamu udah tidur...takutnya kamu terbangun..eh malah teriak..kenapa ?" tanya Akmal lagi


"Saya kira tadi ada..." jawab Anin terputus


"Hantu ? Dasar penakut !" ledek Akmal.


" Mulai deh..bukan itu maksud saya..terus ngapain Anda malam-malam begini datang kesini ?" tanya Anin.


"Aku bawakan roti sama susu juga makanan ringan,katanya tadi kamu belum makan..aku pikir bisa kamu makan kalau kamu terjaga.. " kata Akmal menyodorkan kantong plastik.


"Dan ini..keperluan kamu sama Mbah selama di rumah sakit..aku cuma kira-kira aja..kalau ada yang kurang kamu bilang biar aku belikan.." kata Akmal lagi sambil menyodorkan paper bag.


Anin memeriksa isi paper bag itu..ada peralatan mandi,bedak,sisir...baju ganti untuknya juga Mbah dan...pakaian dalam juga..."


'Ya Alloh...dia juga mengira-ngira ukuran pakaian dalamku ? ' kata Anin dalam hati.


Anin dan Akmal berpandangan sedikit kikuk.


Sesaat kemudian mereka sama-sama mengalihkan pandangan.


"Gimana kondisi Mbah sekarang ?" tanya Akmal mendekati ranjang Mvah Rasni.


''Tidak ada perkembangan yang berarti..hanya suhu tubuhnya yang stabil..tidak demam.." cerita Anin.


"Ee..terimakasih Tuan dokter sudah membelikan ini semua...apalagi sudah larut malam begini.." lanjut Anin.


"Eee..itu semua Mama yang nyuruh.." kata Akmal.


"Ooo.." respon Anin.


"Ya sudah..Tuan dokter bisa pulang sekarang..." lanjut Anin.


"Kamu ngusir aku ?" tanya Akmal dengan menatap wajah Anin.


"Bukan begitu...Anda kan harus istirahat..besok kan Anda harus kerja..." penjelasan Anin.


"Aku besok dapat shift malam..kamu tuh yang harus istirahat..kamu kelihatan lelah banget..kebanyakan nangis.." kata Akmal


Tak direspon Anin.


"Makan roti dan minum susu dulu..biar ada tenaga.." lanjut Akmal sembari menyodorkan roti dan susu kemasan.


Akmal tersenyum tipis karena lega Anin mau mengisi perutnya.


Tiba-tiba ada sekelompok tenaga medis yang lewat dengan melangkah tergesa,masuk ke kamar VVIP 1..Akmal dan Anin bisa melihatnya dari dalam kamar.


"Ada apa Tuan Dokter...mereka kelihatan tergesa-gesa gitu..?" tanya Anin pada Akmal.


"Mereka itu tim code blue..." jawab Akmal.


"Tim apaan itu,Tuan dokter ?" tanya Anin penasaran.


"Intinya,kalau mereka ditugaskan, berarti ada pasien kritis atau gagal jantung..." jawab Akmal.


Setelah makan roti dan meminum susu yang dibawakan Akmal..Anin kembali ke sisi ranjang Mbah Rasni.


"Gimana kata dokter soal kondisi Mbah Rasni ?" tanya Akmal lagi.


"Kalau pagi ini Mbah tidak siuman...akan dilakukan tindakan operasi.." jawab Anin dengan nada pasrah.


"Kamu harus yakin,Mbah akan kembali pulih...walaupun harus melalui proses operasi.." Akmal mencoba memberi support pada Anin.


Anin hanya mengangguk pelan.


Dan tiba-tiba handphone Akmal berdering.."Ya..assalamu'alaikum.." sapanya.


"Apa ? Kenapa bisa begitu ?" katanya berbincang dengan seseorang.


"Ok..kamu handle dulu..aku segera kesana..." imbuhnya lalu menutup hpnya.


"Kamu sendirian gak pa-pa kan ?" tanyanya pada Anin.Anin mengangguk.


"Aku ada urusan sangat darurat..aku tinggal dulu..kamu jangan khawatir..Mbah akan mendapat perawatan terbaik di sini.." katanya meyakinkan Anin lalu berlalu keluar kamar.


Dan Anin pun menunggu Mbah Rasni sampai pagi tanpa tidur..tapi Mbah tak kunjung siuman juga..


Hingga keputusan final dari dokter bahwa Mbah harus dioperasi pagi ini juga.Dan tidak main-main operasi yang akan dilalui Mbah adalah operasi penyumbatan darah di otak...jika operasi dinyatakan berhasil...maka operasi selanjutnya adalah operasi baypass jantung.


Di luar ruang operasi..tampak Anin,Tuan Wirawan dan Nyonya Mira sedang menunggu dan harap-harap cemas.


Sementara itu di meja operasi,Mbah Rasni di tangani oleh dokter Barra dan timnya.


Setelah 6 jam berlalu..belum ada tanda-tanda operasi akan selesai..


"Kamu yang kuat,Anin.." kata Nyonya Mira sambil merangkul bahu Anindya.

__ADS_1


"Mbah saya jarang sekali sakit,Nyonya...dia wanita tua yang tongseng...sekalinya sakit kenapa seperti ini..." cerita Anin yang membuat Tuan dan Nyonya Wirawan merasa bersalah.


"Terimakasih Tuan dan Nyonya telah memberikan fasilitas dan perawatan terbaik untuk Mbah saya...sampai repot-repot menyuruh Tuan dokter tengah malam membelikan keperluan saya dan Mbah.." ucap Anin pada Nyonya Mira.


"Tuan dokter ?" tanya Nyonya Mira bingung.


