
Entah kekuatan rasa seperti apa yang membuat mereka sama-sama tak bergeming.
Ditambah guyuran air shower menjadi konduktor yang sukses mempertegas medan listrik yang menjalari tubuh keduanya saat ini.
Tubuh yang sudah terekspose dengan jelas lekuk demi lekuknya....karena jatuhnya air di atas pakaian mereka.
Lekuk tubuh perempuan dewasa terlihat jelas di pelupuk mata Akmal...walaupun selama ini Akmal menyebutnya bocil tengil.
Pun demikian Akmal juga menampakkan tubuh atletis dan bahu kekar miliknya...hasil menjaga pola makan dan olahraga selama ini.
Karena profesi Akmal juga dokter ahli gizi dan nutrisi.
Keduanya tak kuasa melakukan perlawanan atau perdebatan seperti yang sudah-sudah...
******* nafas yang terengah...menjadi bukti tambahan gejolak rasa....pun tak bisa mereka sembunyikan dengan baik.
Tubuh mereka mulai menegang dan meremang....
Sampai pada satu titik yang membuat mereka merasakan kenyamanan...hingga salah satu tersadar dan mencoba melawan sebelum kebablasan.
Dengan sedikit usaha...Akmal mematikan kran shower...
Seketika semua rasa memudar dan ambyar.
Lalu dengan cepat mereka saling melepaskan pelukan...
Akmal lalu buru-buru keluar dari kamar mandi..
Sementara Anindya masih terpaku...setelah merasakan rasa tak biasa saat bersentuhan kulit dengan Akmal.
' Astaghfirullooh...' Anin berkata dalam hati.
......................
Malam harinya...
Setelah makan malam bersama di meja makan...
__ADS_1
Anggota keluarga Wirawan bercengkrama sebentar di ruang keluarga.
Setelah beberapa saat ngobrol bersama tentang pekerjaan dan lain-lain...akhirnya satu persatu permisi masuk ke kamar masing-masing.
Anindya masuk kamar paling akhir...dia membantu Budhe Tini beres-beres dan menemani Rafa belajar sebentar.
Saat itu juga Devan menghampirinya...
"Anindya..." panggilnya agak canggung.
"Ya,Kak ? Ada apa ?" tanya Anin.
"Saya butuh bantuan kamu..." kata Devan.
Lalu Devan mengajak Anindya membicarakan sesuatu...entah apa itu...
Sebenarnya dia masih canggung juga masuk kamar lagi...mengingat kejadian di kamar mandi tadi.
Tapi mau tak mau dia harus masuk kamar juga kan ?
'CEKREEKK'
"Semoga Tuan Dokter reseh sudah tidur duluan.." gumamnya lirih.
Dia masuk pelan-pelan lalu sekilas melihat ke arah ranjang tidur Akmal.
Terlihat Akmal sudah memejamkan mata dalam posisi miring.
"Syukurlah dia sudah tidur...kalau tidak..entah apalagi ledekan yang dia lontarkan padaku..." sambung Anindya masih bergumam lirih.
Lalu Anindya mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Isya'..setelah itu dia berdiri dan merapikan sofa untuk bersiap tidur.
FLASH BACK....
Akmal permisi naik ke kamar pada Kakaknya,Devan...setelah berbincang sebentar dengan Papanya soal pekerjaan.
Papa dan Mamanya sudah masuk kamar lebih dulu.
__ADS_1
Dia melihat sekilas Anindya yang masih menemani Rafa belajar.
' Untunglah dia masih disini...aku akan naik ke kamar duluan..' Akmal berkata dalam hati.
Akmal rebahan di ranjang tidurnya...ingin segera tidur.
Tapi dia masih teringat kejadian di kamar mandi tadi dengan Anindya...
' Sial...! Kenapa aku jadi gak bisa tidur gini ? Kenapa kejadian di kamar mandi tadi begitu mengusik hati dan fikiranku saat ini ?' Akmal berkata dalam hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan saat dia masuk kamar nanti ? Apa aku marahin dia seperti biasanya ? Atau aku jutekin dan diemin aja ?" Akmal kali ini bergumam sendiri.
Baru pertama kali ini dia merasa malu dan canggung pada Anindya.
Tiba-tiba suara gagang pintu dibuka.
"Ah itu pasti Anin...aku pura-pura tidur aja kali..." lanjut gumam lirih Akmal.
Dari Anindya masuk kamar mandi,sholat hingga bersiap tidur di sofa...sebenarnya Akmal masih terjaga.
FLASH BACK END.
Keesokqn harinya...
Akmal dan Anin seperti biasa berangkat bersama...
Mereka berdua masih sama-sama diliputi kecanggungan satu sama lain.
Tak ada percakapan apapun hingga Anin turun dari mobil Akmal...di tempat biasa dia naik ojol.
Tapi kali ini Akmal tidak langsung melajukan mobilnya...dia memperhatikan Anin dari kejauhan..
Dan pemandangan yang tak dia duga disaksikannya..
Sepeda motor sport Barra yang tak asing baginya..terlihat menepi ke tempat Anin berada.
"Ooh...jadi seperti ini setiap harinya...dia boncengan sama Dokter Barra berangkat ke RS..." Akmal berbicara sendiri.
__ADS_1
Tak ingin menunggu lama lagi...dia langsung melajukan mobilnya ke RS.
Padahal hari ini Barra hanya kebetulan lewat dan tak sengaja melihat Anin.