
'Ternyata gak nyaman banget tidur di kursi seperti ini...aku ngerasain sendiri malam ini...padahal selama ini aku nyuruh Anin tidur di sofa...dan dia tidak mengeluh sedikitpun...' Akmal berkata dalam hati.
Alhasil malam ini dia tidak bisa tidur...karena tempat yang tidak nyaman dan juga dia merasa ngilu dan nyeri di tubuhnya setelah dapat ke bar-baran warga +62...
Saat adzan shubuh berkumandang,Akmal segera bangkit dari kursi tempatnya tidur...
Lalu dia sekilas memandang ke arah kamar Anindya...belum tampak ada pergerakan di sana.
Dia membuka pintu utama rumah Anin dan menuju ke mobilnya..berniat mengambil baju ganti yang biasa dia taruh di mobil...untuk baju cadangan kalau sewaktu-waktu diperlukan.
Anin mendengar suara pintu dibuka...dia keluar kamar dengan tergesa..diikuti Pusy di belakangnya.
"Mau kemana Dokter reseh itu ?" gumam Anin lirih.
Anin penasaran tapi memutuskan untuk mengacuhkan...dia menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Akmal kembali masuk ke dalam rumah...dia meletakkan baju gantinya di kursi...dia juga melepas pakaiannya hingga menyisakan celana panjang.
Dan tanpa berfikir lagi dia membuka pintu kamar mandi.
"Aaaaaachch....!!!!" Anindya berteriak histeris.
"Astaghfirullooh !!" Akmal tak kalah kaget.
Akmal segera menutup pintu kamar mandi lagi.
Lalu duduk di kursi meja makan yang jaraknya tak terlalu jauh dari kamar mandi.
'Pagi-pagi gini dapat suguhan hot scene dari Anin...' batin Akmal.
"Tahan junior..jangan membuat aku malu dengan pergerakanmu..." gumam Akmal yang tiba-tiba berasa gerah...karena dia tak sengaja melihat tubuh polos Anindya saat dia sedang mandi..
Beberapa saat kemudian Anindya keluar dari kamar mandi dengan muka bersungut-sungut...mencoba menutupi rasa malunya.
"Kenapa main masuk aja,sih ?" hardik Anin setelah dia keluar dari kamar mandi.
Dia sudah mengenakan setelan baby doll celana panjang tapi berlengan pendek...dan membiarkan rambut sebahunya terurai basah.
"Pakai gak ?" Anin menutup kedua matanya karena melihat pemandangan yang menurutnya tak biasa.
"Apa ?" Akmal tak paham apa maksud Anin.
"Ituu...pakai dulu kemejanya...jangan telanjang dada gitu bisa,kan..." kata Anin.
"Kenapa ? Aku mau mandi juga..." kata Akmal enteng.
"Lepasnya di kamar mandi aja..." kata Anin.
"Kalau mau lihat..lihat aja...aku mah bebas..." Akmal menjawab enteng.
"Pakai kemeja dulu !" seru Anin masih menutup matanya.
"Iya..ini udah pakek..." Akmal akhirnya mengalah dan memakai lagi kemejanya tanpa mengancingkannya.
__ADS_1
Anindya membuka matanya.
"Iiihh...kenapa sih seenaknya aja Anda tadi masuk kamar mandi ?" Anin mengulangi pertanyaannya sambil mencak-mencak tak karuan.
"Ya aku mana tahu kalau ada orang di kamar mandi...sejak kapan kamu masuk... ? Perasaan kamu tadi masih di dalam kamar tidurmu,kan...?" Akmal beralibi.
"Saya di kamar mandi sejak bangun tidur tadi...setelah terbangun karena mendengar suara pintu depan ada yang membuka.." kata Anin.
"Iya aku tadi yang membuka pintu depan...mau ke mobil ambil baju ganti...lagian kenapa gak dikunci dari dalam juga pintu kamar mandinya tadi ?" protes Akmal.
"Mana ada kuncinya...ini kan kamar mandi kampung...tidak seperti kamar mandi punya Tuan.." jawab Anin.
"Apa Tuan tadi sempat melihat sesuatu ?" selidik Anin.
"Melihat apa maksud kamu ?" Akmal bertanya balik.
"Ya melihat saya mandi lah..." diperjelas Anin.
"Iya lihat..." jawab Akmal jujur.
'Aku lihat dengan gamblang tubuh polosmu...dari ujung rambut sampai kaki sukses terekspose olehku...walaupun hanya sepersekian detik...bukit kembarmu
itu sukses membuat resah juniorku Anin..' kata Akmal tapi hanya dalam hati.
"Kenapa tidak tutup mata tadi ?" tanya Anin lagi.
"Mubadzir,kan ? Dapat rezeki juga..." kata Akmal enteng.
