Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Amarah Barra.


__ADS_3

Sesampainya Barra dan Akmal di dalam ruang kerja Akmal...


"Katakan...apa yang ingin Dokter bicarakan..." kata Akmal.


'BUGHGH !!!'


Barra tanpan aba-aba langsung melayangkan bogem mentahnya pada pipi Akmal.


Akmal seketika terhuyung ke belakang dengan memiringkan wajahnya.....dan pinggangnya terantuk sisi depan meja kerjanya.


Lalu tampak keluar lelehan warna merah segar di sudut bibir Akmal.


Dengan cepat Akmal menegakkan tubuhnya lagi...kali ini bersiap jika ada serangan lagi..


"Apa ini,Dokter Barra ??" tanya Akmal dengan nada tinggi sambil memegang pipinya yang terasa panas seketika pasca serangan agresi dari Barra.


"Itu untuk kekonyolan yang kamu lakuin pada Anindya semalam..." jawab Barra dengan mimik wajah berang.


"Maksudnya ?" Akmal belum 'ngeh' dengan ucapan Barra.


"Dasar bedebah !! Pecundang !! Kamu tinggalin Anindya sendirian di tempat yang sama sekali asing baginya !!" umpat Barra geram.


"Darimana Anda tahu semua itu ?" selidik Akmal.


"Aku yang menjemputnya dari tempat kamu meninggalkannya sendirian !" nada bicara Barra masih penuh emosi.


"Oohh...jadi seperti itu...dia menelfon Anda untuk menjemputnya gitu ?" tanya Akmal sinis.


"Siapa lagi yang bisa ditelfon saat mendesak seperti kemarin malam ? Kamu ? Untung aku datang tepat waktu...kalau tidak...entah apa yang terjadi...yang pasti adalah hal buruk...karena Anindya diganggu oleh sekelompok berandal !" kata Barra berapi api.


"Dan kamu tahu ? Anindya begitu sakit hati dan ketakutan menerima perlakuan dan kata-kata tidak senonoh dari para pemuda berandal itu.." papar Barra.


Akmal mendengar penuturan Barra dengan seksama...dia juga tidak menyangka kalau akibatnya akan begitu fatal karena ulah isengnya kemarin pada Anindya.


"Sejauh mana hubungan kalian berdua sampai sekarang ?" tanya Akmal to the point.


"Hhhh....kenapa ? Kamu cemburu atau curiga pada istrimu ?" tanya Barra.


Tentu Akmal shock mendengarnya...yang berarti Barra tahu status hubungan dia dan Anin.


"Oooh..jadi Anin juga cerita rahasia itu pada kamu,Barra ?" Akmal mulai geram sehingga memanggil Barra dengan kasar dan memakai kata 'kamu'...

__ADS_1


Tidak seperti biasanya dia menggunakan kata 'Anda dan Dokter'..


Hal yang sama dilakukan oleh Barra kepada Akmal sejak awal pembicaraan mereka tadi...karena tersulut emosi.


"Ya ! Itu dia lakukan untuk menghentikan aksiku mendekatinya secara intens dan meminta dia untuk menerima ungkapan perasaan cintaku padanya belakangan ini..." tutur Barra.


"Appa ?" Akmal seakan tidak percaya dengan penuturan Barra.


"Istrimu itu perempuan yang sangat pandai menjaga marwahnya sejak awal pertemuan kami...jauh sebelum dia mengenalmu !" kata Barra.


"Dia enggan bersentuhan kulit selama kami saling mengenal...dia juga memilih perempuan sebagai langganan ojol yang


mengantarnya setiap hari ke RS..!" penjelasan Barra yang sebenarnya membuat Akmal tercengang karena mengetahui fakta sebenarnya.


"Dan dia sudah berusaha menjaga kesakralan pernikahannya dengan kamu...dengan selalu bertahan menerima perlakuan buruk dan kasar darimu !" seru Barra geram.


"Dia berusaha menjadi istri yang baik...walau selalu kamu perlakukan tidak manusiawi..!" kata Barra.


Akmal hanya diam tak bergeming mendengar penuturan Barra...sambil melangkah mengeluarkan alat kompres dingin dari lemari es mini di ruangannya...untuk mengompres sudut bibirnya yang terasa ba-al...


"Dia itu licik dan culas !! Dia pandai memanfaatkan momen untuk memaksakan pernikahan ini...!" sanggah Akmal tak kalah sengit.


"Anindya bukanlah gadis polos seperti penilaianku di awal aku kenal...!" sambung Akmal.


