
"Perfect !" seru Feny.
"Lalu pilihan dress dan baju yang lain ini gimana,Nyonya Mira ?" tanya Feny.
"Ditinggal aja..buat gantian pakeknya..'' jawab Nyonya Mira.
"Maaf..tapi saya kira cukup satu ini saja dulu kali ini.." Anin menolak dengan sopan.
"Gak papa,Anin..untuk koleksi pakaian kamu.." kata Mama mertuanya.
"Kalau saya gajian aja nanti..saya akan beli sendiri.." sambung Anin.
"OMG..good attitude...yaudah ini alamat butik saya..saya tunggu kedatangannya,lho.!" kata Feny sambil menyodorkan kartu nama pada Anin.
"Baik..saya permisi mau ganti baju dulu kemudian makan..Budhe Tini sudah menyiapkan dari tadi..." pamit Anin sambil mengambil kartu nama.
"Iya silahkan,Mbak..." jawab Feny.
Anin pun berlalu menuju kamar Akmal...
Sesampainya di kamar...dia menaruh bajunya di atas ranjang Akmal karena takut lecek.
Lalu dia menuju ke kamar mandi untuk cuci muka...
__ADS_1
Sementara Anin di kamar mandi,Akmal yang baru pulang pun masuk ke kamarnya.
Dengan wajah betenya karena mengingat dia harus berbagi tempat favoritnya yaitu kamar tidurnya dengan Anindya.
Gadis yang begitu dia benci saat ini.
Akmal melonggarkan dasi di lehernya dan melempar tasnya sembarangan di ranjang.
Sampai dia menyadari ada gaun tergeletak di atas ranjang tidurnya.
"Apa-apaan ini !" seru Akmal.
Dia memungut gaun hijau pastel milik Anin.
Anin keluar dari kamar mandi dengan santainya.
"Kamu ! Udah berani memakai kamar mandiku..bahkan sekarang naruh barang-barang kamu di kasurku !" amarah Akmal meluap.
"Oh..iya..itu tadi saya taruh di situ karena bingung harus naruh dimana lagi..soalnya takut lecek.." penjelasan Anin.
"Takut lecek kamu bilang ? Nih..lihat..! Ini baru namanya lecek..!" kata Akmal sambil menaruh gaun milik Anin di bawah dan menginjak-injak dengan sepatu yang dipakainya.
"Tuan ! Jangan ! Itu gaun dibelikan Nyonya Mira untuk saya ! Untuk saya pakai di acara undangan peresmian rumah sakit malam ini..!" pekik Anindya.
__ADS_1
"Udah aku bilang..jangan seenaknya menaruh barang-barang kamu di kamar ini !" amarah Akmal semakin meledak-ledak.
"Astaghfirullooh...saya cuma menaruhnya di kasur supaya tidak lecek..Tuan jangan kekanak-kanakan gitu,dong..." kata Anin dengan suara lirih tertahan.
"Kekanak-kanakan kamu bilang ? Dasar bocil licik ! Nih lihat..yang begini ini namanya kekanak-kanakan..." kata Akmal sambil mencari sesuatu di laci meja.
Dan ketemu apa yang dicarinya..yaitu gunting.
Diambilnya gaun Anin..lalu dia cabik-cabik sembarangan dengan gunting yang dibawanya.
"Jangan..! Tuan..!" seru Anindya berusaha mengambil gaun dari tangan Akmal.
Gaun itu berhasil di ambilnya..tapi percuma juga karena gaun itu sudah compang camping sekarang karena ulah Akmal yang mengguntingnya asal.
"Dasar Tuan Dokter jahat ! Sebegitu benci Tuan pada saya..sampai gaun baru dari Mama Tuan sendiripun di gunting-gunting seperti ini..!" Anin berusaha menahan tumpahan air matanya.
"Itu kamu tahu..! Aku muak..aku jijik sama kamu dan semua yang berhububungan denganmu !" olok Akmal tanpa belas kasihan.
"Saya bukan manusia atau barang najis ! Perlu Tuan ingat itu !" seru Anin dengan menahan air matanya.
"Kamu najis bagiku ! Perempuan licik ! Menjauh dariku ! Pergi dari kamarku ini !" usir Akmal kasar.
"Saya juga tidak sudi satu kamar dengan laki-laki angkuh dan kasar seperti Anda !" pungkas Anin lalu menjinjing tasnya dan melangkah keluar dari kamar Akmal dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Di luar kamar ternyata ada Tuan Wirawan yang berdiri..tampaknya dia dari tadi sudah mendengar pertengkaran Akmal dan Anin.