Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
TiTan 156.


__ADS_3

Anin tetap berusaha menarik pergelangan kakinya yang terperosok di sela-sela anak tangga darurat...gegara menolong Riris.


Sambil berharap pertolongan akan segera datang dari luar.


Rasa cemas tak ayal menghinggap di benaknya...saat beberapa kali mendapati tembok-tembok gedung bergetar dan terlihat runtuhan di banyak tempat.


Apalagi setelah menyadari...sepertinya hanya dia seorang diri yang terjebak di dalam gedung kantor tempatnya biasa bekerja itu.


Tak banyak yang bisa Anin lakukan saat ini...dia hanya bisa merapal do'a-do'a didalam hati...


'Ya Alloh...apa memang disini waktunya engkau ambil nyawaku ?' monolog Anin lirih.


Entah kenapa...tapi nyatanya saat ini ada seseorang yang dia harapkan kedatangannya untuk menolongnya.


'Ahh...jangan ngarep yang gak mungkin,Anin..!!' sergah dia pada dirinya sendiri.


'Lagian kenapa cobak yang terlintas di otakku malah dia ? Bukannya yang lain....' gerutu Anin sambil tetap berusaha menarik pergelangan kakinya.


'Ngakunya aja suami sah...tapi apa ? Pulang aja tanpa pamit dan gak ada kabar sampai sekarang...' lanjutnya bermonolog.


"Ssahh...sakiitt...!" keluhnya kemudian.


Bersamaan dengan itu terasa goncangan lumayan kuat yang membuat serpihan dari atap berjatuhan ke bawah....cukup lama kali ini goncangan itu terasa...hingga mampu menjebolkan setengah rantai lampu hias yang berukuran super besar...yang posisinya tepat di atas Anin terduduk saat ini.


'KRIEETT...KRETEG-KRETEG..'


Suara yang timbul dari lampu hias yang tampaknya akan lepas dari plafon gedung.


''Astaghfirullooh...Mbah...Anin harap Mbah dan Budhe dalam keadaan baik di rumah....maafin Anin,Mbah....mungkin kita tidak akan bertemu lagi...' Anin kembali bermonolog dan mencoba tetap tegar.


Sambil terus berusaha menarik-narik kakinya....berpacu dengan waktu...karena tampaknya plafon menunjukkan retakan yang semakin luas...siap meluncurkan lampu hias itu tepat ke kepala Anin.


''Astaghfirullooh...Laahaula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil ' adziim...' berulang ulang diucap Anin untuk sedikit menetralisir ketakutannya.


Sejurus kemudian...terdengar derap langkah kaki berlari....suaranya semakin dekat menuju Anin berada saat ini.


"Aniinn !!" seru pemilik langkah kaki itu dengan suara baritonnya dan nafas yang terengah-engah.


Tampak ekspresi wajahnya yang datar namun penuh kelegaan...seakan telah menemukan hartanya yang begitu berharga...yaitu Anindya.


"K-Kamu ??" Anindya tergagap melihat sosok yang saat ini mendekatinya...lalu berjongkok mensejajarkan posisinya di samping Anindya yang sedang duduk di anak tangga....dia seorang pria dengan sejuta pesona...yang tadi sempat diusir dari lintasan pikirannya...yang tadi sempat diharapkan kedatangannya di saat genting begini....kini seseorang itu nyatanya benar-benar datang.


Ya ! Seseorang itu tak lain adalah Dokter Akmal Wirawan yang notabene adalah suami sah dari Anindya...


"Coba aku lihat apa kita bisa mengeluarkan pergelangan kakimu.." Akmal fokus mengucurkan cairan bening...sepertinya oli...yang dia bawa dari luar ke pergelangan kaki Anindya.


Sementara Anindya masih speechlees...dia tak mengira saat ini Akmal sedang bersamanya...nemberi pertolongan padanya.


Perasaannya campur aduk....senang,tenang,nyaman,dan tak percaya berkecamuk di benaknya.


"Bagaimana bisa ? Kamu berada disini ?" tanya Anindya kikuk.


Flashback on..


Akmal langsung menuju Jawa Barat menggunakan pesawat pribadi miliknya setelah ditelfon Devan kakaknya


Tujuan.pertamanya adalah rumah Anindya...disana dia dapat informasi dari Mbah Rasni kalau Anindya belum pulang dari kantornya.


