
Sesampainya di rumah...
Anin lalu menuju kamar Akmal.
Dia berpapasan dengan Tania yang mau turun ke bawah.
Seperti biasa Tania selalu tampak jutek pada Anindya.
Anindya hanya tersenyum tipis lalu mengacuhkannya juga.
Kemudian dia bergegas membersihkan badannya di kamar mandi...
Lalu dia mengambil ponselnya...melihatnya sejenak kemudian teringat perintah Akmal untuk membuatkan masakan telur dan teri balado.
Dia browsing cara membuatnya..
' Minimal prosesnya benar...soal rasa belakangan..' pikirnya.
Lalu Anindya turun ke bawah dan menuju dapur.
Di dapur ada Budhe Tini sedang memasak juga untuk makan malam.
"Eh..Mbak Anin...butuh sesuatu ? Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Budhe Tini.
"Eee...saya mau masak Budhe...requestnya Tuan Dokter..." jawab Anin.
"Beneran ? Mas Akmal minta dimasakin Mbak Anin ? Aduuh...ngalemmee..." ledek Budhe Tini.
Bersamaan dengan itu Nyonya Mira juga datang ke dapur.
"Bukan ngalem Budhe...ini semacam hukuman buat saya...soalnya kan saya yang nyebabin Tuan Dokter gak boleh ketemu sama kekasihnya selain di RS..." elak Anin.
"Udah tahu juga kalau saya gak bisa masak..." sambung Anin.
"Sabaar ya Anin..." hibur Mama mertuanya.
"Emang kamu diminta masakin apa sama Akmal ?" tanya Nyonya Mira.
__ADS_1
"Telur dan teri balado,Ma..." jawab Anin.
"Ooh..itu memang masakan favorit dia...mungkin dia kangen sama Mbah Rasni dan masakannya..." kata Nyonya Mira.
"Kalau menunya itu..kalau saya yang masak...Mas Akmal gak cocok Mbak Anin..." kata Budhe Tini.
"Kangen sama Mbah...tapi jengukin Mbah aja gak pernah..." Anin menggerutu...yang tentu saja terdengar oleh Mama mertuanya dan Budhe Tini.
Nyonya Mira hanya diam tak berkomentar apa-apa.
"Mbak Anin...saya tinggal dulu yaa...saya sudah selesai masak buat makan malamnya...urusan request Mas Akmal saya gak ikut-ikut.." kata Budhe Tini.
"Iya Budhe...biar saya aja yang ngerjain....biar Tuan Dokter ada alasan untuk memarahi saya..." kata Anin.
Budhe Tini dan Nyonya Mira terkekeh kecil mendengarnya.
Lalu mereka berdua berlalu meninggalkan dapur.
Tapi tanpa ada yang menyadari...Tania dari tadi menguping obrolan mereka sambil duduk di kursi meja makan.
"Kayaknya ini kesempatanku buat ngerjain gadis songong itu...dia sudah mempermalukan aku di depan keluarga ini...berani menasihatiku juga...awas aja...'' gumam lirih Tania sendirian.
Tania lalu mengambil air di panci kecil dan menyalakan kompor.
"Kak Tania mau buat sesuatu ? Apa perlu saya bantu ?" tanya Anin basa-basi.
"Nggak usah...biar aku sendiri aja...." jawab Tania ketus.
Anin hanya mengangkat bahunya...dan melanjutkan memasaknya.
Lalu Tania mendidihkan air tersebut...sambil matanya bergerak kesana kesini seperti berfikir sesuatu.
Tania meletakkan air panas itu di gelas plastik ringan...tapi dia isi hanya seperempat gelas saja.
Diletakkannya dekat tangan Anin yang sedang sibuk memasak di meja dapur.
Anin tak menyadari niat buruk Tania sedikitpun.
__ADS_1
Lalu Tania mengambil jeruk lemon di lemari es...dimainkannya sesaat dengan tangannya...lalu diletakkannya di meja dapur di hadapannya.
Setelah itu dia menggelindingkannya ke arah gelas plastik berisi air panas tadi.
GLUNDUNG GLUNDUNG....
BRUKK..
Jeruk lemon tersebut mengenai gelas plastik... dan akhirnya gelas plastik itu terguling dan menumpahkan semua isi di dalamnya.
Sedangkan tangan Anindya tepat ada di sebelahnya...sehingga tumpahan air panas itu mengenai tangannya.
'Allohu Akbar..!" seru Anindya.
Dia terperanjat merasakan panas di lengannya yang terkena luberan air panas tadi.
"Kenapa Anin ?" tanya Tania tentu saja pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Astaga ! Air panasnya tumpah ya...?" seru Tania.
Anindya mengibas-ibaskan tangannya yang terasa terbakar.
"Maaf Anin...aku gak sengaja..." kata Tania.
"Coba lihat...melepuh nggak ?" Tania sok perhatian.
" Enggak kok Kak...cuma terasa panas aja..." kata Anin.
"Syukurlah kalau begitu.." kata Tania lagi.
"Ya udah terusin masakmu..." sambungnya.
"Lho..gak jadi buat wedang lemon ?" tanya Anin.
"Gak jadi..." kata Tania sambil berjalan meninggalkan sapur.
Anin lalu melanjutkan memasaknya...mengabaikan rasa panas di tangannya.
__ADS_1
Takut Akmal keburu datang.
.