"Dasar dokter omes !" seru Anin sambil melangkah hendak memukul Akmal karena kesal...tapi berhasil di tangkis dan malah sekarang tubuh keduanya berpelukan terkikis jarak.
Sensasi aneh yang menggelayar liar mereka berdua rasakan seketika.
"Lepasin !" seru Anin dengan suara tertahan.
Akmal tersadar dan melepas tubuh Anin.
"Omes gak pa-pa kan bukan sama orang lain...kita sah sebagai pasangan halal,kan...?" kata Akmal santai.
"Idihh...apaan ?? Suster Rika tuh nungguin jemputan..." sindir Anin.
Lalu berlalu menjauhi Akmal...sebelum situasinya makin meresahkan.
Akmal hanya tersenyum tipis melihat reaksi Anin...lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi...Akmal sholat shubuh dulu di bilik kecil tempat sholat di rumah Anin....selesai sholat,Akmal melihat Anin tampak sibuk menyiapkan sarapan di meja makan...roti dan selai juga mentega yang dia beli kemarin dihidangkan plus segelas susu...sarapan yang biasa Akmal santap sehari-hari.
Akmal menyusulnya duduk di kursi meja makan.
Diam-diam dia memperhatikan secara intens perempuan muda di depannya saat ini...pesona kecantikan alaminya memang tak bisa dipungkiri oleh Akmal.
'Ya Alloh...sejak kapan juga aku jadi mengagumi bocil tengil ini ?Engkau memang Maha membolak balikkan hati manusia..." batin Akmal.
"Cepat dimakan sarapannya...dan cepat berangkat..." kata Anin pada Akmal.
__ADS_1
"Berangkat kemana ?" tanya Akmal.
"Ya ke RS lah...kerja..." kata Anin sedikit ketus.
"Emang siapa yang mau kerja ?' tanya Akmal.
masih memandang Anin.
Anin pun demikian....alhasil mereka beradu pandang sekarang.
"Ya Anda,lah...Anda kan Dokter dan juga pengelola RS Bhakti Wirawan..." kata Anin.
"Malas ah...badanku masih ngilu dan nyeri gara-gara kejadian kemarin..." kata Akmal.
"Aku kerja dari rumah aja hari ini...dokumen dan berkas penting udah aku bawa..semua ada di mobil.." kata Akmal.
"Baguslah kalau gitu...berarti sebentar lagi Anda mau pulang ke rumah..." Anin mengulas senyumnya sembari mengoles selai dan mentega ke roti.
"Siapa bilang ? Aku kerja dari rumah ini..." kata Akmal.
"Iiihh...pulang sana kenapa ? Saya mau kerja hari ini...!" seru Anindya kesal.
"Kamu mau masuk kerja hari ini ?" tanya Akmal serius.
"Iyaa...sebenarnya saya sudah berencana resign sembari menunggu proses perceraian kita...tapi kata Dokter Barra,saya tidak boleh mengorbankan pekerjaan ini...demi masa depan saya kelak...setelah saya pikir-pikir betul juga..." penjelasan Anin sambil mulai menyuap roti lapisnya.
Akmal mendengarnya seketika memasang muka masam.
"Emang segitu penting ya Dokter Barra bagi kamu ? Sampai kamu menuruti sarannya ?" Akmal memandang Anin sendu dan tak jadi menyuap sarapannya.
"Kalau aku menyarankan kamu untuk tidak masuk kerja hari ini,apa kamu mau menuruti aku sebagai laki-laki yang berstatus sebagai suami kamu ?" tanya Akmal kemudian.
Anin terperangah mendengar pertanyaan Akmal barusan.
"Kita suami istri tapi tak ada ikatan hati..." jawab Anin sembari memandang Akmal lekat.
"Maksudmu...kamu dan Dokter Barra punya ikatan hati ?" tanya Akmal lagi.
"Mungkin..." jawab Anin asal sambil terus menyuap sarapannya.
Berbeda dengan Akmal yang tidak berselera untuk sarapan mendengar jawaban Anin barusan.
Dia berdiri dari kursi meja makan...berlalu meninggalkan Anin sendirian.
"Sarapannya ?" tanya Anin.
Akmal mengacuhkannya...
Anin memperhatikan kepergian Akmal dalam diam.
"Ikatan pernikahan kita ini hanya mengunci satu hati,Tuan Dokter... yaitu hatiku...sedangkan hatimu sudah terkunci oleh orang lain jauh sebelumnya..." gumam lirih Anindya.
Akmal duduk sendiri di teras rumah Anindya.
__ADS_1
"Jawabanmu itu melukaiku,Anin...kenapa sakit begini rasanya ? Lebih sakit dari sakit fisik yang kurasakan karena kejadian kemarin..." monolog lirih Akmal.