Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Bukan Saat Yang Tepat.


__ADS_3

"Eee....Assalamu'alaikum Pa,Ma...gimana perjalanannya ? Lancar ?" sapa dan tanya Anindya pada kedua mertuanya.


"Wa'alaikum salam...Alhamdulillaah Anin...Mama dan Papa dari bandara langsung kesini...kepikiran kondisi Akmal..." kata Papa.


"Ehh...yang dikhawatirin malah ngasih penyambutan yang amazing banget...ada nada tidak suka gitu di suaramu...saat tanya kenapa kami kesini ?" Nyonya Mira sedikit merajuk.


Akmal langsung salting dan mencari alasan meralat responnya tadi.


"Bukan gitu Maa...maksud Akmal...Mama dan Papa kan baru pulang,pasti capek banget...kenapa langsung kesini ?" Akmal merasa bersalah.


"Dasar kamu ! Pinter banget cari alasan ! Asal kamu tahu aja...Mamamu di perjalanan itu tak henti-hentinya nangis mikirin kamu..." jelas Tuan Wirawan.


Akmal meraih tangan Mamanya dan memeluk wanita itu dengan manja...kode dia menyesal membuat Mamanya itu khawatir.


"Mentang-mentang udah ada yang nemenin di sini..." Mama melirik ke arah Anindya lalu mengulas senyum menggoda pada Akmal.


Anindya hanya menunduk malu.


"Kamu sekarang kondisinya gimana ? Kelihatannya sangat sehat dan bahagia banget..." tanya Papa.

__ADS_1


"Iya Pa...Akmal sangat lega dan bahagia...Akmal juga merasa sudah sangat sehat...hehehe.." Akmal cengengesan...direspon dengan senyuman dan gelengan kepala oleh Papa dan Mamanya.


"Memang Alloh itu Maha membolak-balikkan hati hamba-Nya..." kata Tuan Wirawan.


"Ya sudah...Mama sudah lega melihat kondisi kamu...sekarang kami mau pamit pulang dulu...mau ganti baju juga sekedar istirahat barang sebentar...nggak pa-pa,kan ?" tanya Nyonya Mira.


"Silahkan Ma...kan ada Anindya disini..." jawab Akmal.


"Iya kalau Anin mau...jangan ge-er dulu kamu..." sela Tuan Wirawan.


Akmal langsung menekuk wajahnya dan memandang ke arah Anindya dengan penuh harap.


Sadar akan hal itu..ditambah lagi juga sungkan pada kedua mertuanya...Anin tak kuasa menolak.


Akmal langsung terlihat sumringah kembali.


Setelah Mama dan Papanya pamit pulang....Akmal terlihat berusaha turun dari ranjangnya.


Anin yang sedari tadi duduk di sofa sambil mengupas buah langsung berdiri mendekatinya.

__ADS_1


"Tunggu...tunggu...Anda butuh sesuatu,Tuan Dokter ? Biar saya ambilkan saja.." cegah Anin.


"Aku mau ke toilet.." jawab Akmal setengah berbisik sambil mengulas senyum magnetisnya.


Anindya buru-buru mengalihkan pandangannya dari Akmal...takut semakin tertarik pada pesona seorang Akmal yang memang tampan maksimal.


"Emang bisa jalan ? Kan Anda pasca operasi..saya panggilkan suster yaa...biar dipasang kateter..." kata Anin khawatir.


"Idihh...apaan ? Amit-amit...lagian apa kamu rela kalau juniorku ini terekspose oleh selain kamu yang lebih berhak mengeksposenya ?" celetuk Akmal sembari masih berusaha turun.


"Astaghfirullooh,Tuan Dokter....malu dikit dong bicara seperti itu...saya ini masih polos dan masih di bawah umur lho..." celetuk Anindya yang mematik tawa renyah dan binar bahagia di wajah keduanya...dengan Anin tetap menjaga pandangannya.


"Mari saya bantu..." kata Anin kemudian.


"Nggak usah...aku bisa kok...kamu mau nemenin aku disini aja aku udah bersyukur banget..." kata Akmal membuat Anindya sedikit terbang.


"Saya tuntun sampai depan kamar mandi doang..." kata Anin sambil meraih lengan kekar Akmal...karena melihat laki-laki di sampingnya itu mulai meringis menahan sakit akibat luka pasca operasinya.


"Ya udah...terimakasih..." kata Akmal lirih sambil memandang lekat ke wajah istrinya yang selalu tampak ayyu natural dan meneduhkan.

__ADS_1


"Tapi jangan ikut masuk ke dalam lho yaa....saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengekspose juniorku walaupun kamu punya hak untuk itu..." kata Akmal menggoda Anindya.


"Isshh !! Apaan coba ? Gak jelass blass !!" wajah Anin sontak merona merah menyembunyikan rasa malunya.


__ADS_2