Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Kabar Bahagia dan Benang Merah.


__ADS_3

Anindya melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan Mbah Rasni.


Anindya terlebih dahulu menyeka tubuh dan wajah wanita yang paling disayanginya dalam hidup...dengan air hangat yang sudah disiapkan suster.


Anindya datang pada saat jam Mbah Rasni mandi...yang biasanya dilakukan oleh suster penjaga.


"Mbah...sudah hampir 5 bulan ini Mbah tertidur...Anindya kangen makan sama masakannya Mbah...kita pulang yuk,Mbah...Anin juga pengen belajar masak dari Mbah...." Anin berkomunikasi dengan Mbah Rasni.


Lalu seperti biasa dia menceritakan semua keluh kesahnya pada Mbah Rasni...semuanya...soal perubahan sikap Akmal dan pernyataan cinta Akmal padanya,soal kembali tinggal di rumah lama mereka,soal pekerjaan dan tuduhan Rika padanya,juga soal keinginannya untuk bercerai dari Akmal.


"Entah kemana hubungan ini akan bermuara,Mbah...tapi Anin sekarang lebih memilih untuk menyingkir saja Mbah...selanjutnya biar Tuan Wirawan yang mengurus perceraian kami...Anin hampir setiap hari berkomunikasi dengan Tuan dan Nyonya Wirawan...mereka sebenarnya menyayangkan keputusan Anin...tapi mereka juga tidak mau melihat Anin menderita dalam pernikahan ini..." papar Anin panjang lebar.


Disaat bersamaan Anin merasakan sesuatu yang tidak biasa...dia merasakan remasan ringan dari tangan Mbah Rasni yang saat ini digenggamnya lembut.


"Mbah !?! MasyaAlloh !!.Apa barusan hanya perasaan Anin,Mbah !" s,eru Anindya kaget dan tidak percaya apa yang dirasakannya.


"Tolong yakinkan Anin...beri gerakan sekali lagi,Mbah..!!" Anin menunggu respon Mbah Rasni sekali lagi.


Dan MasyaAlloh....!!! Mbah memang benar-benar menggerakkan tangannya !


Anin baru yakin dan berteriak memanggil perawat penjaga.


"Suster !! Tolong lihat kondisi Mbah saya...!!" teriak Anin.


Tak butuh waktu lama...suster datang lalu memeriksa Mbah Rasni...kemudian suster itu keluar lagi untuk memanggil dokter.


Anindya menunggu dengan cemas.


Begitu dokter datang..Anindya diminta untuk keluar dulu dari ruangan guna pemeriksaan intensif pada Mbah Rasni.


Anindya lebih cemas lagi...


Dia hanya bisa berdo'a dan berharap sesuatu yang baik yang akan terjadi pada Mbah Rasni.


Dia mengeluarkan ponselnya...melihat kontak...siapa yang akan dia hubungi saat situasi seperti ini.


"Aku harus mengabari siapa ? Tuan Dokter atau Dokter Barra ?" monolog Anin bimbang.

__ADS_1


"Hallo ? Mbah barusan bergerak dan sekarang sedang diperiksa oleh dokter...kalau bisa sekarang kemarilah..aku butuh seseorang menemani..." ucapnya dengan suara bergerar pada seseorang di seberang.


Tak lama kemudian,seseorang itupun datang menemui Anindya.


"An..." panggil Novi...orang yang ternyata dihubungi Anindya.


"Maafkan aku merepotkanmu...aku sedikit gelisah dan takut sendirian menunggu kabar Mbah disini.." kata Anindya sambil berhambur memeluk sahabatnya di RS itu.


"Iya..sekarang kamu tenang yaa...ada aku yang menemanimu di sini..." hibur Novi.


Setelah beberapa saat...Dokter keluar...Anindya berdiri dari kursi tunggu mendekati dokter


"Bagaimana kondisi Mbah saya,Dok ?" tanya Anindya cemas.


"Kondisinya stabil dan Alhamdulillaah...rupanya mulai ada reaksi dari tubuhnya...semoga dalam waktu dekat Mbah Anda bisa segera siuman.." penjelasan dokter.


"Alhamdulillaah...terimakasih kabar baiknya,Dokter..." ucap Anindya.


