Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Rika Menebar Fitnah.


__ADS_3

"Aku tidak bisa mendiskripsikan lebih...aku hanya bisa bilang kalau aku mencintaimu...walaupun aku tahu aku belum pantas mendapatkan cintamu..." tegas Akmal.


"Maafkan aku..sebagai suamimu aku sudah berbuat dzolim padamu..." Akmal memandang Anin penuh penyesalan.


"Tak perlu mempersulit hidup Anda...biarkan saya yang pergi...dan songsonglah kebahagiaan Anda dengan Suster Rika..." ujar Anin yang tampak berkaca-kaca.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun...tapi beri aku waktu untuk memperbaiki hubungan kita..." kata Akmal memandang Anin lekat.


Berbeda dengan Anin yang hanya menunduk dalam dan sesekali menoleh ke arah bocah di sampingnya yang dari tadi memainkan ponsel miliknya.. sembari menunggu pesanan makanan mereka datang.


Anin tak ingin memperpanjang percakapannya dengan Akmal...jadi dia memilih diam.


Akmal memandang Anin penuh kegundahan di garis wajah tampannya.


Hingga beberapa saat kemudian pesanan makanan mereka datang.


"Asyiikk..!" seru Rafa antusias sekali.


Mereka berdo'a terlebih dahulu sebelum makan lalu makan bersama.


"Alhamdulillaah..." ucap Anin.


"Alhamdulillaah...selanjutnya kita kemana,Rafa ?" tanya Akmal pada keponakannya.


"Pulang kan,ya ?" tanya Anin menggoda Rafa.


"Belum...Rafa mau ke taman sambil makan ice cream.." ujar Rafa manja.


Akmal dan Anin kompak tertawa renyah melihat tingkah pola Rafa.


*


*


Hingga sore hari,mereka bertiga baru pulang ke rumah Anindya...setelah menuruti segala permintaan Rafa.


Tapi satu permintaan Rafa yang tidak terkabulkan...kepulangan Anindya bersamanya ke kediaman Yang Kakungnya.


"Kapan Tante akan pulang ke rumah kita ?" rengek Rafa sebelum pulang bersama Akmal.

__ADS_1


"Tante tidak tahu pastinya...tapi Tante janji suatu saat Tante akan pulang kesana,Sayang..." kata Anin membujuk Rafa sambil memangku bocah itu.


Akmal melihat dalam diam...


"Sayaang...kamu harus ketahui satu hal...walaupun Tante tidak di dekatmu..tapi hati dan do'a Tante selalu untukmu..." kata Anin.


"Benar begitu ? Terimakasih 'Aein'...." jawab Akmal menggoda Anin dengan panggilan sayangnya.


"Untuk Rafa bukan untuk Anda..." kata Anin sewot.


Akmal tersenyum melihat reaksi Anin.


"Kamu udah tanya ke Mbah Google apa artinya 'Aein' ?" tanya Akmal.


"Sudah.." jawab Anin singkat tanpa melihat ke arah Akmal.


"Baguslah kalau gitu.." kata Akmal.


"Maksudnya ?" tanya Anin.


"Nggak ada maksud...bagus kamu udah tahu artinya...itu panggilanku ke kamu suatu hari nanti kalau aku sudah pantas memilikimu..." kata Akmal.


Akhirnya setelah melalui berbagai macam cara dan bujuk rayu...Rafa bersedia pulang.


"Besok aku ada rapat penting dan harus presentasi untuk memenangkan kontrak kerja dengan beberapa perusahaan...doakan semoga semua berjalan lancar dan RS kita menjadi pemegang kontrak lagi.. " kata Akmal mengiringi pamitnya dari rumah Anin.


"Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin..." jawab Anin.


Dan setelah itu Akmal dan Rafa pun pulang.


*


*


Keesokan harinya...


Akmal terlihat bersiap menghadiri meeting ..setelah mandi terlebih dahulu di kamar mandi ruang kerjanya..karena dia kemarin malam dapat shift malam.


Dia bergegas menuju tempat meeting yaitu di salah satu hotel di wilayah kota.

__ADS_1


Akmal berangkat ditemani staff eksekutif RS.


Dan kurang lebih 2 jam kemudian...meeting baru selesai.


Tapi diluar dugaan Akmal...hasil meeting kali ini jauh dari ekspektasinya.


"Bagaimana bisa seperti ini kejadiannya,Bu Fina ?" tanya Akmal pada staff yang bersamanya saat berada di mobil dalam perjalanan kembali ke RS.


"Entahlah Dokter...kenapa presentase kita ada yang menyamai...dan tingkat kesamaannya adalah 95 persen.." kata Fina.


"Ini pasti ada yang tidak beres ! Klien kita jadi meragukan program kerja kita gara-gara itu.." kata Akmal dengan nada suara penuh penekanan.


"Ada yang membocorkan dokumen penting RS kita kepada pihak Dokter Roby selaku pengelola RS Husada Utama yang presentasenya sangat mirip dengan Anda tadi..." kata Fina.


"Ya benar kata Anda Bu Fina...tidak salah lagi..tapi siapa orangnya ?" Akmal berfikir keras menerka-nerka dalang yang membocorkan dokumen rahasia RS.


Sesampai di RS...Akmal mengumpulkan semua staff khusus dari semua divisi poli dan membahas soal dokumen rahasia RS yang telah bocor ke pihak lain.


"Saya sangat kecewa hal ini terjadi...siapa diantara kita semua yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini ?" Akmal berbicara di depan seluruh staff penuh emosi.


"Saya bisa tebak pelakunya dengan mudah.." tukas Rika.


"Siapa ??" Akmal penasaran.


"Anindya.." jawab Rika dengan penuh keyakinan.


"Apa ?? Bagaimana bisa kamu menuduh Anindya dan atas dasar apa ?" tanya Akmal.


"Karena dia yang waktu itu menyerahkan kepada saya domunen penting yang tertinggal di rumah Anda..." kata Rika.


"Pasti sebelum Anindya menyerahkannya kepada saya...dia sudah menggandakan dokumen itu dan menjualnya ke pihak RS Husada Utama.." lanjut Rika.


Yang disambut dengan riuh rendah para staff yang hadir.


Ada yang langsung percaya...banyak juga yang meragukan hal itu.


Akmal hanya terdiam di kursinya dan mencoba menganalisa dan menerka.


Sementara Rika tersenyum licik melihat Akmal karena mulai memikirkan hasutan Rika.

__ADS_1


__ADS_2