Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Istri Sholehah.


__ADS_3

"Benar seperti itu Anindya ?" telisik Akmal dengan tatapan nanarnya.


Anindya tak merespon.


"Silahkan diminum tehnya,Dokter..." Anin mengalihkan pembicaraan.


Lalu Barra menyeruput teh di cangkirnya...dengan menyunggingkan senyumnya sambil melirik ke arah Akmal yang sudah tampak bad mood.


Anindya jadi salting dibuatnya.


Sejenak kemudian...Barra berdiri dari sofa ruang tamu.


"Okeyy...sudah malam...saya permisi dulu..." pamit Barra.


"Baiklah,Dokter...terimakasih atas kunjungannya..." jawab Anindya ikut berdiri.


Sedangkan Akmal masih tetap duduk bermalas dan memasang ekspresi geram.


Barra menyalaminya...disambutnya dengan malas.


Lalu Barra keluar diantar oleh Anindya.


Sesaat kemudian Anindya kembali ke ruang tamu.


Akmal masih tampak duduk di sofa.


"Anda masih disini ? Kenapa tidak naik ke kamar istirahat ?" tanya Anin.


"Nungguin kamu...ayo !!" Akmal menarik lembut tangan Anindya...membawanya menaiki tangga menuju kamar.


Tuan dan Nyonya Wirawan melihat mereka dari ruang tengah.


"Hehehe...rupanya rencana Dokter Barra membuat Akmal cemburu mulai membuahkan hasil,Ma.." kata Tuan Wirawan.


"Mama kasihan sama Akmal,Pa...apa Papa yakin kalau rencana ini bisa memperbaiki hubungan mereka ? Bukan malah menambah persoalan baru dalam hubungan mereka ?" tanya Nyonya Mira khawatir.


"Kita berdo'a saja,Ma...minta yang terbaik dari Alloh untuk mereka..." kata Tuan Wirawan.


"Secepatnya Papa juga akan menceritakan tentang Johan kepada Anindya..." kata Tuan Wirawan.


Tapi tidak terfikirkan oleh mereka kalau Anindya punya rencana untuk meninggalkan Akmal.


Di dalam kamar Akmal...


"Tuan Dokter...saya mau makan martabak manis yang dibawa Dokter Barra dulu...kenapa malah diajak kesini ?" protes Anindya.


"Gak usah makan martabak manis...kamu tuh udah muwwaniss..." gombalan Akmal.

__ADS_1


"Isshh ! Garing...kan mubadzir kalau gak dimakan..." kata Anin.


"Gampang...tinggal kasih ke Budhe Tini dan Pak security aja...itung-itung shodaqoh..." kata Akmal.


"Tapi saya boleh kan cicipi satu potong aja...kasihan Dokter Barra..kan tujuannya tadi mau beliin saya..." Anin memelas.


"Kamu tuh emang istri sholehah...yaudah...karena kamu udah minta izin padaku...kamu boleh makan satu potong martabak manis dari Barra...besok aku akan belikan yang lebih enak dari itu...kamu bisa habisin semua..." kata Akmal.


"Kamu tunggu disini...biar aku ambilin...mau sekalian diambilin makan malam ?" tanya Akmal berdiri dari sofa yang dia dan Anindya duduki dari tadi.


"Tidak perlu,Tuan...biar saya ambil sendiri martabak manisnya...soal makan malam saya masih kenyang makan sebelum pulang kesini tadi..." kata Anin.


"Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu di kamar ini...bisa,kan ?" Akmal meremas mesra jemari lentik Anindya sambil memandangnya intens.


Anindya buru-buru memalingkan wajahnya menghindari tatapan Akmal.


Tapi Akmal menahan wajahnya agar tetap bersitatap dengannya...Anindya berusaha menata hatinya agar tak jebol benteng pertahanannya.


Ditambah lagi sensasi rasa yang menjalar karena remasan Akmal di jemarinya...membuatnya mati-matian menyembunyikan 'keresahannya'...


"Jangan begini,Tuan...lepaskan..." Anin menepis tangan Akmal.


Akmal melepaskan Anindya dan beranjak keluar kamar.


*


*


Selesai sholat...Anindya mengganti bajunya dengan baju tidur di kamar mandi...sedang Akmal tidak perlu ke kamar mandi untuk ganti baju tidurnya.


