Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Akhirnya..Barra..


__ADS_3

Keesokan hari...


Semua berjalan seperti biasa...


Akmal dan Anin berangkat kerja bareng...tapi Anin turun di tempat yang ditentukan mereka berdua tempo hari untuk naik ojol.


Dan suasana di rumah sakit...


Anin tampak memasuki ruang kantor divisi nutrisi dan gizi sendirian...dia langsung duduk di kursinya...


Di dalam ruangan juga tampak beberapa orang lainnya...mereka tampak menjadikan topik pembicaraan Anindya secara diam-diam.


Anindya acuh akan hal itu...


Dia bermain ponsel miliknya..


Sesaat kemudian ada pesan masuk...2 pesan bersamaan.


"Posisi ?"


"Gimana kabar kamu hari ini ?"


Ternyata Barra yang mengirim pesan kepada Anindya.


"Saya di sini.." jawab Anin sambil menunjukkan foto ruang kerja divisi poli nutrisi dan gizi.


"Alhamdulillaah.." jawab Anin selanjutnya.


"Kok udah masuk ?? Kirain kamu masih istirahat di rumah.." pesan dari Barra ke Anindya lagi.


"(emoticon tawa) Di rumah sendirian...mending ke rumah sakit bisa ketemu Mbah..." jawab Anin lagi.


"Ouw gitu..jangan terlalu diforsir dulu..." pesan masuk dari Barra.


"Iya ,Dokter.." jawab Anin.


"Nanti pulang kerja kamu ada waktu ?" pesan masuk dari Barra.


"Seperti biasa..saya mau melihat Mbah..." balas Anin.


"Bisa kita ketemu ? Ada yang ingin saya sampaikan ke kamu.." pesan masuk dari Barra.


"Bisa, Dokter.." jawab Anin.


"Oke...aku tunggu..jangan sampek lupa.." pungkas pesan dari Barra.


Dan Anindya melalui hari ini dengan menyelesaikan tugas-tugas yang diarahkan oleh Wisnu.


Dia sangat antusias dengan pekerjaannya sekarang..


Dia melakukan dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti.

__ADS_1


Waktu istirahat tiba...


Wisnu menyodorkan botol air mineral pada Anin yang masih sibuk beres-beres berkas di meja kerjanya.


"Udahan dulu..jangan terlalu rajin dong.." ledek Wisnu.


"Minum dulu...aku takut kamu nanti pingsan lagi karena dehidrasi.." sambung Wisnu meledek Anindya lagi.


Laki-laki berlesung pipit itu menunjukkan perhatian lebih pada Anin.


"Jangan meledek terus dong,Pak...saya jadi malu.." jawab Anin.


Anin menerima botol air mineral dari Wisnu tadi.


"Yuk turun makan siang dulu.." ajak Wisnu lagi.


"Silahkan duluan,Pak...saya menunggu teman saya.." jawab Anin lagi.


"Yah..padahal saya pengen makan siang bareng sama kamu.." kata Wisnu kecewa.


"Maaf,Pak...saya sudah biasa makan siang sama teman saya..kalau Anda mau kita bisa makan siang bertiga saja.." jawab Anin.


"Gak deh..lain kali aja.." jawab Wisnu.


Tentu saja dia inginnya makan siang berdua saja dengan Anin tanpa orang lain untuk memulai pe-de-ka-tenya pada Anindya.


Dan waktu berjalan terus...


Anindya menuju ruang rawat Mbah Rasni.


Dia masuk ke ruangan dengan baju steril khusus.


Suara alat medis yang terpasang di sekeliling tempat Mbah dirawat,membuat Anindya prihatin dan sedih.


"Assalamu'alaikum,Mbah ?" sapa Anin pada wanita paruh baya di ranjang di depannya.


Tentu saja tak ada jawaban yang diharapkan dari wanita yang sangat dia sayangi itu...


"Mbah...Anin yakin Mbah bisa dengar Anin..." kata Anin lagi sambil memegang lembut tangan Mbah Rasni.


"Mbah lekas bangun,nggee..." sambungnya.


"Biar kita bisa pulang ke rumah kita lagi..." lanjut Anin.


"Jangan khawatir soal Anin...Anin baik-baik saja...Mbah hanya perlu cepat sembuh saja.." pungkas Anin.


Lalu dia keluar dari ruang perawatan Mbah Rasni


Di luar sudah ada Barra menunggunya.


"Dokter ? Sudah dari tadi disini ?" sapa Anin pada laki-laki di hadapannya.

__ADS_1


Barra sudah ganti pakaian kasual...dengan menenteng jas khas dokternya warna putih di tangan kirinya.


"Enggak..baru aja.." jawabnya.


Dia memandang lekat pada gadis muda di depannya itu..yang kali ini memakai kemeja warna mint dan celana kain warna krem.


Berbeda sekali dengan Anindya yang dulu masih berseragam OG.


"Oh ya...katanya ada yang mau disampaikan ke saya...soal apa ?" tanya Anin.


"Iya tapi tidak disini..kita jalan-jalan dulu boleh ? naik motor ?" Barra berharap Anin tidak menolak ajakannya.


"Emm...emangnya mau jalan-jalan kemana,Dokter ?" tanya Anin.


Anin dilema antara menerima atau menolak ajakan Barra kali ini.


Biar bagaimanapun...dia ingat status dia sekarang adalah sudah menjadi istri seseorang.


Suara ijab qobul terngiang di telinganya...walaupun yang mengucap ijab qobul itu pun tak ikhlas mengucapnya.


Tapi bagi Anin tetap salah kalau dia pergi dengan laki-laki lain mengingat statusnya saat ini.


"Sebentar aja...kita cari udara segar...biar kamu sejenak melupakan stress kamu.." bujuk Barra.


"Tapi saya malu kalau harus berboncengan dengan Anda, Dokter..apa kata orang yang kenal dan melihat kita nanti..." jawab Anin.


Terlebih dia takut kalau bertemu orang rumah atau mama dan papa mertuanya.


"Ya sudah kalau kamu tidak bersedia...gimana nyamannya kamu saja..." kata Barra lagi.


"Disini saja bagaimana ?" usul Anin.


"Oke kalau gitu.." kata Barra.


Lalu mereka duduk di taman depan ruang rawat Mbah Rasni.


"Jadi..dokter mau menyampaikan apa pada saya ? Soal kesehatan Mbah ?" Anin sudah terlanjur cemas.


"Bukan-bukan...ini soal lain.." kata Barra cepat.


"Begini...mungkin ini terkesan terlalu cepat menurut kamu...tapi percayalah...aku sudah memikirkan hal ini sejak kita pertama bertemu..." Barra menjelaskan pada Anin.


"Apa itu, Dokter ?" tanya Anin polos.


Barra menatap Anindya intens..Anindya jadi bingung.


"Aku.." kata Barra belum berlanjut.


"Aku merasa...aku jatuh cinta padamu..." akhirnya Barra tegas menyelesaikan perkataannya.


BBLAARRR...

__ADS_1


Seperti terjadi ledakan besar di dada Anindya usai mendengar ucapan Barra barusan...


__ADS_2