Makin paniklah Akmal....


Tanpa memberitahu Mbah Rasni kalau lokasi gempa dekat dengan perusahaan tempat Anin bekerja...dia langsung menuju lokasi...mencari keberadaan Anin.


Di luar perusahaan suasana hiruk pikuk....Akmal berusaha mendekat ke gedung kantor tempat Anindya bekerja.


Disitu dia melihat seorang wanita hamil yang sedang berteriak histeris.


"Tolong selamatkan teman saya,Pak...dia tertinggal di dalam...karena menunggu saya tadi....kakinya terperosok di anak tangga...tolong segera masuk ke dalam gedung untuk menolongnya,Pak..." wanita hamil itu meminta peetolongan ke regu Damkar yang bertugas.


"Ibu tenang dulu....situasi di dalam sangat berbahaya...gedung ini bisa sewaktu-waktu roboh...kami juga harus mempertimbangkan keselamatan tim kami..." penjelasan petugas damkar.

__ADS_1


"Tapi teman saya di dalan bagaimana,Pak ? Anin...Anindya...!" teriak wanita hamil yang tidak lain adalah Riris rekan Anindya.


Akmal yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka begitu terkejut mendengar nama Anindya disebut Riris.


"Permisi...apa Anda bilang tadi ?Anindya masih di dalam gedung ?' tanya Akmal memastikan setelah dia berdiri di sebelah Riris dan petugas Damkar.


"Iya benar...Anindya rekan kerja saya di kantor...dia masih terjebak di dalam..." tutur Riris masoh dengan terisak.


"Saya akan menyusulnya ke dalam..." tanpa babibu Akmal hendak melangkah ke dalam.


Tapi dicegat oleh petugas Damkar.


"Tunggu,Tuan...! Anda tidak boleh masuk kesana...jangan gegabah...! Gedung itu sudah hampir rubuh...masuk ke dalam sama saja kita menyetorkan nyawa Anda...!" kata petugas Damkar.


"Apa Anda waras,hah ? Yang Didalam sana itu istri saya,Pak..! Bagaimana mungkin saya diam saja tanpa berbuat sesuatu sementara istri saya sendirian dan membutuhkan bantuan ? Saya seorang dokter...walaupun spesialis saya ahli gizi...tapi basic ilmu kedokteran saya menguasai...saya yang akan masuk kalau Anda dan tim Anda takut...lebih baik saya setor nyawa tapi bisa bertemu istri saya daripada saya berdiam diri disini..." panjang lebar Akmal.


"Baiklah kalau itu keinginan Anda sendiri....tapi tolong gunakan helm safety...dan jika dalam 1 jam Anda dan istri Anda belum keluar...kami akan masuk meyusul kalian ke dalam..." kata petugas damkar.


"Bekali saya pemotong besi juga minyak pelumas...kata dia pergelangan kaki istriku terperosok ke anak tangga...!" titah Akmal.


"Baik,Tuan.." jawab petugas Damkar.


Flashback off.


"Itu..." Anindya menunjuk ke atas...tempat lampu hias tergantung.


"Astaga !" lirih Akmal tapi penuh penekanan...setelah mendongak ke arah yang ditunjukkan Anin...terlihat lampu hias akan segera jatuh kira-kira tepat di atas kepala mereka.


"Kita harus cepat...gedung ini juga akan segera runtuh..." kata Akmal sambil mulai memotong besi yang megapit pergelangan kaki Anindya.


"Kalau sudah tahu seperti itu...kenapa kamu malah masuk kesini ? Keluarlah !" seru Anin mengkhawatirkan Akmal.


Akmal tak menjawab sepatah katapun..dia fokus berpacu dengan waktu berusaha menyelesaikan pemotongan besi tanpa harus melukai pergelangan kaki Anindya.


"Keluarlah..! Tinggalkan aku..! Atau kita berdua akan mati konyol disini...!" seru Anindya.


"Buat apa aku nekad masuk kalau aku harus keluar meninggalkan kamu disini ? Jangan khawatir..


Sedangkan Anin...dadanya tiba-tiba terasa berdesir mendengae ucapan Akmal...Anin menangkap ketulusan dan perhatian yang besar untuknya dari Akmal saat ini.


