Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Lebih Higienis Mana ?


__ADS_3

"Kamu tuh malu-maluin rumah sakit kita aja !" Rika terus mengintimidasi Anindya.


"Maaf,Mbak..kenapa saya malu-maluin ? Toh saya tidak berbuat salah.. saya juga tidak telanjang..iya pakaian saya memang sederhana..tapi saya bangga dengan pakaian saya..karena pakaian ini hasil jerih payah saya sendiri...bukan hasil minta-minta atau korupsi.." akhirnya Anin speak up membela dirinya sendiri.


"Dan perlu Mbak Rika ingat..yang sederhana akan mengalahkan yang istimewa..karena selalu ada.." sambung Anin.


Rika tercengang karena Anin berani menjawab intimidasinya di depan orang banyak.


Sedang Akmal tetap acuh tak memperdulikan Anin sama sekali.


Barra datang membawa dua piring makanan untuk dia sendiri dan Anin.


Dia melihat ke arah Rika yang mukanya merah padam...dia bingung karena tak tahu penyebabnya.


"Kamu berani-beraninya ngejawab omonganku ya..." kata Rika geram.


"Selama saya benar saya tidak akan pernah takut..." kata Anin datar.


Barra duduk lagi di sebelah Anindya..


"Ayo makan dulu.." kata Barra.


Anin hanya mengangguk.


Lalu mereka berdua berbasa basi menawarkan ke kepala divisi dan manajer rumah sakit..setelah itu mereka mulai memakan makanan mereka.


Rika menarik tangan Akmal meminta ditemani ambil makanan...dan Akmal pun menurutinya.


Anin melihat pemandangan itu dengan menelan salivanya dalam diam.


Hingga beberapa saat kemudian.. di saat Anin masih menikmati makanan di piringnya..seseorang dengan kasar mendorongnya dari belakang..hingga sendok yang dia pegang terlempar ke bawahnya.

__ADS_1


"Ups..sorry ! Aku gak sengaja..." ujar seseorang tersebut yang setelah ditoleh Anin..ternyata Rika yang sudah mendorongnya kasar barusan.


Barra yng di samping Anin..menoleh juga..


"Aku ambilkan sendok lagi...tunggu sebentar di sini.." kata Barra hendak berdiri.


"Tidak usah,Dokter.." cegah Anin.


Sedang Akmal sudah duduk kembali bersama Rika.


"Yah..gak jadi makan deh kamu,Anin.." kata Rika sok perhatian.


Padahal bisa dipastikan kalau perbuatannya mendorong Anin dari belakang tadi memang sengaja dia lakukan.


Tujuannya agar makanan Anindya tumpah mrngenai pakaiannya...tapi ternyata sendoknya yang jatuh.


Anindya tak kurang akal..


Lalu diangkat lagi dan di keringkan dengan tisu.


Semua yang ada di meja perwakilan rumah sakit Bhakti Wirawan melihat kelakuan Anindya itu...belum bisa menebak apa yang akan dilakukan Anindya selanjutnya.


"Begini saja lebih nyaman,Dokter.." kata Anin pada Barra sambil melanjutkan makan menggunakan tangannya.


Sontak mereka semua kaget.


"Ih..dasar udik...makan pakek tangan begitu.." sindir Rika.


"Anda jangan salah..justru makan pakek tangan itu lebih baik daripada makan dengan sendok..karena kita lebih yakin kehigienisan tangan kita sendiri dibanding kehigienisan sendok...logikanya begini...sendok dipakai orang berbeda berulang kali walaupun sudah dicuci...tapi tangan kita...tidak mungkin kan dipakai orang lain ?" Anin memberi penjelasan cerdas.


Penjelasan yang diluar dugaan orang-orang di sekitarnya...yang dari tadi memandangnya heran dan menganggapnya kampungan.

__ADS_1


Barra hanya tersenyum kecil mendengarkan itu...sedang Rika semakin bersungut-sungut.


Niatnya membuat malu Anindya gagal total.


Ketua divisi dan manager mengangguk anggukkan kepala mereka.


"Betul juga.." respon mereka berdua.


Sedang Akmal masih tetap diam..meskipun dia juga tadi mengamati tingkah Anin dan mendengar penjelasannya...dia pun sebenarnya juga membenarkan sudut pandang Anin..tapi hanya dalam diam.


Dan akhirnya semua menyelesaikan makan mereka..kemudian mendengar ramah tamah dari Papa Roby sebagai pemilik acara malam ini..dan setelah penutupan acara..para tamu undangan berpamitan pulang..termasuk Akmal dan Anindya.


Saat berpamitan dan berjabat tangan..pandangan Roby pada Anin masih sama..pandangan nakal.


Kali ini Akmal menyadari hal itu...


Sehingga saat giliran Anin akan dijabat tangannya oleh Roby...secara spontan tangannya dia tarik menjauh dari Roby.


Anin tentu saja terkejut begitu pula Roby.


"Ayo cepat...sudah malam ! Nanti kalau lelet aku tinggal,nih.." dalih Akmal mencari alasan.


Barra yang tahu pasti alasan yang sebenarnya...ikut tersenyum lega.


Anin hanya diam dan agak dongkol juga mendapat perlakuan begitu dari Akmal.


Akhirnya setelah Akmal berpamitan pada Rika dan Anin berpamitan pada Barra..keduanya menuju mobil.


Anindya menarik nafas dalam lagi...


' Bersiap masuk ke kandang macan lagi..' gumamnya dalam hati mengingat harus kembali ke kamar Akmal.

__ADS_1


__ADS_2