"Tuan dokter Akmal maksud saya.." terang Anin.


"Ooo..." Nyonya Mira baru paham.


'Kapan aku nyuruh Akmal tengah malam ke rumah sakit nganter keperluan Anin dan Mbah ya ? ' kata Nyonya Mira dalam hati.


' Entah bagaimana responmu Anin...kalau tahu cerita yang sebenarnya..' lanjutnya berkata dalam hati.


Sementara Tuan Wirawan juga sibuk dengan hand phone di tangannya.Sepertinya ada hal penting yang tengah di hadapinya sekarang selain persoalan operasi Mbah Rasni.


Dan setelah penantian panjang...akhirnya dokter yang menangani operasi Mbah Rasni keluar..disusul dokter Barra di belakangnya.


"Bagaimana hasil operasi Mbah saya dokter ?" Anin berhambur menyambut dokter tersebut.


"Alhamdulillah..operasinya berjalan lancar dan bisa dikatakan berhasil..." papar dokter itu.


Barra juga tersenyum ke arah Anindya


"Alhamdulillaaah.." ucap Anin,Tuan dan Nyonya Wirawan hampir bersamaan.


"Sekarang kita tinggal menunggu hasil pasca operasi...setelah masa pemulihan..baru kita bisa melakukan operasi kedua,yaitu operasi baypass jantung.." penjelasan dokter.


"Terimakasih banyak dokter..." seru Anindya girang.Dokter mengangguk dan tersenyum kecil


Lalu dokter itu berlalu meninggalkan semua orang yang ada di depan ruang operasi.


"Terimakasih Dokter Barra..." ucap Anin.


"Kamu tuh memang hobi banget ya bilang terimakasih..." ledek Barra.


Anin hanya tersenyum tipis.


"Sudah kewajiban kami sebagai dokter Anin...kamu tunggu saja,kalau tidak ada masalah Mbah kamu akan dipindah ke ruang perawatan seperti kemarin..." penjelasan Barra.


"Iya..terimakasih Dokter.." kata Anin lagi.Barra geleng kepala sambil tersenyum kecil..kemudian meninggalkan Anin.


Dia juga menundukkan kepala tanda pamit pada Tuan dan Nyonya Wirawan.


"Ma..Papa tinggal ke ruang kerja Papa dulu...ada masalah penting yang harus segera diselesaikan.." pamit Tuan Wirawan.


"Iya Pa.." jawab Nyonya Mira.


"Anin..saya pamit dulu..kita bertemu lagi nanti di ruang perawatan...saya akan pantau perkembangan pemulihan Mbah Rasni.." pamit Tuan Wirawan.


"Iya Tuan..terimakasih banyak.." jawab Anin.


Sementara di dalam ruang kerja Tuan Wirawan...


Akmal dan para staff yang terdiri dari bagian administrasi,manajer mutu,manajer resiko,tim hukum dan perawat pendamping pasien..sudah menunggu kedatangan Tuan Wirawan dengan wajah tegang.


Sesaat kemudian yang mereka tunggu masuk ke dalam ruangan.Lalu duduk di kursi kerjanya.


"Baiklah..ceritakan kepada saya bagaimana kronologi kejadiannya.." Tuan Wirawan membuka pembicaraan.


"Jadi begini Pa...ada keluarga pasien yang melakukan komplain tentang kinerja rumah sakit yang menurut mereka telah melakukan kelalaian...hingga membuat pasien gagal jantung dan harus mendapatkan penanganan tim code blue..." penjelasan Akmal terhadap Papanya.


"Dan lebih lanjutnya lagi mereka hendak membuat gugatan hukum terhadap rumah sakit kita.." lanjut Akmal.


"Kelalaian apa yang menyebabkan pasien hingga gagal jantung ?" tanya Tuan Wirawan lebih rinci.


"Mereka menuduh perawat pendamping pasien lalai dalam menyediakan tabung oksigen...karena tabung yang terpasang saat itu dalam keadaan kosong," kata manajer mutu


" Dan sialnya lagi keluarga pasien ini adalah petinggi partai besar di kota ini yang tentu saja punya pengaruh besar di masyarakat.." sambung manajer resiko.


"Semua bukti kuat dan mengindikasi itu semua kelalaian perawat pendamping pasien..." kata manajer resiko lagi.


"Tapi saya bersumpah...saya tidak melakukan kelalaian dalam bekerja Pak..tabung yang saya pasang saat saya meninggalkan kamar pasien saya prediksi masih bisa menyuplai oksigen hingga esok harinya..." sanggah perawat pendamping pasien.


"CCTV bagaimana ?" tanya Tuan Wirawan lagi.


""CCTV induk sempat tidak berfungsi,...informasi dari pihak security,ada kemungkinan sengaja dimatikan sistemnya sebelum ada kejadian ini ,Pak.." kata manajer mutu.


"Berarti ada kemungkinan ini semua sabotase dong...!" seru Tuan Wirawan.


"Kurang lebih seperti itu..tapi kita belum punya bukti kuat,Pak...semua bukti masih mengarah pada kelalaian pihak rumah sakit.." kata tim hukum.


"Dan pihak keluarga pasien bersikukuh membawa masalah ini ke meja hukum dan meminta denda yang tidak masuk akal..." kata Akmal lagi.


"Berapa tuntutan mereka ?" tanya Tuan Wirawan.


" 200 milyar.." jawab tim hukum.


"Dan kemungkinan rumah sakit ini juga akan di black list.." sambung tim hukum lagi.


"Gila..." respon Tuan Wirawan.

__ADS_1


__ADS_2