Entahlah...darimana perasaan bahagia sekaligus terharu yang Anin rasakan sekarang.


"Jangan asal kalau ngomong..! Untuk apa kamu mempertaruhkan nyawamu ?" Anin mengalihkan kegugupannya.


"Untuk cintaku...untuk istriku...untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai suamimu...sudah aku bilang...aku akan terus berupaya sebisaku membantu dan melindungi meskipun kamu tak butuh hal itu dariku..." sambung Akmal sejenak memandang sendu Anindya...sejenak itu pula netra mereka beradu pandang.


"Cepatlah..! Jangan banyak bicara ! Lampu itu akan segera jatuh menimpa kita berdua...!" seru Anin masih berusaha menutupi kegugupannya.


"Iya...sebentar lagi...!" kata Akmal kembali fokus memotong besi.


"Cepatlah,Mas...!" tiba- tiba saja panggilan itu meluncur keluar dari bibir Anin...karena terlalu panik sepertinya.


Akmal memandang kaget ke arah Anindya yang sepertinya tak menyadari panggilan 'mas' untuk dirinya barusan.


"Sudah...! Awaaass...!!!" Akmal berhasil mengeluarkan pergelangan kaki Anindya...tapi sayang...bersamaan dengan itu pula, lampu hias di atas mereka terjun bebas ke bawah...


Syukurlah secara refleks Akmal menarik tubuh Anin ke dekapannya sampai terguling-guling berusaha menjauh dari tempat mereka semula....sehingga mereka tak sampai tertimpa lampu hias.


Namun tak sampai disitu...walaupun mereka selamat dari tertimpa lampu hias...nyatanya punggung Akmal yang dia jadikan tameng untuk melindungi tubuh Anindya...tergores ujung lampu hias yang terbuat dari kaca lancip.


Kaca itu berhasil merobek kemejanya hingga menembus kulit punggungnya....sepertinya lumayan dalam.


"Gimana kakimu ? Kamu bisa jalan ?" tanya Akmal beruntun.


"Alhamdulillaah tidak apa-apa...cuma sedikit nyeri aja..." jawab Anin apa adanya.


"Baguslah...Ayo cepat kita keluar dari sini...!" ajak Akmal yang sudah bangkit kembali...sembari menarik tangan Anin yang ada di genggamannya saar ini.


"Tunggu...! Punggungmu terluka !" kata Anin dengan nada cemas.

__ADS_1


"Lupakan...kamu bisa mengobatinya saat kita sudah aman diluar nanti...ayo..!!" kata Akmal sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Masih sempat-sempatnya dia menggoda istrinya itu....sambil tersenyum nakal...efeknya,lesung pipi Akmal yang tak pernah gagal membuat klepek-klepek kaum hawa itu terlihat.


"Ini...pakailah..." Akmal mengenakan helm ke kepala Anin...helm yang dia pakai sedari awal masuk tadi.


Anin menurut saja.


Tapi tiba-tiba saja terasa goncangan kembali yang cukup kuat...membuat gedung goyang....dan tubuh mereka terhuyung.


Akmal mendekap erat tubuh wanita yang dicintainya itu...Anin yang mendapat perlakuan spontan seperti itu...merasa jantungnya tidak baik-baik saja...karena kagetnya berlipat ganda...kaget goncangan gempa bumi dan kaget didekap Akmal.


"Kamu tidak apa -apa ?" tanya Akmal pada Anin...hanya dijawah gelengan kepala saja oleh Anin.


"Ayo kamu duluan..." titah Akmal penuh kepedulian pada Anin.


Sejurus kemudian mereka melewati batas antara ruang tengah dan depan gedung...tapi tiba-tiba...


GRUBYAKK...!! BRUGGH...!!!


Runtuhan gedung dan meterial kayu dari atap jatuh ke bawah...hampir menghalangi jalan untuk mereka keluar...


Tapi berhasil ditahan Akmal dengan tubuh dan tangannya...menyisakan ruang setinggi tubuh anak usia 6 tahunan...jadi harus setengah merangkak kalau ingin keluar melewatinya.


"Ayo Cepat keluar...! Aku akan menahannya...!" perintah Akmal dengan suara tertekan.


"Tapi...kamu..." Anin seolah tak ingin keluar meninggalkan Akmal.