Lalu Anindya dan Novi berpelukan erat mengekspresikan kebahagiaan satu sama lain.


"Kamu bisa kembali kerja,Nov...ntar dapat teguran lagi...." kata Anin.


"Kebetulan pekerjaanku udah rampung semua,kok...tenang wae.." ujar Novi.


"Oh ya...kamu nggak kerja hari ini ? Kok pakai pakaian santai ?" tanya Novi.


"Aku udah beberapa hari ini absen..." jawab Anin lirih.


"Kayaknya aku juga akan resign dari RS ini,Nov..." lanjut Anin.


"Lho ?!? Kenapa seperti itu,An ? Ada masalah apa ??" Novi penasaran.


"Aku akan cerita padamu.." kata Anin.


Lalu dia mulai menceritakan semuanya kepada Novi dari A-Z...hubungannya dengan Akmal,dengan Barra,masalahnya dengan Rika sekarang juga.


" Astaga,An...!! Jadi kam itu Ny. Akmal Wirawan !" seru Novi karena kaget dengan semua cerita Anindya.

__ADS_1


"Sssttt..!! Pelankan suaramu,Nov..!!" Anin meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.


Novi seketika menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat menyadari kalau yang dia katakan barusan adalah hal yang sifatnya rahasia.


"Sebentar lagi sudah tidak lagi..aku sudah meminta cerai.." kata Anin lirih.


"Apa ? Kamu mau jadi Ny.Barra ?" Novi spontan bertanya tapi dengan suara tertahan.


"Kepala kamu peyang !!" jawab Anin sembari menjitak kepala sahabatnya itu.


"Kenapa ? Kamu bilang Dokter Akmal sudah berubah sikapnya 180 derajat kepadamu..." Novi tak habis pikir.


"Aku gak mau jadi perusuh dalam hubungan orang lain....jadi orang ketiga dalam hubungan Tuan Dokter dan Suster Rika...dan aku juga tidak bisa menerima cinta Dokter Barra...karena dia bagiku lebih dari sekedar seorang kekasih...aku menganggap dia sebagai kakakku..." jelas Anindya.


"Aku memilih untuk menyingkir...tapi sekarang ada satu lagi masalah yang harus aku selesaikan...soal tuduhan bahwa aku membocorkan dokumen penting RS yang awalnya dilontarkan oleh Suster Rika di depan forum meeting pimpinan staff dan pimpinan divisi barusan..." cerita Anindya lebih lanjut.


"Apa ? Dasar mak lampir tuh perempuan !" umpat Novi.


"Tapi tunggu,An...aku ada sesuatu yang mau aku tunjukkan ke kamu...siapa tahu ada hubungannya dengan masalah dokumen itu..."


Novi memutarkan sebuah rekaman suara seseorang yang tengah berbicara lewat telefon...yang Novi rekam karena dia merasa ada yang ganjal saat mendengar seseorang itu marah-marah membicarakan orang lain kepda lawan bicaranya.


Dan suara seseorang yang dia rekam itu adalah suara Sustee Rika.


"Itu suara Suster Rika,An..." penjelasan Novi.


"Kapan kamu merekamnya ?" tanya Anin.


"Beberapa saat yang lalu..saat aku istirahat di basecamp OG...suasana sedang sepi...hanya aku sendiri,kebetulan pekerjaanku sudah selesai..jadi aku istirahat berbaring sejenak di basecamp...tiba-tiba aku mendengar suara seseorang sedang marah dan mengumpat...karena jiwa kepoku...aku berinisiatif untuk merekamnya...setelah selesai merekam...belakangan aku tahu kalau itu suara Suster Rika..." papar Novi.


"Kalau aku tidak salah...dia sedang membicarakan aku itu,Nov...dan...kamu ingat saat kita bertemu dengan Suster Rika dia sedang bersama seorang laki-laki ?" tanya Anin.


"Kamu masih menyimpan foto itu,kan ?" Anin berharap jawaban iya dari Novi.


Novi mengangguk tapi masih penuh kebingungan.


"Bagus,Nov...!! Aku mulai curiga semua ini masih ada benang merah dengan masalah dokumen itu..!! Dan untuk lebih jelasnya...aku akan tanya langsung pada Suster Rika...kita lihat bagaimana reaksinya nanti..." kata Anindya sambil menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2