Saat keluar dari kamar mandi...Anindya memasang wajah bingungnya...karena bantal dan selimutnya yang tadi di sofa mendadak raib begitu saja.


"Kamu mencari ini ?" tanya Akmal yang sedang menata ranjang tidurnya.


Bantal dan selimut Anindya ternyata ada di ranjang Akmal.


"Kok bisa ada disitu ?" Anindya masih bingung.


"Aku yang memindahkannya ke sini..." jawab Akmal santai.


"Kenapa ?" Anindya masih loading.


"Mulai malam ini...aku ingin kita tidur satu ranjang,boleh ?" tanya Akmal.


"A..Apa ?" Anin seperti tak percaya ucapan Akmal.


"Iya...aku dan kamu di ranjang yang sama..." jelas Akmal.

__ADS_1


"Tidak...saya tidak mau,Tuan...!" tolak Anin tegas.


"Kalau kamu tidak mau...biar aku saja yang tidur di sofa kalau begitu..." kata Akmal.


"Jangan ! Luka di punggung Anda belum sembuh benar...sofa itu kan sempit...nanti lukanya bisa tergesek-gesek..." kata Anindya.


"Itu kamu tahu..." kata Akmal.


"Udahlah,Tuan...jangan aneh-aneh deech..." protes Anin.


"Emang aneh ya ? Kalau suami istri tidur satu ranjang ? justru selama ini kita itu aneh...karena tidur terpisah..." alibi Akmal.


"Enggak ahh...saya tidur di sofa aja.." tolak Anin.


"Ayolah,Aein...kamu kan istri sholehah...masak kamu nolak permintaan suami kamu..." kata Akmal.


"Tapi kan..." kata Anin.


"Kamu jangan khawatir...aku nggak akan macam-macam...aku janji.." kata Akmal meyakinkan Anindya.


Lalu mendekat ke arah Anin dan menarik pelan kedua tangannya.


Anindya mengikuti Akmal dengan langkah berat.


Akmal mendudukkannya di tepi ranjang...


"Dengarkan aku...aku tidak akan meminta hakku sebagai suamimu...sebelum aku mengulang ikrar ijab qobul...agar tidak ada keraguan dan keterpaksaan dalam pernikahan kita.." kata Akmal masih menggenggam tangan Anin.


"Syukurlah kalau Anda paham hal itu..." kata Anindya.


Lalu Akmal mengangkat kaki Anin dan merebahkannya di satu sisi ranjangnya....lalu dia pun merebahkan tubuhnya di satu sisi lain ranjangnya.


"Asal jangan kamu mengucap ingin bercerai dariku,Anin..." lanjut Akmal.


Anindya tak berkata sepatah katapun...entah kenapa...raganya tak kuasa menolak...sedang lidahnya kelu,fikirannya buntu...mendapati kenyataan saat ini berada satu ranjang dengan Akmal.


"Jangan aneh-aneh,Tuan !" peringatan Anindya sambil melirik Akmal.


"Enggaak...aku cuma ingin memeluk kamu saja...rasanya damaii dan nyaamann sekali....nggak lebih..." Akmal mulai mengarahkan tubuhnya mengikis jarak dengan tubuh Anin.


"Astaghfirullooh ! Tuh kan...lepasin,Tuan...saya risih juga geli banget..!" seru Anin.


"Jangan kebanyakan gerak,Aein...gerakanmu itu bisa memicu pergerakan bagian sensitif dari tubuhku...dan aku pastikan hal itu akan berdampak panjang...kamu mau ??" suara Akmal setengah berbisik di telinga Anin.


"Enggaakk !" sahut Anin seketika mematung diam merelakan tubuhnya dipeluk Akmal.


"Gitu doong...nurut kata suami...kalau kamu berontak,akan berujung panjang...asal kamu tahu...walaupun punggungku ini masih sakit,jangan remehkan kekuatannya..." Akmal masih betah memeluk mesra tubuh ramping Anindya dengan segala rasa menjalar yang kini mereka berdua rasa.

__ADS_1


"Hisshh...apaan sihh ?? Gak jelass !!" tukas Anindya.


__ADS_2