"Suddahh jangan hiraukan aku...huggh...ayo cepat keluar...tenagaku tidak sebesar tenaga hulk...!" banyolan Akmal dengan tetap sekuat tenaganya menahan tembok dan kayu agar tidak ambruk.


Anin kemudian menunduk lalu merangkak lewat di depan Akmal.


Beberapa menit kemudian Anin sudah bisa melewati pintu yang hampir ambruk itu dengan selamat.


Sementara Akmal...sepersekian detik kemudian tubuhnya harus tertimpa ambrukan tembok dan kayu pintu keluar....setelah mati-matian menahannya agar istrinya bisa keluar.


Dan kini posisi Akmal ada di bawah...menyisakan tubuh bagian atas dan kepalanya yang tak tertutup ambrukan.


"Astaga,Maaasss....!" teriak Anin histeris sambil mendekat ke arah Akmal.


Anin mencoba sebisa mungkin mengambil material yang menimpa tubuh Akmal...namun hanya sedikit yang bisa dia ambil...tenaga wanitanya tak cukup kuat untuk mrngangkat bongkahan tembok dan kayu yang besar.


"Sudah....jangan buang-buang tenagamu,Anin...ceppat kamu keluar dari sini...se- belum bangunan ini benar-benar run-tuhh...!" Akmal berkata terputus-putus karena sepertinya dia menahan sakit.


"Tidakk...! Aku tidak akan meninggalkanmu...! Jangan khawatir...aku akan berusaha lagi mengangkatnya....hhhhggghhh....!" Anin berusaha kembali mengangkat kayu besar...namun sia-sia.


"Tolooonggg....! Siapapun tolong kamiiii...!" teriaknya histeris sambil menangis.


"Sssstt...jangan terlalu dipaksakan...nanti tenggorokanmu sakitt..." ucap Akmal berusaha tersenyum menghibur Anin.


"Maasss....apa yang harus aku lakukan...?!?" Anin mulai putus asa dan kebingugan.


Tangannya dengan refleks menggenggam tangan Akmal...erat...seperti tak ingin kehilangan pria itu.


Akmal yang menyadarinya...terlihat tersenyum nyaman dan bahagia.


"Seb-benarnya bukan seperti in-ni yang aku harapp-kkan...ta-pi ak-ku ba-hagi-a ka-mu memanggil-ku 'mas' wa-lau mung-kin karena ka-mu ter-la-lu cemas jj!-di tidak menyadd-darinnya....akk-ku sudah cukup pu-***...bisa memenuhi tang-gung jawab-ku sebagai suamimu...wa-lau harus nya-waku taruhann-nnya..." bibir Akmal mulai memucat karena susah payah menahan sakit.


"Astaghfirullooh....tidaaaakk...janganngomong sembarangan....tolooonggg....! Kami butuh bantuaaann...!" teriak Anin kembali sambil merangkum wajah Akmal yang berkeringat dingin dan mulai pucat.


"Satt-tu hal yang akk-ku belum bisa penuhi,Anin...mem-ba-wamm-mu me-ne-mu-i mertuamm-mu...jadd-di to-long te-mu-i me-reka...te-mu-i mer-tua-mu wall-lau tan-pa akk-ku..." kata-kata terakhir yang keluar dari bibir pucat Akmal...lalu dia tak sadarkan diri.


"Astaghfirullooh....!! Maass...! Mas Akmall...! Banguunn...! Jangan pejamkan mata...!! Kamu harus tetap sadar,Mas...!" Anin menepuk-nepuk pipi Akmal berulang kali mencoba menyadarkan suaminya itu.


"Tolooongg....!" teriaknya penuh cemas dan keputus asaan.


Dan tiba-tba saja datang dari belakangnya satu tim damkar...dua diantara mereka menarik tubuh Anin...membawanya keluar dari gedung.


"Selamatkan suami saya....tolooong....saya ingin menemani suami saya...saya ingin tahu kondisinya...!" pinta Anin sebelum benar-benar menjauh dari Akmal yang saat ini tak sadarkan diri sambil menangis histeris.o

__ADS_1


"Anda harus keluar...disini situasinya berbahaya..." kata seorang petugas.


Mau tidak mau Anin keluar setengah dipaksa oleh dua petugas damkar...meninggalkan Akmal yang entah bagaimana saat ini kondisinya.


__ADS_2