"Walaupun pernikahan kalian terpaksa...tapi aku rasa tidak sulit jatuh cinta pada sosok perempuan muda seperti Anindya yang nyaris sempurna fisiknya..kamu jangan jadi manusia munafik !" kata Barra.


Akmal terkesiap seakan teringat pengalamannya setiap kali berdekatan dan kontak fisik dengan Anindya...muncul rasa tak biasa yang selalu berusaha dia pungkiri....


"Dan orang pertama yang tak sabar menunggu penyesalanmu adalah aku...selain juga laki-laki di luaran sana...Aku siap1000 persen mengambil alih posisimu sekarang....sebagai laki-laki yang berstatus suami dari Anindya.." kata Barra tegas.


Akmal mendelik mendengar omongan Barra barusan yang begitu terang benderang.


"Aku akan dengan suka hati menggantikan tanggung jawabmu melindungi dan mengayomi Anindya..."sambungnya.


"Camkan kata-kataku !" pungkas Barra dan beranjak keluar pintu dengan membanting keras daun pintunya.


Meninggalkan Akmal yang terluka egonya...merasa seperti di telanjangi oleh Barra dengan omongannya barusan..


Lalu dia melakukan panggilan di telepon meja kerjanya.


"Pak Wisnu...suruh Anindya ke ruangan saya sekarang..!" perintahnya sedikit gusar.

__ADS_1


"Maaf,Dokter...tapi hari ini Anindya tidak masuk...dia barusan izin lewat pesan yang dikirim pada saya...sakit katanya..." suara Wisnu yang masuk di mikrophone telepon Akmal.


Akmal mengakhiri panggilannya begitu saja.


Nalurinya tak dapat menyangkal rasa gusar dan cemas yang begitu menusuk...


Sementara memorinya mengiang barisan perkataan Barra yang terlontar padanya tadi secara acak dan rancu...membuat dia terduduk lemas di kursi kerjanya...


Kebingungan mendera Akmal...harus bagaimana langkah selanjutnya yang akan dia ambil.


Bertahan dengan ego dan kemunafikan...atau sejenak mengikis rasa itu dan mengakui segala kekhilafan yang dia lakukan pada Anindya.


...----------------...


Sementara di rumah Anindya...


Anindya tampak kedatangan tamu spesial...teman lamanya saat kerja di toko baju dulu...Winda.


"Aku speechless dan gak tahu harus berkomentar apa mendengar semua ceritamu,Anin..." respon Winda setelah Anindya bercerita tentang segala yang dialaminya selama ini setelah dia kerja di RS Bhakti Wirawan.


Termasuk soal sakit Mbah Rasni dan pernikahan terpaksa yang dijalaninya selama ini.


"Yang jelas...hari ini aku merasa begitu senang dan girang banget bisa bercengkrama lagi dengan kamu.." sambung Winda sambil menggenggam erat tangan sahabatnya itu.


"Aku juga demikian...aku kangen bangett sama kebersamaan kita dan kesomplakan kamu..! " seru Anin mengenang masa lalu mereka.


"Yang aku nggak nyangka...orang asing yang kamu kira modus saat menolongku pas aku tersedak dulu sekarang jadi suamimu..." tutur Winda sambil geleng-geleng kepala.


"Suami ? Hhhh...kata itu begitu asing dan kaku di telingaku..." kata Anin.


"Hubungan kami sekarang lebih tepat sebagau atasan dan bawahan...dan dia tipukal atasan yang dzolim dan reseh !" kata Anin dongkol banget.


"Lalu apa kabarnya sesumbarmu waktu masih kerja dulu untuk membawa suami kamu masuk ke toko tempat kita...untuk membuktikan kalau kamu bisa mendapatkan suami lebih dari seorang pengamen jalanan...seperti yang dikatakan Tacik waktu itu padamu ?" tanya Winda.


"Haah ? Kamu masih ingat aja rupanya...lupakan !" kata Anin enteng.


"Emang gimana sih tampang sosok laki-laki yang dulu menolongku dan sekarang jadi suami kamu ?" tanya Winda penasaran.


"Assalamu'alaikum..." tiba-tiba datang seseorang masuk ke ruang tamu dimana Anin dan Winda tengah bercengkrama.


Dan seseorang itu tak lain adalah Tuan Dokter Akmal Wirawan.

__ADS_1


Anindya sontak terperanjat kaget melihat kedatangan Akmal yang tiba-tiba sudah masuk rumahnya.


__ADS_2